Friday, 25 October 2013

MENJADI PELAYAN TUHAN SEBUAH RENUNGAN MATIUS 20:20-28


MENJADI PELAYAN TUHAN

Seorang Tuan bersikap memerintah, tetapi seorang pelayan bersikap melakuan perintah.
Seorang Tuan mempertahankan hak pribadi, seorang pelayan mengutamakan  hak orang lain
Seorang Tuan bersikap mengambil, tetapi seorang pelayan bersikap memberi.
Seorang Tuan mencari pelayan, tetapi seorang pelayan mencari kesempatan untuk melayani.
Seorang Tuan ingin mengendalikan, seorang pelayan  selalu memerdekakan yang dilayani.
Seorang Tuan menuntut penurutan, seorang pelayan selalu mengutamakan penurutan.
Seorang Tuan hidupnya mudah terancam, seorang pelayan hidupnya nyaman.

Matius 20:20-28 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Persyaratan sebagai pelayan Tuhan :
1.      Tidak dengan tangan besi dan tidak memiliki suatu ambisi untuk menjadi yang lebih besar dari yang lain.
2.      Menjadi pelayan bagi yang lain. Tidak ada yang dapat dibanggakan sebagai seorang pelayan tetapi hanyalah kesetiaannya dan kerendahan hatinya.
3.      Menjadi hamba (hamba lebih rendah dari pelayan karena hamba tidak diberi upah seperti pelayan) Roma 14:8, seorang hamba adalah milik Tuhan, jadi semua yang dikerjakannya hanya untuk Tuhan.
Pelayan yang baik
Pekerjaan adalah suatu hal yang akan berhenti dilaksanakan apabila menerima kritikan, sedangkan pelayanan adalah suatu hal yang akan terus berjalan apabila menerima kritikan. Pekerjaan bertujuan untuk mendapatkan uang, tetapi pelayanan bertujuan untuk mengungkapka rasa terima kasih. Gereja tidak akan sempurna bila dipenuhi dengan jemaat yang mengutamakan pekerjaan, tetapi akan menjadi sempurna apabila jemaatnya mengutamakan pelayanan.

Pelayanan Paulus Sebagai Model Pelayanan Kita (Kisah 20 : 17 – 38).  PAULUS adalah seorang rasul yang agung. Sebelum ia menerima panggilan Tuhan untuk menjadi rasul, ia adalah seorang penganiaya jemaat. (Filipi 3 : 6). Ia dengan penuh penyesalan menceritakan masa lalunya, kepada anak rohaninya, Timotius dengan ungkapan yang sedih. "Aku yang tadinya penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, akan tetapi telah dikasihinya. Karena semuanya itu kulakukan tanpa pengetahuan, yaitu di luar iman." (I Tim 1 : 13). Ia menyadari, bahwa ia dapat melayani Tuhan itu, adalah karena Kasih Karunia Tuhan yang bekerja di dalam hidupnya. Jika ia boleh menjadi rekan kerja Allah untuk menjaga kawanan domba Allah dan memberitakan Firman, itu semata-mata anugerah Tuhan yang besar telah dipercayakan kepadanya.

Dalam Kis 20 : 17 - 38 dikisahkan tentang nasihat Paulus kepada persatuan Efesus ketika ia berada di Miletus. Di dalamnya kita dapat melihat siapakah seorang pelayan Tuhan itu. Dengan sikap yang bagaimana kita melayani Tuhan? Mengapa ketaatan itu mutlak diperlukan oleh seorang pelayan? Melaui uraian singkat di bawah ini, kiranya kita sebagai pelayan Tuhan dapat bercermin pada kehidupan pelayanan Rasul Paulus.

MENJAGA KESAKSIAN HIDUPNYA
Dalam Kisa 20 : 18, dengan mengatakan:"Kamu tahu bagaimana aku hidup di antara kamu....", sebenarnya Rasul Paulus sedang menunjukkan tentang kehidupannya yang dapat dipertanggungjawabkannya. Ia menyadari bahwa hidupnya bagaikan surat yang terbuka yang mudah dibaca oleh orang lain. (II Kor 3 : 3). Segala tingkah laku dan perbuatannya tidak lepas dari pengamatan orang di sekitarnya. Rasul Paulus menjaga ketat kehidupan moralnya, kesucian hidupnya, perkataannya dan tingkah lakunya. Bahkan ia keras terhadap diri sendiri dalam hal disiplin, karena ia menyadari seorang pelayan Tuhan harus mendisiplinkan diri sedemikian rupa, sehingga hidupnya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dan, ia berani diuji oleh orang lain. Dengan mengatakan :"Kamu tahu bagaimana aku hidup" berarti dia mengizinkan orang lain untuk menilai siapa dirinya yang sesungguhnya.

Orang lain bisa melihat dan menilai bagaimana hubungannya dengan Tuhan? Bagaimana relasinya dengan jemaat dan rekan kerjanya? Bagaimana kehidupan moralnya? Apa motivasi pelayanannya? Pertanyaan-pertanyaan di atas mengarah kepada satu hal siapa sesungguhnya orang ini? Ketika orang lain mengevaluasi hidupnya, seolah-olah Rasul Paulus ingin mengatakan,"Aku lulus dari ujian ini karena aku bersih. Aku dapat mempertanggung jawabkan seluruh kehidupanku baik di hadapan Tuhan maupun sesama. "Kamu tahu bagimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini".
Kehidupan yang transparan dan terbuka ini hendaknya menjadi cerminan bagi setiap pelayan Tuhan. Hendaknya kita menyadari bahwa kehidupan kita bagaikan surat-surat terbuka yang mudah dibaca oleh orang lain sebagai pelayan Kasih Karunia Allah, tidak mungkin kita menghindari penilaian dari luar.

RENDAH HATI DALAM MELAYANI TUHAN
Rasul Paulus menjelaskan bahwa pada waktu ia melayani Tuhan, ia telah mendemonstrasikansikap rendah hatinya di hadapan banyak orang, pada waktu ia mengatakan,"dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan" Dengan perkataan seperti itu, dia tak bermaksud untuk menguntungkan dirinya, melainkan untuk menunjukkan segala sesuatunya kepada Sang Pengutusnya. Bagi Paulus tidak ada sesuatu yang dapat ia banggakan selain dari Kasih Karunia Tuhan yang telah mengubahnya menjadi seorang pelayan yang rendah hati. Siapakah sesungguhnya Paulus? Di bagian pendahuluan telah disinggung selain singkat bahwa dulunya ia seorang penghujat, penganiaya jemaat dan seorang yang ganas. Tetapi, dia telah dikasihi Tuhan. Apa yang menyebabkan perubahan dan perilakunya begitu drastis? Dari seorang seorang penghujat dan penganiaya yang ganas menjadi seorang pelayan Tuhan yang rendah hati? Itu hanya anugerah Tuhan yang dapat mengubah perilaku seseorang.

Bagi pelayan Tuhan, camkanlah hal ini: Anugerah Tuhan tidak sekedar memanggil kita melayani, tetapi di dalam pelayanan itu Tuhan tidak henti-hentinya membentuknya menjadi seorang pelayan sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Kita akan menjadi pelayan yang berbahaya karena merasa "oke-oke" saja dengan segala kejelekan kita, toh Tuhan akan tetap memakai kita.

TAAT PADA KEHENDAK TUHAN
Saat melayani Tuhan, ketaatan mutlak diperlukan. Dalam Kis 20 : 19 - 38 kita dapat menemukan daftar ketaatan, kesetiaan Paulus yang sangat mengagumkan.
1.      Tetap taat melayani sekalipun banyak mencucurkan air mata dan mengalami pencobaan dari pihak Yahudi yang mau membunuhnya.
2.      Tetap taat dan setia dalam membina jemaat dan mengajarkan Firman Tuhan, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah jemaat.(ayat 20)
3.      Tetap taat dan setia dalam menyaksikan Injil Kerajaan Allah baik kepada orang-orang Yahudi maupun Yunani.
4.      Tetap taat dan setia dalam menunaikan tugas dan pelayanannya, sekalipun nyawa yang menjadi taruhannya. Ia tidak gentar dan ingin menuntaskan pelayanannya sampai akhir. (ayat 22 - 24)
5.      Tetap taat dan setia dalam mendisiplinkan diri sehingga ia tetap dalam keadaan bersih dan tidak bersalah kepada siapapun. (ayat 25 - 26)
6.      Tetap taat dan setia selama tiga tahun lamanya siang dan malam dengan tidak henti-hentinya memberikan dorongan semangat dan nasihat untuk menjaga seluruh kawanan Domba Allah. (Ayat 27 - 32)
7.      Tetap taat dan setia dalam pelayanan sekalipun ia membiayai sendiri untuk memenuhi keperluannya atau keperluan rekan kerjanya dalam pelayanan pekabaran Injil. (ayat 33 -38).
Semua hal di atas dilakukan rasul Paulus di dalam ketaatan dan kesetiaannya kepada Tuhan. Sekalipun ada begitu banyak kesulitan dan penderitaan, ia taat bahkan taat sampai mati. Ia ingin menuntaskan pelayanannya dengan ketaatan yang mutlak kepada Pengutusnya. Karya-karya besar Paulus dipakai dan diperhitungkan Tuhan sebagai hasil pelayanannya. Seandainya Paulus tidak taat pada pimpinan Tuhan, betapa ruginya dia. Karena ia dipakai Tuhan tetapi itu tidak diperhitungkan sebagai hasil pelayanannya.

Pelayan tetap belajar untuk menjadi hamba Tuhan
Seorang pemimpin dalam pelayanan perlu mendalami dan menganalisa pelayanan dan pengorbanan Yesus bagi kita (Filipi 2:5-8). Yesus datang ke dunia sebagai Pelayan untuk memenuhi kehendak Allah yaitu menyelamatkan manusia. Karena Dia datang untuk melayani, kita dipanggil unuk mengikutinya – menjadi pelayan (Matius 20:26-28). Setiap dari kita mau menjadi pelayan Tuhan yang berbuah. Bagaimana cara agar menjadi pelayan yang berbuah atau berhasil? Pertama, kita harus megerti apakah arti pelayan itu. Coba anda jelaskan arti hamba dengan menggunakan kata-kata anda sendiri.

Bila anda mempunyai seorang asisten atau pelayan, karakter seperti apakah yang akan anda mau? Bila saya adalah seorang tuan, saya akan memilih orang yang penurut dan dapat melaksanakan tugas yang saya beri kepadanya. Banyak dari kita yang akan berkata bahwa pelayan yang baik adalah apabila dia menanyakan apa yang tuannya mau dan dia akan mengerjakannya. Namun kita tahu, Alkitab berkata bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa dengan kemampuan kita sendiri. Mari coba kita ubah pengertian kita mengenai pelayan dipakai sebagai alat di tangan Tuannya. Sebuah alat tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dia berada di tangan tuannya dan digunakan oleh tuannya. Cara “bekerjanya” bukan dengan “kita mengerjakan pekerjaan itu”, namun dengan “membiarkan Tuannya untuk bekerja melalui kehidupan kita dan Dia berkerja melalui kita”.

Rahasia keberhasilan
Rahasianya adalah masuk dalam hubungan yang intim dengan Tuhan. Jangan mencoba untuk berkerja sendiri. Namun, ijinkan Tuhan untuk memenuhi kita, kasihnya ada dalam hidup kita, keberadaanNya dinyatakan pada kita, berbicara kepada kita dan RohNya berkerja dalam kita. Kita hanya perlu bersandar kepada Tuhan. Kita tidak dapat melewatkan hubungan ini. Tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Tuhan mau kita mengenalNya lebih dalam melalui pengalaman pibadi denganNya. Tuhan mau kita memiliki hubungan yang intim denganNya sehingga Dia dapat melibatkan kita dalam rencana kerajaanNya. Sebelum mengenal hati Tuan kita, kita tidak dapat mengetahui bagaimana kita dapat dipakai secara efektif.
Bila kita taat kepada Tuhan, Dia akan berkerja dalam kita dan melalui kita. Bagian kita hanya untuk tinggal didalamNya dan tidak mencoba untuk mencapai sesuatu buat Tuhan. Biarkan Tuhan melanjutkan pekerjaanNya. Dengan seperti itu kita dapat berbuah dan buah kita akan tetap dan bertahan.

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48). Ayat ini mengingatkan akan posisi kita saat ini yang justru masih belum sempurna, itulah sebabnya Tuhan Yesus memberikan perintah ini. Hal ini seharusnya menolong kita untuk rendah hati, karena menyadari bahwa kita semua bukanlah manusia yang sudah sempurna di dalam segala sesuatu. Kita sedang dalam proses menuju kesempurnaan dalam Kristus. Kita tentunya akan sempurna sepenuhnya hanya pada saat di sorga nanti. Itu sebabnya, kita juga belajar untuk tidak dengan mudah mencela kekurangan para pelayan Tuhan lainnya atau bahkan diri kita sendiri, karena tidak ada satu pun pelayan Tuhan yang sudah sempurna, semuanya masih dalam proses yang sedang berjalan.

Sebagai seorang pelayan Kristus, kita dituntut untuk memiliki sikap seperti yang di atas juga. Sebuah sikap untuk tidak pernah puas bertumbuh semakin serupa dengan Kristus. Tidak malas untuk melakukan disiplin rohani, tekun dan tegar menghadapi setiap kesulitan hidup yang diijinkan Tuhan, dan rela dibentuk oleh Tuhan melalui kehidupan komunitas kristiani yang ada. Informasi tidak selalu dijamin akan mengubah karakter hidup kita, tetapi interaksi rohani dengan sesama orang Kristen, itulah yang mengubahkan. Ingatlah pesan Amsal 27:17 bahwa besi menajamkan besi, tapi manusia menajamkan sesamanya.

Semoga tulisan singkat ini menjadi bagian renungan dari pelayanan kita sebagai umat yang rajani yang dipanggil Tuhan melalui kasih karuniaNya menjadi pelayan sebagai Yesus datang untuk melayani bukan untuk dilayani. Dibawah ini perlu kita mengenal beda PEKERJAAN VS PELAYANAN untuk cermin bagi diri kita sendiri : sumber tidak tau sudah lama disimpan di file.

Bila anda melakukannya selama ada waktu luang, itulah PEKERJAAN - Bila anda melakukannya meskipun mengganggu aktivitas anda, itulah PELAYANAN. Bila anda berhenti karena tidak ada yg berterimakasih kepada anda, itulah PEKERJAAN - Bila anda terus bekerja walaupun tidak pernah dikenal siapapun, itulah PELAYANAN. Bila anda melakukannya utk diri sendiri, itulah PEKERJAAN - Bila anda melakukannya utk Tuhan, itulah PELAYANAN. Bila anda melakukannya demi kehormatan diri, itulah PEKERJAAN - Bila anda melakukannya demi kemuliaan Tuhan, itulah PELAYANAN. Bila anda merasa telah banyak berkorban dan layak mendapatkan upah, itulah PEKERJAAN - Bila anda terus merasa belum cukup melakukan apa2 dan terus ingin melakukan lebih, itulah PELAYANAN. BIla anda melakukannya karena tidak ada yang lain yang bisa (PEKERJAAN) - Bila anda melakukannya untuk melayani Tuhan (PELAYANAN). Bila anda keluar karena ada yang mengkritik anda (PEKERJAAN) - Bila anda terus bekerja sekalipun dikritik habis2an (PELAYANAN). Bila anda melakukannya selama tidak mengganggu aktivitas anda yang lain (PEKERJAAN) - Bila anda terus melakukannya hingga mengorbankan aktivitas yang lain (PELAYANAN). Bila anda berhenti karena tidak ada yang berterima kasih atas perbuatan anda (PEKERJAAN) -  Bila anda terus bekerja walaupun tidak pernah dikenal oleh siapapun (PELAYANAN). Bila anda merasa semakin sulit menikmati yang anda kerjakan (PEKERJAAN) - Bila anda merasa semakin sulit untuk tidak menikmatinya (PELAYANAN). Bila yang anda pikirkan adalah sukses (PEKERJAAN) - Bila yang anda pikirkan adalah kesetiaan (PELAYANAN).

LEGENDA SI RAJA LONTUNG

Dari beberapa artikel atau tulisan yang pernah penulis baca, ada beragam versi cerita tentang SI RAJA LONTUNG, namun pada dasarnya hampir bersamaan hanya peletakan ataupun urutan dalam "tarombo" atau silsilah yang ada perbedaan. Berikut ini adalah kisah atau legendanya :
Si RAJA BATAK mempunyai 2 (dua) orang keturunan,  yakni Guru Tatea Bulan dan Raja Sumba (Isumbaon). Selanjutnya dari keturunannya Guru Tatea Bulan ini mempunyai 5 (lima) putra dan 4 (empat)  putri yaitu :
  1. Raja Biak-biak (putra)
  2. Tuan Saribu Raja (putra)
  3. Siboru pareme (putri)
  4. Limbong Mulana (putra)
  5. Siboru Paromas (putri)
  6. Sagala Raja (putra)
  7. Siboru Biding Laut (putri)
  8. Malau Raja (putra)
  9. Nan Tinjo (putri)
Setelah putra - putri dari Raja Isumbaon bertumbuh dewasa, serta masih langkanya manusia maupun tempat tinggal yang terisolasi antara satu perkampungan dengan perkampungan lain sangat jauh, tanpa disadari menyebabkan terjadinya hubungan INCEST (perkawinan satu darah). Hubungan atau perkawinan incest ini terjadi antara Tuan Saribu Raja dengan Si Boru Pareme.
Setelah sekian lama hubungan ini terjadi menjadikan Si Boru Pareme mengandung/ hamil dan hal ini menjadikan aib dalam keluarga turunan Raja Isumbaon. Dalam adat dan kebudayaan Batak hal ini adalah TABU dan DILARANG KERAS, maka hukumannya adalah MATI.
Melihat aib ini saudara/ saudari dari Tuan Saribu Raja dan Si Boru Pareme merasa marah dan berniat untuk menghukum mati kedua saudara/i nya itu. Namum ternyata tak satupun dari mereka yang mampu/ tega untuk menghukum mati. Akhirnya di putuskanlah untuk membuang mereka ke hutan secara terpisah.
Si Boru Pareme pun dibuang ke sebuah hutan di atas Sabulan sekarang, satu daerah yang dianggap sebagai sarang harimau. Biarlah harimau itu yang membunuhnya, kalau tidak mati akibat kelaparan dan deritanya sendiri, begitulah pikiran Limbong Mulana dan adik-adiknya.
Suatu ketika, Siboru Pareme yang sudah hamil tua dan kesepian ini, dikejutkan oleh seekor harimau yang mengaum mendekatinya. Namun karena sudah terbiasa melihat harimau dan penderitaan yang dialaminya, ia tidak takut lagi dan pasrah untuk di mangsa. Setelah menunggu beberapa saat, ternyata harimau itu tidak memangsanya. Harimau tadi membuka mulutnya lebar-lebar dihadapan Siboru Pareme seakan meminta bantuan. Dari jarak dekat Siboru Pareme melihat ada sepotong tulang yang tertancap di rahang harimau itu. Timbul rasa iba dihati Siboru Pareme. Tanpa ragu Siboru Pareme mencabut potongan tulang itu dan di buangnya. Setelah itu harimau yg dikenal buas itu menjadi jinak kepada Siboru Pareme. Sejak itu harimau yang dikenal BABIAT SITELPANG setiap pagi dan sore mengantar daging hasil buruannya ketempat Siboru Pareme. Budi baik yang diterimanya dari wanita yang sedang hamil tua itu menumbuhkan rasa sayang BABIAT SITELPANG yang diwujudkannya dengan tetap menjaganya hingga melahirkan seorang putra dan diberilah namanya SI RAJA LONTUNG.

Si Raja Lontung hidup dan bertumbuh dewasa bersama ibunya ditengah hutan sekitar Ulu Darat selalu didampingi oleh BABIAT SITELPANG. Tidak seorang pun manusia lain yang mereka kenal. Namun Siboru Pareme selalu memberi pengetahuan kemasyarakatan kepada anaknya termasuk partuturan adat batak karena ibunya tidak ingin anaknya itu menderita lagi seperti aib yang diterimanya selama ini.
Setelah SIRAJA LONTUNG beranjak dewasa dan sudah bisa menikah, ia bertanya kepada ibunya di mana kampung tulangnya. Ia sangat berniat menikah dengan putri tulangnya (paribannya). Siboru Pareme merasa sedih mendengar hal itu, hatinya gusar, kalau diberitahu yang sebenarnya. Ia takut tulangnya akan membuang dan membunuh anaknya itu, Siboru Pareme selalu berupaya mengelak dari pertanyaan anaknya. 
Namun karena tidak ingin anaknya menjadi korban kemarahan tulangnya dan Siboru Pareme yakin dan tahu bahwa Si Raja Lontung tidak dapat menemukan seorang perempuan jadi isterinya di hutan itu, niscaya dia akan mati lajang tanpa keturunan, ia pun mengorbankan dirinya untuk dikawini anak kandungnya sendiri, akhirnya Siboru Pareme membuat siasat. 
Pada satu saat yang baik Siboru Pareme menyerahkan cincinnya pada Si Raja Lontung dengan pesan "Pergilah ke tepian yang ada di kejauhan sana. Tunggulah disana hingga paribanmu turun mengambil air. Dia mirip sekali dengan saya hingga sulit dibedakan. Pasangkan cincin ini pada jarinya dan cincin ini pun harus pas betul. Bila hal ini telah terbukti bujuklah dia menjadi isterimu". Selanjutnya Siboru pareme menerengkan jalan berliku yang harus ditempuh anaknya. 
Si Raja Lontung pun berangkat menapaki jalan berliku seperti yang telah dirunjuki oleh ibunya. Sementara itu si Boru Pareme pun bernagkat ke tepian yang sama. Dia mengambil jalan pintas agar dapat mendahului anaknya. Setibanya disana dia pun mendandani dirinya sedemikian rupa hingga nampak lain dan lebih muda. pada hari anaknya tiba, dia sudah siap.
Si Raja Lontung pun tiba di tempat seperti yang dipesankan ibunya itu. Ia mendengar ada manusia tengah mandi di pansuran itu. “Berarti benar apa yang diberitahu ibuku”, katanya dalam hati, sambil mengintip dari celah-celah pohon. Ia tidak sabar terlalu lama lagi, karena hari sudah gelap dan langsung menghampiri perempuan tersebut.
“Bah benar juga yg dibilang ibuku, tidak ada ubahnya seperti dia”, katanya dalam hati. “Santabi boru ni tulang, saya ingin menyampaikan pesan ibuku”, kata Si Raja Lontung dan menggapai tangan perempuan itu serta meremas jemari perempuan yang disebut paribannya itu, dan menyelipkan cincin ibunya ke jari manis dan ternyata pas. “Berarti tidak salah lagi, kaulah paribanku itu. Wajahmu seperti ibuku dan cincin ibuku cocok dijari manismu,” lanjutnya merasa yakin. Lalu ia mengajak perempuan tersebut untuk dijadikan istrinya dan memperkenalkannya kepada ibunya.
Sesampainya di hutan tempat tinggal SIRAJA LONTUNG, ia terkejut sebab ibunya tidak lagi di jumpai di rumahnya. Ia pun teringat akan pesan ibunya yang berniat mencari ayahnya SARIBU RAJA kearah Barus. Keduanya hidup serumah dan menjadi suami istri, (maka bagi Si Boru Pareme terjadi lagi kawin sumbang atau INCEST yang kedua kali).
Dari hasil perkawinan Si Raja Lontung dan Si Boru Pareme melahirkan turunan sebagai berikut :
  1. Ompu Tuan Situmorang (putra)
  2. Sinaga Raja (putra)
  3. Pandiangan (putra)
  4. Nainggolan (putra)
  5. Simatupang (putra)
  6. Aritonang (putra)
  7. Siregar (putra)
  8. Siboru Amak Pandan (putri) kawin dengan Sihombing dan
  9. Siboru Panggabean (putri) kawin dengan SIMAMORA.
Ketujuh putra ini kemudian menurunkan marga-marga berikutnya. satu hal yang unik ialah bahwa ketujuh marga Lontung ini tidak merasa puas bila tidak menyertakan kedua boru itu dalam bilangan dan kelompoknya. Inilah cikal bakal sebutan “Lontung Sisia Sada Ina Pasia Boruna Sihombing - SIMAMORA. Kalau dari Si Raja Lontung (namarpariban), maka Sihombing lebih tua, tetapi karena Simamora dan Sihombing abang-adik kandung, maka Simamora lah yang tertua.

POMPARAN NI SI RAJA LONTUNG

Silsilah Si Raja Lontung

Anak sulung Raja Lontung bernama Situmorang(sebagian orang berpendapat Sinaga ialah anak sulung Raja Lontung) , mendiami daerah Sabulan(Samosir).

Selain di Sabulan marga Situmorang juga ada di Samosir selatan.
Marga Sinaga didapati juga di Samosir selatan dan selain itu di Dairi dan di tempat lain.
Di Simalungun terdapat marga cabang Sinaga yaitu: Sidahapintu, Simaibang, Simandalahi dan Simanjorang. Di daerah Pagagan-Dairi didapati juga marga Simaibang dan Simanjorang, di Sagala-Samosir juga ada marga Simanjorang.
Pandiangan pindah dari Sabulan ke Palipi-Samosir. Marga Pandiangan tinggal di Samosir selatan dan ada juga yang ke Dairi. Kemudian karena didaerahnya terjadi kemarau dan bahaya kelaparan, sebagian dari marga Gultom meninggalkan Samosir ke daerah Pangaribuan(Silindung). Dikemudian hari ada juga marga Harianja dan Pakpahan ke Pangaribuan.
Nainggolan pindah dari Sabulan ke daerah yang disebutnya Nainggolan di Samosir. Keturunan Nainggolan ada juga di daerah Pahae.
Marga Simatupang terdapat di daerah Humbang, selain itu ada juga yang ke daerah Dairi, Barus, dan Sibolga. Marga Aritonang tinggal di daerah asal Humbang dan ada sebagian tinggal di Harianboho-Samosir.
Siregar pindah ke lobu Siregar-dekat Siborong-borong. Dari situ marga Siregar berpencar sampai ke Tapanuli Selatan melalui Pangaribuan. Sesudah Lobu siregar ditinggalkan daerah itu didiami oleh marga Pohan.
Marga-marga di Dairi yang berasal dari keturunan Lontung diantaranya: Padang, Berutu, Solin dan Benjerang.
Marga Peranginangin di tanah Karo masuk ke golongan Lontung.
Anak-anak si Raja Lontung( Si Sia Sada Ina):
1. Toga Situmorang (Situmorang).
2. Toga Sinaga (Sinaga).
3. Toga Pandiangan (Pandiangan).
4. Toga Nainggolan (Nainggolan).
5. Toga Simatupang (Simatupang).
6. Toga Aritonang (Aritonang).
7. Toga Siregar (Siregar).
8. Siboru Anak Pandan (menikah dgn Simamora).
9. Siboru Panggabean (menikah dgn Sihombing).
I. Toga Situmorang.
1. Raja Pande.
2. Raja Nahor.
3. Tuan Suhut ni Huta.
4. Raja Ringo (Siringoringo).
5. Sihotang Uruk.
6. Sihorang Tonga2.
7. Sihotang Toruan.

II. Toga Sinaga.
1. Raja Bonor >> Sidahapintu.
2. Raja Ratus >> Simaibang.
3. Sagiulubalang(Uruk) >> Simandalahi, Simanjorang.

III.Toga Pandiangan.
1. Raja Humirtap (Pandiangan).
2. Raja Sonang/Samosir (Gultom, Sidari, Pakpahan, Sitinjak).
- Sidari>> Harianja.

IV.Toga Nainggolan.
1. Toga Batu (Batuara, Parhusip)
2. Toga Sihombar(Rumahombar, Pinaungan, Lumban Siantar, Hutabalian)
- Pinaungan >> Lumbantungkup, Lumbanraja.

V. Toga Simatupang.
1. Sitogatorop.
2. Sianturi.
3. Siburian.

VI.Toga Aritonang.
1. Ompu Sunggu.
2. Rajagukguk.
3. Simaremare

VII.Toga Siregar.
1. Silo.
2. Dongoran.
3. Silali.
4. Sianggian.
(sumber: Sejarah Batak, oleh Nalom Siahaan, 1964)

VISI DAN MISI MUARA NAULI

VISI DAN MISI MUARA NAULI
Konsep:
Tag Line : Komunitas Peduli Muara, Muara Nauli Masihol au tu ho, Muara Haholonganku....atau usul yang lain....
Slogan : MUARA BERKARYA. MUARA MARHOBAS, MUARA MEMBANGUN, MUARA MARTABE , atau adakah usul yang Lain......
VISI:
Menggali potensi peningkatan kesejahteraan masyarakat MUARA NAULI muara dengan Konsep/Tag Line/Slogan/Brand : "MUARA BERKARYA"

MISI:
1. DI BIDANG SOSIAL
a. Membantu masyarakat MUARA NAULI guna dapat meningkatkan taraf hidup
b. Pembinaan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat MUARA NAULI untuk menjaga dan mengembangkan budaya adat masyarakat budaya DALIHAN NATOLU
c. Menyelenggarakan pendidikan non formal dan pelatihan-pelatihan dalam rangka memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat.
d. Penelitiam di bidang Ilmu Pengetahuan dan Studi Banding
e. Mengembangkan keparawisataan DI MUARA NAULI dengan mengadakan pelatihan agar muncul sadar wisata dalam masyarakat.
f. Meningkatkan Kepedulian Sosial bagi sesama, Semangat kerja gotongroyong( Budaya Masiurupan , Marsiadapari, Masialapan gogo)

2. DI BIDANG KEMANUSIAAN
a. Memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga dan mengelola lingkungan
b. Mendirikan dan memperbaiki pemukiman kepada kehidupan yang layak untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat
c. menyelenggarakan pembinaan dan pelatihan pelestarian budaya, masyarakat, etnik, spiritual sebagai investasu cultural
d. Memberikan bantuan kepada masyarakat untuk meningkatkan pembangunan ekonomi pada masyarakat di DI MUARA NAULI
e. melestarikan lingkupan hidup

f. Memlihara hubungan kekerabatan/parhahamaranggion sesuai dengan prinsip dalihan na tolu
f. Memanusiakan manusia sepertilayakn ya diri kita sendiri ( Saling mengasihi )
3. DI BIDANG EKONOMI
a.Meningkatkan Pendapatan Perkapita Masyarakat Muara Nauli
b.Sistem Perokonomian
c.
d.
e
4. DI BIDANG KEAGAMAAN
A.Rajin Beribadah Sesua dengan Agama dan Kepercayaan yang di anut
b.
c.
d.
e.
5. DI BIDANG PERTANIAN/AGRARIS
A.
b.
c.
d.
e.
5. DI BIDANG PERIKANAN
A.
b.
c.
d.
6. Di BIDANG PERSTEKSTILAN
A, Meningkatkan Skil/Keahlian Para Pengrajin Ulos
b.
c.
d.
7.DI BIDANG ADAT
A.
b.
c.
d.
e
8. DI BIDANG LAIN LAIN
Kritik dan Saran kita Tunggu dari kawan kawan.....HORAS

Khotbah Minggu 27 Oktober

Matius 20:20-28 (Khotbah, 27 Oktober 2013)



DATANG UNTUK MELAYANI
Kita menyebut diri sebagai pengikut Yesus, namun apakah setiap orang itu menyadari tujuan mengikut Yesus ? Kita juga mengenal istilah misalnya ‘lahir kembali’, ‘menyangkal diri’ ; apakah kita paham dengan istilah dan arah tujuannya ? Jika tidak, maka kita tidak mengalami pertumbuhan, bahkan kemudian menjadi kecewa.
Ibu dari Yakobus dan Yohanes telah sekian lama membiarkan anak-anaknya mengikut Yesus, namun motif mengikut Yesus belum sepenuhnya terungkap. Sepertinya mengikut Yesus sekedar memiliki status dan memperoleh makanan.
Seiring dengan perjalanan waktu, pelayanan Yesus telah mengubah kondisi masyarakat. Yesus telah dikenal banyak orang, Yesus menjadi ‘populer’. Para murid mulai berpikir, bahwa peluang Yesus untuk menjadi penguasa dunia sudah mulai terbuka. Para murid pun mulai kasak-kusuk untuk menjadi ‘orang kedua’ Yesus. Tujuan mereka sudah jelas, yaitu menjadi orang terhormat dan menguasai orang lain. Tidak ketinggalan, Ibu Yakobus dan Yohones tidak mampu menahan keinginan agar kedua anaknya dapat menjadi pendamping Yesus. Istilah ‘kemuliaan’ dipahami begitu sangat duniawi, yaitu Yesus akan menjadi raja (pemimpin) bangsa Israel. Ibu Yakobus dan Yohanes menawarkan anak-anaknya supaya ketika Yesus berada di kemuliaanNya, mereka mendapat jabatan ‘ring satu’. Permohonan ini sungguh-sungguh kasar dan picik. Karena itu Yesus berkata, ‘kamu tidak tahu apa yang kamu minta.’ Ungkapan yang mengandung penuh ambisi dari ibu anak-anak Zebedeus menunjukkan bahwa ia belum paham akan arti mengikut Yesus, sehingga sang ibu tidak mengerti yang seharusnya dimohonkan. Jawaban yang cepat ‘kami dapat’, ketika Yesus bertanya tentang minum cawan dan baptisan adalah juga menunjukkan kekurangpahaman mereka mengenal Yesus. Mereka memahami minum cawan dan baptisan hanya sekedar persyaratan dunia.  Mereka mengikut Yesus tetapi tidak paham arah dan tujuannya. Ini sudah kacau. Lalu, atas permohonan itu, Yesus dengan lembut menyatakan, bahwa yang menentukan bukan diriNya, melainkan ada yang lebih berhak untuk menetapkan, yaitu Bapa Yang telah menyediakan. Yakobus dan Yohanes memang sangat mungkin dapat diterima, tetapi hanya jika mereka layak, bukan karena kesukaan.
Kesepuluh murid lain yang sejak tadi mendengarkan dialog itu menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Kemarahan kesepuluh murid juga bukan karena sudah paham akan maksud Yesus. Kemarahan mereka juga dalam rangka memperebutkan jabatan tersebut, hanya saja dengan cara lain ‘cari muka’. Karena kesepuluh murid itu juga tidak rela tanpa mendapat posisi empuk. Sungguh, mereka semua hanya berpikir tentang jabatan dunia, padahal Yesus tidak pernah menjanjikan jabatan dunia kepada para murid untuk itu.
Agar para murid paham akan visi Yesus, maka Yesus menggambarkan pemerintahan yang terjadi di tengah-tengah bangsa-bangsa. Yesus menjelaskan cara  pemerintahahan bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Hal ini memang terjadi di sepanjang zaman. Manusia dunia suka memerintah dan menguasai orang lain. Keinginan tersebut dapat dicapai dengan jabatan yang melekat pada dirinya, sehingga ia dapat memerintah demi kepentingan membesarkan diri. Untuk hal itu, para pemimpin tidak enggan menggunakan segala cara, yang menambah penderitaan masyarakat. Yesus menyatakan realita yang ada.
Yesus tidak menghendaki kerajaan dan pemerintahan dunia, dimana manusia mengalami tekanan dan penderitaan. berbeda dengan pola kepemimpinan pemerintah bangsa-bangsa yang mengedepankan tangan besi dan kekerasan, maka pola kepemimpian kristiani adalah pola kepemimpinan melayani/menghamba. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Yesus menghendaki kerajaan yang menghadirkan damai sejahtera. Yesus telah mengajarkan dan praktekkan kerajaan seperti itu selama pelayananNya. Yesus telah memberi teladan, dimana ia hadir sebagai seorang hamba. Kepemimpinan yang demikian itulah yang Yesus kehendaki berlangsung di dalam kerajaanNya. Di dalam Kerajaan Tuhan kebesaran seseorang diukur dari seberapa besar kesediaannya melayani terhadap sesama mereka dan semua orang.
Gereja adalah persekutuan milik Tuhan yang dipakai untuk menghadirkan kerajaanNya, dimana orang-orang yang bersekutu di dalamnya mesti saling melayani. Pelayanan yang diperbuat adalah untuk kehendak Tuhan. Setiap anggota harus legowo apabila kehendaknya tidak tercapai. Kehendak Tuhan itu terlihat di dalam kehidupan berjemaat apabila setiap orang merasakan sukacita.
Kita telah dipanggil Tuhan dalam persekutuan JemaatNya, baik sebagai jemaat maupun majelis. Tuhan berkenan memanggil kita menjadi hambaNya sebagai pelayan, untuk melakukan kehendakNya, bukan kehendak kita sendiri. Jika kita memaksakan kehendak kita, maka kita bukan lagi hamba tetapi telah menjadi tuan. Umat Tuhan dalam suatu persekutuan harusnyalah melaksanakan pelayanan dengan segala ketulusan dan tidak perlu ada kecewa. Juga, seorang hamba tidak perlu mengatakan kepada tuannya bahwa satu hari itu ia telah bekerja keras, supaya ia mendapat pujian. Itu sudah bagian dari tugasnya sebagai seorang hamba.
Kita harus senantiasa membarui dan meningkatkan diri melayani Allah di dalam Jemaat maupun di tengah masyarakat yang majemuk. Pelayanan dapat kita lakukan menolong orang-orang kecil, yang mungkin tak bisa membalas karena keterbatasannya. Kita perlu memberi penghormatan dan pelayanan pada setiap orang sekalipun tampilan lahiriah atau kedudukan sosialnya rendah.
Hasrat menjadi yang terbesar dapat mengancam keefektifan kita sebagai murid Tuhan. Hasrat untuk dimuliakan seharusnya tidak dimiliki seorang pengikut Yesus. Milikilah hati seorang hamba. Bersiaplah mengutamakan orang lain dan merendahkan diri sendiri, maka kerajaan Allah sungguh-sungguh hadir. AMIN by Hasintongan Gurning

Wednesday, 23 October 2013

LAPORAN PENELITIAN SODIAL DI DESA PANIARAN



LAPORAN PENELITIAN SOSIAL DI DESA PANIARAN KECAMATAN SIBORONGBORONG/ HKBP PANIARAN RESORT PANIARAN
MAHASISWA SEKOLAH PENDETA HKBP SEMINARIUM SIPOHOLON
19 Februari -19 Maret 2012

I.Kehidupan Sosial
  1. Ciri Demografis Wilayah
Desa Paniaran Terletak di sebelah Utara Kecamatan Siborongborong+ 5 KM dari Siborongborong arah Kota Tarutung, Letaknya persis berada di Jalan Lintas Sumatera. Letaknya sangat Strategis karena berada di perlintasan jalan Protokol Sumatera. Berbentuk Dataran rendah termasuk dalam bagian daerah Tropis.
  1. Jumlah Penduduk yang ada
Menurut Data Statistik dari Sekretaris Desa PaniaranBapak H Nababan jumlah penduduk Desa Paniaran diperkirakan sekitar 450 KK, hal ini di mungkinkan karena masih ada Penduduk yang tinggal di wilayah itu belum masuk Data Statistik Desa.
  1. Laju Pertumbuhan Penduduk
Laju Pertambahan Penduduk mengalamai kenaikan, hal ini di sebabakan banyak dari anak Rantau dari Desa Paniaran yang Mandah dari Kota-kota Besar ke Bonapasogit, sehingga banyak keluarga Muda yang Produktif, hal ini di akibatkan banyaknya PHK di Daerah perantauan.
  1. Proyeksi ke Tahun 2050
Proyeksi ke Tahun 2050 Desa Paniaran akan di Proyeksikan Menjadi kelurahan, bahkan kemungkinan akan menjadi satu Kecamatan, dengan alasan apabila Provinsi Tapanuli terbentuk maka otomatis Pusat Kota kecamatan Siborongborong akan berubah menjadi ibukota Kabupaten atau Provinsi, dengan pergeseran itu maka Desa Paniaran yang Nota Bene dekat dengan Kota Siborongborong akan menjadi Pusat Kota Kecamatan dan bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi ibukota Kabupaten.



  1. Pemusatan Penduduk
Pemusatan Penduduk Terjadi Di Daera Si Ambolas, yaitu dekat Kantor Kepala Desa setempat. Pemusatan penduduk ini akan menjadi bertambah dengan semakin banyaknya jumlah penduduk (Anak rantau yang pulang kampung)
  1. Perubahan –Perubahan pemusatan penduduk selalama ini dan yang akan datang
Perubahan penduduk masa kini, masih banyak penduduk yang masing tinggal di DAERAH piunggir jalan, perubahan penduduk masa datang, dengan semakin meningkatnya persaingan kehidupan pertanian , maka di perkirakan penduduk akan semakin ke dalam (kedaerah-daerah perladangan/persawahan untuk bertani dan berkebun).
7. Perbedaan-perbedaa Kota- Desa di Daerah Penelitian
Menurut Pengamatan penulis Perbedaan perbedaan antara kehidupan Kota dan Desa tidak begitu mencolok ( Jurang pemisahnya tidak sebegitu lebar, karena Di desa Paniaran sudah tersedia baik itu Sarana Perbelanjaan, atau kebutuhan-kebutuhan lainnya, apalagi Jarak Desa Paniaran dengan Kota Sibrorongborong tidak begitu Jauh, diperkirakan hanya 4-5 KM.
II. Ciri Kehdupan Etnis.
Desa Paniaran dapat dikatakan 98% adalah Suku Batak Toba, dimana Marga-Marga Mayoritas adalah Marga Nababan, kalaupun Terdapat Marga- Marga yang lain, mereka dapat digolongkan sebagai Menantu disana. Mereka sangat menjunjung Adat Budaya Batak, Dalihan Natolu yaitu : Manat mardongan tubu, Somba marhula-hula Elek Marboru. Mereka hidup dalam tatanan kekerabatan dan memlihara nilai-nilai  Adat dan Budaya Batak. Kelompok Etnis Simalungun Hampir tidak ada, kalaupun ada itu adalah Isteri dari Penduduk setempat. Kelompok Etnis Batak lainnya terdapat juga misalnya Dari Batak Pakpak, ada yang bermarga Tumanggor dan Nahampun. Kelompok Etnis Jawa bisa dikatakan tidak ada dan Kelompok Etnis Melayau. Karo ada juga bermarga Peranginangin.
III. Ciri Budaya Wilayah Tersebut
Masyarakat Desa Paniaran masih memelihara Ciri Budaya Batak yakni ‘ Sisoli soli do Uhum Siadapari do gogo” masih ada rasa kebersamaan ke gotongroyongan, hal ini terbukti dari adanya dari antara sesama penduduk yang mau Marsiadapari : artinya sama sama kerja di sawah dan di ladang. Dapat Kita Golongkan Ciri Kebudayaan Etnis penduduk yakni Mengikuti “Adat Humbang”. Ciri atau Cap Masyarakat di Paniaran hampir tidak ada pelabelan yang Negatif, lain halnya dengan desa tetangganya yakni Butar yang terkenal dengan Nama “Bandit Butar”. Tingkat Pendidikan Di Desa Paniaran boleh dikatakan Sudah Rata rata SMU, bahkan banyak dari mereka yang mengecap Bangku Kuliah Di Universitas Negeri di Belahan Nusantara, maupun Swasta, apalagi Universitas Sisingamangaraja XII Silangit sangat dekat. Banyak Anak- anak mereka yang kuliah disana dan Juga di Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Tarutung (STAKN), juga tidak seberapa jauh dari wilayah tersebut. Rekatnya ikatan masyarakat terlihat di anatara Penduduk, hal ini bisa dilihat dari misalnya kalau ada anggota penduduk yang mengalami kemalangan atau Musibah, maka penduduk lainnya akan datang melayat, demikian juga apabila kalau ada yang sakit mereka juga saling membesuk, jika ada anak yang lahir mereka juga saling melihat (Budaya Maranggap masih ada). Situasi Seni di Desa Paniaran tidak kentara lagi. Patung atau seni lainnya tidak begitu nampak lagi.
IV Susunan Kelas di Desa Paniaran
Secara Umum Desa Paniaran tidak dapat di kategorikan pada pembagian Kelas, atau golongan golongan, karena umumnya pekerjaan mereka adalah bertani, berladang dan beternak. Namun dalam kehidupan sehari-hari nampak juga perbedaan di sisi kehidupan ada juga yang kaya, miskin dan sedang. Memang dari antara penduduk ada yang Bekerja di Pemerintahan, Instansi-Instansi Swasta, PNS, Pedagang, Pegawai Kantor. Ada juga 2 orang dari antara Penduduk yang Jabatannya Strategis di Pemerintahan Yakni sebagai Kepala Dinas di Kabupaten , Kadis Pertanian Di Pemkab Tobasa dan Kadis Kehutanan di Pemkab Taput ( Marga Silitonga dan Siregar). Kelas Pekerja Kasar ada juga yaitu mereka yang bekerja sebagai upahan di Kebun atau ladang. Kelas sangat Kaya menurut ukuran wilayah tersebut ada yakni Anak Rantau yang Pulang dari Jauh dan Berusaha di Desa tersebut, namun hal intu tidak begitu nampak jelas karena yang bersangkutan lebih banyak diluar wilayah tersebut.


V Masalah Masalah Sosial
Masalah-masalah Sosial yang ada adalah masalah Tanah, Hak Ulayat, Warisan . Masalah Ras tidak ada karena Ras di sana umumnya Batak Toba. Masalah Sosial yang sering timbul adalah Masalah Perkelahian di Lapo/kedai Tuak. Banyak kaum bapak yang berkelahi di Lapo tuak/ kedai hanya gara gara sedikit saja sehingga menimbulkan pertikaian. Mengenai kaum Wanita bolah dikatakan penduduk disana sangat menjungjung harkat dan martabat seorang wanita. Masalah Keluarga memang sering kedengaran rumah tangga yang berkelahi, namun itu tidak sebegiu parah dibanding dengan daerah-daerah lain. Maslah kaum muda menurut penelitian yang kami perbuat kita dapat menggologkan Kaum Muda disana adalah Muda/I yang patuh dan ulet. Hali ini dapat dibuktikan dengan betapa orang muda disana tidak pernah berpangku tangan, siap sedia membantu orangtuanya keladang/kesawah atau beternak. Maslah seputar pengangguran hampir tidak ada karena semua warfga sibuk mengolah sawah dan ladangnya. Sekolah sekolah terus berbenah mewujudkan panggilan dan pengabdiannya, menurut penglihatan penulis Sekolah yang ada disana masih SD aktif dengan belajar mengajarnya. Obat bius, sepanjang pengamatan kami tentang pemakaian obat bius hampir tidak ada kami dapati ataupin itu dari cerita masyarakat setempat. Mengenai tindak Kejahatan pernah dengar namun hal itu bukan kejahatan murni, semisal mencuri hasil kebun orang lain memang ada, namun itu bukan hal yang umum. Rekreasi; hampir tidak tempat rekreasi disana, kalau mereka ingin berekreasi penduduk disana pergi ke Salib Kasih Tarutung, Pemandian air soda. Ke pantai pantai di Danau Toba semisal Muara, Hutaginjang dan sipinsur paranginan.
VI. Temperamen  Sosial Psikologis
  1. Nilai –nilai yang menonjol : Rata rata penduduk disekitar wilayah Paniaran bertemperamen “Suara Keras” namun bila ditelusuri jauh lebih dalam mereka juga berhati baik dan bijaksana.
  2. Pembagian dan Pertentangan Kelas : Yang dapat kami temui adalah Pembedaan diantara satu satu Ompu segaris keturunan anatar Nababan di satu tempat dengan yang lainnya.
  3. Pandangan Umum terhadap Hidup : Kepuasan dan Ketidak Puasan : Dari pengamatan kami dapat kami simpulkan bahwa pandangan hiudp penduduk disana adalah mari bersama maju dalam mengolah tanah, ladang dan Kebun. Ketidak Puasan : Seringnya penduduk setempat agak memegahkan diri apabila hasil panen dan ternaknya berhasil tidak selalu di barengi dengan rasa syukur, seolah olah semuanya itu adalah hasil jerih payah mereka sendiri bukan Berkat Tuhan.
VII Kehidupan Ekonomi
a. Sososk Umum Perekonomian : Setelah sebulan penulis berada di Desa Paniaran, dapat disimpulkan bahwa Kehidupan disana sudah lebih baik dan lebih merata. Kehidupan Rumah tangga sudah mulai tercukupi dari hasil pertanian/perkebunan/peternakan. Sososk Umum kehidupan Ekonomi do Daerah itu adalah Bertani/berkebun dan beternak. Hampir tidak ada Indusri yang besar terdapat disana.
b. Sitasi Ekonomi. Kehidupan disana sudah mulai Maju, dapat dikatakan tidak lagi melulu hanya tergantung pada hasil pertanian saja, sudah ada yang menopang dari hasil Kebun (Kopi Jember, Ateng, Sayur). Angka pertumbuhan Ekonomi di sana semakin maju terbukti dari perumahan penduduk yang sudah banyak layak huni. Mengenai Inflasi dan biaya hidup sudah terjangkau., karena Hasil dari peternakan sudah ada, namun apabila Hasil pertanian, kebun, kopi dan Terbak semisal babi melonjak turun Inflasi terjadi. Distribusi Pendapatan mereka memang relatif tergantung bagaimana seseorang itu ulet dan tekun mengolah sumber daya alam yang ada disitu. Kekuata serikat-serikat kerja dan hubungan-hubungan tenaga kerja –manajemen tidak kita temui, karena mereka bekerja dilahan dan ladangnya sendiri.
c. Keadaan Lingkungan. Keadaan Lingkungan hidup kondusif, pencemaran udara tidak ada karena tidak ada Industri Besar dan Pembakaran Hutan. Udara disana bersih walaupun asap dan dbu mobil sesekali datang mengotori namun hal iru tidak terlalu merisauka. Persoalan persediaan air di rumah dapat dikatakan dengan memakai mesin Bor atau Dab. Persoalan Irigasi air di Persawahan memang agak kurang, makanya penduduk lebih dominan berladang dan berkebun. Prospek Energi masa sekarang dan depan masih bisa terjangkau. Efektifitas Undangan-undangan lingkungan sangat kokoh, hal itu ditandai dengan adanya patik-patik desa yang tidak boleh dilanggar atau tidak dipatuhi oleh warga.
d. Masalah-masalah Ekonomi
Yang menjadi kendala adalah Modal, Misalnya dalam beternak Babi warga harus mempunyai cukup Modal, apalagi Koperasi Unit Desa jarang di jumpai atau Koperasi-koperasi lainnya yang bisa memodali mereka.
E. Hubungan Perekonomian Lokal dengan Internasional
Hubungan Perekonomian Lokal dengan Internasional bisa dikatakan sangat erat atau menjanjikan, hal ini di karenakan Komoditi Pasar Kopi adalah komoditi Pasar Dunia Internasional. Impor-Ekspor belum terlihat karena hasil Usaha pertanian dan peternakan masih jual beli dalam pasar Tradisional.
Kehidupan Politik
a. Sosok Politik
1. Hubungan antar Partai-Partai Politik.
Kelihatannya Kehidupan Politik di Daerah Desa Paniaran terkesan Adem Ayem saja, karena bila ada pembicaraan di Lapo lapo Tuak, jarang sekali ada yang bicara tentang partai Politik dan Politikus Politikus, bahan pembicaraannya  lebih cenderung ke bagaimana cara beternak supaya lebih cepat besar dan lain sebaginya. Memang Lambang atau Pos pos Partai politik ada namun kelihatan sepi tak ada kegiatan. Namin dari beberapa percakapan dengan warga mereka menginginkan Partai yang barbasiskan Kristen ada supaya aspirasi Orang Kristen tertampung dan bisa diakui di Negara ini.
Kehidupan Gereja
A. Iklim Keagamaan : Pada umumnya Masyarakat Desa Paniaran adalah Mayoritas Penganut Agama Kristen, Kristen Protestan dan Roma Katolik. Yang terdiri dari HKBP, GKPI, HKI, GPP. GPPS, GPDI dan Gereja Kharsimatik lainnya.
            1. Presentase  Protestan                                                                      80 %
            2, Presentase Katolik                                                                          10%
            3. Prsesntasi Gerakan Pentakosta/Kharismatik                                   7 %
            4. Presentasi orang yang tidak bergabubg dalam Agama/Tradisi       3%
            5. Tingkat Kerjasama Oikumensi ( Agak Lumayan)
            7. Kesetiaan dan ketidak puasan keagamaan

Kesetiaan
Banyak dari Panganut dari Gereja tertentu Setia kepada Gereja asalnya, misalnya Gereja HKBP Paniaran walaupun telah banyak Gereja –Gereja yang tumbuh disekitarnya mereka tetap Setia pada Gerejanya, dengan alasan Mereka, Orang tua mereka sudah sejak dulu bergeraja disana, disitulah mereka di Babtis, Naik Sidi, diberkati.
Ketidakpuasan
Banyak dari Warga yang dulunya Warga HKBP menjadi beralih ke Geraja lain dengan alasan HKBP Terlalu ketat dengan aturannya (Dang adong ruang Hosa). HKBP terlalu monoton dasalam Liturgi dan kebaktiannya. HKBP Milik satu ompu tertentu.
B. Situasi Gereja setempat
1 Situasi Distrik HKBP
HKBP Distrik XVI Humbang Habinsaran di pimpim oleh Praeses Pdt Debora Furada Sinaga MTh, yang terdiri dari 26 Resort, Tersebar di 2 Kabupaten yakni Kabupaten Humbahas, Dan Kabupaten Tapanuli Utara. Kantorr Distriknya tepat Berada di Jantung kota Siborong-borong yakni di Jaln Tugu no 2 Siborong-borong.
2.HKBP Paniaran
Pada Tahun 1958 Gereja HKBP Paniaran dipindahkan dari huta bagasan yang dipimpin oleh Pdt Paulus Sihombing, pada Tahun 1960 terjadi Gejolak (Hamaolon) di tubuh Gereja HKBP Paniaran, dan kemudian timbullah Gereja HKI. Tahun 1968 timbul lagi Gereja GKLI. Adapaun masalah- demi masalah- perpecahan demi perpecahan timbul di akibatkan oleh pemilihan Vorhanger, Kubu yang menang bertahan, kubu yang kalah Membentuk Gereja yang baru. Ketika mereka tidak senang melihat Vorhangernya bahkan Sintua nya mereka seeanknya saja pindah Gereja.
Para Pelayan yang pernah Melayani di HJBP Paniaran
1971-1976 Pdt Sianipar
1976-1986 Dijabat Oleh Wakil Guru Huria (Siantua yang dipilih menjadi Voorhanger)
Gr Firma Napitupulu, Gr Hiskia Lubis, Cpdt Tumpal Sinaga Gr Bangun Munthe, Gr Pagar Tampubolon, Pdt Lagu Sihombing. Dulunya HKBP Paniaran masuk ke Resort Lumbantonga-tonga namun sejak Novemeber 2010 HKBP Menjadi Resort Khusus.


Sifat Sifat Para Pendeta, Pemimpin Pemimpin Gereja
Menurut Para Parhalado dan beberapa anggota Jemaat, Sifat-sifat Para Pendeta yang Bertugas di Desa Tersebut secara umum. Baik dan Teladan bagi Umat/warganya tidak mau marlapo-lapo (Kekedai Tuak). Dari beberapa Pelayan yang pernah di tempatkan di  HKBP Paniaran mereka menyebutkanbermacam ragam ada yang lucu dan tidak mengenakkan tentang sifat sifat pelayan Ful Timer disana. Mereka menuturkan banyak juga yang di contoh dari mereka, seperti Hapdoton martani, beternak dan haiason, namun
dibalik itu ada juga yang Losok (Pemalas).
Peran serta kaum awam
Menurut Penuturan St BM Nababan salah seorang Majelis di Gereja tersebut , Banyak ambil bagian dalam Pembangunan Gereja, ketika sebelum Rumah Dinas Huria belum ada maka Pararikamis Memotori Pembangunan Rumah Jemaat,dan itulah rumah dinas yang ada sekarang. Banyak Para kaum awam yang memberikan dukungannya terhadap Pembangunan Gereja maupun Rumah Dinas.

 PA 30 Maret 2012


Nama              : Budianto Sianturi
Dosen:            : Pdt Bonar Lumbantobing MTh
                          Pdt Pahala Jannen Simanjuntak MTh
M.Kuliah        : Penelitian Sosial
Tempat di       : Desa Paniaran Kecamatan Siborongborong