Friday, 13 December 2013

Natal Sebelum 24 Desember atau Sesudah 25 Desember

 Dalam suasana Desember ini banyak perdebatan sesama Protestan mengenai apakah Natal bisa dilaksanakan sebelum 24 Desember , banyak pendapat yang mengatakan Merayakan Natal harus diatas 25 Desember atau dengan kata lain . Mengapa merayakan Natal tanggal 25 Desember


Setiap tahun kita merayakan hari Natal, yaitu Hari Kelahiran Yesus Kristus. Namun mungkin banyak di antara kita yang mempunyai pertanyaan- pertanyaan sehubungan dengan perayaan Natal, setidak-tidaknya seperti tiga buah pertanyaan berikut ini. Pertama, tentang asal-usul perayaan Natal. Kedua, apa perlunya merayakan Natal, mengingat kata Natal tidak disebut dalam Kitab Suci. Ketiga, bolehkah merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember?


Memang ada beberapa teori tentang asal mula hari Natal dan Tahun Baru. Menurut Catholic Encyclopedia, pesta Natal pertama kali disebut dalam “Depositio Martyrum” dalam Roman Chronograph 354 (edisi Valentini-Zucchetti (Vatican City, 1942) 2:17).[3] Dan karena Depositio Martyrum ditulis sekitar tahun 336, maka disimpulkan bahwa perayaan Natal dimulai sekitar pertengahan abad ke-4.


Kita juga tidak tahu secara persis tanggal kelahiran Kristus, namun para ahli memperkirakan sekitar 8-6 BC (Sebelum Masehi). St. Yohanes Krisostomus berargumentasi bahwa Natal memang jatuh pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria adalah imam agung dan hari silih (Atonement) jatuh pada tanggal 24 September, maka Yohanes Pembaptis lahir tanggal 24 Juni dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember.


Banyak juga orang yang mempercayai bahwa kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember adalah berdasarkan tanggal winter solstice (25 Desember dalam kalendar Julian). Pada tanggal tersebut matahari mulai kembali ke utara. Dan pada tanggal yang sama kaum kafir /pagan berpesta “Dies Natalis Solis Invicti” (perayaan dewa Matahari). Pada tahun 274, kaisar Aurelian menyatakan bahwa dewa matahari sebagai pelindung kerajaan Roma, yang pestanya dirayakan setiap tanggal 25 Desember.[5] Hal ini juga berlaku untuk tahun baru, yang dikatakan berasal dari kebiasaan suku Babilonia. Semua ini merupakan spekulasi
.

Namun, anggaplah bahwa data historis tersebut di atas benar, dan pesta Natal diambil dari kebiasaan kaum kafir, maka pertanyaannya, apakah kita sebagai orang Kristen boleh merayakannya? Jawabannya YA, dengan beberapa alasan:


a. Alasan inkulturasi. Kita tidak harus menghapus semua hal di dalam sejarah atau kebiasaan tertentu di dalam kebudayaan tertentu, sejauh itu tidak bertentangan dengan ajaran dan doktrin Gereja dan juga membantu manusia untuk lebih dapat menerima Kekristenan. Esensi dari perayaan Natal adalah kita ingin memperingati kelahiran Yesus Kristus, yang menunjukkan misteri inkarnasi yaitu Allah menjelma manjadi manusia. Dan karena Yesus adalah Terang Dunia (Lih. Yoh 8:12; Yoh 9:5), maka sangat wajar untuk mengganti penyembahan kepada dewa matahari dengan Allah Putera, yaitu Yesus, Sang Terang Dunia itu. Dan karena Yesus adalah “awal dan akhir” dan datang “untuk membuat semuanya baru” (Why 21:5-6), maka tahun kelahiran Kristus diperhitungkan sebagai tahun pertama atau disebut 1 Masehi. Dengan ini, maka orang-orang yang tadinya merayakan dewa matahari, setelah menjadi Kristen, mereka merayakan Tuhan yang benar, yaitu Yesus Sang Terang Dunia. Dan orang-orang tersebut akan dengan mudah menerima Kekristenan, sedangkan Gereja juga tidak mengorbankan nilai-nilai Kekristenan.

Namun di satu sisi, Gereja tidak pernah berkompromi terhadap hari Tuhan, yang kita peringati setiap hari Minggu. Di sini Gereja mengetahui secara persis, bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib jatuh pada hari Jumat, dan kebangkitan-Nya adalah hari Minggu. Pada masa Gereja awal, ada sekelompok orang yang memaksakan untuk mengadakan hari Tuhan pada hari Sabat (mulai hari Jumat sore sampai Sabtu malam). Namun beberapa Santo di abad awal mempertahankan bahwa hari Tuhan adalah hari Minggu dengan alasan: 1) Yesus bangkit pada hari Minggu, 2) Yesus memperbaharui hukum dalam Perjanjian Baru dengan hukum yang baru. Dengan dasar inilah Gereja tetap teguh mempertahankan hari Minggu sebagai hari Tuhan. Namun dalam hal perayaan Natal, tidak ada yang tahu secara persis hari kelahiran Tuhan Yesus, sehingga perayaannya ditentukan dengan pertimbangan tertentu, sebagaimana disebutkan di atas, tanpa mengorbankan prinsip ajarannya.


b. Kalau kita amati, manusia dalam relung hatinya mempunyai keinginan untuk menemukan Penciptanya. Penyembahan kepada dewa matahari merupakan perwujudan bahwa menusia mengakui bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya, dan mereka menganggap ‘sesuatu’ itu adalah matahari, yang dipandang dapat memberikan kehidupan bagi mahluk hidup pada waktu itu. Namun sesuai dengan prinsip “grace perfects nature atau rahmat menyempurnakan sifat alamiah”[6] , maka tidak ada salahnya untuk mengadopsi tanggal yang sama, dengan menyempurnakan konsep yang salah sehingga menjadi benar, dalam hal ini, penyembahan terhadap dewa terang/ matahari dialihkan kepada penyembahan kepada Yesus, Sang Sumber Terang, yang menciptakan matahari dan segala ciptaan lainnya.

c. Adalah baik untuk mempunyai tanggal tertentu (dalam hal ini 25 Desember untuk perayaan Natal), yang setiap tahun diulang tanpa henti sampai pada akhir dunia. Tanggal ini senantiasa akan mengingatkan kita akan kelahiran Yesus Kristus. Kalau kita mengadakan angket di seluruh dunia, dengan pertanyaan “Kita memperingati apakah pada tanggal 25 Desember?”, kita dapat yakin bahwa hampir semua jawaban akan mengatakan “Hari Natal, atau kelahiran Kristus” dan bukan merayakan dewa matahari, ataupun perayaan lainnya.


d. Untuk umat Katolik, melalui masa Adven, Gereja menginginkan agar seluruh umat Katolik mempersiapkan diri menyambut datangnya Sang Raja. Dari sini kita melihat bahwa Gereja Katolik justru mendorong kita semua untuk mengambil bagian dalam persiapan Natal, yaitu dengan pertobatan, agar hati kita siap menyambut kedatangan-Nya yang kita rayakan pada tanggal 25 Desember.

Namun, bukankah Natal tidak pernah disebutkan dalam Kitab Suci? Mengapa kita tetap merayakan Natal? Kita tahu, bahwa tidak semua hal disebutkan di dalam Kitab Suci (lih. Yoh 21:25), termasuk kata Inkarnasi, Trinitas, Natal. Jangan lupa juga bahwa Kitab Suci pun tidak pernah menuliskan larangan untuk merayakan Natal. Satu hal yang pasti adalah kelahiran Yesus disebutkan di dalam Kitab Suci. Merayakan misteri Inkarnasi, merayakan Tuhan datang ke dunia dalam rupa manusia, merayakan bukti cinta kasih Allah kepada manusia adalah esensi dari perayaan Natal. Dengan demikian, perayaan Natal adalah hal yang sangat baik, karena seluruh umat Allah memperingati belas kasih Allah. Kalau memperingati ulang tahun anak kita adalah sesuatu yang baik – karena mengingatkan akan kasih Allah yang memberikan anak di dalam keluarga kita, maka seharusnya memperingati ulang tahun Sang Penyelamat kita adalah hal yang amat sangat baik, bahkan sudah seharusnya dilakukan.


Pertanyaan selanjutnya adalah apakah boleh merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember atau sesudah lewat masa Natal? Sebenarnya, dari pemahaman makna Adven, kita, umat Katolik, tidak dianjurkan untuk merayakan Natal sebelum hari Natal. Sebab justru karena kita menghargai hari Natal sebagai hari yang sangat istimewa, maka kita perlu mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Persiapan ini kita lakukan dengan masa pertobatan selama 4 minggu, yaitu mengosongkan diri kita dari segala dosa yang menghalangi kita menyambut Sang Juru Selamat; agar pada hari kelahiran-Nya, kita dapat mengalami lahir-Nya Kristus secara baru di dalam hati kita. Dengan demikian, kalau kita ingin merayakan Natal bersama keluarga, mari kita rayakan setelah Malam Natal, setelah hari Natal, selama dalam 8 hari (Oktaf Natal). Gereja Katolik memang merayakan Natal sejak Malam Natal sampai hari Epifani (Minggu Pertama setelah Oktaf Natal) dan bahkan gereja-gereja memasang dekorasi Natal sampai perayaan Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (hari Minggu setelah tanggal 6 Januari)

Di Gereja Protestan, Kapan Perayaan Natal Dilakukan?

Setiap menjelang Natal, ada pertanyaan yang mengganjal dalam diri saya yaitu berkenaan dengan mengadakan Perayaan Natal. Bagi pemeluk Kristen Protestan, Perayaan Natal boleh diadakan sebelum tanggal 25 Desember, sedangkan bagi pemeluk Katolik, perayaan Natal baru boleh dilakukan setelah tanggal 25 Desember.
Mengapa demikian, apakah ada perbedaan yang mendasar dalam merayakan Natal antara agama Protestan dan Katolik? Terima kasih atas penjelasan Bapak.
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Sejujurnya saya tidak tahu apakah memang ada peraturan khusus dari gereja RK untuk melarang merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Tetapi seandainya peraturan itu ada, bukan berarti ada perbedaan yang signifikan antara perayaan natal gereja RK dengan gereja-gereja Protestan. Persoalannya lebih antara konsistensi pada kalender gerejawi dengan pola berpikir pragmatis (tetapi tetap ada pertimbangan teologisnya).
Kalau kita mau konsisten pada kalender gerejawi, memang selayaknya Natal tidak dirayakan sebelum tanggal 25 Desember, karena itu masih merupakan masa adventus. Secara liturgis memang terasa aneh jika pada masa adventus, apalagi awal adventus sudah dibacakan teks-teks tentang kelahiran Yesus Kristus. Tetapi orang yang berpikir teologis-pragmatis memandang bahwa Natal seharusnya tidak dibatasi oleh tanggal 25 Desember dengan beberapa alasan:
  1. Natal, kelahiran Yesus Kristus di hati kita seharusnya terjadi setiap hari sepanjang tahun.
  2. Penetapan hari Natal pada tanggal 25 Desember lebih berhubungan dengan masuknya agama kristen ke Eropa ketimbang tanggal persis kelahiran Yesus. Ada yang memperkirakan Yesus justru lahir pada bulan April (dihitung 9 bulan setelah penampakan malaikat Gabriel pada Maria – Lk. 1:26, berdasarkan penanggalan Ibrani yang dimulai dari bulan Maret).
  3. Pemanfaatan waktu dan tempat, serta pertimbangan hari libur setelah Natal.
Jadi ya kembali kepada kita, mau berpikir teologis pragmatis atau konsisten pada kalender gerejawi. Itu saja masalahnya. Isi perayaannya tetap sama.
 Kebiasaan merayakan Natal pada 25 Desember adalah suatu tradisi sejak abad IV, karena pada tanggal tersebut orang-orang Romawi sebelum kekristenan biasa merayakan kelahiran ”Sol Invincibilis” (pesta matahari yang tak terkalahkan). Tanggal tersebut bertepatan dengan peralihan musim gugur ke musim dingin serentak saat dimulainya siang yang lebih panjang daripada malam. Suatu kemenangan matahari atas kegelapan, karena dalam 6 bulan sebelumnya siang lebih pendek daripada malam. Oleh orang-orang Kristen, Yesus dianggap Sang Matahari Sejati yang memberi terang atas manusia.
Banyak Gereja Kristen Protestan merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember, karena saudara-saudara kita kristen tidak melanjutkan tradisi Gereja Katolik yang sudah dirayakan sejak abad IV. Ada juga alasan lain, misalnya Gereja Kristen pada umumnya tidak menggunakan kalender liturgi seketat seperti dalam Gereja Katolik. Pertanyaannya, kalau ada undangan dan ajakan untuk merayakan Pesta Natal pada masa Adven? Kita hendaknya mempunyai sikap tegas terhadap pesta Natal sebelum tanggal 25 Desember dengan mengatakan “tidak”. Kita hendaknya menghindari sikap kompromi dengan alasan demi persahabatan atau tidak ada kesempatan lagi merayakannya setelah tanggal 25 Desember karena banyak orang akan mengadakan liburan. ( Protestan tidak sama dengan Katolik dalam Hal ini )
Gereja Katolik melarang pesta Natal pada Masa Adven karena Masa Adven merupakan masa pertobatan, sebagai persiapan menyambut kedatangan Tuhan. Bertobat berarti kita meratakan hati kita yang lekuk-lekuk oleh rupa-rupa dosa, seperti kebencian, irihati, dan dendam dengan cara menerima Sakramen Pengampunan Dosa di lingkungan-lingkungan atau di gereja. Dalam Sakramen Tobat itu, kita tidak hanya menyesali dosa-dosa kita, tetapi kita juga membuka diri terhadap pimpinan Roh Kudus sehingga kita mau diubah untuk menjadi manusia baru. Terus menerus berusaha menjadi manusia baru merupakan persiapan yang pantas untuk menyambut kedatangan Sang Raja ke dalam jiwa dan hati kita. Karena itu, perayaan Natal yang sangat meriah dan hebat, tetapi tanpa pertobatan adalah tidak berarti dan kosong. Dengan kata lain, kehilangan adven berarti kehilangan Natal, karena kita kehilangan sukacita Natal yang sesungguhnya, yaitu Lahir Baru di dalam Tuhan (Jawaban dikutip dari berbagai sumber)
Memang Tahun Liturgi mengatakan Merayakan Natal harus dilaksanakan setelah 25 Desember , itu adalah dari Tahun Liturgi katolik.
Boleh kita Merayakannya  sebelum 24 Desember , ya Boleh jawabannya singkat saja : Yaitu karena belum ada larangan atau keputusan Protestan tentang itu, Contohnya HKBP , Tak ada satupun Aturannya yang menyatakan Tidak Boleh Natal  sebelum 24 Desember , karena itu belum harga mati. Kalau HKBP atau gereja Protestan lainnya telah mendogmakan itu sebagai aturan greja yang harus di ikuti. Jadi Sah sah saja Merayakan Natal sebelum 25 Desember, dan tentu sangat bagus untuk merayakannya di atas 24 Desember.
( Tulisan ini di angkat dari Berbagai sumber untuk menyikapi Pro dan Kontra Perayaan Natal Pra 25 Desember dan Pasca 25 Desember ) dan ini hanya bersifat pribadi untuk menamnbah wawasan saja




Thursday, 12 December 2013

Menyambut Sinode Agung HKBP 2014 Oleh Pdt Dr Bonar Napitupulu (Ephorus HKBP 2004-2012) *)






Menyambut Sinode Agung HKBP 2014 Oleh Pdt Dr Bonar Napitupulu (Ephorus HKBP 2004-2012) *)

 Sudah menjadi keputusan Sinode Agung HKBP 2012, agar HKBP mengadakan Sinode Agung khusus, yang disebut Sinode Agung Amandemen. Keputusan itu harus dilaksanakan karena merupakan keputusan Sinode Agung, lain hal kalau memang tidak ada usul amandemen. Bila tidak ada usul amandemen maka Sinode Agung itu tidak perlu diselenggarakan. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam pelaksanaan Sinode Agung Amandemen itu. 1. Karena Sinode Agung Amandemen itu adalah keputusan Sinode Agung 2012, maka keputusan Sinode Agung itu harus dipahami secara utuh, terutama yang mengatakan: “Keputusan Sinode Agung Amandemen itu berlaku mulai periode 2016”. Sehingga apapun hasil amandemen, tidak berlaku kepada periode yang sedang berlangsung sekarang, tetapi mulai pada periode 2016 dan seterusnya. 2. Pelaksanaan Sinode Agung Amandemen itu, harus berdasarkan AP 2002, dan JUKLAK-nya, yang merupakan AP yang berlaku sekarang ini. Dengan berpedoman kepada AP itu, sebenarnya tidak perlu dibentuk KOMISI AP, karena bukan mau membentuk AP yang baru. Kalaupun ada yang dibentuk, mereka hanya merupakan Tim Amandemen. 3. Usul untuk Amandemen HANYA yang berasal dari HURIA. Kalau kita urut menurut Juklak, maka prosesnya adalah: HURIA Rapat Ressort (melalui Pendeta Ressort ke Praeses) MPSD Ephorus MPS Ephorus Sinode Agung. MPSD bertugas untuk melihat, dari huria mana saja usul itu, dan apakah benar-benar dalam bentuk amandemen. Kalau hanya diusulkan satu huria saja dan tidak begitu penting, apalagi bukan lagi dalam bentuk amandemen MPSD berhak untuk tidak meneruskannya. MPS bertugas untuk mereformulasi usul amandemen itu seperlunya, agar lebih mudah dimengerti peserta Sinode Agung, atau kalau amandemen itu bukan berasal dari huria, dan bukan lagi dalam bentuk amandemen, MPS berhak untuk menganulirnya. Oleh sebab itu usul amandemen TIDAK BOLEH dari kelompok manapun, baik dari Rapat Pendeta, Rapat Praeses, apalagi dari Tim Amandemen. Tim Amandemen bertugas HANYA mengumpulkan usul-usul itu dan menyusunnya. Kalau kita baca konsep usul amandemen yang disusun Tim Amandemen yang sudah disampaikan ke Rapat Pendeta tidak dapat diketahui dari mana sumber usul itu. Seyogianya dalam setiap point usul amandemen harus disebutkan (biasanya ditulis dalam tanda kurung di belakang usul itu) dari HURIA mana usul itu. Kalau Tim Amandemen tidak memberitahukan dari HURIA mana usul itu atau usul itu bukan dari HURIA, apalagi hanya berasal dari Tim Amandemen, harus ditolak MPS, terutama oleh Sinode Agung. Tim Amandemen TIDAK BERTUGAS dan TIDAK BERHAK mengusulkan sendiri amandemen. Tim juga tidak berhak mengirimkan surat kepada huria-huria, karena wewenang itu hanya ada pada Ephorus HKBP. Itu sebabnya, sekali lagi tidak perlu ada Komisi AP atau Komisi Amandemen, seharusnya hanya dalam bentuk TIM dan tidak perlu terlalu banyak. 4. Amandemen itu bukan untuk merobah struktur, tetapi membuat amandemen untuk memperlancar operasionalnya struktur itu dengan baik. Kalau ada di dalam point-point AP itu yang tidak lagi relevan, dan tidak lagi aktual karena perkembangan zaman dan untuk kebutuhan gereja itu sendiri baru perlu diadakan amandemen. Kalau sudah menyangkut struktur, umpamanya diusulkan agar ada wakil ephorus, atau mengganti MPS menjadi Parhalado Pusat, lebih baik Sinode Agung membentuk AP yang baru, karena hal itu adalah hak Sinode Agung. Contoh yang tidak menyangkut struktur adalah usul untuk mengamandemen peraturan yang mengatakan bahwa untuk praeses yang diajukan Sinode Distrik adalah sebagai BALON, yang akan ditetapkan oleh ephorus terpilih menjadi CALON, agar ditetapkan bahwa yang diajukan Sinode Distrik adalah calon yang langsung dipilih oleh Sinode Agung, walaupun saya sendiri tidak setuju dengan usul itu. Perlu ephorus terpilih yang menetapkan calon praeses agar ada kaitan emosional. Bahkan banyak gereja yang menetapkan bahwa praeses langsung ditetapkan oleh Pimpinan, bukan dipilih oleh Sinode Agung. 5. Dalam mengambil keputusan mengenai usul Amandemen, harus diingat bahwa Sinode Agung itu harus dihadiri sedikitnya 2/3 anggota Sinode Agung, dan usul amandemen itu harus diterima dan disetujui sedikitnya 2/3 dari anggota yang hadir itu. Tidak berlaku rumus 1/2n + 1. Hal ini dialami oleh saudara kita ICA di Australia. Sebenarnya sudah lebih banyak mereka yang setuju agar perempuan bisa ditahbiskan menjadi pendeta, tetapi karena konstitusi mereka mengatakan harus ada 2/3 yang setuju, suara yang setuju belum pernah mencapai jumlah itu. Pada Sinode Agung 2008, diputuskan agar diadakan Sinode Agung Amandemen pada tahun 2010. Menurut pengamatan saya, ada “kelompok tertentu” yang menginginkan untuk mengamandemen AP itu. Saya sendiri sesungguhnya tidak tahu apa tujuan mereka, dan saya tidak setuju dilakukan amandemen pada waktu itu, karena AP itu belum matang dimengerti dan dijalankan huria-huria termasuk oleh para pelayan. Tetapi melihat desakan, yang mungkin juga belum mencapai 2/3 suara, tetapi sangat vokal, majelis Ketua, yang pada waktu itu dipimpin Pdt Dr Darwin Lumbantobing, menerima usul itu, dan memurutskan agar HKBP mengadakan Sinode Agung Amandemen pada tahun 2010. Saya, sebagai Ephorus mengirimkan surat kepada semua huria di HKBP, agar huria-huria secara resmi membicarakan apakah ada usul amandemen dari mereka. Dalam proses rapat di huria, ada usul agar dirobah periode di HKBP menjadi 6 tahun. Setelah usul itu ada dibicarakan di huria, “kelompok tertentu” itu berusaha agar usul itu jangan sampai diterima di Sinode Agung, dengan mengissukan bahwa Sinode Agung Amandemen 2010 itu adalah agenda saya, karena saya ingin memperpanjang periode saya. Bahkan ada pendeta yang mengatakan dalam khotbahnya: “Sinode Agung Amandemen itu adalah usaha ‘penguasa’ HKBP untuk melanggengkan kuasanya, harus kita lawan”. Saya juga bingung dan tidak bisa mengerti, ada pendeta yang mau berbohong dalam khotbah, yang tidak takut akan Tuhan, karena apa yang dia ungkapkan itu, sama sekali tidak benar. Saya bingung kalau ada pendeta yang mau mempermainkan firman Tuhan dalam khotbah hanya untuk memberi kepuasan berbohong kepada dirinya. Padahal Sinode Agung Amandemen itu bukan usul dan rencana saya, dan secara pribadi saya tidak pernah setuju dengan Sinode Agung Amandemen, saat ini, apalagi ketika itu, tetapi saya harus tunduk kepada keputusan Sinode Agung. Dalam setiap kesempatan, baik kepada perorangan maupun kepada kelompok yang datang menjumpai saya, selalu saya katakan bahwa usul merubah lama periode itu tidak baik, dan saya sendiri tidak setuju. Bahkan di Sinode Agung Amandemen, saya nyatakan dengan tulus: “Sungguh anugerah Tuhan yang sangat besar, karena Tuhan memilih saya menjadi Ephorus HKBP hingga 2 periode. Dan kalau Tuhan menyertai saya hingga selesai periode saya, saya sangat bersukacita” (dalam bahasa Batak saya katakan: Marolopolop tondingku molo didongani Debata ahu sahat tu 2 periode songon Ephorus HKBP)”.Saya selalu katakan kepada siapapun, bahwa periode yang 4 tahun itu sudah sangat baik. Karena kalau Pimpinan yang terpilih itu kurang pas, terlalu lama ditunggu 6 tahun; dan kalau memang pas, bisa dipilih untuk periode 4 tahun yang kedua, kalau memang dia masih memenuhi persyaratan yang ada dalam AP HKBP. Saya selalu katakan: “kalau dikatakan periode pertama kami menjadi Pimpinan HKBP terlalu singkat”, itu benar. Karena setelah kami dilantik, belum selesai ‘mangojakhon’ semua praeses beruntun terjadi tsunami dan gempa di negeri tercinta ini. Lagipula sistem di Kntor Pusat belum tertata, ditambah lagi periode itu merupakan awal berlakunya AP 2002, yang sebenarnya harus dipersiapkan sebelumnya semua yang perlu untuk pemberlakuannya, dan hal itu tidak dilakukan sebelumnya. UHN sudah mau bangkrut, Rumah Sakit HKBP Balige mempunyai utang hingga milyaran rupiah, dan sekolah-sekolah yang dikelola HKBP semua terpuruk. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, dan berterimakasih kepada teman-teman yang mau bekerjasama dengan kami, tanpa pamrih, hanya karena kecintaan kepada Tuhan dan kepada HKBP. Saya mengucapkan terimakasih kepada bapak Jenderal (pur) Luhut Binsar Panjaitan dan teman-teman yang mau membenahi Yayasan Universitas HKBP Nommensen, sehingga UHN bisa menjadi Universitas terkemuka di Sumatera Utara. Harus saya katakan, tanpa ada maksud untuk mengkultuskan siapapun, kalau bukan oleh bapak Jenderal (pur) Luhut Binsar Panjaitan, Fakultas Kedokteran UHN tidak akan bisa berdiri. Saya berterimakasih kepada bapak Martua Sitorus yang mau bekerjasama dengan bapak Jenderal (pur) Luhut Binsar Panjaitan sehingga beliau berdua menghibahkan Rp 26 M untuk membangun sarana untuk Fakultas Kedokteran itu. Saya mengucapkan terimakasih kepada bapak dr TM Panjaitan (yang paling banyak bekerja), dibantu dr Bethin Marpaung SpPd.KGEH (alm) Prof dr Gani Tambunan yang tanpa lelah mau membantu saya membenahi Rumah Sakit HKBP Balige, yang kemudian dimatangkan oleh Drs Richad Panjaitan SKM, yang tanpa pamrih membenahi Rumah Sakit itu, terutama setelah dibentuk Yayasan Kesehatan HKBP dan beliau kami angkat menjadi Ketua Pengurus. Mereka semua tidak pernah memperoleh sepeserpun, walaupun mereka mengeluarkan banyak biaya untuk tugas itu. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada ibu, Devi Panjaitan br Simatupang (isteri bapak Jenderal (pur) Luhut Binsar Panjaitan) yang mau menjabat Ketua BPP (Badan Penyelenggara Pendidikan) HKBP yang dengan sekuat tenaga dengan menggunakan Yayasan DEL membenahi sekolah-sekolah HKBP, terutama yang dikelola Kantor Pusat HKBP sebelumnya, yang sudah kami serahkan kepada BPP. Beliau membenahi semua sistem, sarana, guru. Beliau sudah mulai merenovasi dan membangun gedung-gedung sekolah, yang menurut rencana beliau hendak merenovasi dan membangun sedikitnya 2 sekolah dalam satu tahun. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua Panitia Jubileum 150 tahun HKBP: bapak Edwin Pamimpin Situmorang SH MH, bapak Sanherib Panjaitan dengan semua teman-teman; demikian juga kepada Panitia Wilayah; bapak Torang Lumbantobing (Wil I) dengan teman-teman, Dr RE Nainggolan MM (Wil II) dengan teman-teman, Arcenius Napitupulu (Wil III) dengan teman-teman, MTD Pakpahan (Wil IV) dan teman-teman, sehingga Jubileum 150 HKBP terlaksana dengan baik. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua panitia di tingkat huria, ressort dan distrik dan bahkan kepada semua teman-teman yang mau bekerjasama dengan saya di bidang tugas mereka masing-masing sehingga HKBP semakin matang dalam JATI DIRI sebagai TUBUH Kristus. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada boru saya drg Anita dari Yayasan Surya Kebenaran Internasional, yang mau bekerjasama dengan HKBP terutama dalam melakukan pengobatan-pengobatan massal gratis. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Tim SOP HKBP yang membenahi sistem administrasi, keuangan, sehingga terbentuk SOP, SPI, MSIS yang baik di Kantor Pusat, dan direncanakan harus meliputi semua HKBP, yang seyogianya harus dilanjutkan Pimpinan baru. Semua hal itu menjadikan HKBP menjadi organisasi yang semakin baik, terutama hidup dalam jati Diri gereja yang benar yaitu: TUBUH KRISTUS. Itu sebabnya selalu saya katakan: Dengan kondisi yang seperti itu, periode 4 tahun sudah sangat cukup, karena Pimpinan-pimpinan berikutnya sudah bisa meneruskan dan mengembangkan. Tetapi walaupun sudah dalam keadaan seperti itu, didukung oleh pernyataan-pernyataan saya, yang tidak menghendaki perpanjangan periode, “kelompok tertentu” itu masih berusaha agar Sinode Agung Amandemen 2010, tidak membicarakan itu dan mereka berhasil. Anehnya menurut pengamatan saya “kelompok tertentu” itu sekarang yang menghendaki agar periode menjadi 5 atau 6 tahun, dan merencanakan agar langsung berlaku saat ditetapkan, tanpa menghargai keputusan Sinode Agung 2012 yang mengatakan bahwa semua keputusan mengenai amandemen berlaku sejak 2016. Juga telah disusun RIPP (Rencana Induk Pengembangan Pelayanan) hingga 50 tahun ke depan, dan Renstra (Rencana Strategis) HKBP untuk 4 tahun ke depan, yang seharusnya dipedomani semua orang di HKBP, sehingga sesungguhnya tidak perlu ada perobahan lama periode itu. Saya himbau agar kita jujur melakukan amandemen itu: benar-benar sesuai dengan AP HKBP, dan bukan untuk kepentingan perorangan atau kelompok, tetapi untuk kepentingan HURIA. Kita bertanggung jawab kepada TUHAN pemilik gereja itu walaupun itu hanya mengenai amandemen. Gereja, selama di dunia ini, memang adalah organisasi dunia yang harus dikelola dengan baik, tetapi yang TERUTAMA gereja adalah TUBUH KRISTUS, yang harus DILAYANI sesuai dengan Firman Tuhan, baik melalui Aturan Peraturan itu. Selamat mempersiapkan Sinode dan Selamat bersinode. Tuhan memberkati. *) Diketik ulang dari Surat Kabar Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) terbitan Jumat 6 Desember 2013, halaman 13, kolom 1-9. Oleh : Pdt Miduk Sirait S.Th

Saturday, 7 December 2013

BARITA MARDONGAN PODA



Di sada luat adongma dua halak baoa namaraleale, goarna si Tulus dohot si Raja. Si Tulus tammat do sian Sikkolan jala gabe pangajari do ibana, tulus do sintasintana hombar tu goarnai, alai anggo si Raja intap ni kalas 2  do dang tammat singkolana, ai holan na mallubu do ulaonna, gabe di goarima ibana Raja ni pallubu. Dung mangoli nasida na dua , adong ma angka ianakkonna, ia goar ni anak ni si tulusi si Benget ( Nama samaran ) anakhon ni si Raja( Tong nama samaran)  margoar si Burju( Onpe nama samara do tong ). Disada tingki mangajari ma si Tulus di sada Sikkola ( Mangajari  Matematika do ibana ) diajari ibana ma angka muridnai maretong, laos disi do marsingkola anak ni alealena si Raja ondeng . Denggan do diajari  angka murid muridnai siganup ari, jala di ujungni pangajarionnai ( Les terkahir ) di bahen si  Tulusma tugas ni angka murid-muridnai,jala didok dikarejoi ma di jabu, sogot di papugu ( di kumpul ) ia tugas na nidoknai on ma :
1.      ¼ + ¼  = ………….?
2.      ½ + ½  = ………….?
Dungi manghuling ma lonceng mulak be ma nasida , mulak ma nang siburju tu bagasan mardongan las ni roha, ai didok rohana ajaran ni bapakna do ibana mangkarejohon PR i . Dung borngin sai di paima si burju do haroroni bapakna dijabu, alai dang marnamulak sian lapo sahat tu tonga borngin, dungi laos tarpodom ma ibana. Hirahira pukkul 12 bornginna, mulak ma bapana si Raja alai nga mabuk ( tenggen) ala holan namabuk ulaon ni bapak naon laos di goari do ibana si RANTENG ( Si Raja na Tenggen ). Dituktuki ma jabuon mallapak lapak asa dibungka omakna ujungna tarsunggul ma si burju sian podomanna, laos di boan ma tugas PR nai tu jolo ni bapakna na tongon jongjong dope di jolo ni pintui.
“Bapa, adong tugas hu di lehon pangajari matematika tu hami” ninna si burju” Ahai ? ninna bapaknai “matemahita do nimmu? ho ma mate , ba mate nimmu tu au songoni togos au, ninna huhut songgak songgak, daong bapa parsiajaran matimatika do ,  dang mate mahita au pe so na olo dope mate, pelajaran berhitung ninna si burju. Oh ido aha haroa tugasmi dia tuson entengmai , dang dibotoho bapa na malo??? Olo bapa ninna si Burju huhut dilehon bukunai, dijaha bapaknai ma ¼ + ¼ , =……..? alai sai marpingkiri ma bapanai sadia do nuaengon tutu ate, ( huingot na jolo adong do parsiajaran nami songonon seperent goarna ninna rohana dibagasan). Burju ro jo ho tuson ninna ibana laos so dibotoho nanggo apala ¼ + ¼ ? daong bapa alani ajari bapak ma au nina , sai marpingkir do bapaknai dungi didokma ¼ + ¼ = Sabotol nametmet/namenek ( huhut marsoarana gogo mandok otonion dok apalai las so diboto ). Mansai las antong rohani si burju, urju rohana songon rohanai di surathon ibana ma di bukunai  ¼  + ¼ = Sabotol nametmet . Dia adong dope muse tugas mu na asing ninna tu si Burju anaknai, adong dope bapa nina , ½  + ½  =…….? Sadia do bapa? Pintor dialusi bapaknai do 1/2 +1/2 = Sabool na balga ( Huhut mutauta, haroa nga mangonai tuaki ). Alai las do rohani si burju ala nga sae tugasnai huhut disurathon ibana ½+ ½  = Sabotol nabalga, dungi laho ma ibana tu podomanna.
Sogot manogotnai hehema si burju laho tu parsingkolaanna, las rohana . Dung manghuling lonceng, masuk ma Guruna tu Kalas, didokma sebelum kita memulai pelajaran mari Tugas tugasnya di kumpul ke depan. Sude do angka murid murid nai mangharejohon PR nai. Dipareso ma tugas ni sibenget denggan do alusna ½ + ½ = 1, ¼ + ¼ = ½ , dungi dipareso ma tugasni si burju ¼ + ¼ = Sabotol na metmet, ½ + ½ = Sabotol nabalga, songon na hohom do Guru Tulusi I huhut mekkel suping mamereng alusni si Burjui, (bah nga maup timba ninna rohana , na dietong alealekku si Rajai do haroa na minum tuak on manang kamput, huhut sai geleng geleng kepala ibana) hudophon rohakku ninna ibana sip di rohana “sathesen”: sisada panghilalan  hami bah ninna ( haroa rap parminum do nasida ) ujungna di baen do punten ni siburjui (gambar ni tolor nabagulanan 0 ), sai sukkun-sukkun do si burju di rohana boasa gabe gombar ni tolor nabalga puntekhu , hape bapakku do mangajari au ninna rohana, huhut ma ro iluna, sai ima dipaingot ingot ½ + ½ = Sabotol nabalga, ¼ +  ¼ = Sabotolna metmet. Ba nga sala ate, salpang : sala pangajarion.  Dung sahat si burju di jabu pintor didapothon ma bapaknai Bapa, ai sala do nanidok mi didok ho ½ + ½ = Sabotol na balga, ¼ + ¼ + 1 Botol nametmet, alai punteon Nol do au nei ninna huhut gogo soarana, lai dang olo talu bapak na si rajai, baliksa didok guru mi do na oto , dang au ninna huhut di dalani tu lapo muse, tanpa merasa bersalah , dungi dibereng omak ni si burjui ma bukunai , Gelkep : geleng geleng kepala do inantai  ia so diboto nian didok dang diboto, so salai, alai tahe dang olo  talu sai dipartahanton do nabinotona nang pe sala , ninna inantai huhut ma di apuli anakna si Burjui .  Di hita angka dongan namanjaha  olo do tutu sai jotjot hita angka horong  ama  lalap di parlalapan, lalap di lapo tuak mambahas angka  naso sibahason, politik , ekonomi sude do tabotoi ( lumobima angka hita ama ) suda tingki, hepeng, sipata  las so diantureshon ba angka ianakkhon, hira hita ma naumbotosa saluhut angka politik hape ianakkonta dang taajaribe, sai dietong holan tanggung jawab ni ina do mangajari ianakhonna, hape sasintongna tanggung jawab ni natoras ( lumobi ama  do mangajari ianakkhon di tonga ni bagas . Sai unang ma masa angka nasongoni ate he…tu ahu do parjolo hataon  atengani  “ Hamu angka ama “ unang gintali hamu angka anakhonmuna, pagodangodang hamu ma nasida dibagasan ajar na sian Tuhan i” Efesus 6: 4 ( Dienet sian kumpulan Barita mardongan poda : James Jhon Pakpahan, Digurithon Ulang : Budianto Sianturi

Tersenyumlah

10 MANFAAT TERSENYUM :
1. Senyum membuat kita lebih menarik  Kita akan selalu tertarik pada orang yang selalu tersenyum. Orang yang selalu tersenyum punya daya tarik tersendiri. Wajah yang berkerut, cemberut, membuat orang menjauh dari kita , tetapi sebaliknya senyum bisa membuat mereka tertarik.
2. Senyum mengubah mood kita Ketika kita merasa jatuh atau down cobalah untuk tersenyum. Mungkin saja mood kita akan berubah menjadi lebih baik.
3. Senyum dapat merangsang orang lain tersenyum Ketika kita tersenyum pada orang lain, maka orang tsb akan membalasnya dengan senyuman juga.
4. Senyum dapat mengurangi stres Jika tanda-tanda stres menyerang kamu, maka wajah Kamu sangat tidak enak untuk dipandang, sesegera mungkin untuk tersenyum karena senyum membantu mencegah kesan bahwa kita sebenarnya sedang stres, lelah atau merasa down.
5. Senyum meningkatkan sistem imun (kekebalan) tubuh Senyum dapat membantu kerja imun tubuh agar dapat bekerja dengan baik. Ketika Kamu tersenyum, fungsi imun meningkatkan kemungkinan Kamu menjadi lebih rileks.
 6. Senyum menurunkan tekanan darah Ketika Kamu tersenyum, maka tekanan darahmu akan menurun. Jika Kamu gak percaya, Kamu boleh mencobanya sendiri, jika Kamu memiliki alat pengukur tekanan darah di rumah.
7. Senyum mengeluarkan endorphins (pereda rasa sakit secara alami) dan serotonin Beberapa studi telah menunjukkan bahwa senyum dapat merangsang pengeluaran endorphin, pereda rasa sakit yang alami, serta serotonin. Senyum memang obat yang alami.
8. Senyum dapat melenturkan kulit wajah dan membuat Kamu terlihat lebih muda Otot-otot yang digunakan untuk tersenyum ikut membuat Kamu terlihat lebih muda. Jika Kamu ingin sesuatu yang beda, maka berikan senyummu sepanjang hari, maka Kamu akan terlihat lebih muda dan merasa lebih baik. Karena itu dapat Menghilangkan Jerawat juga.
9. Senyum membuat Kamu tampak sukses Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri dalam menjalani hidupnya. Cobalah tersenyum saat Kamu melakukan pertemuan dan saat ada janji. Rekan-rekan kerja, sahabat, orang-orang terdekat Kamu akan merasakan sesuatu yang berbeda dan sukses.
10. Senyum membuat Kamu tetap positif Senyumlah! Lalu sekarang cobalah berpikir sesuatu yang negatif tanpa berhenti tersenyum. Sulitkan? Karena ketika Kamu tersenyum maka senyum tersebut akan mengirimkan sinyal ke tubuh Kamu bahwa hidup Kamu saat ini baik-baik saja. Maka jauhkan diri Kamu dari depresi, stres dan rasa khawatir dengan satu kata yaitu "senyum", tentu saja dengan memberikan senyum pada tempat dan suasana yang tepat. Jika berlebihan, maka orang lain akan menganggap Kamu kurang waras. Mari tersenyum