Thursday, 23 January 2014

Mengapa Tata Letak Mimbar Khotbah Kita Tidak Seragam?

 

 

Mengapa Tata Letak Mimbar Khotbah Kita Tidak Seragam?

Judul di atas merupakan pertanyaan yang sering dilontarkan anggota jemaat, penatua juga rekan sekerja kepada penulis. Memang pada kenyataannya di gereja kita GKPI - juga gereja-gereja tetangga yang sealiran - tata letak mimbar khotbah tidak seragam, ada yang letaknya ditengah-tengah dan ada yang letaknya di sebelah kanan altar. Mengapa bisa demikian? Dalam tulisan ini penulis mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut dari sudut pandang sejarah dan makna teologisnya. Tentu kebenarannya tidaklah mutlak. Diharapkan tulisan ini mendapat tanggapan positif dari para pembaca.

Pendahuluan
GKPI yang lahir dari gereja asalnya HKBP, merupakan bagian dari persekutuan gereja-gereja Lutheran sedunia. Namun jika kita melihat tata letak altar, khususnya mimbar khotbah di gereja kita, pada umumnya tidak menggambarkan pemahaman gereja Lutheran. Gereja Lutheran menempatkan mimbar pemberitaan firman di sebelah kanan altar (jemaat melihatnya sebelah kiri). Sementara itu tata letak mimbar khotbah gereja-gereja kita banyak juga yang mengadopsi tata letak gereja Calvinis, dimana mimbar khotbah berada di tengah-tengah altar.

Ini menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang tata letak itu tidak seragam. Jemaat yang membangun gereja juga arsitek yang merancang interiornya awam tentang hal itu, sehingga yang sering menjadi pertimbangan mereka hanya nilai estetika, tanpa didasari pandangan teologis. Banyak anggota jemaat, bahkan para pelayan pun yang tidak mengerti maknanya. Namun demikian tidak bisa diabaikan bahwa besar atau kecilnya ruangan gereja juga mempengaruhi tata letak altar itu, seperti jemaat-jemaat di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang banyak menempati ruko (rumah toko) sebagai tempat beribadah.

Tata Letak Mimbar Khotbah Gereja Lutheran
Gereja-gereja Lutheran adalah gereja-gereja yang berasaskan ajaran Martin Luther, tokoh reformasi gereja pada abad ke-16 di Jerman. Beberapa tulisan yang menjelaskan ajaran yang dikembangkan Martin Luther dihimpun dalam Buku Konkord. Ajaran Luther menjadi acuan pokok dalam perumusan ajaran dan tata gereja Lutheran. Setelah beberapa dasa warsa, gereja-gereja Lutheran, khususnya di Jerman, telah menjadi gereja yang mapan, ajarannya terumus lengkap, organisasinya mantap dan mendapat dukungan penuh dari negara. Di Indonesia, gereja-gereja yang mendapat pengaruh kuat Lutheran  antara lain; HKBP, HKI, GKPS, GKPA, GKPI, GKLI, GPKB, GKPPD, BNKP, ONKP, AMIN, GKPM.

Ibadahnya berpusat pada khotbah, bukan pada perjamuan kudus (ekaristi). Dalam setiap Minggu harus ada pemberitaan Firman yang murni (hanya dari Alkitab), sedangkan perjamuan kudus tidak selalu diadakan pada setiap ibadah Minggu melainkan tergantung gereja masing-masing sesuai dengan situasinya. Pelayan khotbah di gereja haruslah mereka yang telah ditahbiskan untuk itu. (lih. Konfesi Ausburg; pasal tentang Iman dan Ajaran).

Salah satu ajaran Martin Luther adalah mengenai konsep “Dua Kerajaan”. Ajaran Dua Kerajaan (ADK) ini menghunjuk pada etika politik Martin Luther dan menjadi sangat mempengaruhi sikap politik gereja-gereja Lutheran di seluruh dunia. ADK membicarakan hubungan antara Gereja dan Negara. Sama seperti rasul Paulus, Luther memandang Negara sebagai sesuatu yang berasal dari Allah. Luther memandang bahwa gereja dan pemerintahan sipil sama-sama dipakai oleh Allah sebagai alat pelayanan-Nya di tengah-tengah dunia.

Menurut Luther, pekerjaan Allah di bidang politik, ekonomi dan lembaga-lembaga kebudayaan (pemerintahan sipil atau kerajaan dunia) adalah pekerjaan “tangan kiri Allah” dan pekerjaan Allah dalam bidang kerohanian, penginjilan dan gereja (kerajaan gereja) dinamakan sebagai “tangan kanan Allah”. Kedua tangan ini bekerja dalam harmoni dan dalam perbedaan. Pembedaan ini bukanlah pemisahan. Tangan kiri memang berbeda dari tangan kanan, tetapi keduanya sama-sama tangan yang berfungsi untuk memegang sesuatu. Namun justru di dalam perbedaan inilah terletak nilai yang tinggi dari kerjasama kedua kerajaan itu.

“Ajaran Dua Kerajaan” Luther inilah yang mungkin mempengaruhi tata letak altar di gereja-gereja Lutheran, yang menempatkan mimbar khotbah di sebelah kanan (biasanya lebih besar dan lebih tinggi) dan mimbar umum di sebelah kiri altar.

Tata Letak Mimbar Khotbah Gereja Calvinis
Gereja-gereja Calvinis adalah gereja-gereja yang berasaskan ajaran Calvinisme. Calvinisme adalah sebuah sistem teologis dan pendekatan kepada kehidupan Kristen yang menekankan “kedaulatan pemerintahan Allah atas segala sesuatu”. Gerakan ini dinamai sesuai dengan nama reformator Perancis, Yohanes Calvin. Pengaruh Yohanes Calvin dan peranannya sangat besar dalam perdebatan konfesional dan gerejawi di masa reformasi sepanjang abad ke-17 di Eropa.

Jemaat-jemaat Protestan pengikut Calvin pertama terbentuk di Swiss dan Perancis. Pada tahun 1559 telah berlangsung sidang sinode pertama Gereja Reformed Perancis. Di situ diterima pengakuan iman dan tata gereja yang dirancang Calvin sehingga gereja Protestan di Perancis benar-benar bercorak Calvinis.  Pada tahun-tahun berikutnya, jemaat-jemaat Reformed Perancis ini mengalami hambatan. Perkembangan yang sangat pesat justru berlangsung di Belanda.  Dari Belanda inilah Calvinisme dibawa ke Indonesia, baik oleh para pendeta Gerevormerde Kerk pada jaman VOC maupun oleh para zendeling dari berbagai badan zending (lembaga misi/penginjilan). Di Indonesia, gereja-gereja yang mendapat pengaruh kuat Calvinis  antara lain; GBKP, GKI, GPIB, GMIM, GKJ, GKJTU, GKS, GPM.

Dalam gereja-gereja Calvinis, ibadah gereja berpusat pada khotbah dan perjamuan kudus (tidak  berpusat pada sakramen seperti dalam gereja Katolik Roma). Pengaruh Calvinisme, yang menekankan “kedaulatan pemerintahan Allah atas segala sesuatu”-lah yang mungkin mempengaruhi tata letak altar di gereja-gereja Calvinis, dimana mimbar khotbah berada di tengah-tengah altar dan umumnya berada pada posisi yang tinggi.

Perkembangan Kekristenan di Tanah Batak
Bangsa Belanda yang saat itu sudah +226 tahun menjajah Indonesia, senantiasa berusaha memajukan usaha dagangnya (VOC). Dalam waktu yang bersamaan, mereka melihat bahwa penduduk di Indonesia masih lebih banyak yang belum beragama, selain agama suku. Keadaan ini mereka beritakan kepada gereja-gereja di Belanda. Atas dasar berita ini, Gereja Belanda melalui Badan Zending NZG (Nederlandsche Zending Genotschap) mulai mengutus penginjil ke Indonesia. Mereka memulai penginjilan itu dari Batavia (sekarang Jakarta) ke daerah-daerah yang telah ditaklukkan oleh VOC karena dianggap lebih aman.

Selain Gereja Belanda, Gereja Baptis Amerika Serikat juga mengutus dua orang misionaris untuk bekerja di Indonesia. Akan tetapi hingga akhir pelayanannya kedua misionaris itu belum berhasil menyebarkan Injil ke ‘Tanah Batak’. Sepuluh tahun kemudian, tahun 1834, Gereja Boston Amerika Serikat mengutus dua orang lagi penginjil untuk bekerja di Tanah Batak, yaitu Munson dan Lyman. Setelah menempuh jarak kira-kira 100 km dari suatu daerah yang benama Barus dengan berjalan kaki melewati rawa-rawa, gunung-gunung batu terjal, dan hutan belukar, mereka sampai di Sisangkak Lobupining kira-kira 10 km dari Tarutung ke arah Sibolga. Kedua orang misionaris ini ditolak dan dibunuh oleh penduduk setempat tanggal 28 Juni 1834.

Setelah beberapa tahun Badan Zending Belanda NZG bekerja di Batavia, merekapun mulai melakukan penginjilan ke tanah Batak dengan mengutus seorang Misioanaris bernama Pdt. Van Asselt. Mereka memulainya dari arah selatan (Sipirok). Van Asselt disusul oleh dua orang Misioanaris dari Badan Zending Jerman “Reinische Missions Gesellschaft” (RMG), yaitu Pdt. Heine dan Pdt. Klammer ke Sipirok. Sebelumnya kedua misionaris ini pertama kali diutus oleh Badan Zending RMG bekerja ke Borneo (Kalimantan), akan tetapi, mereka ditolak di sana kemudian kembali ke Batavia lalu diutus ke Tanah batak (Sipirok).

Pada 7 Oktober 1861, yang menjadi hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), ditandai dengan berundingnya empat orang Missionaris, Pdt. Heine, Pdt. J.C. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt. Keempat tenaga zending ini mengadakan rapat di Sipirok untuk membicarakan pembagian wilayah pelayanan di Tapanuli.

Satu tahun kemudian, RMG mengutus seorang misionaris, Pdt. I.L. Nommensen, yang akhirnya digelari sebagai Rasul Orang Batak. Ia sampai di Barus pada tanggal 14 Mei 1862 dan terus ke Sipirok bergabung dengan misionaris Pdt. Heine dan Pdt. Klammer. Setelah berdiskusi dengan kedua Misionaris ini, disepakati pembagian wilayah pelayanan, bahwa Nommensen akan bekerja di Silindung.

Dari sejarah singkat di atas dapat kita pahami bahwa gereja-gereja Batak bukanlah penganut aliran Lutheran yang murni. Pengaruh Lutheran - yang dibawa oleh pendeta-pendeta zending RMG - memang lebih dominan. Namun demikian, pengaruh Calvinis - yang dibawa pendeta-pendeta zending NZG - juga tidak bisa diabaikan, termasuk soal tata letak altar dan mimbar khotbah di gereja-gereja Batak pada tahun-tahun berikutnya.

Pdt. Anthony L Tobing
----------------
Sumber:
1.   Aritonang, J.S,  “Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar Gereja”, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1995
2.   Simorangkir, Mangisi S.E, “Ajaran Dua Kerajaan Luther Dan Relevansinya Di Indonesia”, P.Siantar, Kolportase Pusat GKPI, 2008
3.   Tappert, Theodore G, “Buku Konkord Konfesi Gereja Lutheran”, Penyunting: Mangisi S.E. Simorangkir, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2004
8.       http://suplemengki.com

Wednesday, 22 January 2014

Bahan Jamita Minggu 26 Januari 2014



BAHAN JAMITA
MINGGU, III DUNG EPHIPANIAS
Minggu, 26 Januari 2014
Ev.: 1 Korint 1: 10 – 18; Ep.: Psalmen 27: 1, 4 – 9; S. Patik: I & Lapatanna

Disurathon: Pdt. Daniel Bonardo Pane, S.Th.

HASADAAN MARBARITA NA ULI
Patujolo
            Molo itaida jarijari di tanganta, boi do itadapot parsiajaran sian i. Molo mangangkat sada batu bata, ingkon boi rap jarijari ni tangan on mangangkat batu i. Ndang boi holan jarijari martudu, manang indung ni jari, alai sude jarijari i mardos ni roha jala rap laho mangangkat batu i (patudos tu sapu lidi). Sian turiturian i boi do idaonta dos ni roha dohot dos ni tahi laho patulushon sada ulaon na ringkot di ulaon ni parsaoran. Ganup parsaoran pasti do adong lapatan manang tujuan ni parsaoran i,  jala adong ma dalan na binahen asa jumpang tujuan manang na dihirim sian parsaoran i. Sai unang ma adong parange na holan mangaup tu dirina sandiri jala na so mangharingkothon parsaoran i, laos ido mula ni sega dohot sursar punguan parsaoran i.  
            Songon i ma nian parsaoran ni halak Kristen. Unang ma nian adong parbolatbolatan manang marsiallangan roha angka na diparsaoran i. parsaoran ni halak Kristen ima parsaoran na dijou marhitehite pandidion di bagasan Goar ni Ama, Anak, dohot Tondi Parbadia. Jala parsaoran i adong do tona na ingkon diulahon: ima mamaritahon Barita Na Uli taringot Kristus. Nang pe ragam angka hamaolon na diadopan di parsaoran i, isarana latarbelakang dohot hasomalan na masa di huta manang di ganup halak di parsaoran ni Kristen, jala angka pangajarion na marragam, alai ingkon ingot do, parsaoran ni halak Kristen ima parsaoran marbarita na uli.
Hatorangan ni Turpuk
            Huta Korint, ima sada huta na mansai maju jala ragam angka bangso na ro di huta i, jala didukung huta i ima huta pelabuhan dohot partigatiga jala masa ma marcampur hasomalan (budaya) hinorhon ni ragam hasomalan (budaya) na ro di huta i. Asing ni i, ragam do huria na adong di huta i. Ragam ni huria molo so adong hasadaan huria, pasti do gabe boi tubu parbolatbolatan manang menanggap huria na sada tingkos jala huria na asing dang tingkos hombar tu pangajarion n (dogma) na masa di huria i. Dogma na dianut sada huria marharoan sian latarbelakang dohot hasomalan ni sahalak tokoh na patut ditirunasida laho mamaritahon na uli. Hinorhon ni i adong ma didok, horong ni si Kefas do hami (ima penganut ajaran ni Kefas (boi do tarida sian halak Kristen Jahudi na mian disi jala na dididi si Kefas); adong mandok horong ni Paulus do hami (halak na dididi si Paulus); horong Apollos (boi ma dohonon horong ni huria na so sian Jahudi); adong muse horong ni Kristus dohot horong na asing.
            Marnida ragam ni horong huria (hombar dogma/ pangajarion) na masa di Korint, ditongons Santo Paulus do surat na manosoi angka huria na di huta i asa unang masa parbolatan. Jala diigil si Paulus do asa hot nasida binahen ni sada ni roha dohot sada pingkiran di parsaoran ni huria di huta i (ay. 10). Hasadaan do hagogoon laho mangadopi angka na masa di huta i. Nang ragam angka parpoada haliluon na sai jotjot manorui silang ni Kristus (hombar pangantusion na masa: silang ima sada hailaan; manang ise na diparsilanghon, ima halak na jahat na so boi be diampuni angka pangalaosionna); parpoda haliluion na naeng manegai angka huria na di huta i.
            Dipaboa si Paulus do sian dia do didapot ibana barita taringot huria na di Korint, sian sada keluarga Kristen ima keluarga si Kloe na sai jotjot mamboan barita taringot huria i tu si Paulus (ay. 11). Barita na didapot si Paulus sian keluarga i ima taringot parsalisian ni huria na marragam i. Na mengaggap huria/ horong ni huria do na tingkos jala sintong. Nunga mago pe mula ni tujuan ni huria i. Marsiallangan roha, jala on ma na sai jotjot dipangke angka parpoda haliluon manang sibolis laho manundati misi ni huria i. Di ayat 12 dipaboa si Paulus do ragam horong ni huria di huta i. Molo masa do parsalisian manang parbolatan ni huria marlapatan do i mambagi Kristus (ay. 13). Ai Kristus do na Raja jala Ampuna ni huria (Huria: Ampuna ni Tuhan), jala Kristus do na mate tarsilang humongkop angka jolma na mardosa asa taruli jolma i haluaon marhite adong roha manolsoli dosana jala manjanghon Jesus di ngoluna. Jala dididi na hatandaan pamelehon dirina gabe ampuna ni Kristus (Kristen: Ampuna ni Kristus). Holan dibagasan Debata Jahowa, Ama i; dohot Jesus Kristus, Anak ni Debata, dohot Tondi Parbadia do pandidion alana ido patupa haluaon di jolma i. Ndada goar ni na asing tarlumobi goar ni si Paulus alana ndada si Paulus na paluahon jolma i.
            Di tingki di Korint si Paulus dididi do si Kripus dohot si Gayus na gabe dongan pangurupi si Paulus laho marbarita na uli di huta Korint. Jala dipaandaphon dohot disosoi asa unang marhite goarna si Kripus dohot si Gayus patupahon pandidion alana ndang si Paulus na paluahon jolma i (ay. 14 – 15). Jala ndada holan na dua halak i tahe dididi, alai dohot do pangisi bagas ni Stepanus (ndada Stepanus na mate rajam). Di ayat 17 ingkon manat do hita mangalapati. Nang pe didok si Paulus ndang disuru Kristus ibana mandidi (na martudutudu hasomalan manang pandidion na disi: molo sahalak apostel mandidi sada halak gabe Kristen, diantusi do i na gabe sisean ni na mandidi i jala ampuna ni na mandidi i do ibana). Lapatanna, holan pagodang torop ni halak gabe masuk tu huria i alai ndang adong tujuan dasarna; “marbarita na uli”. Jala dipandaphon si Paulus do i di ayat on, “marbarita na uli do ulaonna nang pe dang boi tarsirang sian pandidion hombar tu pangantusion na tingkos dohot na sintong. Alai marbarita na uli pe ibana, ndada na mangasahon hata bisuk na binoto ibana (filsafat/ pangantusionna) asa unang gae diorui silang ni Kristus.
            Haotoon do barita taringot silang jala diida do i songon haotoon tu jolma na so mangantusi taringot haluaon na pinatupa ni Jahowa marhite silang ni Kristus (ay. 18). Jala pangantusionnasida i, na oto do molo Jesus, Anak ni Debata olo mate humongkop halak pardosa, alai tumagonan do i disiaphon sian tanoon. Alana nasida holan marnida mate di salib i alai ndang marnida aha do panghorhon ni silang ni Kristus i. Jahowa, Debata marhite Jesus Kristus do patupahon haluaon tu jolma i marhite hamamate ni Kristus di hau silang humongkop dosa ni angka jolma na ingkon patut diuhum di paruhuman salelengna jala na so taruli haluaon; jala di silang i do Jesus singkat ni jolma mamorsan sitaonon na sepatutna ditipahon jolma na mardosa asa marhite i boi ma jolma manolsoli dosana jala ro pasahathon/ mamelehon dirina gabe ampuna ni Kristus.           
Refleksi Teologis – Hahoonaan Teologi Turpuk
            Ngolunta sadari on ragam do angka ngoluni jolma itaadopi, adong ma i sian parhepengonna (ekonomi), adong sian parsaoranna, adong sian parbinotoan (pendidikan) manang hasomalan na masa songon i nang ragam ni huria na berkembang. Jala molo diida marragam adong huria boi do adong hinorhon ni hansit ni roha manang manganlang roha di huriana na sada gabe haluar sian huria i jala mamungka huria na imbaru. Alai nang pe songon i di ragam huria na masa, sai unang ma nian mago tujuan ni huria i, ima mambaritahon barita na uli; parsaoran na marbarita na uli marhite hata dohot parange. Mambaritahon taringot silang ni Kristus asa unang adong be jolma i mangasahon dirina, gogona, manang parbinotoanna laho mandapot haluaon. Diigil do diturpuk on asa sada ma nian huria na marragam, sai unang ma na mandok : holan hurianami do na sintong, molo huria na asing huria sakit hati dohot huria na so jelas. Ai sada do Kristus i songon i do nang huria ingkon sada. Ragam do huria alai sada do Tuhan; ai daging ni Kristus do huria i jala ruas huria na marragam i (patudos 1 Kor. 12: 27). Boi do itaida jarijari ni tangan manang sapu lidi, ingkon dos do angka jarijari dohot lidi asa tolhas jala jumpa ma tujuanna hombar tu fungsina.
            Songon i do nang di huriata sadari on. Ragam pangantusion; ragam latarbelakang ngolu; ragam parbinotoan alai unang ma gabe patubuhon parbolatan. Unang ma nian adong mandok: horong/ pro tu Pandita (alana Pandita do torus donganna jala dianggap tingkos) jala na asing horong/pro tu guru huria do hami (ala holan guru huria do donganna, jala dianggap tingkos) dohot na asing. Ndada Pandita manang guru huria ampuna ni huria manang ruas i alai holan Jesus Kristus do ampuna ni huria dohot ruas. Jala unang be adong horong ni ruas do hami alana, ndang adong be tingkos idaon pangalaho ni angka parhalado (Pandita tu guru dohot parhalado na asing na sai jotjot marsiallangan roha). Ndada Pandita manang guru huria manang pangajari di huria i na paluahon ruas ni huria mana jolma i, alai holan marhite silang ni Kristus do. Ido na ingkon dibaritahon songon barita na uli di turpuk on.
            Molo adong pe beda pangantusion manang be pendapat unang pintor i mula ni parbolatan manang hasesega ni parsaoran di huria. Boi do i gabe kekuatan molo ingot do hita tu pangantusion tujuan ni huria, ima mambaritahon haluaon tu ganup jolma na pinatupa ni Jahowa, Ama i marhite Jesus Kristus. Songon falsafah ni Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika: nang pe marragam alai sai tongtong do sada. Sada di tujuan, sada di panghirimon dohot marsada ni roha laho patupahon ulaon ni huria patimbulhon harajaon ni Debata dohot haluoan i tu portibi on. Bekerjasama dohot sama kerja ma nian sude parhalado (Pendeta, Guru huria dohot parhalado nang ruas pe) laho mangulahon ulaoan marbarita na uli dohot patimbulhon Harajaon ni Debata marhite huria, jala unang ma adong na marsiallangan roha manang mangaap dirina tingkos laho mangulahon pangobasionna. Jala unang tapangasahon gogo manang parbinotoanta manang pengalamanta laho patupahon i alai pangasahon ma habisukhon na sian Jahowa, Debata asa unang diorui jolma silang ni Kristus i. Hasanagapon ma di Jahowa, Ama i, dohot Anak-Na, Jesus Kristus dohot Tondi Parbadia olat ni on sahat tu salelengna marhite huria-Na. Amen.

Ibu berbohong berhati Mulia


Kebohongan Yang Bukan Merupakan Kebohongan.! ...

Seorang ibu dalam hidupnya membuat kebohongan :

1. Saat makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, “Cepatlah makan, ibu tidak lapar.”

2. Waktu makan, Ia selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, “ibu tidak suka daging, makanlah, nak..”

3. Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yang sakit, Ia berkata,”Istirahatlah nak, ibu masih belum ngantuk..”

4. Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, “Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang.”

5. Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, “Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggal di sana.”

Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya akan menangis, tetapi ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, “Jangan menangis, ibu tidak apa apa.” Ini adalah kebohongan terakhir yang dibuat ibu.

Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ibu selalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita tapi tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya.

Semoga semua anak di dunia ini bisa menghargai setiap kebohongan seorang ibu yang sebenarya bukanlah suatu kebohongan tapi cinta dan pengorbanan kepada anak yang sangat dicintainya….karena beliaulah sosok nyata yang dikirim TUHAN untuk menjaga kita. I Love You, Mom.!  Cintailah Ibu mu Titah ke 5 ( Selamat Hari Ibu )

Tuesday, 21 January 2014

Pemahaman Tentang Doa Bapa Kami

Doa Bapa Kami (kadangkala dikenal dengan kedua kata Latin pertama sebagai Pater Noster, dan dalam bahasa Yunani sebagai Πάτερ ἡμῶν, adalah doa yang paling terkenal dalam agama Kristen.

Menurut Perjanjian Baru, doa ini diajarkan oleh Yesus Kristus kepada murid-muridnya sebagai pedoman berdoa.

Doa ini diambil dari kitab Injil Matius (6:9-13), yang muncul sebagai bagian dari Khotbah di Bukit. Sebuah doa yang mirip ada pula di kitab Injil Lukas 11:2-4.

Doksologi (Sebab Engkaulah Raja Yang Mulia dan Berkuasa untuk selama-lamanya. Amin.) kemungkinan tidak ada dalam versi asli doa ini, tetapi ditambah kepada Injil karena merupakan penggunaannya dalam liturgi gereja awal. Karena itu pada banyak terjemahan modern, doksologi ini dipindahkan ke catatan kaki.


Bapa kami yang di sorga,
dikuduskanlah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni
orang yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
[Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.
Amin.]

MEMAHAMI ARTI DOA BAPA KAMI

Seringkali kita mengucapkan DOA BAPA KAMI hanyak semata kebiasaan dan doa hapalan saja, padahal setiap kata dalam doa tersebut mempunyai makna yang sangat dalam dan merupakan sebuah untaian doa paling sempurna dari segala doa. Doa yang langsung diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya itu tentu saja memiliki makna yang bisa dipahami kata demi kata. Oleh karena itu kita tidak boleh sembarangan mengucapkan Doa Bapa Kami jika kita tidak memahami bagaimana hidup kita harus seturut dengan Doa tersebut. Mari kita renungkan :

Jangan katakan “ BAPA “ jika kamu tidak mau berlaku sebagai anak Tuhan setiap hari
Jangan Katakan “ KAMI “ jika hidupmu penuh dengan egoism
Jangan katakan “ YANG ADA DI SURGA “ jika yang kamu pikirkan hanyalah perkara duniawi
Jangan katakan “ DIMULIAKANLAH NAMA-MU “ jika kamu tidak menghormati Allah semestinya
Jangan katakan ‘ DATANGLAH KERAJAANMU “ jika yang kamu inginkan hanya keberhasilan duniawi
Jangan katakan “ JADILAH KEHENDAKMU “ jika yang kamu lakukan hanyalah yang kamu inginkan dan tidak mau berserah kepada Allah
Jangan katalan “ BERILAH KAMI REZEKI “ jika kamu tidak mau bersyukur dan tidak peduli terhadap orang yang kekurangan
Jangan katakan “ AMPUNILAH KESALAHAN KAMI “ jika kamu masih dendam dan tidak bisa mengampuni orang lain
Jangan katakan “ JAUHKAN KAMI DARI PENCOBAAN “ jika kamu tidak berniat berhenti dari dosa
Jangan katakan “ BEBASKANLAH KAMI DARI YANG JAHAT “ jika kamu tidak tegas menolak kejahatan
Jangan “ ENGKAULAH YANG PUNYA KERAJAAN, KEMULIAAN DAN KEKUASAAN“ jika kamu menganggap kamulah orang paling berkuasa dan harus dihormati
Jangan katakana “ AMIN “ jika kamu tidak serius menanggapi Doa Bapa Kami.

Sejarah Pengakuan Iman Rasuli

SEJARAH PENGAKUAN IMAN RASULI
Pengantar
Pada pertemuan ini pengajar membimbing peserta memahami proses muncul dan berkembangnya kredo-kredo atau pengakuan-pengakuan iman gereja, yang berfokus pada Pengakuan Iman Rasuli. Sesuai dengan konteks munculnya dan penggunaannya dalam gereja sekarang ini, peserta diajak untuk mengkritisi fungsi dan kegunaan kredo atau pengakuan iman dalam hidupnya sebagai warga GPIB.
Uraian Materi Pembelajaran
Pengakuan iman adalah ungkapan yang digunakan untuk menerjemahkan istilah Latin, credo (Inggris creed, di-Indonesia-kan dengan “kredo”), yang berarti “Aku percayaIstilah kredo atau pengakuan iman ini digunakan untuk menunjuk pada pernyataan iman, pokok-pokok ringkas kepercayaan Kristen, yang diterima umum oleh semua gereja. Atas dasar itu, kredo (pengakuan iman) tidak digunakan untuk pernyataan iman yang berkaitan dengan suatu denominasi gereja. Pernyataan iman suatu denominasi gereja lazimnya disebut konfesi (confession). Jadi, kredo (pengakuan iman) mengacu pada keseluruhan gereja (oikumenis), yang berisi pernyataan-pernyataan kepercayaan yang diterima oleh semua gereja. Sebuah kredo (pengakuan iman) telah diterima sebagai suatu ringkasan pokok-pokok iman Kristen yang formal dan universal.
Di kalangan gereja pada masa patristik (bapa-bapa gereja, 100-451) kata Yunani symbolum atau Latin symbola (: simbol, lambang, tanda pengenal) digunakan untuk menunjuk pada kredo (pengakuan iman) yang diterima gereja dan wajib dipegang oleh semua orang Kristen. Ada tiga kredo atau pengakuan iman dari gereja masa itu yang diterima secara universal di seluruh gereja, dan karena itu disebut ketiga simbol oikumenis. Ketiga simbol oikumenis itu adalah: Symbolum Apostolicum (Pengakuan Iman Rasuli) yang lahir di Gereja Barat (Eropa Barat kuno dan berbahasa Latin, Symbolum Niceano-Constantinopolitanum (Pengakuan Iman Nicea-Konstatinopel) yang lahir di Gereja Timur (Eropa Timur kuno dan berbahasa Yunani) tahun 381, dan Symbolum Athanasianum (Pengakuan Iman Athanasius) yang juga disebut menurut kata pertama dalam bahasa Latin Symbolum “Quicunque” (Pengakuan Iman “Barangsiapa”).
Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Necea-Konstantinopel mempunyai latar belakang pembaptisan. Di gereja mula-mula punya kebiasaan untuk membaptis mereka yang bertobat menjadi Kristen pada hari raya Paskah, menggunakan masa Sengsara (Prapaskah) sebagai masa persiapan dan pengajaran bagi pengakuan iman di depan umum dan komitmen para petobat itu. Persyaratan dasar bagi para petobat baru yang mau dibaptis ialah, bahwa mereka diharuskan menyatakan imannya di depan umum. Kredo atau pengakuan iman itu nampaknya muncul sebagai pernyataan iman yang seragam yang harus diucapkan oleh para petobat baru yang mau dibaptis. Baptisan itu sendiri awalnya dilayankan bagi orang-orang dewasa. Orang-orang yang akan dibaptis harus menyatakan lebih dahulu apa yang dipercayai oleh gereja dalam bentuk tanya-jawab. Tanya-jawab ini di kemudian hari berkembang menjadi apa yang kini kita sebut katekese atau katekisasi (Yunani, katekhein). Pengakuan-pengakuan iman ini konteks awalnya adalah pengajaran untuk persiapan baptisan bagi para calon baptis (katekumen). Konteks baptisan itu nampak dari strukturtrinitas pengakuan pengakuan iman itu. Baptisan dilayankan dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan karena itu pengakuan iman disusun sesuai dengan ketiga unsur itu.
Rumusan-rumusan pengakuan iman mulai menjadi tetap pada abad ke-2. Menurut Bernhard Lohse, dalam bukunya Pengantar Sejarah Dogma Kristen, pengakuan-pengakuan iman paling tua yang ditetapkan dalam gereja adalah Pengakuan Iman Baptisan Romawi yang tua, yang umum disebut sebagai Romanum. Bentuk mula-mula dari pengakuan iman ini adalah sebagai berikut:
  • “Aku percaya di dalam Allah Bapa, (yang) Mahakuasa;
  • Dan di dalam Yesus Kristus, satu-satunya Anak-Nya, diperanakkan,Tuhan kita,
  • Dan di dalam Roh Kudus, gereja yang kudus, kebangkitan daging.”
Rumusan yang sangat sederhana itu aslinya terdiri dari penegasan-penegasan yang bersisi tiga. Mungkin menjelang akhir abad ke-2, definisi-definisi yang lebih tepat ditambahkan pada unsur-unsur yang kedua dan ketiga, sehingga terbaca sebagai berikut :
  • -“Aku percaya di dalam Allah Bapa, (yang) Mahakuasa;
  • -Dan di dalam Yesus Kristus, satu-satunya Anak-Nya yang diperanakkan, Tuhan kita, yang oleh Roh Kudus, dari perawan Maria, yang disalibkan di bawah Pontius Pilatus dan dikuburkan;pada hari yang ketiga bangkit dari yang mati, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Bapa; dari mana ia akan datang untuk menghakimi yang hidup dan yang mati;
  • -Dan di dalam  Roh Kudus, gereja yang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan daging”
Pengakuan-pengakuan iman seperti inilah yang beredar di kebanyakan jemaat-jemaaat Kristen di Barat. Mula-mula dalam bentuk tanya-jawab (responsoris), dan kemudian pada abad ke-3 dalam bentuk pernyataan-pernyataan. Bentuk yang menjadi baku dalam Gereja Barat adalah apa yang kini kita kenal dalam Pengakuan Iman Rasuli. Pengakuan iman ini disusun mulai abad ke-4 hingga abad ke-10. Bentuknya seperti yang kita kenal sekarang muncul dalam suatu tulisan di Perancis Selatan kira-kira tahun 750. Di Gereja Timur ada pelbagai pengakuan iman yang muncul, namun yang dikenal dan diterima umum adalah apa yang kita kenal dengan Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel. Menurut para ahli, pengakuan iman ini sebenarnya berasal dari jemaat Yerusalem, yang kemudian ditambahkan dengan beberapa unsur yang menegaskan keilahian Kristus dan Roh Kudus., dan ditetapkan dalam Konsili Kontantinopel (kini Istambul di Turki) thun 381. Pengakuan iman ini harus dibedakan dengan pengakuan iman Gereja Timur lainnya, yaitu Pengakuan Iman Nicea, yang sebenarnya berasal dari kota Kaesarea dan ditetapkan dalam Konsili Nicea (kini Iznik, juga di Turki) tahun 325.
Pengakuan Iman Rasuli kemungkinan besar adalah bentuk pengakuan iman yang paling dikenal di Gereja Barat. Pengakuan iman ini terdiri dari tiga bagian utama, yang berhubungan dengan Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Ada juga bahan-bahan yang berhubungan dengan gereja, penghakiman dan kebangkitan. Sedangkan Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel adalah pengakuan iman yang bentuknya lebih panjang, yang memasukkan bahan-bahan tambahan berhubungan dengan pribadi Kristus dan karya Roh Kudus. Dalam menjawab kontroversi tentang keilahian Kristus, Pengakuan Iman Necea-Kontantinopel memasukkan penegasan-penegasan kuat tentang kesatuan-Nya dengan Allah, termasuk ungkapan-ungkapan “Allah dari Allah” dan “sehakikat dengan Bapa.”
Pengakuan Iman Rasuli. Pengakuan iman ini disebut “rasuli” karena isinya mengungkapkan pokok-pokok pengajaran para rasul sebagaimana yang diajarkan para rasul seperti tercermin dalam Alkitab (PB). Di kalangan gereja di Indonesia, Pengakuan Iman Rasuli juga dikenal dengan sebutan “Dua Belas Pasal Pengakuan Iman.” Disebut demikian karena memang pengakuan iman ini terdiri dari dua belas pasal atau artikel, namun sebenarnya tidak diketahui alasan persisnya. Sebutan Pengakuan Iman Rasuli pertama diperkenalkan oleh Rufinus (seorang penulis kuno yang mati sekitar tahun 410) dalam sebuah bukunya. Ada cerita yang mengatakan bahwa pengakuan iman itu terdiri dari dua belas artikel, karena tiap rasul mengucapkan satu artikel. Akan tetapi, hal ini sulit untuk dibuktikan.
Mari kita perhatikan bagian-bagian besar dari Pengakuan Iman rasuli itu.
Bagian I berbunyi : Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi.
Bagian ini hendak menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang mahakuasa, Pencipta langit, bumi dan segala isinya, serta yang memelihara dan memerintahnya.                       ………………………………………………………………………………………………
Bagian II berbunyi : Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria, yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut; pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa, dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
Bagian ini hendak mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang melalui kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya – berkarya menyelamatkan semua manusia dan juga kita; Dialah Tuhan kehidupan.
……………………………………………………………………………………………………………
Bagian III berbunyi : Aku percaya kepada Roh Kudus; gereja yang kudus dan am; persekutuan orang kudus; pengampunan dosa; kebangkinan daging; dan hidup yang kekal.
Bagian ini hendak mengatakan bahwa Roh Kudus-lah yang membuat karya penyelamatan Kristus efektif dalam hidup orang percaya, yang telah diampuni dan diberikan hidup kekal.
……………………………………………………………………………………………………………


Kepustakaan :
  1. Alister E. McGrath, Christisn Thology: An Introduction, second edition, Massachusetts: Blackwell Publisher Inc., reprinted 1997.
  2. Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, terjemahan. A.A. Yewangoe, Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. Ke-4, 2001.
  3. Ch. De Jonge, Gereja Mencari Jawab: Kapita Selekta Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. Ke-4, 2000.
  4. Harun Hadiwijono, Inilah Sahadatku, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.
  5. Tony lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristen, terjemahan Corry Item-Corputty, Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. Ke-4, 2001.
 
Baner

Makna Pengakuan Iman Rasuli

Pengakuan Iman Rasuli (Latin: Symbolum Apostolorum atau Symbolum Apostolicum), kadang disebut Kredo Rasuli atau Kredo Para Rasul, adalah salah satu dari kredo yang secara luas diterima dan diakui oleh Gereja-gereja Kristen, khususnya Gereja-gereja yang berakar dalam tradisi Barat. Di kalangan Gereja Katolik Roma, kredo ini disebut Syahadat Para Rasul.

Menurut Katekismus Heidelberg, Pengakuan Iman Rasuli terbagi atas tiga bagian utama yaitu pertama mengenai Allah Bapa dan penciptaan kita. Yang kedua mengenai Allah Anak dan penebusan kita. Yang ketiga mengenai Allah Roh Kudus dan pengudusan kita

Asal-Usul

Menurut legenda, para rasul (murid-murid Yesus) sendirilah yang menulis kredo ini pada hari ke-10 (Hari Pentakosta) setelah kenaikan Yesus Kristus ke sorga. Karena isinya mengandung 12 butir, ada keyakinan bahwa masing-masing murid Yesus menuliskan satu pernyataan di bawah bimbingan Roh Kudus. Namun, sebagian sejarahwan berpendapat bahwa kredo ini berasal dari Gaul, Prancis, pada abad ke-5.

Bukti historis konkret yang tertua tentang keberadaan kredo ini adalah sepucuk surat dari Konsili Milano (390 M) kepada Paus Siricius yang bunyinya demikian:

"Bila engkau tidak memuji ajaran-ajaran para imam ... biarlah pujian itu setidak-tidaknya diberikan kepada Symbolum Apostolorum yang selalu dilestarikan oleh Gereja Roma dan akan tetap dipertahankan agar tidak dilanggar."

Kredo ini paling banyak digunakan dalam ibadah orang-orang Kristen di Barat.

Kredo ini adalah rumusan ajaran dasar Gereja perdana, yang dibuat berdasarkan amanat agung Yesus untuk menjadikan segala bangsa muridnya, membaptiskan mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (Matius 28:18-20). Karena itu, dari kredo ini kelihatan bahwa doktrin sentralnya adalah Tritunggal dan Allah sang Pencipta.

Pada masa ketika kebanyakan umat Kristen masih buta huruf, pengulangan secara lisan Pengakuan Iman Rasul ini seiring dengan Doa Bapa Kami dan Sepuluh Perintah Tuhan (Dasa Titah) membantu melestarikan dan menyebarkan iman Kristiani dari gereja-gereja Barat. Pengakuan Iman Rasul tidak memiliki peran di Gereja Ortodoks Timur.

Versi tertulis yang paling awal kemungkinan adalah Kredo Tanya Jawab Hipolitus (sekitar 215 M). Versi yang sekarang pertama kali ditemukan di dalam tulisan-tulisan Caesarius dari Arles (wafat 542). Pengakuan Iman Rasul ini rupanya digunakan sebagai ringkasan ajaran Kristen untuk calon-calon baptisan di gereja-gereja Roma. Oleh karena itu dikenal juga sebagai Symbolum Romanum (Roman Symbol). Dalam versi Hipolitus, Pengakuan Iman ini diberikan dalam bentuk tanya jawab dengan calon baptisan yang kemudian mengakui bahwa mereka percaya tiap pernyataan.

B Makna Pengakuan Iman Rasuli


Aku percaya kepada Allah,

Bapa yang mahakuasa,

Khalik langit dan bumi.



Dan kepada Yesus Kristus,

AnakNya yang tunggal, Tuhan kita,

yang dikandung daripada Roh Kudus,

lahir dari anakdara Maria,

yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,

disalibkan, mati dan dikuburkan,

turun ke dalam kerajaan maut,

pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati,

naik ke sorga,

duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa,

dan akan datang dari sana

untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.



Aku percaya kepada Roh Kudus;

gereja yang kudus dan am;

persekutuan orang kudus;

pengampunan dosa;

kebangkitan daging;

dan hidup yang kekal. Amin.


1. Aku percaya kepada allah, Bapa yang maha kuasa Khalik langit dan bumi.

( menyatakan bahwa kita mempercayai Allah sang pencipta dan kita memiliki hubungan perjanjian dan persekutuan denganNYa dalam kepercayaan yang sejati dan ketergantungan denganNYA secara kekal )

2. Dan kepada Yesus Kristus, anakNya yang tunggal Tuhan kita

(Pengakuan tentang Yesus Kristus ini adalh pusat dari inti iman kristen. Yesus Kristus adalah penyataan Allah, sumber segala kebenaran dan sebagai sentral keselamatan manusia)

3. Yang di kandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria

(Pengakuan ini menjelaskan bahwa Yesus Kristus memasuki dunia melalui kelahiran dari anak dara yang adalah manusia sejati, Ia tidak memiliki dosa asal ; kemanusiaanNya, tindakan, sikap, motivasi, kehendak, dan pikiranNya bebas dari dosa dan kesalahan. Yesus juga adalah penggenapan janji Allah dan nubuatan PL ( Yes 7 : 14;9:5 bandingkan dg Mat 1:1-25 ))

4. Yang menderita sengsara di bawah pemeritahan Pontius Pilatus, disalibkan , mati dan dikuburkan, turun kedalam kerajaan maut

( Untuk menyatakan bahwa Tuhan Yesus benar2 mengalami kematian, menanggung penderitaan yang disebabkan dosa orang lain)

5.Pada hari yang ketiga, bangkit pula dari antara orang mati

( Pengakuan ini untuk mengkonfirmasikan bahwa kebangkitan Kristus adalah murni fakta sejarah. Pada hari ketiga kubur Yesus didapati kosong, tidak seorangpun dapat menemukan jasadNya )

6. Naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah , Bapa yang maha kuasa

( Bagian ini untuk menyatakan kehormatan, otoritas dan kemuliaan Kristus. Saat ini Kristus Yesus bertahta sebagai Raja yang memerintah dan juga memegang jabatan kenabian sebagai pengajar kebenaran melalui karya Roh kudus (Ibrani 1:3;1:13))

7. Dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati

(Menyatakan iman akan kedatangan Yesus untuk kedua kali sebagai raja dan Hakim yang akan mengadili setiap orang dan menganugerahkan keselamatan bagi setiap orang yang percaya dalam namaNYa )

8. Aku percaya kepada Roh Kudus

(Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Allah tritunggal, kita mengakui bahwa Roh kudus setara dengan Allah Bapa dan Allah Anak, sama2 mulia dan layak di sembah. Roh kudus adalah pribadi yang dinyatakan Allah di dalam melaksanakan anugerah keselamatan)

9. Gereja yang Am dan persekutuan orang kudus

( Gereja adalah " Gereja orang2 berdosa " sehingga dapat di pastikan "tidak kudus", jika dalam pengakuan iman ini disebutkan gereja yang kudus, semata2 adalah karena anugerah Allah dan karya Kristus yang telah di nyatakan ditengah2 gereja. Gereja di katakan "Am" artinya "umum" karena yesus Kristus adalah juruselamat untuk dunia dan seluruh dunia. Dan gereja perlu oergi meberitakan Injil dan mengutamakan persekutuan sebagai anggota tubuh Kristus )

10. Pengampunan Dosa

(Penumpahan darah Kristus menjadi jaminan pengahpusan dosa )

11. Kebangkitan tubuh

( kebangkita ini bukanlah kebangkita daging yang bersifat fana, atau kebangkitan abstrak, tetapi serpti yang di alami Yesus Kristus sebagai yang sulung di antara orang2 yang meninggal (1 Kor 15:20))

12. Dan hidup yang kekal, Amin.

( Menyatakan iman dan pengharapan akan kehidupan yang akan datang )

"Percayalah pada Tuhan, Ia selalu bekerja"

HATA HAPORSEAON

Hata Haporseaon ni Halak Kristen


Ponggol Parjolo
Mula ni nasa na adong
Ahu porsea di Debata Jahowa, I do Ama pargogo na so hatudosan, na tumompa langit dohot tano.
Dia do laptan ni i?
On do: Diparhatutu rohangku do adong Debata na tumompa nasa na manggulmit. Ditompa do dagingku marparnidaan, marparbinegean, marparnianggoan, marpanghilalaan, marpandaian, dilehon do roha tu tondingku jala dipatureture do i saluhutna rasirasa nuaeng; angkup ni i dilehon do tu au parabiton dohot sipanganon siganup ari, ro di nasa na hasea di ahu di hangoluan on; diramoti do ahu asa unang mago jala diondingi do ahu diparmaraan; luhutna i ndang sian denggan ni parangengku manang sian jinou ni tua; tung asi ni rohaNa sambing do i dohot denggan ni basaNa umbahen na dilehon; dibahen i tama hupapujipuji Ibana jala tama huoloi na nidokNa ala saluhutna i, paboa las ni rohangku di Ibana. I ma na tutu situtu!

Ponggol Paduahon
Hata haluaon ni manisia
Ahu porsea di Jesus Kristus Anak ni Debata Jahowa nasasada i; i ma na tinubuhon ni si Maria, na gabegabean sian Tondi Parbadia andorang so habubuhan. I do Tuhanta na tumaon na bernit di panguhuman ni si Latus, na mate tarpajal do Ibana di hau pinarsilang, na tuat tu banuatoru dung ditanom, na mulak mangolu di ari patoluhon, na manaek tu Surgo laho hundul tu siamun ni Debata Jahowa, AmaNa i pargogo na so hatudosan i, disi ma Ibana paima mulak sogot tu tano on manguhumi halak na mangolu dohot na mate.
Dia do lapatan ni i?
On do: Na diparhatutu rohangku do Anak ni Debata situtu Jesus Kristus, na tinubuhon ni AmaNa di narobi ni narobi jala jolma situtu do Ibana ditubuhon si Maria andorang so habubuhan, I do Tuhanku na humophop ahu jala na manghamonanghon. Dipalua do ahu sian hamagoan, ahu na hona toru dohot sian dosa dohot sian hamatean dohot sian gomgoman ni sibolis i, ndada sere manang perak dibahen, tung mudarNa do na arga jala na badia dohot habebernit ni sian ni bagi na tinaonNa i dohot hamtean na so sian salaNa, asa Ibana nampuna ahu jala asa tigor rohangku jala bontor jala sonang mangoloi Ibana salelenglelengna di gomgomanNa; asa songon Ibana ahu na hehe sian hamtean, na mangolu jala manggomgomi salelenglelengna. I ma na tutu situtu.

Ponggol Patoluhon
Hata habadiaon ni halak Kristen
Ahu porsea di Tondi Parbadia, jala adong sada Huria na badia, Huria hatopan ni halak Kristen angka na badia, dohot di hasesaan ni dosa dohot di Hata i na mandok: Mulak mangolu do sogot daging ni halak naung mate, dohot di hangoluan na so ra suda.
Dia do lapatan ni i?
On do: Na diparhatutu rohangku do, na so tarbahen ahu porsea di Jesus Kristus Tuhanku manang mandapothon Ibana, ianggo tung sian roharohangku manang sian gogongku sandiri, na dijou Tondi Parbadia i do ahu marhite sian Barita Nauli, dilehon do asi ni rohaNa patiurhon rohangku, diparbadiai do rohangku jala dipatongtong do ahu dibagasan haporseaon na ture, tudos tu na binahenNa i nuaeng tu saluhut halak Kristen na di tano on; ai dijou do nasida jala dipapungu jala dipatiur do rohanasida jala diparbadiai jala dipatongtong do nasida di Tuhan Jesus dibagasan haporseaon na sasada i na tigor i. Angkup ni i buas do rohaNa manesa dosangku ganup ari, ro di dosa ni angka donganku na porsea; dung i pangoluonNa do ahu di ari parpudi ro di nasa na mate, dung i lehononNa do tu ahu dohot tu nasa na porsea di Tuhan Jesus hangoluan na so ra suda. I ma na tutu situtu.