Monday, 3 February 2014

Ulang Tahun Trina Melati Banjarnahor AM.k,Yohana Yolanda Sianturi&Yolia Isabel Sianturi



 SELAMAT ULANG TAHUN MAMI, & 2 PUTRIKU TERSAYANG
TRINA MELATI BANJARNAHOR AM.k
YOHANA YOLANDA SIANTURI
YOLIA ISABEL SIANTURI

                   Selamat Ulang Tahun Mama :Trina Melati Banjarnahor AM.k 3 Febriari 1977-3 Februari 2014
Bulan ini adalah hari yang berbahagia buat keluarga kami,dimana anggota keluarga kami Mensyukuri Berkat  Tuhan atas kami,Anak saya Yohana Yolanda Sianturi Tepat Pada tgl 31JanuariGenapUmurnya 10 Tahun,Hari ini 3 Februari Isteri saya Berulang Tahun Yang ke 37,dan Tgl 22 FebruariPutri Bungsu kami  berulang tahun yang ke  6 , Selamat Ulang Tahun Buat Boruku :Yohana Yolanda Santuri 31 Januari 2004, Isteri Saya Trina Melati Banjarnahor AMk 3 Februari 1977, Putri kami Yolia Isabel Sianturi 22 Februari 2008, Sebagai Terimakasih saya kepada Tuhan disin saya mengutip sebuah renunganyang ditulis oleh Pdt HM Siagian MPTH, dan renungan tentang Ulang Tahun

HIDUP ADALAH PEMBERIAN TUHAN 
 
" Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan." (Ams 3:16)
Pernahkah kita berfikir bahwa hidup ini berasal dari Tuhan. Tuhanlah yang memberikan hidup bagi setiap manusia. Kalau kita mengatakan bahwa hidup berasal dari Tuhan maka kita patut bersyukur bahwa hidup kita rupanya pemberian dari Tuhan.

Ada 3 hal yang dibutuhkan oleh setiap manusia.
1. Umur panjang.
2. Kekayaan.
3. Kehormatan.

Umur panjang berbicara tentang hidup yang sehat baik jasmani, rohani, serta hidup yang indah.

Kekayaan bisa berbicara tentang material, dan kecukupan sehari hari.

Kehormatan yaitu kedudukan, jabatan, derajat dimana orang lain menghormati kita.

TIGA  hal ini yang diminta oleh setiap orang. Namun kalau kita belajar dari Amsal ini, kita akan menemukan bahwa Raja Salomo tidak meminta ke tiga hal ini. Ketiga hal ini merupakan sebuah bonus dari Tuhan.
Bagaimana Salomo waktu itu mendapatkan ke tiga hal ini: Kunci utama yaitu melalui DOA. Salomo berdoa kepada Allahnya meminta petunjuk. Salomo menyadari bahwa dia perlu berhubungan dengan Tuhan. Hanya melalui Dialah segalanya. Kenapa Salomo bisa menjadi seorang Raja yang paling Masyhur, Jaya dan dihormati Karena melalui Doa.
Raja raja 3: 13-14 “ Dan apa yang tidak kamu minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorang pun seperti engkau di antara raja raja. Dan Jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintahKu sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu.’


Inilah pembicaraa Allah kepada Salomo, Allah memberikan bonus kepada Salomo yaitu Umur panjang, Kekayaan, dan Kehormatan.
Apa yang diminta oleh Salomo sewaktu doa adalah HIKMAT. Salomo menyadari bahwa hanya melalui Hikmatlah bisa menjadikan bangsa Israel menuju kejayaan.
Amsal mengatakan Hikmat yaitu TAKUT AKAN TUHAN.
Saat ini yang harus anda lakukan yaitu:
1. Berdoa kepada Tuhan.
2. Minta Menjadi anak Tuhan yang punya HIKMAT yaitu TAKUT AKAN TUHAN.
3.Terima BONUS.

  
               KELAHIRAN ADALAH BERKAT CAMPUR TANGAN ALLAH.
Yeremia 1:5“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa”.
Kita harus menyadari bahwa kita lahir tanpa campur tangan Tuhan tidak mungkin terjadi. Artinya kelahiran seseorang bukan karena hubungan secara biologis. Memang prosesnya melalui hal itu, namun apakah anda menyadari bahwa jika anda lahir tanpa mata, nafas, darah, maka tidak ada kehidupan. Tuhan memberikan kehidupan bagi setiap manusia.
ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Tuhan membentuk hidup anda. Proses pembentukan dari sejak dalam kandungan Tuhan merajut kehidupanmu. Dan tanpa disadari proses pembentukan manusia dapat di hancurkan oleh manusia. Ingat peristiwa penciptaan Manusia. Tuhan menciptakan Taman Eden untuk Manusia. Namun manusia lebih memilih untuk berbuat dosa yang mengakibatkan kematian secara rohani.
2. Mengenal engkau. Kalau saat ini anda ulang Tahun ingatlah Tuhan mengenal hidupmu dan Tuhan rindu anda mempunyai persekutuan yang dekat dengan Tuhan. Apakah anda mengenal sang Pencipta yang menciptakan hidupmu.
3. Menguduskan engkau. Anda dilahirkan dibumi bukan untuk pesta pora, mabuk, narkoba, dan perbuatan perjinahan, dan melakukan dosa. Namun anda lahir untuk dikuduskan, disucikan.
4. Tetapkan. Tuhan mempunyai rencana untuk hidupmu. Rencana Apakah itu?. Rencana ilahi. Ingat Yusuf dia menjadi seorang pemimpin Mesir setelah Raja. Karena ada rencana Tuhan. Perhatikan cerita Daniel, Tuhan punya rencana bagi dia ditengah bangsa Babilonia yang tidak mengenal Tuhan. Ingatlah cerita Ester, dia jadi putri raja supaya ada rencana Tuhan menyelamatkan bangsanya yang mau dimusnakan.
Keempat hal ini kiranya memberkati kita.



                                   Selamat Ulang Tahun Boru ku : Yohana Yolanda Sianturi,31 Januari 2004-31 Januari 2014

Ulang Tahun = Tambah Umur atau Kurang Umur?

Ulang Tahun = Tambah Umur atau Kurang Umur?

Hari ini adalah hari ulang tahun istaeri saya Trina Melati Banjarnahor AM.k 
31 JanuariYang lalu Ulang Tahun Putri saya Yohana Yolanda Sianturi
22 Februari yang akan datang Ulang Tahun Putri Bungsu saya : Yolia Isabel Sianturi


Sehubungan dengan ulang tahun, sejak kecil kita diajarkan bahwa ketika seseorang ulang tahun, kita harus bersukacita dan merayakan bertambahnya umur kita satu tahun lagi. Memang benar, ketika kita berulang tahun kita merayakannya karena usia kita bertambah satu tahun di dunia ini. Tetapi jika dipikir-pikir, semakin bertambahnya umur seseorang, ketika ia berulang tahun, justru hal tersebut menunjukkan bahwa usia dan waktu dia di dunia ini sudah berkurang satu tahun lagi. Itulah mengapa semakin tinggi usia seseorang, seharusnya orang tersebut menjadi semakin bijaksana dalam menggunakan waktu sisa hidupnya di dunia ini.
Kitab Amsal mengatakan bahwa seseorang seharusnya berbahagia bukan karena hal-hal duniawi, apalagi berbahagia karena usia kita bertambah. Kitab Amsal mengatakan dengan jelas bahwa “berbahagialah  orang yang mendapatkan hikmat dan kepandaian” (ay. 13). Hikmat dan kepandaian dari Tuhan tersebut jauh melebihi harta duniawi, bahkan melebihi emas dan perak (ay. 14). Itulah mengapa ketika Salomo meminta hikmat kepada Tuhan dan bukannya kekayaan, harta benda, serta umut panjang, Tuhan pun akhirnya memberikan hal-hal lainnya tersebut kepada Salomo sebagai bonus (2 Taw 1:11-12).

Demikian juga dalam ayat 16, yang merupakan salah satu ayat yang paling banyak dikutip saat kita mengucapkan selamat ulang tahun kepada orang-orang terdekat kita, “Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan”. Memang ayat tersebut merupakan ayat yang sangat indah, namun sayangnya banyak orang lupa membaca beberapa ayat sebelumnya. Umur panjang, kekayaan, dan kehormatan itu adalah bonus bagi orang-orang yang takut akan Tuhan, yaitu bagi orang-orang yang meminta hikmat kepada Tuhan. Mazmur 90:12 mengatakan bahwa pemazmur meminta agar Tuhan mengajarnya untuk menghitung hari-harinya, agar ia memperoleh hati yang bijaksana.

Bonus yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang mengutamakan hikmat dari Tuhan bukan hanya bonus di saat ini berupa umur panjang, kekayaan, dan kehormatan. Tuhan juga dapat memberi bonus di masa depan yaitu jalan hidup yang bahagia dan sejahtera (ay. 17). Selain itu, Tuhan juga memberi bonus tidak hanya kepada diri kita, tetapi juga kepada orang-orang di sekitar kita. Kitab Amsal mengatakan bahwa kita akan menjadi seperti pohon yang menjadi berkat bagi orang lain, sehingga setiap orang yang memegang kita akan mendapatkan kebahagiaan (ay. 18). Tuhan tidak ingin kita diberkati begitu saja dan semua selesai. Tuhan ingin agar kita diberkati dan menjadi berkat bagi orang lain juga. Tuhan ingin agar melalui diri dan kehidupan kita, orang lain juga dapat merasakan berkat dan kasih Allah dalam kehidupan mereka.

Kembali lagi ke pokok bahasan kita di awal, terkait dengan umur panjang, tentunya sah-sah saja pada setiap kita merayakan ulang tahun, kita berdoa kepada Tuhan agar kita diberikan umur panjang. Tidak ada ayat Alkitab yang melarang kita untuk meminta umur panjang kepada Tuhan. Walaupun demikian, seharusnya kita juga memikirkan, andaikata kita diberi umur panjang, apa yang kita lakukan bagi Tuhan? Apakah kita dapat memuliakan Tuhan melalui kesempatan dan umur panjang  yang Tuhan berikan kepada kita? Atau jangan-jangan justru umur panjang kita gunakan untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi saja. Alangkah baiknya jika pada setiap hari ulang tahun, kita menginstropeksi diri kita, apa saja hal-hal yang sudah saya lakukan selama satu tahun ke belakang? Berapa banyakkah hal-hal yang memuliakan Tuhan? Mari kita selalu instropeksi diri kita masing-masing agar kita lebih baik lagi menjalani hari-hari kehidupan kita di dunia ini.

Life is full of choices. Hidup penuh dengan pilihan. Ini bukan cuma sekedar kata bijak karena rasanya kita semua tidak asing lagi dengan berbagai pilihan dan pengambilan keputusan setiap hari dalam hidup kita. Hikmat merupakan pilihan bijaksana yang bernilai tinggi di mata Tuhan. Karenanya berbahagialah orang yang mendapat hikmat
                       Selamat Ulang Tahun Putriku :Yolia Isabel Sianturi,22 Februari 2008-22 Februari 2014
 



Thursday, 30 January 2014

Sebuah Refleksi Tentang Hikmat Salib 1 Korintus 1:10-18

Tentang Hikmat Salib; di 1 Korintus 1, 10-18
                                                       Oleh : Gr Absalom Castle Sianipar
 
Pemimpin Selebritis ala Korintus Pasal pertama dari surat rasul Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus memberitahu kita bahwa gereja yang dimulai oleh pelayanan rasul Paulus dalam perjalanan misinya (lihat Kisah 18) sedang mengalami perpecahan. Membaca tentang perpecahan dalam jemaat mungkin tidak terlalu mengejutkan bagi kita orang Kristen yang hidup di abad ke-21. Itu hal yang biasa, normal, dan terus terjadi sampai hari ini. Yang sering luput dari perhatian kita adalah faktor penyebabnya. Mengapa perpecahan tersebut terjadi? Bukan karena pengaruh sekuler dari luar gereja (meskipun gereja tersebut terletak di kota Korintus yang dilukiskan dengan tepat oleh seorang komentator Alkitab sebagai "the most populated, wealthy, commercial-minded and sex-obsessed city of Eastern Europe"). Meski gereja Korintus sarat diwarnai oleh multikulturalisme, filsafat sekuler, imoralitas, dan materialisme, bukan itu yang menjadi penyebab perpecahan. Faktor penyebabnya juga bukan perbedaan teologis atau pengajaran yang bersifat doktrinal. Memang seringkali alasan ini dijadikan 'kambing-hitam' yang melegitimasi perpecahan gereja sampai-sampai seakan timbul persepsi bahwa perpecahan gereja secara absolut dapat dibenarkan apabila alasannya adalah perbedaan teologis. Yang menjadi penyebab perpecahan adalah pengkultusan individu-individu pemimpin atau personality cult: Jemaat tercerai-berai dalam golongan dengan label-label nama figur idola mereka: Paulus, Apolos, Kefas, dan Kristus. Paulus adalah pendiri gereja Korintus, bapak rohani yang membawa mayoritas individu kepada Kristus. Jadi wajar kalau ada orang-orang yang lalu menganggap dia sebagai tokoh terpenting yang perkataannya harus ditaati. Apalagi dia adalah seorang intellectual giant dalam pengajaran doktrinal. Apolos adalah pengajar Alkitab dengan kemampuan ekspositori Perjanjian Lama dan teknik orasi yang sangat efektif (lihat Kisah 18:24-19:7). Alumni 'universitas' di Aleksandria ini mungkin memiliki intelektual yang sama dengan Paulus yang adalah alumni 'universitas' di Tarsus, namun teknik komunikasi massa-nya lebih hebat dibanding Paulus (band 2 Kor 10:10). Tidaklah mengherankan kalau kemudian terbentuk semacam elit intelektual di jemaat Korintus yang sangat mengagumi jagoan apologetika mereka ini. Kefas atau Petrus adalah rasul yang dipanggil Allah untuk mengabarkan Injil pada orang-orang yang bersunat, sedangkan Paulus pada orang-orang yang tidak bersunat (Gal 2:7). Fakta ini menjadi potensi penyebab sekelompok orang-orang Yahudi lalu membentuk "The Kefas Club" Tidak ketinggalan adalah orang-orang yang menganggap bahwa mereka tidak perlu pemimpin samasekali. Ironisnya, orang-orang ini lalu membentuk kelompok sendiri dan menyatakan diri sebagai kelompok Kristus. Sama halnya hari ini kita mengenal denominasi Church of Christ, The Church of Jesus Christ of Latter Day Saints, Disciples of Christ, dan lain sebagainya. Dan tidak perlu terkejut kalau hari ini kita memiliki gereja Lutheran, Wesleyan, Mennonite, dan seterusnya. Rasanya kurang etis kalau menyebutkan nama-nama pemimpin Kristen yang hari ini diikuti oleh ribuan bahkan ratusan ribu massa. Namun mereka eksis hari ini dalam berbagai kultur, apalagi dalam kultur Indonesia yang sangat paternalistik. Mereka telah ada, masih ada, dan akan senantiasa ada. Kristus, Bukan Manusia Paulus menekankan bahwa perpecahan di Korintus terjadi karena mereka telah mengalihkan fokus perhatian mereka dari Kristus. Ketika pemimpin manusiawi dijadikan objek penyembahan dan dikondisikan untuk memegang pusat kontrol kuasa, maka Kristus digeser dari tempatNya. Memang manusia lebih mudah berinteraksi dengan sesuatu yang tangible, yang dapat dilihat, ketimbang sesuatu yang intangible. Jadi yang tidak nampak dimata kemudian sering diganti dengan sesuatu yang lebih riil. Allah diganti dengan lembu emas. Kristus diganti dengan pemimpin manusia. Tentu ini tidak diakui secara verbal, namun nampak jelas dalam praktika. Bagaimanakah kita harus memperlakukan pemimpin kita? Paulus bertanya "Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus?" (yang menarik, dia tidak menulis "siapakah Apolos? siapakah Paulus?") dalam 1 Korintus 3:5. Paulus mengajukan retorikanya: Kamu pikir kami ini apa sih? Manusia super semi-malaikat? Pemimpin-selebritis? Berhala modern? Salah! Kami adalah pelayan. Tidak lebih dari itu. Memang ada otoritas yang Allah berikan kepada para pemimpin yang Ia panggil. Memang umat harus menghormati dan mentaati para pemimpin yang Allah telah tetapkan. Namun tekanan seorang pemimpin Kristen bukan pada otoritas atau statusnya, namun kepada kerendahan hati dan tanggung jawab seorang pelayan kepada tuannya. Paulus mengajarkan bahwa baik dia maupun Apolos (yang lebih hebat dari dia sekalipun) adalah diakonos, pelayan meja yang menunggu instruksi dari Tuhan untuk melayani jemaat. Memang fungsi pelayanan mereka sangat penting, namun mereka tidak lebih dari alat yang samasekali tidak berguna tanpa Allah bekerja melalui mereka. Tentu pengajaran Paulus diatas tidak akan laku hari ini dalam seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan kepemimpinan yang menekankan image management: sell yourself high and speak highly of yourself! Yang jelas, alkitab mengajarkan dan sejarah telah membuktikan bahwa pengkultusan individu pemimpin bukan saja tidak sehat, namun berbahaya bagi keberlangsungan sebuah komunitas di berbagai level. Pengamsal mengatakan bahwa orang yang menolak ajaran Tuhan adalah orang bebal. Demikian juga orang yang tidak pernah belajar dari sejarah dan terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama. Yang paling bebal adalah orang yang cuek terhadap keduanya.amin


Jamita Minggu IV dung Epiphanias Mika 6:1-8



Jamita Minggu IV dung Epiphanias 
di HKBP Distrik IX Sibolga-Tapteng-Nias,  02 Pebruari 2014
“Mangulahon Uhum, Habasaon dohot Haserepon”
Mika 6:1-8
Oleh : Rukun Hutagalung 


 
I.   Patujolo
Krisis Politik, sosial, ekonomi dohot Haporseaon (Iman) manghungkupi bangso Juda uju ginonggoman ni si Jotam, Ahas, dohot si Hiskia, gabe lam lumlam ma nang hasadaon ni bangso i, na pogos lam marpogos na lea lam marlea, alai sai dipukpuhi do patupa pelean situtungon tu Debata laho patupa hasesaan ni dosa atik pe parange nasida ndang mansohot sian hasomalan nasida ima na sai mangulahon nahinagigihon ni Debata, najumorbut dope sahat tu na mamelehon anak buhabajuna pe sanggup do nasida alai pangalaho tong sai manimbil sian lomo ni roha ni Debata. Tarhirim Debata dihamubaon ni roha ni Bangso i, gabe tumpol ma dihatahon Debata hirim ni rohaNai tu Bangso i, pola disuru naposoNa si Mika laho manurirangi/saksi tu nasida asa dipaandar angka dia ma na jat na niula ni Bangso i dohot na denggan na binahen ni Debata naung jinalo ni Bangso i. Jempek dohonon tona ni Debata tu nasida ima: “asa diulahon ma uhum dohot holong ni roha di habasaon, jala marpangalaho haserepon maradophon Debata”, holan ido hirim ni rohaNa sian Bangso hinaholonganNa i.
II. Hatorangan ni Turpuk
Ayat 1-2: “Masipatumpolan”. Dipungka Debata do sidang bolon maradophon Bangso Jehuda asa tung tangkas ditangihon jala dihatindanghon angka dolok angka pambahenan ni Debata tu nasida (Hesekiel 6:2-3), masitariasan do Debata dohot Bangso i patar songon indahan di balanga, soada na buni/hungkup di parkaro i, tung tedek do sude, alai dung masipatumpolan  nasida gabe patar ma hajahaton ni angka Panggomgomi ni Bangso i na sai manghagigihon hasintongan i dohot na sai papeolpeol uhum tu angka na pogos (bindu 3), “si miskin tetap bersalah” hira ima na masa di Bangso i gabe porsuk diahab nasida.
Ayat 3-5: “Nadenggan na binahen ni Debata”. Sejarah membuktikan, ndang adong na asing na paruarhon Bangso i sian parhatobanan Misir asing sian Debata sandiri (2 Musa. 12:31-42) marhite napinabangkitNa naposoNa si Musa, si Aron (2 Musa.7:1) dohot si Miriam (2 Musa 15:20-21), jala saleleng di halongonan Bangso i digohi do nasidaa marhite sipanganon dohot siinumon hombar tu tingkina, tung tangkas do auga nasida i dipaneang Debata.
Ayat 6-7: “Pertobatan yang Semu”. Sadar do Bangso i ujungna di angka na denggan na binahen ni Debata tu nasida, diparhatutu do pangalaho nasida na sai maralo tu lomo ni roha ni Debata, jala diokui nasida do na olo Debata marpangulahi mida pangalaho nasida i, gabe diparhatopot nasida ma pangalaho nasida di adopan ni Debata marhite na pasahathon Pelean  Parsombaon situtungon, mamelehon na ummarga di nasida tu adopan ni Debata marhitehite anak ni lombu, hambing na pinamokmok marriburibu hape ndang dijakhon Debata (Jesaya 1:11), miak na marloksa-loksa dohot anak buha baju, hape ndada i na pinagido ni Debata sian nasida, jala ndada pelean sisongoni laho tuhor ni nasa dosa niula nasida.
Ayat 8: “Mangulahon uhum dohot holong ni roha”. Sian saluhut pelan napinasahat ni Bangso i tu Debata dipanolsolionna ala dosana ndada apala pelean hambing tunggal na marriburibu (1 Samuel 15:22) alai naeng ma Bangso i mangulahon uhum, hasabamon  dohot haserepon ni roha, jala saluhut  Pelean  na ummangur di adopan ni Debata ima na mangulahon holong ni roha di bagasan hasintongan dohot hatigoran, ai  Holong ni roha i do godangan manghungkupi  angka dosa (1 Petrus 4:8), jala holong ni rohaido naumbalga sian haporseaon dahot panghirimon (1 Kor.13:13), nang parbue ni Tondi pe Holong ni roha i do patuduhononna (Gal.5:22).
III.Sipahusorhusoron
Hajongjonghon ma na denggan na binahen ni Debata dohot hatigoranNa marhite na mangulahon uhum dohot hasintongan dibagasan holong ni roha maradophon halak saluhut, jala hangoluhon hasabamon, hasatiaon  dohot haserepon ni roha dibagasan Kristus Jesus.                                                                              DMpoenyaMdsT            

Khotbah Minggu IV Setelah Ephipanias , Mika 6:1-8, 2 Februari 2014

Renungan Minggu IV Dung Ephipanias: Ev. Mikha 6:1-8
Oleh : Sabar Siahaan





Nas ini adalah gambaran pengadilan Tuhan terhadap umat-Nya. Dimulai dengan seruan Tuhan pada orang-orang untuk mendengar perkataan-Nya serta mempersiapkan pembelaan mereka terhadap tuduhan yang akan disampaikan (ayat 1-2). Mikha menggambarkan gunung-gunung Israel, saksi-saksi abadi sejarah penebusan umat Tuhan, sebagai hakim-hakim yang akan mendengarkan pengaduan Tuhan melawan Israel. Tuhan mengingatkan mereka betapa Ia telah membela, menolong, dan melindungi umat-Nya. Ia tidak pernah membebani atau melakukan kejahatan kepada orang Israel. Pertanyaan Tuhan kepada umat-Nya dapat diungkapkan bahwaTuhan akan mengangkat seluruh beban umat-Nya, sebab Ia yang membebaskan, membimbing, melindungi, dan mengajar umat-Nya. Itulah yang dilakukan Tuhan terhadap Israel. Tuhan telah menebus Israel dari tanah perbudakan. Ia telah memberikan kepada mereka pemimpin besar seperti Musa, Harun, dan Miryam. Ia juga telah melindungi mereka dari serangan musuh-musuhnya dan menuntun mereka melewati padang belantara menuju tanah perjanjian (ayat 3-5).
Tidak dapatkah mereka belajar dari pengalaman itu tentang keadilan Tuhan! Jalan manusia bisa saja bengkok, namun dalam sejarah manusia, TUHAN menunjukkan kesetiaan perjanjian-Nya dalam jalan-Nya yang "lurus". Karya itu disebut "adil" oleh karena dilakukan Tuhan berdasarkan perjanjian dengan umat-Nya. Perjanjian itu sendiri berdasarkan prakarsa Tuhan sendiri, sehingga perbuatan “keadilan" itu merupakan kasih karunia belaka.

Apa yang Tuhan tuntut dari umat-Nya! Mikha berperan sebagai Israel, menggunakan sebuah sindiran untuk menyimpulkan apa yang Israel rela lakukan bagi-Nya yaitu korban bakaran, ribuan domba jantan, bahkan seperti pengikut agama-agama kafir mereka rela mempersembahkan anak-anak sulung mereka. Mereka menawarkan persembahan korban sebagai keinginan untuk berdamai dengan Tuhan (ayat 6-7), yaitu sebagai pengganti dosa mereka.

Bangsa Israel meresponi kasih Tuhan dengan melakukan agama lahiriah dan ritual agama yang kosong. Tetapi, Mikha menjawab mereka bahwa Tuhan tidak menuntut anak-anak mereka untuk dipersembahkan. Tuhan sudah memberitahukan kepada umat-Nya apa yang baik yang Ia kehendaki, yaitu berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan -Nya (ayat 8). Kebajikan itu bukan suatu pandangan hidup belaka, namun merupakan nilai-nilai moral yang praktis. Sebab Tuhan menginginkan kita bertidak, yaitu dengan berlaku adil; mengasihi, yaitu mencintai kesetiaan; dan kerja sama, yaitu hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan.

Sangat kontras bila dibandingkan dengan berhala-berhala yang disembah orang Israel, yang menuntut korban persembahan yang sangat mahal, yaitu anak-anak mereka. Tetapi yang Tuhan minta adalah ketaatan dan kerendahan hati dihadapanNya. Sesuatu yang memberikan dampak yang baik bagi hidup bangsa Israel sendiri, tetapi yang malah tidak mereka lakukan.
Kita sama seperti umat Israel, yang tidak mampu untuk memilih ketaatan dan kebenaran, yaitu dengan berlaku adil, setia dan rendah hati, sekalipun kita telah menerima berkat Tuhan sedemikian banyak. Kenapa? Karena kita semua sudah jatuh ke dalam dosa. Dosa identik dengan kematian (Rm 6:23). Orang mati tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Jadi, harus Tuhan sendiri yang datang menyelamatkan, barulah kita bisa memiliki kemampuan untuk taat kepada-Nya.

Sama seperti bagi orang Israel, akan datang waktunya bagi kita untuk duduk di kursi pengadilan Tuhan dan mendengarkan dakwaan atas dosa yang telah kita lakukan. Kabar baiknya adalah Yesus sudah datang sebagai Pembela. Ia menanggung hukuman atas dosa kita. Karena, kematian Yesus di kayu salib telah menghapus kewajiban mempersembahkan korban sembelihan.

Kita beriman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dengan menghadiri kebaktian di gereja dengan setia, memberi persembahan, membaca Alkitab, dan berdoa. Tetapi kita juga harus waspada agar kegiatan yang baik ini tidak merosot menjadi kebiasaan belaka, namun kegiatan beragama itu harus disertai dengan cara hidup yang ditandai dengan keadilan, kesetiaan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan.

Tuhan menginginkan kita meresponi-Nya dengan melakukan tiga kebajikan, yaitu :
1. Berlaku adil meliputi keadilan dalam berhubungan dengan sesama. Ada sesuatu dalam diri kita yang merindukan keadilan bagi orang lain serta bagi diri kita sendiri. Namun hanya ada satu aspek keadilan yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita, yakni perlakuan kita terhadap orang lain. Sehingga, sebagai orang Kristen, kita mempunyai slogan hidup , yaitu “biarlah keadilan kutegakkan” dan bukannya menuntut “tegakkan keadilan bagiku”.
2. Mencintai kesetiaan adalah mengasihi dan memotivasi seseorang untuk memperhatikan kebutuhan orang lain dan menolongnya, sebab orang-orang yang berjalan di jalan Tuhan, tidak menutup mata akan kebutuhan orang lain.
3. Kerendahan hati di hadapan-Nya berarti senantiasa menyerahkan kehendaknya dengan sukacita dibawah kehendak Tuhan. Kita harus menjadi orang yang hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan, yang rindu menunjukkan kesetiaan, dan menegakkan keadilan demi Tuhan. Sebab, ada orang mencoba menjadi baik tanpa mengenal Tuhan. Tetapi juga tidak benar bila kita berkata bahwa kita mengenal Tuhan, padahal kita tidak berbuat baik. Jadi, kita bebuat baik, karena kita sudah menerima kebaikan Tuhan.

Wednesday, 29 January 2014

MONUMEN HISTORIS! Pembanguann Gedung Raja Pontas Lumbantobing di Pearaja.

MONUMEN HISTORIS! Pembanguann Gedung Raja Pontas Lumbantobing di Pearaja.
Harinin dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan monumental gedung Raja Pontas Lumbantobing dipimpin oleh ompui ephorus dan segenap pimpinan HKBP, dihadiri oleh anggota mps, praeses, staf kantor pusst dan keluarga pomparan Raja Pontas Lumbantobing.

Menurut Penuturan Drs Maju Lumbantobing Raja Pontas Lumbantobing, anaknya dua Raja Kesar Tobing dan Raja Herman Tobing. Keturunan anak Raja Pontas ini punya punguan dan kami menyambut baik rencana Ompui Ephorus. Kami cukup terharu dan bergetar ketika Ompui menelpon kami mengundang dan menyampaikan rencana HKBP membangun gedung Raja Pontas Lumbantobing. Memang selama ini kami merasa terputus hungan dengan HKBP, karena sudah lama kami tunggu ketika pernah terbersik bagi kami akan ada rencana membangun monumen ompui I.L. NOMMENSEN dan Raja Pontas Lumbantobing setengah badan yg akan dibangun di Kantor Pusat. Dengan gagasan dan rencana ompui hari ini, kami merasa bangga dan senang dengan rencana HKBP dan mendukung sepenuhnya. Kami juga senang dengan rencana penulisan sejarah Raja Pontas Lumbantobing yg dipimpin oleh Pdt JR Hutauruk. Atas rencana pembangunan monumen ini, punguan pomparan raja pontas sedang rapat baik yg di medan dan yang di jakarta untuk memberikan bentuk dukungan pada rencana HKBP ini. Demikian penuturan Bapak Drs Maju Lumbantobing dlm sambutannya mewakili keluaraga pd acara peletakan batu pertama monunen Raja Pontas Lumbantobing

Menambahkan sambutan, Praeses Colan kemukakan bahwa telah empat kali bertemu dengan keturana Raja Pontas termasuk di Jakarta diantaranya Kel Dr Naek Tobing n Reinhar Tobing dan keluarga keturunan raja Pontas kommit untuk dukung rencana HKBP mengenang tokoh Raja Pontas yang berperan besar membantu IL Nommensen dalam penyebaran Injil di Tanah Batak.

Ompui dalam bimbingan dan arahan mengemukakan bahwa pembangunan monumen ini adalah dalam rangka mengenang sejarah yg historis dan didorong oleh keyakinan dan doa bahwa pembangunan ini akan berjalan. Raja Pontas Lumbantobing adalah tokoh pribumi yg transformatif yang dipilih dari orang Batak. Jika kita runut sejarah, memang ada kekuatan yg berpengaruh pada jaman Raja Pontas, yaitu Belanda Kolonial, Raja Sisingamangaraja dan IL. Nommensenn dan pilihan Raja Pontas adalah IL Nommensen dan pilihannya merupakan hal yg sangat bersejarah bagi HKBP dan orang Batak dimana Injil membawa perubahan bagi orang Batak.

Pembangunan gedung ini didesign sedemikian rupa untuk memenuhi fasilitas yg baik di Kantor Pusat HKBP dimana ada ruang makan, ruang rapat yg modern dan maju. Ephorus sampaikan bahwa rencana awal gagasan ini tidak ada modal awal, namun hanya doa dsn keyakinan dsn puji Tuhan pads hari ini elah terkumpul l Rp 945 juta dan saya yakin pembangunan ini akan selesai tahun ini. Ompui meminta panitia untuk mempublikasikan dlm website hkbp daftar donateur yang sudah disampaikan hari ini dan diupdate erus menerus karena masih banyak yg bersedia memberikan sumbangan pd pembangunan ini.

Kerinduan HKBP juga adalah agar ada gedung galery atau museum HKBP dimana tersimpan barang2 yg historis dari para missionaries, termasuk lemari IL Nommensen, trompet dan Bibel Nommensen, dll para tokoh2 PI ditanah Batak baik dari missionaris Jerman dan Pribumi sehingga dokumen2 semacam ini dapat dilihat oleh generasi muda ke depan sebagai warisan yang sangat berharga. ( Sumber Tulisan : Pdt Nekson Simanjuntak, M.Th ) Ka Biro Pembinaan HKBP Pearaja Tarutung

HKBP membangun gedung Raja Pontas Lumbantobing

HKBP membangun gedung Raja Pontas Lumbantobing salah satu dari seorang tokoh pribumi yg sangat berperan membantu ompui IL.Nommensen dalam penyebaran injil di Tanah Batak. Gedung ini akan menambah fasilitas kantor pusat HKBP direncanakan dgn dua lantai, lantai I ruang makan dan lantai II ruang rapat modern yg menampung 200 orang. Peletakan batu pertama ini dipimpin oleh Ompui Ephorus, Sekjen dan Para kadep, keluarga keturunan Raja Pontas diwakili Drs Maju Lumbantobing, para praeses, Angota MPS, parompuan dan anak S.Minggu. Ompui Ephorus Pdt Willem Tumpal Pandapotan Simarmata MA himbau partisipasi warga hkbp agar gedung ini dapat selesai.  Oleh Pdt Nekson Simanjuntak, M.Th ( Ka Biro Pembinaan HKBP)

Tuesday, 28 January 2014

Makna Simbol Simbol dan Warna dalam Gereja


A. PAKAIAN JABATAN

Toga, Bef, Clergical Collar & Stolla
Kebanyakan gereja-gereja Kristen di Indonesia mengenal semacam Pakaian Jabatan, yang mereka ambil-alih dari Gereja-gereja partner mereka di Barat. Bentuknya hampir sama semacam toga (= gaun) hitam, yang dipakai dengan “bef” (dasi putih) dan dengan atau tanpa stolla (= kain atau pita lebar dan panjang). Fungsinya tidak begitu jelas. Tetapi dalam praktik Gereja-gereja ini, secara sadar atau tidak sadar menganggapnya sebagai Pakaian Jabatan atau Pakaian Liturgis resmi. Oleh karenanya, setiap orang yang memangku jabatan gerejawi harus memakai pakaian jabatannya pada saat ia melayani dalam pelayanan-pelayanan resmi. Hal ini hanya berlaku bagi Pendeta. Bagi Penatua dan Diaken yang umumnya dianggap “kurang setara” dengan Pendeta dibebaskan dari kewajiban di atas.
Pakaian Jabatan ini telah lazim dalam Gereja-gereja Kristen Katolik dan Kristen Protestan Reformasi, sehingga tidak dirasakan lagi sebagai barang/tradisi asing diimpor dari Barat. Namun demikian, pada beberapa dasawarsa terakhir ini ada gereja, antara lain GPIB, yang tidak puas lagi dengan bentuk pakaian jabatan ini dan hendak menggantikannya dengan bentuk lain. Sayangnya, ketidakpuasan para pemimpin gerejawi di GPIB ini lebih banyak disebabkan alasan-alasan kultural dan bukan alasan teologis.
Bentuknya berbeda-beda, yang satu lebih indah dan lebih mewah daripada yang lain. Juga jumlahnya tidak sama. Untuk perayaan Ekaristi umpamanya, Imam Gereja Ortodoks Yunani lebih banyak memakai “pakaian liturgis” daripada Imam Gereja Katolik. Sebagai contoh, Pakaian Jabatan dalam Gereja Katolik terdiri dari “amictus” (= kain bahu dari lenan, dihiasi dengan salib yang disulam dan diikatkan pada dada, di atas gaun-missa yang sebenarnya), “alba” (= kemeja dari lenan, panjangnya sampai di kaki), “stola” (= pita lebar yang dipakai di atas alba, panjangnya sampai ke lutut), “manipulus” (= pita sutera, tidak begitu lebar, digantungkan pada tangan kiri), “pluviale” (= gaun prosesi gerejawi, dahulu hanya dipakai oleh para Klerus rendah, kemudian juga oleh Klerus tinggi) dan “vesti sacerdotalis” (= gaun missa yang sebenarnya)/toga.




B. WARNA KAIN-KAIN LITURGIS
Warna-warna gerejawi telah lama digunakan dalam ruang ibadah kita, terutama untuk taplak meja, kain di mimbr (antependium), kain panjang di kayu salib (stolla besar) dan stolla yang dikenakan Pelayanan Gerejawi. Gereja memakai kain dalam warna-warna yang bergantian sesuai kalender gerejawi.
1. Putih
Adalah lambang dari warna terang, cahaya lilin, warna bagi peran malaikat Allah, para kudus dan warna bagi Kristus yang dimuliakan. Warna yang melambangkan kekudusan dan kebersihan. Oleh sebab itu warna ini digunakan dalam masa raya yang berkenaan dengan Kristus, misalnya Natal, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus, dan masa raya kesukaan misalnya dalam pelayanan Baptisan dan Perjamuan Kudus. Digunakan juga dari masa Natal sampai Minggu sebelum Epifania/Perjamuan Malam/Perjamuan Tuhan (6 Januari) dan hari raya Paskah hingga sebelum minggu Pentakosta.
2. Ungu (lebih tepatnya violet)
Adalah warna tergelap dalam warna gerejawi yang menunjukan penyesalan dan pertobatan yang sungguh-sungguh. Digunakan pada masa 40 hari sebelum Paskah (Minggu sengsara) dan masa-masa menjelang Natal (Minggu Adventus).
3. Merah
Adalah warna api. Lambang Roh Kudus yang penuh kekuatan. Maka digunakan pada Perayaan Pentakosta. Warna merah juga melambangkan warna darah, kesetiaan sampai mati, iman yang berapi-api sehingga digunakan dalam peringatan Reformasi, penahbisan rumah ibadah, sidhi, peneguhan Pendeta, Diaken dan Penatua. Juga pada peringatan hari Pekabaran Injil, pengutusan pengijil dan hari-hari raya ekumenis.
4. Hijau
Adalah warna komplemen dari merah. Melambangkan penyembuhan, ketenangan dan pertumbuhan iman. Merupakan warna pengharapan. Hijau memberitakan kemurahan hati, keselamatan dari Allah yang menyembuhkan dan memperbaharui. Digunakan pada hari Minggu Trinitas (Minggu pertama sesudah Pentakosta, kecuali masa sengsara, adventus, dan hari raya Kristen lainnya). Merupakan juga makna dari pertumbuhan iman jemaat baru.
5. Merah Muda
Rose, adalah perlemahan dari violet (ungu tua), lambang penyesalan dan pertobatan yang tertahan. Maksudnya, sengsara boleh sementara waktu digantikan dengan senyuman dalam menyongsong Natal dan Paskah. Digunakan pada Minggu adventus ke-3 dan Minggu sengsara ke-5.
6. Hitam
Adalah warna liturgis yang paling kuno. Lambang keputusasaan. Warna ini sudah tidak dipakai lagi. Perlu juga dipertanyakan tentang warna liturgis yang dikenakan Pendeta yaitu Toga hitam. Pemberitaan firman adalah pemberitaan Kristus yang telah menang, sudah selayaknya mereka dibebaskan dari warna kedukaan. Bahkan dalam pelayanan duka (misalnya pelayanan pemakaman jenazah) sekalipun, sebenarnya warna violet(Ungu) lebih baik daripada hitam, karena kita sudah diperbolehkan hidup dalam kemenangan Kristus.

C. BERBAGAI SIMBOL LAIN

a. Alfa dan Omega,
Adalah huruf pertama dan huruf terakhir alphabet Yunani dan biasanya digunakan sebagai simbol kekekalan Allah dan kuasa Kristus dari penciptaan sampai pada akhirat (Why 22:13 Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir”). kedua huruf ini sering digabung dengan simbol-simbol lain, misalnya salib (kekekalan karya keselamatan dalam Yesus Kristus) atau Alkitab (kekekalan Firman Allah).


b. Air
Air adalah sumber kehidupan, tetapi sekaligus dapat mengancam kehidupan (banjir, badai di laut...). Air juga berfungsi untuk mencuci atau membersihkan. Dalam Alkitab, simbol ini sering dihubungkan dengan berkata bahwa Allah sebagai sumber mata air, kesegaran atau sumber kehidupan dan keadilan,dan bahwa Yesus memberi air yang hidup (Yoh 4:14). Yesus juga membasuh kaki murid-muridNya dengan air sebagai tanda pelayanan dan pembersihan dari dosa. Murid-muridNya dipanggil untuk berbuat hal yang sama (Yoh 13:15). Namun ritus pembasuhan kaki masih jarang dipraktekkan dalam ibadah protestan. Air menjadi simbol inti sakramen baptisan sebagai tanda penbersihan (dari dosa, dari kuasa maut); “adam lama” ditenggelamkan dalam air baptisan, dan “adam baru” dilahirkan. Air ini juga menjadi tanda penerimaan Roh Kudus yang menyatukan kita dalam tubuh Kristus, dan tanda anugerah Allah yang dikaruniakan kepada kita tanpa prasyarat. Air disini adalah simbol yang membuat kita merasakan apa yang dilakukan oleh Allah sendiri, dan tidak dipahami secara “magis”, sehingga tidak tergantung pada cara atau kuantitas air (hanya tiga tetes “dalam nama Bapa, anak dan Roh Kudus”, atau dengan menenggelamkan seluruh tubuh seperti dipraktekkan dalam gereja mula-mula dan oleh beberapa denominasi sampai sekarang). Baptisan juga tidak berfokus pada formalitas (“masuk Kristen”) atau pertobatan manusia (seperti ditekankan dalam baptisan dewasa), tetapi pada karya keselamatan Allah sendiri (yang tentu saja tidak terbatas kepada mereka yang telah menerima ritual gereja tersebut).

c. Altar
Altar gereja mengingatkan baik pada tempat persembahan korban dalam Perjanjian Lama maupun pada meja perjamuan Paskah Yesus dengan muridmuridnya pada malam sebelum ia disalibkan. penggunaan altar baik sebagai meja perjamuan kudus maupun sebagai tempat persembahan (kolekte) masih mencerminkan makna ganda tersebut. Selain itu, altar biasanya dihias dengan simbol-simbol lain seperti salib, alkitab, lilin, bunga dsb.; Dalam arsitektur gereja, altar sering ditempatkan langsung di depan atau di bawah mimbar untuk menekankan kesatuan antara sakramen (perjamuan kudus/altar) dan firman (khotbah/mimbar).

d. Bendera
Tidak ada bendera khusus yang digunakan sebagai symbol agama kristen, namun banyak negara dan institusi-institusi lain terutama menggunakan symbol salib dalam bendara atau lambang mereka untuk mensimbolkan nilai-nilai Kristiani sebagai dasar identitas negara atau kelompok, meskipun hal ini juga dapat dinilai sebagai penyalahgunaan symbol agama yang “mengatasnamakan Tuhan” demi kepentingan tertentu. Dalam kebanyakan gereja dan negara, pemasangan simbol-simbol negara seperti bendera nasional dalam ruang ibadah atau pada gedung gereja tidak lazim atau bahkan ditolak sama sekali, untuk menekankan pemisahan antara kepentingankepentingan politik dan misi universal gereja.

e. Lilin
Lilin biasanya dinyalakan dalam setiap ibadah, paling tidak pada ibadah-ibadah natal dan ibadah-ibadah paskah (lilin paskah) sebagai simbol Kristus yang hidup dan menjadi “terang dunia” (Yoh 8:12, bdk Yoh 1 dll.). Lilin juga mengingatkan kita pada panggilan untuk menjadi “garam dan terang dunia” (Mat 5:13-16); lilin secara umum bisa menjadi simbol kehidupan manusia yang mengorbankan diri demi panggilannya untuk menerangi kegelapan. Dalam ibadah dukacita lilin juga mewakili kehidupan kekal, bahwa orang yang telah meninggal sekarang adalah di tangan Tuhan. Keempat lilin dalam “krans adven” adalah simbol pengharapan yang menantikan kelahiran terang dunia (dalam minggu pertama adven, satu lilin dinyalakan, dalam minggu kedua dua dst.). Sementara ketujuh lilin dalam “Menorah” (yang juga menjadi symbol agama Yahudi) sering diidentifikasi dengan “ketujuh anugerah Roh” (Yes 11:2; bdk Paulus)

f. Lonceng
Bunyi lonceng adalah simbol perhatian dan panggilan beribadah dan juga mengingatkan akan pengadilan Allah. Lonceng digunakan baik dalam sukacita (paskah, memuji tuhan dalam ibadah...) maupun dukacita (orang meninggal, bencana...). Secara kontekstual, lonceng juga bisa diganti oleh alat musik yang lain, misalnya alat music tiup atau gendang

g. Merpati
Burung merpati dalam tradisi Kristen terutama dipahami sebagai symbol kehadiran Roh Kudus yang mengingatkan kita pada peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (Mat 3:16 bdk Mrk, Luk dan Yoh). Seekor burung merpati dengan sebuah ranting zaitun telah menjadi simbol universal untuk perdamaian dan mengingatkan pada kisah Nuh (Kej 8:11), di mana sehelai daun zaitun menjadi tanda bahwa air bah telah surut dan simbol untuk perjanjian Allah dengan umat manusia dan segala ciptaan-Nya. Kadang-kadang, dua ekor burung merpati juga digunakan sebagai simbol cinta kasih

h. Minyak
Minyak (minyak zaitun, minyak wangi atau minyak berharga lain) dalam alkitab adalah symbol berkat dan pemberian otoritas oleh Allah misalnya dalam ritus pentahbisan raja Israel. Minyak juga digunakan untuk meminyaki orang mati. Kedua arti ini merupakan latar belakang simbolis waktu Yesus diurapi oleh seorang perempuan (Mat 26:7) dan para perempuan ingin meminyaki jenazah Yesus. Minyak juga mingingatkan kita pada perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Mat 25; minyak untuk pelita sebagai simbol kesiapan untuk kedatangan Yesus). Dalam ibadah (atau pelayanan kepada orang sakit), minyak sebagai simbol berkat kebanyakan digunakan dalam tradisi katolik, tetapi kadangkadang juga dalam ibadah protestan atau ekumenis.

i. Pohon dan Tumbuhan
Pohon secara umum adalah symbol kehidupan dan dalam Alkitab (bersama dengan tumbuhan-tumbuhan lain) sering dihubungkan dengan kehidupan seseorang yang diberkati, sesuai dengan kehendak Allah dan memberi buah. Mendekorasi gereja dengan tumbuhan-tumbuhan hijau maupun bungabunga sebagai tanda kehidupan dan pujian atas keindahan ciptaan Allah adalah suatu hal yang sangat wajar. Daun palem misalnya sebagai symbol penyembahan, syukur dan penghormatan kepada Tuhan mengingatkan kita pada Yesus yang dieluelukan di Yerusalem dengan “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel” (Yoh 12:13). Secara khusus, pada hari natal, gerejagereja maupun rumah-rumah dan tempat umum lainnya dihias dengan pohon-pohon pinus dan rantingranting hijau lainnya, yang dihias dengan lilin, bintang-bintang, buah, kapas sebagai salju dll (“pohon natal”, “pohon terang”...). Pohon pinus adalah simbol lama dalam budaya Eropa untuk kehidupan bahkan di tengah-tengah kondisi yang sulit, karena inilah satusatunya pohon yang daunnya tidak gugur tetapi ia tetap hijau selama musim dingin (musim salju). Simbol non-Kristen ini diangkat oleh tradisi Kristen dan dihubungkan dengan simbol-simbol lain (terang, bintang...) sebagai simbol pengharapan dan kehidupan melalui Yesus Kristus yang lahir di tengahtengah dunia yang gelap dan tidak ramah. Pohon natal bukan semestinya sebuah pohon pinus, tetapi bisa juga pohon lain yang mewakili arti simbolis di atas. Hanya sedikit kontradiktif dengan “simbol kehidupan” jika dipakai pohon yang sudah tidak ada daunnya atau pohon dari plastik.

j. Salib
Salib adalah simbol yang paling terkenal sebagai simbol Kristiani yang menunjuk kepada kematian Yesus Kristus di kayu salib di Golgata. Bentuk historis alat eksekusi tersebut dengan kemungkinan besar adalah bentuk “T” (salib “Tau”), dan kemudian menjadi salib yang kita kenal (biasanya disebut “salib Latin”). Tanda salib atau silang telah dikenal dalam banyak budaya dan agama pra-Kristen dengan berbagai makna, a.l. kekekalan, kesempurnaan atau hubungan kosmis antara dunia dan yang transenden, tetapi juga sebagai tanda perpisahan dll.; Salib dalam tradisi Kristen menjadi simbol kematian dan kehidupan. Salib mencerminkan solidaritas Allah dengan manusia dalam penderitaan dan merupakan puncak.

k. XP
Simbol ini adalah simbol lama untuk Kristus (dan juga untuk orang Kristen) yang dibentuk dari dua huruf pertama nama “Kristus” dalam bahasa Yunani. Simbol ini dalam beberapa variasi kemudian sering disebut “salib/silang Kristus” (“cross of Christ”).





l. Simbol-simbol Adat
Budaya-budaya Indonesia sangat kaya dengan simbol-simbol yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan keterikatan dengan yang Ilahi. Praktek Gereja yang kontekstual akan mencoba untuk memahami simbol-simbol tersebut secara mendalam dan melihat maknanya dalam terang Injil. Dengan demikian, kehidupan spiritual akan sangat diperkaya. Hal ini akan melanjutkan tradisi Kristen untuk mengangkat memaknai simbol-simbol non-Kristen guna menemukan ekspresi iman yang otentik dan relevan. Contohnya adalah rumah-rumah adat (mis. Tongkonan dalam budaya Toraja, Baruga dalam beberapa budaya Sulsel, rumah batak, rumah gadang , jambur  dsb.) sebagai simbol kerukunan, atau simbol yang digunakan dalam ritus-ritus paguyuban dan rekonsiliasi (mis. lingkaran rotan “Kalosara” dalam adat Tolaki-Mekongga, Tumpengan dalam adat Jawa, binatang �� kurban dalam beberapa tradisi dsb.). Tantangan adalah mentransformasi simbol-simbol tersebut dengan pemahaman yang menerobos eksklusivisme suku, pemahaman magis, dan merespon pada karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus.

D. INTERAKSI
Semoga dengan kita mengetahui berbagai symbol dan makna benda-benda yang ada atau sering digunakan dalam liturgy gereja kita menjadi paham dan mengerti arti dan keguanaan symbol-symbol tersebut. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.
( Dikutip dari berbagai Sumber)