Monday, 3 February 2014

Ulang Tahun Trina Melati Banjarnahor AM.k,Yohana Yolanda Sianturi&Yolia Isabel Sianturi



 SELAMAT ULANG TAHUN MAMI, & 2 PUTRIKU TERSAYANG
TRINA MELATI BANJARNAHOR AM.k
YOHANA YOLANDA SIANTURI
YOLIA ISABEL SIANTURI

                   Selamat Ulang Tahun Mama :Trina Melati Banjarnahor AM.k 3 Febriari 1977-3 Februari 2014
Bulan ini adalah hari yang berbahagia buat keluarga kami,dimana anggota keluarga kami Mensyukuri Berkat  Tuhan atas kami,Anak saya Yohana Yolanda Sianturi Tepat Pada tgl 31JanuariGenapUmurnya 10 Tahun,Hari ini 3 Februari Isteri saya Berulang Tahun Yang ke 37,dan Tgl 22 FebruariPutri Bungsu kami  berulang tahun yang ke  6 , Selamat Ulang Tahun Buat Boruku :Yohana Yolanda Santuri 31 Januari 2004, Isteri Saya Trina Melati Banjarnahor AMk 3 Februari 1977, Putri kami Yolia Isabel Sianturi 22 Februari 2008, Sebagai Terimakasih saya kepada Tuhan disin saya mengutip sebuah renunganyang ditulis oleh Pdt HM Siagian MPTH, dan renungan tentang Ulang Tahun

HIDUP ADALAH PEMBERIAN TUHAN 
 
" Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan." (Ams 3:16)
Pernahkah kita berfikir bahwa hidup ini berasal dari Tuhan. Tuhanlah yang memberikan hidup bagi setiap manusia. Kalau kita mengatakan bahwa hidup berasal dari Tuhan maka kita patut bersyukur bahwa hidup kita rupanya pemberian dari Tuhan.

Ada 3 hal yang dibutuhkan oleh setiap manusia.
1. Umur panjang.
2. Kekayaan.
3. Kehormatan.

Umur panjang berbicara tentang hidup yang sehat baik jasmani, rohani, serta hidup yang indah.

Kekayaan bisa berbicara tentang material, dan kecukupan sehari hari.

Kehormatan yaitu kedudukan, jabatan, derajat dimana orang lain menghormati kita.

TIGA  hal ini yang diminta oleh setiap orang. Namun kalau kita belajar dari Amsal ini, kita akan menemukan bahwa Raja Salomo tidak meminta ke tiga hal ini. Ketiga hal ini merupakan sebuah bonus dari Tuhan.
Bagaimana Salomo waktu itu mendapatkan ke tiga hal ini: Kunci utama yaitu melalui DOA. Salomo berdoa kepada Allahnya meminta petunjuk. Salomo menyadari bahwa dia perlu berhubungan dengan Tuhan. Hanya melalui Dialah segalanya. Kenapa Salomo bisa menjadi seorang Raja yang paling Masyhur, Jaya dan dihormati Karena melalui Doa.
Raja raja 3: 13-14 “ Dan apa yang tidak kamu minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorang pun seperti engkau di antara raja raja. Dan Jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintahKu sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu.’


Inilah pembicaraa Allah kepada Salomo, Allah memberikan bonus kepada Salomo yaitu Umur panjang, Kekayaan, dan Kehormatan.
Apa yang diminta oleh Salomo sewaktu doa adalah HIKMAT. Salomo menyadari bahwa hanya melalui Hikmatlah bisa menjadikan bangsa Israel menuju kejayaan.
Amsal mengatakan Hikmat yaitu TAKUT AKAN TUHAN.
Saat ini yang harus anda lakukan yaitu:
1. Berdoa kepada Tuhan.
2. Minta Menjadi anak Tuhan yang punya HIKMAT yaitu TAKUT AKAN TUHAN.
3.Terima BONUS.

  
               KELAHIRAN ADALAH BERKAT CAMPUR TANGAN ALLAH.
Yeremia 1:5“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa”.
Kita harus menyadari bahwa kita lahir tanpa campur tangan Tuhan tidak mungkin terjadi. Artinya kelahiran seseorang bukan karena hubungan secara biologis. Memang prosesnya melalui hal itu, namun apakah anda menyadari bahwa jika anda lahir tanpa mata, nafas, darah, maka tidak ada kehidupan. Tuhan memberikan kehidupan bagi setiap manusia.
ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Tuhan membentuk hidup anda. Proses pembentukan dari sejak dalam kandungan Tuhan merajut kehidupanmu. Dan tanpa disadari proses pembentukan manusia dapat di hancurkan oleh manusia. Ingat peristiwa penciptaan Manusia. Tuhan menciptakan Taman Eden untuk Manusia. Namun manusia lebih memilih untuk berbuat dosa yang mengakibatkan kematian secara rohani.
2. Mengenal engkau. Kalau saat ini anda ulang Tahun ingatlah Tuhan mengenal hidupmu dan Tuhan rindu anda mempunyai persekutuan yang dekat dengan Tuhan. Apakah anda mengenal sang Pencipta yang menciptakan hidupmu.
3. Menguduskan engkau. Anda dilahirkan dibumi bukan untuk pesta pora, mabuk, narkoba, dan perbuatan perjinahan, dan melakukan dosa. Namun anda lahir untuk dikuduskan, disucikan.
4. Tetapkan. Tuhan mempunyai rencana untuk hidupmu. Rencana Apakah itu?. Rencana ilahi. Ingat Yusuf dia menjadi seorang pemimpin Mesir setelah Raja. Karena ada rencana Tuhan. Perhatikan cerita Daniel, Tuhan punya rencana bagi dia ditengah bangsa Babilonia yang tidak mengenal Tuhan. Ingatlah cerita Ester, dia jadi putri raja supaya ada rencana Tuhan menyelamatkan bangsanya yang mau dimusnakan.
Keempat hal ini kiranya memberkati kita.



                                   Selamat Ulang Tahun Boru ku : Yohana Yolanda Sianturi,31 Januari 2004-31 Januari 2014

Ulang Tahun = Tambah Umur atau Kurang Umur?

Ulang Tahun = Tambah Umur atau Kurang Umur?

Hari ini adalah hari ulang tahun istaeri saya Trina Melati Banjarnahor AM.k 
31 JanuariYang lalu Ulang Tahun Putri saya Yohana Yolanda Sianturi
22 Februari yang akan datang Ulang Tahun Putri Bungsu saya : Yolia Isabel Sianturi


Sehubungan dengan ulang tahun, sejak kecil kita diajarkan bahwa ketika seseorang ulang tahun, kita harus bersukacita dan merayakan bertambahnya umur kita satu tahun lagi. Memang benar, ketika kita berulang tahun kita merayakannya karena usia kita bertambah satu tahun di dunia ini. Tetapi jika dipikir-pikir, semakin bertambahnya umur seseorang, ketika ia berulang tahun, justru hal tersebut menunjukkan bahwa usia dan waktu dia di dunia ini sudah berkurang satu tahun lagi. Itulah mengapa semakin tinggi usia seseorang, seharusnya orang tersebut menjadi semakin bijaksana dalam menggunakan waktu sisa hidupnya di dunia ini.
Kitab Amsal mengatakan bahwa seseorang seharusnya berbahagia bukan karena hal-hal duniawi, apalagi berbahagia karena usia kita bertambah. Kitab Amsal mengatakan dengan jelas bahwa “berbahagialah  orang yang mendapatkan hikmat dan kepandaian” (ay. 13). Hikmat dan kepandaian dari Tuhan tersebut jauh melebihi harta duniawi, bahkan melebihi emas dan perak (ay. 14). Itulah mengapa ketika Salomo meminta hikmat kepada Tuhan dan bukannya kekayaan, harta benda, serta umut panjang, Tuhan pun akhirnya memberikan hal-hal lainnya tersebut kepada Salomo sebagai bonus (2 Taw 1:11-12).

Demikian juga dalam ayat 16, yang merupakan salah satu ayat yang paling banyak dikutip saat kita mengucapkan selamat ulang tahun kepada orang-orang terdekat kita, “Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan”. Memang ayat tersebut merupakan ayat yang sangat indah, namun sayangnya banyak orang lupa membaca beberapa ayat sebelumnya. Umur panjang, kekayaan, dan kehormatan itu adalah bonus bagi orang-orang yang takut akan Tuhan, yaitu bagi orang-orang yang meminta hikmat kepada Tuhan. Mazmur 90:12 mengatakan bahwa pemazmur meminta agar Tuhan mengajarnya untuk menghitung hari-harinya, agar ia memperoleh hati yang bijaksana.

Bonus yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang mengutamakan hikmat dari Tuhan bukan hanya bonus di saat ini berupa umur panjang, kekayaan, dan kehormatan. Tuhan juga dapat memberi bonus di masa depan yaitu jalan hidup yang bahagia dan sejahtera (ay. 17). Selain itu, Tuhan juga memberi bonus tidak hanya kepada diri kita, tetapi juga kepada orang-orang di sekitar kita. Kitab Amsal mengatakan bahwa kita akan menjadi seperti pohon yang menjadi berkat bagi orang lain, sehingga setiap orang yang memegang kita akan mendapatkan kebahagiaan (ay. 18). Tuhan tidak ingin kita diberkati begitu saja dan semua selesai. Tuhan ingin agar kita diberkati dan menjadi berkat bagi orang lain juga. Tuhan ingin agar melalui diri dan kehidupan kita, orang lain juga dapat merasakan berkat dan kasih Allah dalam kehidupan mereka.

Kembali lagi ke pokok bahasan kita di awal, terkait dengan umur panjang, tentunya sah-sah saja pada setiap kita merayakan ulang tahun, kita berdoa kepada Tuhan agar kita diberikan umur panjang. Tidak ada ayat Alkitab yang melarang kita untuk meminta umur panjang kepada Tuhan. Walaupun demikian, seharusnya kita juga memikirkan, andaikata kita diberi umur panjang, apa yang kita lakukan bagi Tuhan? Apakah kita dapat memuliakan Tuhan melalui kesempatan dan umur panjang  yang Tuhan berikan kepada kita? Atau jangan-jangan justru umur panjang kita gunakan untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi saja. Alangkah baiknya jika pada setiap hari ulang tahun, kita menginstropeksi diri kita, apa saja hal-hal yang sudah saya lakukan selama satu tahun ke belakang? Berapa banyakkah hal-hal yang memuliakan Tuhan? Mari kita selalu instropeksi diri kita masing-masing agar kita lebih baik lagi menjalani hari-hari kehidupan kita di dunia ini.

Life is full of choices. Hidup penuh dengan pilihan. Ini bukan cuma sekedar kata bijak karena rasanya kita semua tidak asing lagi dengan berbagai pilihan dan pengambilan keputusan setiap hari dalam hidup kita. Hikmat merupakan pilihan bijaksana yang bernilai tinggi di mata Tuhan. Karenanya berbahagialah orang yang mendapat hikmat
                       Selamat Ulang Tahun Putriku :Yolia Isabel Sianturi,22 Februari 2008-22 Februari 2014
 



Thursday, 30 January 2014

Sebuah Refleksi Tentang Hikmat Salib 1 Korintus 1:10-18

Tentang Hikmat Salib; di 1 Korintus 1, 10-18
                                                       Oleh : Gr Absalom Castle Sianipar
 
Pemimpin Selebritis ala Korintus Pasal pertama dari surat rasul Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus memberitahu kita bahwa gereja yang dimulai oleh pelayanan rasul Paulus dalam perjalanan misinya (lihat Kisah 18) sedang mengalami perpecahan. Membaca tentang perpecahan dalam jemaat mungkin tidak terlalu mengejutkan bagi kita orang Kristen yang hidup di abad ke-21. Itu hal yang biasa, normal, dan terus terjadi sampai hari ini. Yang sering luput dari perhatian kita adalah faktor penyebabnya. Mengapa perpecahan tersebut terjadi? Bukan karena pengaruh sekuler dari luar gereja (meskipun gereja tersebut terletak di kota Korintus yang dilukiskan dengan tepat oleh seorang komentator Alkitab sebagai "the most populated, wealthy, commercial-minded and sex-obsessed city of Eastern Europe"). Meski gereja Korintus sarat diwarnai oleh multikulturalisme, filsafat sekuler, imoralitas, dan materialisme, bukan itu yang menjadi penyebab perpecahan. Faktor penyebabnya juga bukan perbedaan teologis atau pengajaran yang bersifat doktrinal. Memang seringkali alasan ini dijadikan 'kambing-hitam' yang melegitimasi perpecahan gereja sampai-sampai seakan timbul persepsi bahwa perpecahan gereja secara absolut dapat dibenarkan apabila alasannya adalah perbedaan teologis. Yang menjadi penyebab perpecahan adalah pengkultusan individu-individu pemimpin atau personality cult: Jemaat tercerai-berai dalam golongan dengan label-label nama figur idola mereka: Paulus, Apolos, Kefas, dan Kristus. Paulus adalah pendiri gereja Korintus, bapak rohani yang membawa mayoritas individu kepada Kristus. Jadi wajar kalau ada orang-orang yang lalu menganggap dia sebagai tokoh terpenting yang perkataannya harus ditaati. Apalagi dia adalah seorang intellectual giant dalam pengajaran doktrinal. Apolos adalah pengajar Alkitab dengan kemampuan ekspositori Perjanjian Lama dan teknik orasi yang sangat efektif (lihat Kisah 18:24-19:7). Alumni 'universitas' di Aleksandria ini mungkin memiliki intelektual yang sama dengan Paulus yang adalah alumni 'universitas' di Tarsus, namun teknik komunikasi massa-nya lebih hebat dibanding Paulus (band 2 Kor 10:10). Tidaklah mengherankan kalau kemudian terbentuk semacam elit intelektual di jemaat Korintus yang sangat mengagumi jagoan apologetika mereka ini. Kefas atau Petrus adalah rasul yang dipanggil Allah untuk mengabarkan Injil pada orang-orang yang bersunat, sedangkan Paulus pada orang-orang yang tidak bersunat (Gal 2:7). Fakta ini menjadi potensi penyebab sekelompok orang-orang Yahudi lalu membentuk "The Kefas Club" Tidak ketinggalan adalah orang-orang yang menganggap bahwa mereka tidak perlu pemimpin samasekali. Ironisnya, orang-orang ini lalu membentuk kelompok sendiri dan menyatakan diri sebagai kelompok Kristus. Sama halnya hari ini kita mengenal denominasi Church of Christ, The Church of Jesus Christ of Latter Day Saints, Disciples of Christ, dan lain sebagainya. Dan tidak perlu terkejut kalau hari ini kita memiliki gereja Lutheran, Wesleyan, Mennonite, dan seterusnya. Rasanya kurang etis kalau menyebutkan nama-nama pemimpin Kristen yang hari ini diikuti oleh ribuan bahkan ratusan ribu massa. Namun mereka eksis hari ini dalam berbagai kultur, apalagi dalam kultur Indonesia yang sangat paternalistik. Mereka telah ada, masih ada, dan akan senantiasa ada. Kristus, Bukan Manusia Paulus menekankan bahwa perpecahan di Korintus terjadi karena mereka telah mengalihkan fokus perhatian mereka dari Kristus. Ketika pemimpin manusiawi dijadikan objek penyembahan dan dikondisikan untuk memegang pusat kontrol kuasa, maka Kristus digeser dari tempatNya. Memang manusia lebih mudah berinteraksi dengan sesuatu yang tangible, yang dapat dilihat, ketimbang sesuatu yang intangible. Jadi yang tidak nampak dimata kemudian sering diganti dengan sesuatu yang lebih riil. Allah diganti dengan lembu emas. Kristus diganti dengan pemimpin manusia. Tentu ini tidak diakui secara verbal, namun nampak jelas dalam praktika. Bagaimanakah kita harus memperlakukan pemimpin kita? Paulus bertanya "Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus?" (yang menarik, dia tidak menulis "siapakah Apolos? siapakah Paulus?") dalam 1 Korintus 3:5. Paulus mengajukan retorikanya: Kamu pikir kami ini apa sih? Manusia super semi-malaikat? Pemimpin-selebritis? Berhala modern? Salah! Kami adalah pelayan. Tidak lebih dari itu. Memang ada otoritas yang Allah berikan kepada para pemimpin yang Ia panggil. Memang umat harus menghormati dan mentaati para pemimpin yang Allah telah tetapkan. Namun tekanan seorang pemimpin Kristen bukan pada otoritas atau statusnya, namun kepada kerendahan hati dan tanggung jawab seorang pelayan kepada tuannya. Paulus mengajarkan bahwa baik dia maupun Apolos (yang lebih hebat dari dia sekalipun) adalah diakonos, pelayan meja yang menunggu instruksi dari Tuhan untuk melayani jemaat. Memang fungsi pelayanan mereka sangat penting, namun mereka tidak lebih dari alat yang samasekali tidak berguna tanpa Allah bekerja melalui mereka. Tentu pengajaran Paulus diatas tidak akan laku hari ini dalam seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan kepemimpinan yang menekankan image management: sell yourself high and speak highly of yourself! Yang jelas, alkitab mengajarkan dan sejarah telah membuktikan bahwa pengkultusan individu pemimpin bukan saja tidak sehat, namun berbahaya bagi keberlangsungan sebuah komunitas di berbagai level. Pengamsal mengatakan bahwa orang yang menolak ajaran Tuhan adalah orang bebal. Demikian juga orang yang tidak pernah belajar dari sejarah dan terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama. Yang paling bebal adalah orang yang cuek terhadap keduanya.amin


Jamita Minggu IV dung Epiphanias Mika 6:1-8



Jamita Minggu IV dung Epiphanias 
di HKBP Distrik IX Sibolga-Tapteng-Nias,  02 Pebruari 2014
“Mangulahon Uhum, Habasaon dohot Haserepon”
Mika 6:1-8
Oleh : Rukun Hutagalung 


 
I.   Patujolo
Krisis Politik, sosial, ekonomi dohot Haporseaon (Iman) manghungkupi bangso Juda uju ginonggoman ni si Jotam, Ahas, dohot si Hiskia, gabe lam lumlam ma nang hasadaon ni bangso i, na pogos lam marpogos na lea lam marlea, alai sai dipukpuhi do patupa pelean situtungon tu Debata laho patupa hasesaan ni dosa atik pe parange nasida ndang mansohot sian hasomalan nasida ima na sai mangulahon nahinagigihon ni Debata, najumorbut dope sahat tu na mamelehon anak buhabajuna pe sanggup do nasida alai pangalaho tong sai manimbil sian lomo ni roha ni Debata. Tarhirim Debata dihamubaon ni roha ni Bangso i, gabe tumpol ma dihatahon Debata hirim ni rohaNai tu Bangso i, pola disuru naposoNa si Mika laho manurirangi/saksi tu nasida asa dipaandar angka dia ma na jat na niula ni Bangso i dohot na denggan na binahen ni Debata naung jinalo ni Bangso i. Jempek dohonon tona ni Debata tu nasida ima: “asa diulahon ma uhum dohot holong ni roha di habasaon, jala marpangalaho haserepon maradophon Debata”, holan ido hirim ni rohaNa sian Bangso hinaholonganNa i.
II. Hatorangan ni Turpuk
Ayat 1-2: “Masipatumpolan”. Dipungka Debata do sidang bolon maradophon Bangso Jehuda asa tung tangkas ditangihon jala dihatindanghon angka dolok angka pambahenan ni Debata tu nasida (Hesekiel 6:2-3), masitariasan do Debata dohot Bangso i patar songon indahan di balanga, soada na buni/hungkup di parkaro i, tung tedek do sude, alai dung masipatumpolan  nasida gabe patar ma hajahaton ni angka Panggomgomi ni Bangso i na sai manghagigihon hasintongan i dohot na sai papeolpeol uhum tu angka na pogos (bindu 3), “si miskin tetap bersalah” hira ima na masa di Bangso i gabe porsuk diahab nasida.
Ayat 3-5: “Nadenggan na binahen ni Debata”. Sejarah membuktikan, ndang adong na asing na paruarhon Bangso i sian parhatobanan Misir asing sian Debata sandiri (2 Musa. 12:31-42) marhite napinabangkitNa naposoNa si Musa, si Aron (2 Musa.7:1) dohot si Miriam (2 Musa 15:20-21), jala saleleng di halongonan Bangso i digohi do nasidaa marhite sipanganon dohot siinumon hombar tu tingkina, tung tangkas do auga nasida i dipaneang Debata.
Ayat 6-7: “Pertobatan yang Semu”. Sadar do Bangso i ujungna di angka na denggan na binahen ni Debata tu nasida, diparhatutu do pangalaho nasida na sai maralo tu lomo ni roha ni Debata, jala diokui nasida do na olo Debata marpangulahi mida pangalaho nasida i, gabe diparhatopot nasida ma pangalaho nasida di adopan ni Debata marhite na pasahathon Pelean  Parsombaon situtungon, mamelehon na ummarga di nasida tu adopan ni Debata marhitehite anak ni lombu, hambing na pinamokmok marriburibu hape ndang dijakhon Debata (Jesaya 1:11), miak na marloksa-loksa dohot anak buha baju, hape ndada i na pinagido ni Debata sian nasida, jala ndada pelean sisongoni laho tuhor ni nasa dosa niula nasida.
Ayat 8: “Mangulahon uhum dohot holong ni roha”. Sian saluhut pelan napinasahat ni Bangso i tu Debata dipanolsolionna ala dosana ndada apala pelean hambing tunggal na marriburibu (1 Samuel 15:22) alai naeng ma Bangso i mangulahon uhum, hasabamon  dohot haserepon ni roha, jala saluhut  Pelean  na ummangur di adopan ni Debata ima na mangulahon holong ni roha di bagasan hasintongan dohot hatigoran, ai  Holong ni roha i do godangan manghungkupi  angka dosa (1 Petrus 4:8), jala holong ni rohaido naumbalga sian haporseaon dahot panghirimon (1 Kor.13:13), nang parbue ni Tondi pe Holong ni roha i do patuduhononna (Gal.5:22).
III.Sipahusorhusoron
Hajongjonghon ma na denggan na binahen ni Debata dohot hatigoranNa marhite na mangulahon uhum dohot hasintongan dibagasan holong ni roha maradophon halak saluhut, jala hangoluhon hasabamon, hasatiaon  dohot haserepon ni roha dibagasan Kristus Jesus.                                                                              DMpoenyaMdsT            

Khotbah Minggu IV Setelah Ephipanias , Mika 6:1-8, 2 Februari 2014

Renungan Minggu IV Dung Ephipanias: Ev. Mikha 6:1-8
Oleh : Sabar Siahaan





Nas ini adalah gambaran pengadilan Tuhan terhadap umat-Nya. Dimulai dengan seruan Tuhan pada orang-orang untuk mendengar perkataan-Nya serta mempersiapkan pembelaan mereka terhadap tuduhan yang akan disampaikan (ayat 1-2). Mikha menggambarkan gunung-gunung Israel, saksi-saksi abadi sejarah penebusan umat Tuhan, sebagai hakim-hakim yang akan mendengarkan pengaduan Tuhan melawan Israel. Tuhan mengingatkan mereka betapa Ia telah membela, menolong, dan melindungi umat-Nya. Ia tidak pernah membebani atau melakukan kejahatan kepada orang Israel. Pertanyaan Tuhan kepada umat-Nya dapat diungkapkan bahwaTuhan akan mengangkat seluruh beban umat-Nya, sebab Ia yang membebaskan, membimbing, melindungi, dan mengajar umat-Nya. Itulah yang dilakukan Tuhan terhadap Israel. Tuhan telah menebus Israel dari tanah perbudakan. Ia telah memberikan kepada mereka pemimpin besar seperti Musa, Harun, dan Miryam. Ia juga telah melindungi mereka dari serangan musuh-musuhnya dan menuntun mereka melewati padang belantara menuju tanah perjanjian (ayat 3-5).
Tidak dapatkah mereka belajar dari pengalaman itu tentang keadilan Tuhan! Jalan manusia bisa saja bengkok, namun dalam sejarah manusia, TUHAN menunjukkan kesetiaan perjanjian-Nya dalam jalan-Nya yang "lurus". Karya itu disebut "adil" oleh karena dilakukan Tuhan berdasarkan perjanjian dengan umat-Nya. Perjanjian itu sendiri berdasarkan prakarsa Tuhan sendiri, sehingga perbuatan “keadilan" itu merupakan kasih karunia belaka.

Apa yang Tuhan tuntut dari umat-Nya! Mikha berperan sebagai Israel, menggunakan sebuah sindiran untuk menyimpulkan apa yang Israel rela lakukan bagi-Nya yaitu korban bakaran, ribuan domba jantan, bahkan seperti pengikut agama-agama kafir mereka rela mempersembahkan anak-anak sulung mereka. Mereka menawarkan persembahan korban sebagai keinginan untuk berdamai dengan Tuhan (ayat 6-7), yaitu sebagai pengganti dosa mereka.

Bangsa Israel meresponi kasih Tuhan dengan melakukan agama lahiriah dan ritual agama yang kosong. Tetapi, Mikha menjawab mereka bahwa Tuhan tidak menuntut anak-anak mereka untuk dipersembahkan. Tuhan sudah memberitahukan kepada umat-Nya apa yang baik yang Ia kehendaki, yaitu berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan -Nya (ayat 8). Kebajikan itu bukan suatu pandangan hidup belaka, namun merupakan nilai-nilai moral yang praktis. Sebab Tuhan menginginkan kita bertidak, yaitu dengan berlaku adil; mengasihi, yaitu mencintai kesetiaan; dan kerja sama, yaitu hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan.

Sangat kontras bila dibandingkan dengan berhala-berhala yang disembah orang Israel, yang menuntut korban persembahan yang sangat mahal, yaitu anak-anak mereka. Tetapi yang Tuhan minta adalah ketaatan dan kerendahan hati dihadapanNya. Sesuatu yang memberikan dampak yang baik bagi hidup bangsa Israel sendiri, tetapi yang malah tidak mereka lakukan.
Kita sama seperti umat Israel, yang tidak mampu untuk memilih ketaatan dan kebenaran, yaitu dengan berlaku adil, setia dan rendah hati, sekalipun kita telah menerima berkat Tuhan sedemikian banyak. Kenapa? Karena kita semua sudah jatuh ke dalam dosa. Dosa identik dengan kematian (Rm 6:23). Orang mati tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Jadi, harus Tuhan sendiri yang datang menyelamatkan, barulah kita bisa memiliki kemampuan untuk taat kepada-Nya.

Sama seperti bagi orang Israel, akan datang waktunya bagi kita untuk duduk di kursi pengadilan Tuhan dan mendengarkan dakwaan atas dosa yang telah kita lakukan. Kabar baiknya adalah Yesus sudah datang sebagai Pembela. Ia menanggung hukuman atas dosa kita. Karena, kematian Yesus di kayu salib telah menghapus kewajiban mempersembahkan korban sembelihan.

Kita beriman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dengan menghadiri kebaktian di gereja dengan setia, memberi persembahan, membaca Alkitab, dan berdoa. Tetapi kita juga harus waspada agar kegiatan yang baik ini tidak merosot menjadi kebiasaan belaka, namun kegiatan beragama itu harus disertai dengan cara hidup yang ditandai dengan keadilan, kesetiaan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan.

Tuhan menginginkan kita meresponi-Nya dengan melakukan tiga kebajikan, yaitu :
1. Berlaku adil meliputi keadilan dalam berhubungan dengan sesama. Ada sesuatu dalam diri kita yang merindukan keadilan bagi orang lain serta bagi diri kita sendiri. Namun hanya ada satu aspek keadilan yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita, yakni perlakuan kita terhadap orang lain. Sehingga, sebagai orang Kristen, kita mempunyai slogan hidup , yaitu “biarlah keadilan kutegakkan” dan bukannya menuntut “tegakkan keadilan bagiku”.
2. Mencintai kesetiaan adalah mengasihi dan memotivasi seseorang untuk memperhatikan kebutuhan orang lain dan menolongnya, sebab orang-orang yang berjalan di jalan Tuhan, tidak menutup mata akan kebutuhan orang lain.
3. Kerendahan hati di hadapan-Nya berarti senantiasa menyerahkan kehendaknya dengan sukacita dibawah kehendak Tuhan. Kita harus menjadi orang yang hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan, yang rindu menunjukkan kesetiaan, dan menegakkan keadilan demi Tuhan. Sebab, ada orang mencoba menjadi baik tanpa mengenal Tuhan. Tetapi juga tidak benar bila kita berkata bahwa kita mengenal Tuhan, padahal kita tidak berbuat baik. Jadi, kita bebuat baik, karena kita sudah menerima kebaikan Tuhan.