Wednesday, 12 February 2014

HKBP DAN SAKRAMEN PERJAMUAN KUDUS



SAKRAMEN PERJAMUAN KUDUS
 Oleh : Topan Nababan
I. Pendahuluan
Dalam pembahasan paper kali ini, penulis akan menyajikan pembahasan mengenai sakramen perjamuan kudus dalam hal sejarah, berbagai pandangan dari pemikiran tokoh reformator, tinjauan etis dan dogmatis serta relevansi sakramen perjamuan kudus terhadap gereja penulis yaitu HKBP.
II. Pembahasan                       
II. 1 Sejarah Perjamuan Kudus dalam Protestan
Istilah perjamuan kudus (bahasa Inggris: holy communion) digunakan oleh gereja Protestan. Perjamuan Kudus didasari pada perjamuan makan malam yang lazim di Israel Kuno.[1] Selain hal tersebut terdapat makna dari ritus perjamuan malam dalam tradisi Israel kuno yang dilakukan untuk menghayati perbuatan Allah yang melepaskan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir (Ul. 16:1 dyb)[2]. Perjamuan itu mereka namakan Pesakh (Paskah) artinya “berlalu” atau “melewati”. Dalam Kel.12:13, Tuhan berjanji bahwa hukuman-Nya akan berlalu pada pintu-pintu yang diberi tanda dengan darah anak domba.  
Gereja Mula-mula atau orang-orang yang menjadi percaya setelah peristiwa Pentakosta setiap hari berkumpul untuk memecahkan roti, yaitu Perjamuan Kudus, Kisah 2:42. Apa yang mereka lakukan ini diimani sebagai perintah dari Tuhan Yesus. Gereja melakukan atau melaksanakan Perjamuan Kudus sebagai peringatan terhadap penderitaan dan juga kematian serta kebang-kitan- yang Tuhan Yesus alami, sampai Ia datang kedua kali, 1 Kor 11:28.
Dalam tradisi PB, Perjamuan berasal dari Perjamuan yang diadakan Tuhan Yesus beserta murid-muridNya pada malam Ia ditangkap untuk disalibkan (1 Kor. 11:23; Mrk 14:22; Mat 26:26; Luk 22:14). Oleh karena itu Perjamuan Kudus menghadapkan kepada kematian Yesus dan kebangkitan-Nya yang telah nyata, bahwa kematian-Nya itu telah menerbitkan keselamatan bagi yang mempercayainya.[3] Untuk itulah perjamuan kudus dapat dikatakan merupakan sebuah sakramen yang ditetapkan Tuhan Yesus untuk menguatkan dengan sesama orang percaya, seluruh umatNya, atau segenap keluarga Allah, di semua tempat dan segala zaman. Karena seseorang masuk ke dalam perse-kutuan keluarga Allah atau Jemaat sebagai anak-anak Allah melalui Baptisan.
Dalam persekutuan tersebut, kita merayakan Perjamuan Kudus berarti makan bersama dari satu roti yaitu Tubuh Kristus, sebagai tanda kesatuan dalam Tubuh Kristus. perjamuan kudus yang merupakan sebuah sakramen yang ditetapkan Tuhan Yesus untuk menguatkan dengan sesama orang percaya, seluruh umatNya, atau segenap keluarga Allah, di semua tempat dan segala zaman. Karena seseorang masuk ke dalam persekutuan keluarga Allah atau Jemaat sebagai anak-anak Allah melalui Baptisan. Dalam perse-kutuan tersebut, kita merayakan Perjamuan Kudus berarti makan bersama dari satu roti yaitu Tubuh Kristus, sebagai tanda kesatuan dalam Tubuh Kristus.
II. 2 Makna Roti dan Anggur di Perjamuan Kudus                                                               
Terdapat makna dari Roti dan Anggur dalam sakramen perjamuan kudus, yaitu;
1. Roti melambangkan Tubuh Kristus, meng-ingatan dan memperingati tubuh Yesus yang disalibkan. Makan tubuh Kristus dalam arti kita dipersatukan dengan Dia, dengan menerima apa yang dilakukan-Nya bagi manusia, Yoh 6:48-58. Makan roti mengingatkan bahwa Yesus menjadi manusia supaya tubuh manusiawi itu disalibkan. Ia menderita dan mati serta bangkit, untuk menciptakan Tubuh baru, yaitu jemaatNya
2. Anggur melambangkan darah Kristus yang ditumpahkan untuk menyucikan dosa-dosa manusia. Darah ditumpahkan pada atau dari tubuh Yesus yang terpaku di kayu salib untuk pengam-punan atau penghapusan dosa seluruh manusia. Darah yang adalah hidup, ditumpahkan agar memberi hidup kekal bagi manusia. Minum anggur dari cawan pada saat Perjamuan Kudus, mengingatkan kita bahwa Yesus sendiri telah minum cawan murka Tuhan Allah yang seharusnya diterima manusia.
3. Gereja-gereja Protestan umumnya lebih menekankan perjamuan sebagai peringatan akan kematian dan pengorbanan Yesus bagi umat manusia.[4]
Ketiga poin ini terlihat dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus, di mana Paulus menetapkan aturan perjamuan kudus berdasarkan kesaksian yang diterimanya pada saat itu:
1 Korintus 11:25
“Yesus mengambil roti lalu mengucap syukur atasnya, sesudah itu Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" Lalu ia mengambil cawan anggur dan berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”
Pasal dan ayat inilah yang biasa dipakai dalam peraturan liturgi Sakramen Perjamuan Kudus di gereja-gereja Kristen sampai saat ini.[5]
II. 3 Pandangan Gereja Katolik Terhadap Perjamuan Kudus
Menurut gereja Katolik roti dan angur telah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus (transsubstansiasi) pada saat ditahbiskan (konsekrasi) dalam pelaksanaan Perjamuan Kudus. Setiap Perjamuan Kudus dilakukan diyakini bahwa setiap kali Yesus mengorbankan ulang tubuh dan darah-Nya untuk keselamatan manusia berdosa. Pada konsili ke-4 di Lateran (1215), ajaran transsubstansiasi disahkan menjadi dogma gereja. Ajaran ini kemudian dikembangkan oleh Thomas Aquino (1274). Di konsili Terente (1545-1563) diteguhkan dan dikuatkan ajaran transsubstansiasi sebagai jawaban gereja Roma Katolik atas Reformasi.[6]
II. 4 Pandangan Para Tokoh Reformator Terhadap Perjamuan Kudus
Ø Luther
Ajaran Luther tentang Perjamuan Kudus dia sebut Kon-substansiasi (kon yaitu sama-sama): roti dan anggur itu tidak berubah menjadi tubuh dan darah Kristus (trans-substansiasi). Tetapi tubuh dan darah Kristus mendiami roti dan anggur itu sehingga terdapat dua zat atau substansi yang sama-sama terkandung dalam roti dan anggur itu.[7] Gereja Lutheran memahami bahwa di dalam Perjamuan Kudus Kristus sungguh-sungguh hadir tanpa merubah substansi roti dan anggur namun Dia hadir ketika Perjamuan Kudus dilakukan. Makna kehadiran Kristus diterima, ketika yang menerima Perjamuan Kudus percaya tentang firman Tuhan yang diberitakan melalui Perjamuan Kudus dan percaya kepada penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Hal inilah yang menjadikan roti dan anggur dalam teologi mengenai sakramen perjamuan kudus menjadi sangat sakral dikarenakan adanya paham mengenai roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, dalam hal ini terdapat paham mistisisme. Begitu jemaat memakan roti dan meminum anggur maka jemaat secara mistis telah memakan tubuh dan meminum darah dari pengorbanan Kristus.[8]
Ø Calvin
Sama seperti Zwingli (berbeda dengan Luther), Calvin menolak bahwa tubuh Kristus turun dari Sorga untuk memasuki roti dan anggur Perjamuan Kudus, apalagi untuk hadir dimana saja Perjamuan Kudus. Menurut Calvin, tubuh Kristus setelah naik ke Sorga, hadir di sebelah kanan Allah Bapa, sebagai jaminan kebangkitan tubuh manusia pada akhir zaman. Jadi untuk dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus, manusia harus diangkat ke Sorga. Namun manusia bukan berarti diangkat secara jasmaniah tetapi secara rohaniah karena hatinya diarahkan ke atas (sursum corda). Dengan kata lain ia menolak kehadiran jasmani dalam Perjamuan Kudus. Kristus sungguh-sungguh hadir pada waktu Perjamuan Kudus dirayakan, dengan cara yang cocok bagi Tuhan yang telah dimuliakan yaitu dalam Roh Kudus yang tidak terikat pada roti dan anggur. Dengan demikian Calvin menolak ajaran Gereja Roma Katolik tentang trans-substansiasi dan menolak ajaran Lutheran yaitu mengenai kon-substansiasi.[9] Pandangan Zwingli mengenai sakramen sebagai lambang melulu tidak diterima oleh Calvin. Bagi Calvin, perjamuan kudus adalah tanda tetapi bukan tanda kosong sebab tanda ini diberikan Allah melalui AnakNya supaya orang percaya melalui roti dan anggur betul-betul dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus karena kelemahan manusia tanda ini mutlak perlu sebagai tambahan kepada firman yang diberitakan. Sebab persatuan dengan Kristus yang dikaruniakan kepada orang percaya ini hanya dapat dimengerti kalau diperlihatkan dalam upacara makan roti dan minum anggur.
Ø Zwingli
Zwingli memahami bahwa Perjamuan Kudus adalah sebagai tanda atau materi tentang pengorbanan Kristus yang menjadi keselamatan bagi manusia. Perkataan Yesus, “Inilah tubuhKu” menurut Zwingli hanyalah berarti: dengan ini dikiaskan tubuh-Ku. Zwingli tidak mengakui bahwa Kristuslah yang sungguh berfirman dan bertindak dalam berlangsungnya sakramen; ia menganggap sakramen hanya suatu perbuatan yang bersifat lambang, yang dilakukan oleh orang beriman. Dengan demikian fungsi Perjamuan Kudus adalah merupakan bukti bahwa seseorang telah menerima penghapusan dosa dan keselamatan.[10]
II. 5 Tinjauan Dogmatis
Melalui Perjamuan Kudus manusia diyakinkan bahwa dia tumbuh menjadi satu tubuh dengan Kristus. Dengan demikian segala sesuatu yang adalah kepunyaan Dia boleh kita namakan kepunyaan kita. Melalui Perjamuan Kudus manusia diyakinkan bahwa kehidupan kekal yang telah diwarisinya menjadi milik manusia dan bahwa Kerajaan Sorga yang telah dimasuki-Nya tak dapat luput dari manusia sebagaimana tak dapat luput dari Dia. Manusia boleh yakin juga bahwa manusia tidak dapat dihukum karena dosa-dosanya, manusia telah bebas oleh-Nya dari kesalahan yang merupakan akibat dari dosa-dosa sebab Dia menghendaki supaya dosa-dosa itu diperhitungkan kepada-Nya seakan-akan dosa-Nya sendiri. Dia telah membuat manusia menjadi anak-anak Allah bersama Dia, dengan turunnya Dia ke bumi Dia telah merintis jalan bagi manusia untuk naik ke Sorga, dengan menerima kelemahan manusia, kita dikokohkan-Nya dengan kekuatan-Nya.[11] Lebih jelasnya Perjamuan Kudus merupakan tempat Dia menawarkan diri-Nya kepada kita, bersama seluruh harta-Nya dan kita menerima Dia melalui iman. Dia menawarkan tubuh-Nya yang disalibkan itu kepada kita melalui Firman supaya kita mendapat bagian di dalamnya dan pemberian itu dimateraikanNya dengan rahasia Perjamuan Kudus.
II. 6 Tinjauan Etis
Perjamuan Kudus merupakan makanan yang tak habis-habisnya yang diberikan Kristus sebagai makanan rohani kepada keluarga besar orang-orang percaya yang merupakan milik-Nya. Dengan demikian sebaiknya Perjamuan Kudus dibagi-bagikan berulang kali supaya orang-orang yang telah diterima ke dalam gereja mengerti bahwa mereka senantiasa diberi makan oleh Kristus dan melalui perjamuan itu bersekutu dengan Allah. Gereja sebagai persekutuan orang-orang kudus (communio sanctorum) menunjukkan adanya partisipasi aktif di dalam setiap proses perkembangan dan pertumbuhan persekutuan. Gereja disebut sebagai persekutuan orang-orang kudus karena telah bersekutu dengan Yesus melalui Sakramen Perjamuan Kudus. Artinya setiap pribadi berpartisipasi aktif menerima dan membagi-bagikan “tubuh dan darah Kristus” yaitu penebusan, pengampunan dosa.
Semua orang yang ingin mengikuti Perjamuan Kudus haruslah lebih dahulu menerima pelajaran tentang pokok ajaran-ajaran Kristen dari dalam Firman Allah. Gereja harus menggunakan cara mengajar yang dianggap paling cocok untuk pembangunan jemaat. Supaya Perjamuan Kudus dapat terselenggara demi penghiburan maka setiap yang akan menerimanya perlu benar-benar menguji diri lebih dulu. Apakah dia layak atau tidak menerimanya. Bagi setiap orang yang menerima Perjamuan Kudus akan dipersatukan dengan Kristus yang sungguh kudus dengan demikian kitapun sama seperti Dia menjadi kudus olehNya.
Namun kenyataannya kebanyakan dalam jemaat memiliki rasa segan untuk menerima Perjamuan Kudus.[12] Hal itu berkaitan dengan pemahaman bahwa roti dan anggur menjadi betul-betul tubuh dan darah Kristus. Oleh karena itu anggota-anggota gereja menjadi takut untuk menerima roti dan anggur tersebut. Bagi Calvin, sakramen-sakramen merupakan akomodasi (bantuan) yang penuh anugerah bagi kelemahan kita.[13] Allah, yang mengetahui kelemahan iman kita, menyesuaikan diri terhadap keterbatasan-keterbatasan kita. Oleh kerena itu tak ada yang perlu ditakuti dalam Perjamuan kudus sebab itu merupakan anugerah yang diberikan-Nya kepada kita. Namun sikap kita dituntut untuk selalu merendahkan diri dihadapan-Nya.
II. 7 Relevansi Makna Perjamuan Kudus dalam Gereja Penulis HKBP
Dalam confessi HKBP dirumuskan bahwa kita percaya dan menyaksikan, Perjamuan Kudus ialah : memakan roti, dengan roti mana (parhitean) kita terima daging dari Yesus Kristus Tuhan kita dan meminum anggur, dengan anggur mana kita terima darah Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kita peroleh keampunan dosa, hidup dan sejahtera (1 Kor 11:17-34); Mat 26; Mark 14; Luk 22). Dengan demikian Perjamuan Kudus hanya sebagai alat atau media saja.[14] Oleh karena itu, melalui Perjamuan Kudus manusia memperoleh keampunan dosa. Melalui keampunan dosa menusia dituntut untuk hidup bersekutu dan hidup dalam damai antara yang satu dengan yang lain.


III. KESIMPULAN
Dari pembahasan mengenai sakramen perjamuan kudus yang juga merupakan suatu bagian dari liturgi yaitu liturgi perjamuan kudus, penulis menarik beberapa kesimpulan mengenai perjamuan kudus yang merupakan bagian dari sakramen dan liturgi tersebut.
  1. Perjamuan Kudus merupakan suatu ibadah Kristen yang penting yang diamanatkan Tuhan Yesus sendiri. Dalam perjamuan Kudus itu, muncul berbagai kontroversi dari berbagai pihak karena perbedaan penafsiran dari ucapan Tuhan Yesus sendiri dalam Perjamuan Paskah yang dilakukan-Nya bersama dengan murid-muridNya.
  2. Dalam Perjanjian Lama Perjamuan dihubungkan dengan istilah Pesah yang artinya melewati. Perjamuan itu dilakukan sebagai ucapan syukur atas kelepasan mereka dari penghukuman Allah di Mesir. Dalam Perjanjian Baru Perjamuan Kudus itu diwarisi dari Perjamuan yang diadakan Tuhan Yesus beserta murid-muridNya pada malam Ia ditangkap untuk disalibkan (1 Kor 11:23 dyb; Mark 26:26; luk 22:14).
  3. Perjamuan kudus merupakan hidangan rohani yang didalamnya Yesus bersaksi bahwa Dialah roti hidup, roti yang menjadi makanan bagi jiwa, untuk mencapai hidup yang kekal. Melalui sakramen tersebut manusia diyakinkan bahwa dia satu di dalam Kristus, artinya oleh Kristus apa yang menjadi milik-Nya menjadi milik kita.
  4. Terlepas dari pemahaman yang dianut oleh gereja-gereja yang mewakili pandangan dogma dari para tokoh reformator, perjamuan kudus merupakan suatu sarana untuk menyatakan kehadiran Kristus dengan kehadiran Kristus manusia dipersekutukan dengan Dia. Kristus sungguh-sungguh hadir dalam Perjamuan itu (praesentia realis) tetapi tidak terikat pada roti dan anggur (consubstansiasi). Kehadiran-Nya suatu rahasia yang tidak dapat ditangkap oleh akal pikiran manusia dan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
  5. Kristus sungguh hadir (praesentia realis) pada perjamuan itu, Kristus sendiri, Tuhan yang hidup. Tetapi sejak kenaikan-Nya ke Surga, tidak lagi kita smengenal Kristus menurut ukuran manusia (2 Kor. 5:16). Yang kini bertindak selaku Tuhan adalah Roh Kudus (2 Kor. 3:17). Dengan kata lain sesudah Pentakosta, kehadiran Kristus adalah kehadiran-Nya di dalam dan dengan perantaraan Roh Kudus (dengan tidak melupakan, bahwa Roh Kudus bersama-sama dengan Sang Bapa dan Anak) dan kehadiran-Nya itu kita alami “di dalam percaya”.
DAFTAR PUSTAKA

Abineno CH. J.L. Pemberitaan Firman pada Hari Khusus. Jakarta: BPK 1981.
Boland B.J van Niftrik G.C. Dogmatika Masa Kini. Jakarta: BPK 2001.
Caspar Ursinus. Katekismus Heidelberg (Pengajaran Agama Kristen). BPK: Jakarta 2007.
Enklaar Berkhof. Sejarah Gereja.  Jakarta: BPK1993.
HKBP. ConFessi HKBP. Pearaja 1951.
Heyer Den J. C. Perjamuan Tuhan. Jakarta: BPK1997.
Jonge de Christian. Apa itu Calvinisme.  Jakarta: BPK 1999.
Kooiman J. W. Martin Luther. BPK: Jakarta 2006.
Lohse Bernhard. Pengantar Sejarah Dogma Kristen. Jakarta: BPK 2001.
McGrath E. Alister. Sejarah pemikiran Reformasi. BPK: Jakarta 2002.
Rasid Rachman. Hari Raya Liturgi. Jakarta: BPK 2001.



[1] C.J. Den Heyer, Perjamuan Tuhan, Jakarta: BPK1997, 18-19.
[2]  Bnd/ J.L. ch. Abineno, Pemberitaan Firman pada Hari Khusus,  Jakarta: BPK 1981, 137-138.
[3] G.C. van Niftrik-B.J.Boland, Dogmatika Masa Kini,  Jakarta: BPK 2001, 455.
[4] Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi, Jakarta: BPK 2001, 80-81.
[5] Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, Jakarta: BPK 2001, 241
[6] G.C. van Niftrik-B.J.Boland,  459
[7] Berkhof-Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta:BPK 1993, 131-132.
[8] W.J. Kooiman, Martin Luther, Jakarta: BPK 2006, 213.
[9] Ursinus-Caspar, Katekismus Heidelberg (Pengajaran Agama Kristen),  Jakarta: BPK 2007, 51.
[10] G.C. van Niftrik-B.J.Boland,  45.
[11] Ursinus-Caspar, Katekismus Heidelberg (Pengajaran Agama Kristen),  Jakarta: BPK 2007, hal 51
[12] Bnd. Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme, Jakarta: BPK 1999, 215.
[13] Alister E.McGrath, Sejarah pemikiran Reformasi,  Jakarta: BPK 2002, 236.
[14] HKBP, ConFessi HKBP, Pearaja, 1951, hal 43           

Tuesday, 11 February 2014

Liturgi HKBP




L I T U R G I
Oleh : Pdt Mangasi V Simanjuntak
Liturgi, i ma parture manang aturan ni parpunguan manang peribadahan ni halak Kristen manang huria. Di HKBP, somal didok agenda. Ragam do kebaktian i, isara parmingguon, partangiangan, parbagason, pangapulion, natal, dohot na asing. Na naeng hataan dison, parmingguon do, i ma parpunguan di gareja di ganup ari Minggu.

Di parmingguon manang kebaktian i, pajumpang do Debata dohot jolma. Ibana sandiri do na patupahon parjumpangan i. Dohot hata na asing, Debata do suhut ni parpunguan i. Jolma, sian gogo dohot usahona sandiri ndang tau mandapothon laho pajumpang dohot Debata. Taringot tu parjumpangan i, adong dua aspek panghilalaan, i ma:
a. Debata tuat pajumpanghon jala pasaorhon diriNa tu jolma.
b. Jolma dihindat sian portibina tu hadirat ni Debata.
Ala ni i, na badia situtu do parmingguon i jala na songkal, ai "pajumpang" disi alam sorgawi dohot alam duniawi, dunia ilahi dohot dunia insani. Mansai ringkot do i antusan ni sude asa sandok diparbadiai be rohana di na marminggu i, unang gait manang gere.

Na marmula do kebaktian i di ulaon ni Debata Sitolusada naung papatarhon diriNa tu jolma. Dipapatar do diriNa selaku Debata Ama, Panompa; selaku Debata Anak, Sipalua jala Partobus; dohot selaku Debata Tondi Porbadia, na mangingani jala na pabadiahon. Manghatai Ibana tu jolma, mangula jala bertindak, gabe malua saluhut sian dosa dohot sian sandok pangonaina, sian huaso ni sibolis dohot hamatean. Maradophon hapataran dohot ulaonNa na paluahon i, patut do jolma mangalehon alus manang reaksi. Na parjolo, i ma na mananda, manghaporseai, jala mamillit Ibana gabe Debatana; dung i, na mamuji jala na mandok mauliate, na marningot jala na manghatindangkon angka pambahenanNa. I ma na dipolakan, dibakukan manang dilembagakan di bagasan liturgi i, na diulahon na porsea i secara bersama, di sada parpunguan na di berlangsung di bagasan goarNa, i ma kebaktian i. Dipajumpanghon jala dipasaor Debata diriNa tu jolma, dipatubegehon hata dohot tonaNa, patik dohot aturanNa, bagabaga dohot lumbalumbaNa; ditangihon ende dohot pujipujian ni jolma i, tangiang dohot elehelekna, panindangion dohot olopolopna, jala dijalo hamauliateon dohot peleanna. Dohot hata na asing, di parpunguan i masa do interaksi timbal-balik antara ni jolma dohot Debata: Jolma manjou, Debata hadir; Debata manghatai, jolma manangihon dohot mangalusi; jolma manghatai, Debata manangihon dohot mangalusi.

Sahali nari, di parmingguon i pajumpang do Debata dohot jolma. Ibana sandiri, sian asi dohot lomo ni rohaNa do na mangulahon i. So sian asi dohot lomo ni rohaNa ndang adong parjumpangan dohot parsaoran, ndang adong panghataion dohot pananangihonon. Tangkasna, Debata sandiri do patupahon kebaktian i. Nang pe songon i, jolma do anggo na mangulahon. Hombar tusi, sidua hajongjongan do na manguluhon kebaktian i, i ma:
a. Wakil ni Debata maradophon jolma manang huria i
b. Wakil ni jolma manang huria i maradophon Debata
Songon wakil ni Debata, ditariashon do hata ni Debata tu huria i, dipatubegehon patik, aturan, uhum, tona, bagabaga, pasupasu, dohot lumbalumbaNa; jala selaku wakil ni jolma, dipasahat do tangiang ni huria i tu Debata, pujian, hamauliateon, dohot angka peleanna. Laos angka i ma na gabe unsur ni kebaktian i. Adong do disi rupani unsur panindangion manang pemberitaan taringot tu Debata Sitolusada na papatarhon diri tu jolma, na mangula jala pasaorhon diri, na marsoara jala patubegehon hataNa; adong unsur jawaban sian jolma, i ma pujian, ende, tangiang, panindangion haporseaon, hamauliateon, pelean, dohot na asing. Angka unsur i, ndang boi asal dipangompaphon songon i, alai ingkon disusun do di bagasan aturan manang pola na tontu.

Di HKBP, nunga adong Agenda, i ma aturan manang liturgi ni kebaktian. Na dipahombar do i tu parsagi ni tingki di sada taon parhuriaon. Marhite i, dipamura do ulaon ni angka parhobas, ai ndang pola be ingkon manusun sandiri liturgi siganup minggu, alai sae ma mamillit dohot padomuhon angka unsur liturgi naung diparade disi. Tutu, sai adong do tingkina ingkon patomutomuon ni sadasada parhalado liturgina, isara di pesta na sangat khusus di huria i. Siangkup ni Agenda, adong dope di Almanak, i ma aturan ni turpuk sijahaon dohot sijamitahonon siganup minggu. Ala ni i, ndang pola be angka parjamita mangalului turpuk tu ganup minggu. Sistim i digoar stelsel perikope. Ndang sude huria mamangke sistim i, adong do na mangalehon kebebasan tu angka parjamita. Rap adong do denggan dohot hurang ni na dua i. Sistim na parjolo, ala naung tarihot tu taon parhuriaon, sai adong do sian turpuk i na so hona tu situasi na sangat khusus jala na insidentil, jala ndang sude turpuk ni Bibel i dijamitahon. Sistim na paduahon, boi mangonjar parjamita mamillit dohot manjamitahon turpuk angka na mura sambing, angka na maol dipasiding. Dungkon ni Agenda dohot Almanak, adong dope Buku Ende naung disagi hombar tu rumang dohot pamangkeon ni angka ende na tarsurat disi. Na parpudi on do na gumodang mangigil pangaradeon ni angka parhobas, ai ingkon pillitonna do angka ende na hona tu unsur-unsur liturgi dohot parsagi ni tingki di taon parhuriaon. Tutu, di angka taon na parpudi on, nunga disurathon nomor ni ende tu ganup minggu di Impola. Nang pe songon i, ndang gabe dipalua i angka parhobas so paradehon ende, ai ndang sai sarupa panatapan ni na parade liturgi na di Impola i tu panatapan ni na mangulahonsa. Taringot tu ende na mardomu tu jamita ma rupani. Nang pe dos turpuk sijamitahonon, bolas do marasing tekananna; marasing, ala marasing na manjamitahon, marasing situasi dohot kondisina. Tontu, diigil parasingan i do nang parasingan ni ende.

Andorang so tinorushon manghatai liturgi i, ringkot ondolhonon: Ndang tarpatomutomu huria sada liturgi na singkop jala na marlaku sepanjang jaman. Na di pardalanan dope huria i, liturgina pe di pardalanan dope, na ringkot tongtong dipaimbaru. Di taon 1904 rupani, dipaimbaru hurianta do liturgina sian na marpangke di abad 19. Dung i, di taon 1936 adong do muse usaho paimbaruhon liturgi i, alai ndang tuntas. Liturginta sinuaeng on, ojak dope i di liturgi 1904, alai nunga godang perubahanna sian tingki tu tingki. Deba sian perubahan i na diaturhon do i sian Pusat, deba jolo dihatai jala diputushon di Rapot Pandita, alai deba na pinatubu ni huria marsadasada do i, dungi i ditiru huria na asing jala di ujungna gabe ditotophon.

Tarbagi dua bagian bolon do liturgi ni hurianta, i ma:
a. Parsombaon, sian pamungkaan tu na papungu pelean parjolo.
b. Parjamitaon (pemberitaan), sian jamita tu panimpuli.Di bagian na parjolo na gumodang berperan i ma paragenda. Disi, marfungsi do ibana songon malim na jongjong di dua hajongjongan: wakil ni Debata maradophon huria i, dohot sabalikna, wakil ni huria i maradophon Debata. Di bagian paduahon, gumodang berperan parjamita. Disi pe jongjong do ibana di dua hajongjongan, i ma panurirang na patubegehon hata dohot lomo ni roha ni Debata, dohot selaku malim na manangianghon huria i, manangianghon pelean, dohot pasahathon pasupasu manang ramalan imam. Tumangkas, tapamanat ma skema na mangihut on:
I. PARSOMBAON

A. Pamungkaan

01. Marende Huria

Dipungka do parmingguon marhite Ende Huria. Disi, marfungsi do ende i songon pangaradeon manang ajakan/panggilan parsombaan na naeng berlangsung. Ala ni i, ende na hombar tu fungsi i ma pilliton sian Buku Ende i. Rupani, Ende Pujipujian, Ende di Ari Minggu, manang ende na hombar tu goar ni Minggu/Pesta di taon parhuriaon. Di mulana, diendehon do dison sude ayat ni sada nomor sian Buku Ende i. Di tingki on, rata-rata tolu ayat nama (adong na holan dua). Boha parmuba ni i, ndang apala binoto. Alai ra, godangan do i na menghemat tingki. Na tolu ayat i diholangholangi musik saayat. Parmubana, hatontuan sian Pusat. Maksudna, pahothon ton ni ende i (ai sipata, moru do ton ni ende i dung di ayat paduahon). Di tingki na parpudi on, di ayat na patoluhon, jongjong huria i. Parmubana, sian sadasada huria na gabe diadaptasi di na asing. (Alai ndang sude dope huria mangulahon i).

B. Penahbisan

02. Votum-Introitus-Tangiang

a) Votum.

Votum, "manguba" rumang ni punguan i sian parpunguan na somal, na "profan" gabe parsaoran na di bagasan goar ni Debata Ama, Anak, dohot Tondi Porbadia, na badia manang na sakral. Alai adong do na memahami i songon joujou manang elehelek tu Debata asa ro tu parpunguan i, jala hombar tu interaksi timbal-balik na nidok ondeng, dihaporseai huria i do na hadir Ibana di tingki i.

b) Introitus

Introitus, patuduhon warna ni parmingguon i. Sipilliton do introitus i sian angka ayat introitus naung diparade di Bagian Paduahon ni Agenda i, di sub bagian A. Naung disagi do angka ayat i hombar tu parsagi ni tingki di sada taon parhuriaon.

c) Haleluya

Ala naung "diuba" rumang ni punguan i gabe parsaoran di bagasan goar ni Tuhan i marhite Votum jala dihaporseai huria i naung hadir Debata di kebaktian i, gabe dijangkon/disambut ma Ibana marhite pujian Haleluya.

d) Tangiang

Sambutan Haleluya diuduti dohot tangiang na hombar tu Introitus. Tangiang on, sipilliton do sian tangiang naung diparade di Bagian Paduahon ni Agenda i, di sub bagian D, naung disagi do i hombar tu parsagi ni tingki di sada taon parhuriaon. (Di Agenda 1904, di ujung ni tangiang i rap do na sahuria i mandok “Amen”. Dung i, udut tu tangiang i ndang adong be ende, langsung nama tu Patik. Ndang binoto be, boha jala sadihari parmuba ni i tu sinuaeng on).

03. Marende Huria

Dison na marfungsi do ende i songon sambutan ni huria tu tangiang na di jolo (d). Hombar tusi, sipilliton ma dison ende na marhata tangiang na gumodang jumpang di Ende di Ari Minggu dohot Ende taringot tu Haporseaon. [Adong do na memahami sude ende na di Agenda i songon pangaradeon tu unsur na mangihut. (Ende on rupani, dirajumi songon pangaradeon tu na manjaha Patik). Jala hombar tusi ma ende na dipillit. Ndang sintong i. Di Agenda 1904 torang do, ganup ende na mangihut tu unsur na di jolona do i. (Pamanat ma skema na di ginjang i). Ephorus Pdt.Dr.Justin Sihombing mandok, na marfungsi do angka ende i manggonamhon unsur na di jolona. “Songon na mamantikhon labang,” ninna Ompui, “nang pe naung masuk sude, diantuk dope manang na piga hali nari asa haru gonam.”] Rata-rata ende on saayat, molo ayat na jempek dua.

C. Pendamaian

04. Patik

a) Patik

Di hurianta, dijaha do patik i di jolo ni panopotion/bagabaga hasesaan ni dosa. Sian i torang, na marfungsi do patik i paingothon taringot tu dosa, jala manognogu hita tu Kristus (usus elenchticus manang usus paedagogicus). [(Ndang sude huria mamereng songon i, adong do na mangarajumi i songon petunjuk hidup baru (usus normativus manang usus didacticus). Hombar tusi, dijaha do patik i di pudi ni bagabaga hasesaan ni dosa. Pamanat ma rupani Tata Kebaktian ni GPIB, GKI, dohot na asing].

Molo ‘digonti’ patik na tarsurat di Agenda i dohot sada manang lobi ayat ni Bibel, ingkon pilliton do ayat na marhata patik/berbahasa hukum. Unang digoar i singkat ni patik, alai patik, ai di bagasan kerangka tata kebaktian i na marfungsi do i songon patik. Molo lobi sian sada ayat dipillit, hombar tu interaksi timbal-balik na nidok di jolo i, unang ma dijaha i marrumang na masialusalusan. Debata do na manghatai disi, jolma manangihon. Molo dohot do huria i manjaha, ise be na manangihon?

Ndang jadi gantion patik i dohot na asing, isara Aturan Paraturan ni Huria manang Ruhut Parmahanion Paminsangon, ai ndang patik ni Debata i. Laos songon i, ndang sigontion patik i dohot Credo, hatorangan ni Sakramen manang Konfessi, ai ndang usus elenchiticus dohot usus paedagogicus fungsi utama ni angka i di huria.

b) Tangiang

Panjahaon ni patik i disambut huria i do i marhite tangiang songon na tarsurat di Agenda. Taringot tuson pe, molo ‘digonti’ patik i dohot ayat ni Bibel, unang gabe digonti hata ni tangiang i songon on : "... mangulahon na hombar tu hataMi", alai hot do dohonon "... mangulahon na hombar tu patikMi".

05. Marende Huria

Dison, marfungsi do ende i songon sambutan tu patik i. Ala ni i sipilliton ma dison ayat ni ende na marhahonaan tu patik manang tu ayat na dijaha di kebaktian i. Nuaeng on, rata-rata ende on dua ayat, jala di ayat paduahon jongjong huria i laho manopoti dosa. [Songon na nidok di jolo (ida 01) ndang sude dope huria mangulahon i].

06. Panopotion-Bagabaga

a) Manopoti Dosa

Dung disadarhon marhite patik i, sahat ma huria i tu panandaon dohot panopotion nang sihol ni roha di hasesaan ni dosa. Pilliton ma dison tangiang naung diparade di Agenda di Bagian Paduahon, sub bagian B. Di na mamillit i, parrohahonon do hata ni tangiang i laho pahombarhon tu parsagi ni tingki di taon parhuriaon manang tu warna ni kebaktian i.

b) Tingki na Hohom (Saat Teduh)

Unsur na imbaru dope on di agenda ni hurianta, jala ndang sude dope huria naung mangulahonsa. Na binoto, dipungka do unsur on di HKBP Menteng, gabe diadaptasi di torop huria, jala ndang adong pola oraora sian Pusat. Di deba huria angka naung mangulahon, diisi do i dohot musik na angonangon; di na asing, song leader/musik. Maksudna, laho mangauhon tangiang panopotion i dohot paradehon roha tu bagabaga hasesaan ni dosa na mangihut.

c) Bagabaga Hasesaan ni Dosa

Di angka na manopoti dosana sian nasa rohana rade do asi ni roha ni Debata na mengampuni. Hombar tusi, di bagasan hajongjonganna songon malim na mewakili Debata maradophon huria i dipatubegehon paragenda i do samansam ramalan imam, i ma bagabaga hasesaan ni dosa. Pilliton ma i sian angka ayat naung diparade di Agenda di Bagian Paduahon, sub bagian C. Taringot tusi pe, ingkon parrohahonon do dia na hombar tu taon parhuriaon.

d) Pujian/Gloria Besar

Bagabaga hasesaan ni dosa i disambut huria i marhite paragenda na jongjong di tingki i songon malim na mewakili jolma maradophon Debata, didok: "Hasangapon ma di Debata na di ginjang." Dung i, diuduti huria i ma i dohot "Amen". Ndang dohot pola paragenda mandok i. Na mandok Amen on, na imbaru dope di hurianta jala hatontuan sian Pusat do i. Marhite na mandok i, diparhatopot huria i do hinasintong ni bagabaga dohot hasesaan i. Ndang gaitgait i, alai na tutu situtu do.

07. Marende Huria

Ende on, udut ni sambutan pujian ni huria na di jolo i do (06.d) Hombar tusi, pilliton do dison ende na marhata pujian, las ni roha, manang olopolop ni huria manghalashon hasesaan ni dosana. Rata-rata ende on saayat, molo apala jempek dua.

D. Pemberitaan/Petunjuk Hidup Baru

08. Hata ni Debata turpuk ni ari Minggu

a) Hata ni Debata

Aha do sasintongna goar ni unsur on?

Epistel: Ndang binoto manang na boha jala sadihari partubu ni goar on. Tutu, hea do di hurianta holan sian Evangelium na opat i do dibuat turpuk jamita (jala mulak do i dung opat taon; rupani, dos do sude turpuk sijamitahonon di 1936 dohot 1940, di 1937 dohot 1941 dohot satorusna). Di angka tingki i, unsur on dibuat ma sian Epistel manang suratsurat tongosan. Alai molo pinamanat ndang songon i sian mulana, ai dibuat do i tong sian Padan na Robi, sian Evangelium na opat i, dohot sian Epistel. Di tingki on, nunga dohot muse sian Pangungkapon. Antong boasa goaron i Epistel?

Patujolo ni Jamita: Na jolo, di deba huria dijamitahon do unsur on di parmingguan, jala digoar do i jamita metmet. (Jamita, digoar jamita godang). Angka sintua do parjambar disi. Alai ndang songon i anggo di angka huria na balga, isara di Pearaja dohot di Sipoholon, di parmingguon paduahon na dipatupa di bodari ni ari Minggu i do i dijamitahon (Ida Dr.J Sihombing, Homiletik, al.15-17) Di na deba nari muse, di evangelisasi na dipatupa di gareja di sada ari holang di na saminggu i. Alasanna, ai i do na mangajarhon manang na songon dia huria i manghangoluhon Evangelium i. (Evangelium, indicatif; epistel, iperatif). Hombar tusi, di periode ni Ephorus Ds.GHM Siahaan, hea do laos ayatayat ni turpuk i do na ditontuhon gabe ayat ariari di na saminggu i. Molo i do, boasa goaron i Patujolo ni Jamita?

Hata ni Debata Turpuk ni Ari Minggu on: Dumenggan ma tapangke goar on, ai i do tarsurat di Agenda i. (Tung taparrohahon ma, ndang adong tarsurat di Agenda i hata Epistel. Ndang sintong i, sai songon na paotootoonta dirinta mandok epistel hape turpuk na sian Padan na Robi do na tajaha, manang sian Evanggelium, manang sian Pangungkapon ai taboto be do lapatan ni Epistel, surat tongosan).

Sahali nari, nunga niondolhon, na tarbagi dua bagian bolon do parmingguonta i, i ma Parsombaon (I) dohot Parjamitaon/Pemberitaan (II). Molo mamereng hita sian segi Parsombaon (I) sambing, manang na dijamitahon i manang na so dijamitahon, na harajuman do Hata ni Debata turpuk ni ari Minggu i songon Pemberitaan Firman, alai sian segi keutuhan ni na dua i (Parsombaon dohot Parjamitaon), gabe harajuman do i songon Petunjuk Hidup Baru di angka naung pinaimbaru ni Tuhan i marhite hasesaan ni angka dosana.

Hatiha on, dijaha do unsur on masialusalusan manang responsori antara paragenda dohot ruas. Hasomalan i dipungka do di angka huria, dung i di periode 1992-1998 dilegalisasi ma i sian Pusat. Alasanna, asa diboan be bibelna tu gareja. Alai sian hajongjongan ni unsur on di bagasan kerangka kebaktian i, jala hombar tu interaksi timbal-balik na nidohan ondeng, ndang sintong i. Debata do na manghatai disi, na manangihon do jolma. Ala ni i, holan paragenda do manjaha i.

b) Pernyataan Bahagia

Panjahaon ni unsur on ditutup dohot sada Pernyataan Bahagia na mandok: "Martua ma angka na umbege hata ni Debata jala na umpeopsa." (Di Agenda i tarsurat do ‘na tumangihon’ alai di Bibel ‘na umbege’ do). Sarupa tu bagabaga hasesan ni dosa, Pernyataan Bahagia on pe na harajuman do songon samansam ramalan imam na dihatahon paragenda i di bagasan hajongjonganna selaku malim na mewakili Debata maradophon huria i. Sai adong do paragenda na ringgas roha manambanambai hata partuaon i, didok rupani: “Martua ma … jala na umpeopsa dohot na mangulahonsa.” Tung na so ringkot do i, ai nang pe ditambatambai ndang hea i sun singkop.

09. Marende Huria

Ende on, sambutan ni huria do tu Hata ni Debata turpuk ni ari Minggu i. Ala ni i, pilliton ma disi ende na marhahonaan tu turpuk i. Di tingki on, rata-rata ende on dua ayat, jala di ayat paduahon jongjong huria i. (Taringot tusi, ida 01 dohot 05).

E. Panindangion

10. Manghatindanghon Haporseaon

Songon na nidok di jolo (4), hapataran dohot tindakan ni Debata na paluahon i, hata, patik, bagabaga, dohot pernyataan bahagiaNa, na mangigil reaksi manang alus do sian jolma na pungu i. Di liturginta i, dibakuhon do alus i di bagasan sada Panindangion Haporseaon.

Di dekade onompuluan, di sada rapot pandita dipasingkop do joujou ni paragenda tu na manghatindanghon haporseaon i songon on: “Tahatindanghon ma haporseaonta i, songon na hinatindanghon ni donganta sahaporseaon di sandok portibi on, rap ma hita mandok.” Na marpardomuan do i tu semangat ekumenis na lam tu timbona.

11. Tingting

Di Agenda 1904, simpul manghatindanghon haporseaon pintor marende nama, dung i marjamita. Tingting dohot na papungu pelean, dung salpu jamita pe. Ndang torang be di hita, boha jala sadihari parmunsat ni tingting dohot na papungu pelean tu jolo ni jamita songon na taulahon di tingki on.

Na marfungsi do tingting i songon jamita (barita) huria. Bagian ni panindangion ni huria i do i, ai disi dihatindanghon huria i do haporseaonna paboa, ala ni hapataran ni Debata dohot ala ni hataNa, tubu do huria i naung gabe haojahaannasida nuaeng. Boha do hajongjongan ni huria i, boha parngoluon parhobasonna, parungkilon dohot sitaononna, sieahan dohot sidungdungonna, dihatindanghon huria i ma i marhitehite tingting i.

Alai huhut, na marfungsi do tingting i songon pengutusan, na paborhathon huria i tu angka na patut patupaonna songon alusna tu na binege dohot na jinalona di kebaktian i. Nian, nunga dialusi nasida i marhite na manghatindanghon haporseaon. Alai ndang sae dope i; siudutanna dope i di kebaktian i sandiri lumobi di hangoluanna siapari. Manang na boha jala di dia huria i ingkon mangalehon alusna, diinformasihon ma i di tingting i. [Ingot, naeng marujung ma bagian parjolo ni parmingguon i (Parsombaon). Ala ni i, di ingananna do molo adong dison pengutusan].

Hombar tu fungsina na dua i, ndang siagohonon tingting sian parmingguon i. Nang pe naung dirongkom i jala disagihon tu parminggu, anggo bagian na tertentu, isara na tubu, na marbagas, na monding, dohot na asing, ingkon tong do jahahononhon.

Di tingki on, tubu do muse unsur na imbaru di bagian on di torop huria, i ma tangiang pangondianon. Di na deba, laos sijaha tingting i do manguluhon i, alai di na asing, na pinillit sian tongatonga ni horong na adong di huria i manang sian lunggu/wjik. Nang pe songon i, tong dope adong syafaat ni parjamita. Ninna roha, denggan ma dipasada i sude di tangiang pangondianon ni parjamita, ai gabe ‘panegai’ do i tu keutuhan ni unsur i (panindangion dohot pengutusan ro di pelaksanaanna/pengucapan syukur).

F. Pengucapan syukur

12. Pelean/Marende Huria

Di Agenda 1904 holan sahali do papungu pelean jala ingananna dung salpu tingting (ida 11). Boha jala sadihari i gabe dua (bahkan tolu ro di opat) hali papungu pelean ndang torang be.

Angkup ni na mangalusi nasa na binahen ni Debata marhite na manghatindanghon haporseaon, laos songon i manggohi na sinosohon ni pengutusan na marhite tingting, dison dilehon huria i ma pelean manang hamauliateonna. Marhite i, dipatuk do na ringkot tu panghobasion ni huria i, baik di bagasan laos songon i dohot tu ruarna. Ringkot ondolhonon di bagasan kerangka ni tata kebaktian i, sintuhu ni unsur on na papungu pelean do na dipatupa di tingki marende. (Jadi na papungu pelean huhut marende do, ndada sabalikna na marende huhut papungu pelean). Ala ni i, sipilliton ma dison ende na marhahonaan tu pelean. (Sayang, mansai otik do ende sisongon i di Buku Ende HKBP). Alai, ala na harajuman do tong bagian on songon peralihan tu bagian paduahon (Pemberitaan), bolas do pilliton ende na manggombarhon sihol ni roha tu hata ni Debata, manang joujou dohot sosososo tu na manangihon jamita.

Catatan

Koor. Unsur na penting do koor di parmingguanta, alai unang ma nian magodanghu. Laho mangaradoti hasadaon dohot hahohot ni warna ni kebaktian, sipasingothonon do tu angka punguan koor asa dipahombar be endena tu unsur-unsur dohot tu warna ni kebaktian i. Rupani, molo salpu patik do anggap ni sada punguan marende, ndang hombar be i molo diendehon Tangiang Ale Amanami. Ra, denggan do pingkirhonon asa unang menetap anggap ni sadasada punguan koor marende di parmingguon, alai ganup minggu ma diatur manang na sadihari anggapna hombar tu hata ni endena be. Di deba huria, molo adong do koor na mangihut tu sada unsur, ndang marende be disi huria. Ninna, laho menghemat tingki. Ndang denggan i, ai molo marende sadasada koor ndang sude huria i na marende. Tutu sude do boi manangihon dohot mangauhon i songon ende ni tondina, alai manang na boha pe dihalomohon Debata do huria i rap marende sude. Dr.J Sihombing mandok: “Rapna i do na arga.” Papungu sude koor marende marjojor di sada tingki, isara dung salpu tingting, i pe ndang denggan, ai ndang mandukung i tu unsur-unsur ni parmingguon i. Bahkan gabe adong kesan na ambaamba do koor i di agenda parmingguon i. Dung i, holan di bagian parjolo ni parmingguon i do patupaon koor. Ndang sipatupaon be koor dung salpu jamita.


II. PEMBERITAAN


G. Pewartaan/Pengajaran

13. Jamita

a) Salam

Di godangan tata kebaktian, penyampaian salam dipatupa do di bona ni kebaktian. Ndang pola bertentangan i tu na taulahon di hurianta, ai songon na nidok ondeng, na tarbagi dua do kebaktianta i. Jadi molo dison pe ingananna tong do i di pamungkaan. Di hurianta holan partohonan pandita do na pasahathon tabe, anggo na so partohonan pandita sae do martangiang sian roha.

Sai adong do pandita na so setia tu formula ni tabe i, dipaasingasing hatana i otikotik. Ia so i, dipungka jolo dohot tangiang sian roha na tar ganjang, dung i pe asa dipasahat tabe i. Ndang denggan i, ai na manegai konsentrasi ni ruas do i. Didok sada halak: “Sada na tumabo huhilala di parmingguan ni HKBP on do, na parjolo sahali binege sian pandita i i ma hata ni Debata na polin, ndang tangiang na ganjang, ai anggo i do na boi terkontaminasi do i binahen ni hagiot dohot pingkiran ni hajolmaonna.”

b) Jamita

Di na manjaha turpuk, sai adong do tong pandita na padohothon ruas marhite panjahaon na masialusalusan. Sahali nari, hombar tu prinsip interaksi timbal-balik ndang sintong i, ai Debata do na manghatai disi, na manangihon do huria.

Songon sada sian huria protestan hita, tahaporseai do na unsur on do pamusatan ni peribadahanta. Na marfungsi do jamita i songon pewartaan dohot pengajaran. Ndang tarsirang na dua i; di bagasan pewartaan ingkon adong do pangajaran, jala di bagasan pangajaran, ingkon adong pewartaan.

c) Tangiang

Di hurianta sai ditutup do jamita marhite tangiang pangondianon ni parjamita. Mangihuthon agenda i nian, andorang so Tangiang "Ale Amanami" do inganan ni i. Alai ala ndang sai dijaha be tangiang na di agenda i disi, asing ni di angka ari pesta, di bagian on nama kesempatan ni parjamita pasahathon tangiang pangondianon. Ala ni i, unang ma holan na mardomu tu jamita i ditangiangkon parjamita i disi, dohot ma na mardomu tu tingting masa, na marsahit, na marlas ni roha, dohot na asing (Ida 11).

d) Saat Teduh

Di deba huria, salpu jamita adong do saat teduh, na diiringi musik na angonangon. Ndang na imbaru i, masa do i sian na jolo. Na so mangulahon i do na so umboto jala na so marningot be disi.

H. Pengucapan Syukur

14. Pelean/Marende Huria

Duansa i, na papungu pelean dohot na marende, sambutan ni huria i do i tu jamita i. Sipilliton ma dison ende na hombar tu jamita i, manang na taringot tu na pasahathon pelean. (Ida huhut hatorangan 12)

15. Tangiang-Ende Pelean

Di dekade onompulan pe partubu ni unsur on di liturgi ni hurianta. Partubuna, marhite hatontuan sian Pusat. Disi, dihatindanghon huria i do na sian Debata do saluhutna ro, jala sipaulahon do i tu Ibana marhite pelean. Di mulana, adong do manang piga ayat ni ende na ditontuhon tusi na boi dipillit tu sadasada tingki. Alai lam leleng gabe holan No.204:2 nama na dipangke di sandok huria manang sadihari pe.

I. Panutup

16. Tangiang-Pasupasu

Di bagian on, sai adong do na manambahon unsur ajakan na mandok: “Tapaujung ma nuaeng parmingguonta, martangiang ma hita.” Ndang adong tarsurat na songon i di agenda i, ala ni i ndang pola sidohonon i.

a) Tangiang/syafaat

Tangiang pangondianon na marhahonaan tu angka pesta na tarsurat di Agenda i denggan ma i dijaha di tingkina be, ai syafaat na khusus do i. (Ida hatorangan 13.c)

b) Tangiang Ale Amanami

Di Agenda 1904, rap mandok do na sahuria i di tangiang Ale Amanami i sian bonana sahat tu ujungna. Ndang binoto be boha jala sadihari partubuna gabe holan paragenda manjahahon i.

c) Pujian/Doxologi

Di hurianta, diendehon do bagian doxologi ni tangiang Ale Amanami i. Di Agenda 1904 ndang songon i. Ndang binoto manang boha jala sadihari gabe diendehon huria i non i. Ala doxologi do i, hatop do pangendehonna, unang diendatendat.

d) Pasupasu

Dison pe, adong do na manambahon formula pengutusan na mandok: “Mulak ma hamu di bagasan dame, jalo hamu ma pasupasu ni Debata Amanta i!” Na diompaphon do i ala adong pandohan na songon i di terjemahan Indonesia, na so hea dope dihatai jala ditotophon.

Taringot tu hata ni pasupasu, di mulana bebas do pandita mamangke pasupasu ni si Aron na tarsurat di 4 Mus.6:24-26 manang formula ni si Paulus di 2 Kor.13:13. Nuaeng, ingkon pasupasu ni si Aron i nama. Manghatahon i, sahat tu dekade 60-an, molo pandita dipangke hata ‘hamu’, na so pandita, ‘hita’. Alai marhite rapot pandita dipatontu ma asa dihatahon i songon na tarsurat di Agenda i, molo pandita ‘ho’, na so pandita, ‘hita’. Dung sidung dihatahon pasupasu i, ndang pola dohonon ni paragenda i be ‘Amen’, langsung nama huria i mangalusi marhite na mangendehon ‘Amen, Amen, Amen.’

e) Amen-Amen-Amen

Na mangendehon Amen pe, ndang binoto be boha jala sadihari partubuna. Di Agenda 1904, ndang adong i. Amen, mandok tutu, sintong. Marhite na mangendohon i ditohoi huria i do angka na jinalo dohot na binegena di kebaktian i, jala sitorushononna ma i di hangoluanna ariari.
jkt.05.09.2009/mvs ( Guritaon ni uhal sian .batumamak.nisurathonni amanta Pdt MV Simanjuntak)