Friday, 8 November 2013

MAKNA PESTA GOTILON


Gotilon

Oleh : Pdt Henri Butarbutar

SILUA

"Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi"
(Mazmur  50:14)
Apa sih Pesta Gotilon? Pertanyaan yang sederhana namun cukup sulit untuk memahaminya. Menurut Kamus Batak Toba Indonesia, gotilon berarti musim menuai atau masa panen. Gotilon diadopsi dari tradisi Jahudi akan Pesta Hari Raya Pondok Daun atau Pesta hari pengumpulan hasil panen (bnd. Keluaran 23 : 16 – 17; Imamat 23 : 33 – 36; Ulangan 16 : 13 - 15 ). Pesta ini dimaknai sebagai ungkapan syukur atas berkat dan kasih karunia Tuhan yang senantiasa memelihara kehidupan umat-Nya. Pada acara ini salah satu unsur yang penting untuk dilaksanakan adalah dengan membawa Persembahan (Silua) berupa hasil panen pertama (buah sulung) dari hasil pekerjaan yang dilakukan. Persembahan itu dibawa ke dalam pelataran Bait Allah sebagai pertanda kehadiran Allah di dunia. Persembahan yang dikumpulkan akan dipergunakan bagi suku Lewi sebagai suku yang dikhususkan untuk melayani Tuhan, dan juga dipergunakan untuk pelayanan kepada orang-orang marjinal (miskin) seperti : budak, para janda/duda serta yatim piatu.
Dasar teologis membawa persembahan (silua) kehadapan Allah adalah mengingat Umat Israel yang berada di situasi yang penuh penderitaan dan kelaparan karena diperbudak di Mesir. Akhirnya Allah bertindak untuk menyelamatkan mereka dan membawa ke tanah perjanjian yang penuh dengan susu, madu, tanah yang subur. “Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana. Maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh Tuhan Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih Tuhan Allahmu untuk membuat namaNya diam di sana”. (Ulangan 26 : 1 – 2).
Tradisi pesta Gotilon Huria yang dilaksanakan oleh Gereja HKBP adalah kesadaran akan berbagai pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna semata-mata bersumber dari Tuhan. Tuhan  memberkati manusia senantiasa walaupun pemberontakkan terus ada di dalam hidup kita. Tuhan tidak pernah menghambati akan berkat yang dicurahkan bagi manusia, cahaya sinar pagi di ufuk timur, hujan dan panas yang silih berganti dan banyak lagi. Dengan dasar itulah kita disadarkan untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Di dalam iman Kristen, persembahan tidak harus dimaknai sebuah kewajiban, sebab berkonotasi tuntutan legal. Artinya bila dilakukan atau tidak dilakukan akan berdampak yang baik dan yang tidak baik. Justru Sebaliknya, persembahan lebih merupakan wujud/ekspresi dari hati yang bersyukur atas kasih Allah yang melimpah. Dengan kata lain, kita memberi karena Allah sudah terlebih dahulu memberi kepada kita. Segala yang kita miliki menjadi cerminan untuk memberi ; baik nafas hidup, kesehatan dan rejeki.
Adapun yang kita bawa kepada Tuhan sebagai persembahan (Silua) tidak lagi melulu hasil panen dari tanah  sebagai mana persembahan jaman dahulu yang hidup sebagai masyarakat agraris (pertanian). Di masa kini telah terjadi pergeseran demografi (tempat) dan wilayah pekerjaan, dari desa menjadi semi kota dan dari semi kota menjadi kota besar (modern). Mereka tidak lagi bersandar pada pertanian atau perkebunan melainkan bergeser pada dunia jasa dan industri. Itu sebabnya persembahan (Silua) tidak lagi berfokuskan hasil pertanian dan perkebunan tapi telah berubah dengan mempersembahkan benda/barang (parsel) atau uang. Umumnya masyarakat di perkotaan mempersembahkan uang sebagai Silua Pada puncak acara gotilon uang itu dibawa di atas piring atau dilekatkan di bambu- bambu layaknya seperti pohon yang berdaun uang.  
            Pesta Gotilon merupakan kesempatan yang baik bagi setiap warga jemaat untuk menyatakan rasa syukur atas berkat yang diterima dari Tuhan.  Dalam tradisi Batak, Silua atau persembahan dilakukan dengan menganut falsafah hidup “Lebih baik memberi daripada menerima”. Itu sebabnya di orang Batak dulu sangat terpelihara budaya “Marsiadap ari” saling membantu tanpa harus menerima imbalan atau upah. Tuhan telah memberikan hari (waktu), matahari, hujan dan segalanya untuk menjadikan segala sesuatu sesuai dengan kehendakNya. Tuhan juga memberikan kemampuan/talenta bagi manusia untuk memenuhi segala kehidupannya walaupun pada akhirnya Tuhan-lah yang menjadikanNya sesuai dengan Nyanyian BE.No.373 : 1 “Mangula hita jolma”
Mangula hita jolma, manabur boni i, alai anggo jadina di Debata do i
Dilehon las ni ari, nang nambur udan pe, tongtong di panumpakna marguru sasude
Nasa uli basa ro sian Debata, ipe Ibana puji ma, huhut haposi da.
            Marilah kita berlomba-lomba untuk melakukan yang baik dengan memberikan Silua/persembahan tanpa dengan sungut-sungut namun dengan penuh sukacita sebagai tanda syukur kita kepada Tuhan. Dan berikanlah yang terbaik serta yang paling berharga kepada Tuhan seperti nyanyian terakhir ibadah minggu : Tuhan karuniaMu, Roh dan Jiwaku semua; Nyawa juga hidupku, harta milikku semua; kuserahkan padaMu, untuk selama-lamanya. Amen                                                                                                   
           

Thursday, 7 November 2013

Makna Perayaan Natal dalam Liturgi Gereja



Pengantar
Natal pada dasarnya adalah satu perayaan dengan objek peringatan yang sama yakni: Misteri Inkarnasi Sang Sabda. Akan tetapi aksen perayaannya berbeda antara Gereja Barat dan Gereja Timur. Perbedaan ini menjadi tegas sejak akhir abad keempat di mana Natal bagi Gereja Barat adalah 25 Desember dan bagi Gereja Timur 6 Januari.

1.  Awal Mula Perayaan Natal
Sejarah mencatat bahwa pada tahun 336 perayaan Natal diadakan di Roma pada tanggal 25 Desember. Santo Agustinus pun mencatat tanggal yang sama dirayakan di Afrika Utara.  Di dalam perkembangan selanjutnya melewati Italia Utara dan Spanyol dan menjadi suatu perayaan besar di dalam Tahun Liturgi Gereja. Santo Yohanes Krisostomus di dalam khotbahnya menandaskan bahwa perayaan Natal pada 25 Desember itu berbeda aspeknya dari Perayaan Epifania pada 6 Januari, menurut pemahaman Gereja Barat. Mengapa justeru memilih tanggal 25 Desember?
Terus terang apakah benar Yesus dilahirkan pada tanggal tersebut. Yang jelas ialah Gereja mengambil alih tanggal tersebut dari pesta kafir bangsa Romawi yang terkenal dengan ungkapan, “Dies Natalis (Solis) invicti”: Hari Raya Kelahiran Dewa Matahari yang Tak Terkalahkan. Pemujaan terhadap dewa Matahari amat kuat di masa itu dan dirayakan secara khusus pada saat-saat titik balik peredaran matahari.
Untuk menjauhkan umat beriman dari gagasan yang kafir itu, Gereja menggantinya dengan misteri kelahiran Kristus Yesus sebagai Sang Matahari Sejati yang menerangi setiap insan. Selain dari itu ketetapan tanggal perayaan Natal tersebut dipertegas sebagai tantangan balasan terhadap bidaah-bidaah kristologis lewat konsili di Nisea dan Efesus, Kalsedon dan Konstantinopel dalam abad keempat dan kelima. Santo Leo Agung meresmikan perayaan Natal sebagai kesempatan emas untuk memperteguh iman akan misteri Allah yang menjelma menjadi manusia.

 2.  Struktur Liturgi Masa Natal
Masa Natal dihitung mulai Ibadat Sore I Hari Raya Natal sampai hari Minggu sesudah perayaan Epifania yang biasanya merupakan Pesta Pembaptisan Tuhan, tetapi sekaligus juga sebagai Hari Minggu Biasa I. Sesuai dengan tradisi Romawi sejak abad VI Natal dirayakan dengan tiga Perayaan Ekaristi. Misale baru tahun 1970 tetap mempertahankan kebiasaan ini dengan pengaturan sebagai berikut:
  • Ekaristi Malam, terutama diwarnai oleh perikop evangelis tentang kelahiran Yesus Kristus di Betlehem (Luk 2: 1-14).
  • Ekaristi Fajar, atau Misa para gembala, diambil dari bacaan InjilNya di mana perjumpaan yang sangat sederhana tetapi mengesankan antara para gembala dengan kanak-kanak Yesus di palungan (Luk 2: 15-20).
  • Ekaristi Siang, dengan bacaan yang diambil dari prolog Injil Yohanes: misteri Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita (Yoh 1: 1-18).
Natal sungguh dilihat sebagai suatu perayaan Penebusan kita, walaupun tidak secara langsung menampilkan Misteri Wafat dan Kebangkitan tetapi berkaitan dan sungguh bercorak Paskah.

Beberapa Perayaan Selama Masa Natal
Suatu hal yang perlu kita pahami mengenai beberapa pesta sesudah 25 Desember. Berdasarkan penanggalan yang tertua beberapa pesta orang kudus dirayakan segera sesudah Natal, yakni Santo Stefanus Martir, Santo Yohanes Rasul dan Pengarang Injil, Kanak-kanak Suci Martir, tiga pesta dalam Oktaf Natal ini disebut “Comites Christi” yakni para pengiring Kristus.
Hari Minggu di dalam Oktaf Natal dirayakan Pesta Keluarga Kudus, boleh dikatakan tergolong pesta devosional, yang muncul dari Kanada, abad XIX. Keluarga suci di Nasaret sangat disadari sebagai pelindung semua keluarga kristiani dari berbagai ancaman dunia.

Kisah Perayaan pada 1 Januari
Kaisar Yulius Caesar pada tahun 46 sebelum Kristus memindahkan hari awal Tahun Baru dari 1 Maret ke 1 Januari. Bangsa kafir Romawi merayakan pesta Tahun Baru pada 1 Januari ini sambil menghormati dewa Yanus Bifronte dengan sukaria yang tak terkendali, bercampur tahyul dan kemesuman.
Gereja segera mengambil kebijaksanaan khusus untuk melindungi umat beriman dari keterlibatan yang kafir itu, dengan mengadakan puasa. Ada Ekaristi khusus dengan judul “Ad prohibendum ab Idolis” supaya terhindar dari dewa-dewa kafir. Di dalam khotbahnya Santo Agustinus berkata:

Orang-orang itu suka saling memberi hadiah pada hari tahun baru, tetapi kamu harus memberi sedekah, mereka suka menyanyikan lagu-lagu kotor sambil berteriak-teriak, tetapi kamu harus mengarahkan perhatianmu pada kata-kata Kitab Suci, mereka suka bergegas ke teater, tetapi kamu hendaknya ke dalam Gereja, mereka suka mabuk-mabukkan dan pesta pora, tetapi kamu harus berpuasa (Sermo 198).

Gereja sengaja mengisi tanggal 1 Januari dengan pesta Maria yakni: peringatan kelahiran Bunda Allah. Sejak abad VI dirayakan pula dengan pesta Tuhan Yesus disunat. (Setelah delapan hari menurut adat Yahudi, Luk 2: 21). Pembaruan penanggalan tahun 1969 memuat ketetapan sebagai berikut:

Pada tanggal 1 Januari, dalam oktaf Natal, dirayakan Solemnitas Maria Bunda Allah di mana dikenang pula pemberian Nama tersuci Yesus (PTLPL 35f)

3.  Teologi Perayaan Natal
Secara singkat dapat dikatakan bahwa Perayaan Natal mau menggarisbawahi Misteri Kedatangan Tuhan Yesus, Putra Allah dalam rupa daging manusia yang secara konkret dilahirkan oleh Santa Perawan Maria di Betlehem. Sungguh mau ditekankan di sini data historis misteri inkarnasi, sehingga peristiwa-peristiwa historis yang mengelilingi kelahiran Sang Penebus pun berperanan penting.
Gereja mengajak kita sekalian untuk memandang misteri penyelamatan kita tidak melulu dalam awan interpretasi yang surgawi, justru karena kehadiran Yesus secara manusiawi. Memang objek perayaan tidak terbatas pada nilai historisnya saja sebab di dalamnya penting pula kita melihat keseluruhan gagasan yang mengitari peristiwa itu. Tetapi tetap tak dapat disangkal kenyataan bahwa data historis itu adalah bukti dasar yang sungguh nyata yang mau diwartakan oleh Gereja.

a.  Natal sebagai Misteri Keselamatan
Paus Leo Agung menyadari bahwa misteri Natal mempunyai dasar teologis yang sungguh mendalam sehingga menggolongkannya ke dalam tingkat “solemnitas”. Ia selalu berbicara tentang misteri kelahiran Yesus (“Sacramentum nativitatis Christi”) untuk menunjukkan nilai yang menyelamatkan dari peristiwa kelahiran itu, dan sekaligus menghayatinya tidak sekedar sebagai fakta masa lampau tetapi yang terus menerus menjadi baru bagi yang hidup sekarang ini. “Sang Sabda telah menjadi daging…” (Yoh 1:14).
Kalau Natal adalah Misteri (Sakramen) Keselamatan maka harus dilihat pula sebagai titik awal Misteri Paskah di mana “daging” yang hadir di tengah kita akan menjadi kurban sembelihan bagi Allah untuk menghapus dosa dunia.
Santo Leo Agung sebagai Paus di masa konsili di Kalsedon berjasa besar bagi pendasaran teologis misteri Inkarnasi yang diungkapkannya sebagai “pernyataan diri Tuhan dalam rupa daging” dan hal ini menjadi argumen dasar melawan penafsiran-penafsiran keliru berbagai aliran: gnostisisme, arianisme, docetisme, manikeisme, dan monofisitisme.

b. Natal sebagai Persilangan yang Menakjubkan Antara Kodrat Ilahi
     dan Kodrat Manusiawi
Singkatnya dapat dikatakan: Allah menjadi manusia supaya manusia menjadi Allah. Inisiatif pertama datang dari Allah lewat misteri Inkarnasi Kristus: Sang Sabda telah mengambil apa yang menjadi milik kita supaya memberikan kepada kita apa yang menjadi milik-Nya.
Tindakan berikutnya merupakan ungkapan partisipasi kita selama hidup ini pada kodrat ilahi Sang Sabda: Penyelamat dunia yang baru ini lahir telah memberikan kita warisan sebagai anak-anak Allah (bdk. rumusan doa Ekaristi hari Natal).

c. Natal Berkaitan dengan Misteri Paskah
“Putra Allah telah memilih bagi diri-Nya tubuh manusiawi supaya mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban yang sungguh-sungguh dan bersifat pribadi kepada Allah Bapa” (Ibr 10: 5-10).
Baik di dalam misteri Natal maupun misteri Paskah kita melihat bahwa dasarnya satu dan sama, yakni perayaan penebus kita. Tetapi Natal lebih sebagai perayaan kelahiran karya penebusan, dan Paskah merupakan perayaan kekuatan penebusan.
Liturgi Natal mengungkapkan secara jelas ikatan misteri Paskah di dalam:
Bacaan kedua Ekaristi Malam, Tit 2: 14
Bacaan kedua Ekaristi Siang, Ibr 1: 1-6
Prefasi Natal

Dalam keseluruhan pandangan teologis perayaan Natal kita melihat bahwa Natal sekaligus merupakan awal mula kehidupan Gereja. “Kelahiran Kristus adalah pokok pangkal kelahiran baru segenap umat Kristiani: kelahiran Kepala, adalah awal kelahiran semua anggota Tubuh Mistik”, demikian ungkapan Santo Leo Agung.

4. Spiritualitas Perayaan Natal
Yang dilihat pada misteri Natal janganlah sekedar aspek kemiskinan dan kerendahan penampilan Tuhan. Semuanya ini memang patut dicontoh, tetapi di atas semuanya itu perlu disadari bahwa misteri Natal memberi kepada kita anugerah untuk menjadi serupa dengan Allah. Kehadiran Tuhan mengarahkan kita untuk terlibat dan berperan serta di dalam hidup ilahi. Spiritualitas Natal adalah Spiritualitas pengangkatan nilai kemanusiaan kita menjadi anak-anak Allah.
Di dalam penghayatan iman tidaklah tepat memandang Allah sebagai “di luar diri kita”, sebab justeru berkat misteri Natal mau dihidupkan kembali Kristus yang selalu berada di dalam diri kita dengan sikap-sikap-Nya yang penuh cinta, setia, sederhana, taat, rendah hati, suci, dan lain sebagainya, yang sekaligus menjadi teladan kita. Santo Leo Agung mengajak umat pada perayaan Natal untuk menyadari diri lagi akan keluhuran kodrat kita sebab dengan turut serta ke dalam kodrat ilahi, kita hendaknya semakin menolak cara dan semangat hidup manusia lama.
Di samping itu aspek eklesial yang perlu mendapatkan perhatian dalah cinta persaudaraan sebab kita semua merupakan satu Tubuh dengan banyak anggota di mana Kristuslah Pemimpinnya. Kegiatan Pastoral selama masa Natal seharusnya dengan tujuan membentuk sikap yang otentik dalam Kristus sebab “hanya dalam misteri Sabda menjadi daging, hidup manusia menemukan cahaya yang benar dan sejati” (GS 22). Dewasa ini pun perayaan Natal hendaknya dilaksanakan secara meriah sebagai perayaan “pengangkatan harga kemanusiaan kita”. “Sesungguhnya Kristus yang adalah Adam Baru mewahyukan misteri cinta Bapa dalam cara manusia sehingga semua orang mengenal Panggilan-Nya yang sangat luhur itu” (GS 22).

Penutup
Berdasarkan uraian dan penjelasan Rm. Bosco da Cunha dalam artikel ini, semakin jelaslah pemahaman kita tentang makna Natal dalam Liturgi Gereja. Yang jelas kita tidak hanya sekedar merayakan, mengalami sukacita, berpakaian serba baru dan nyanyian natal yang indah. Namun, perayaan Natal lahir dalam kesatuan dengan Perayaan Paskah di mana Allah yang menjadi manusia dalam Pribadi Kristus menyelamatkan manusia dalam sengsara dan kebangkitan-Nya. Semoga dengan pemahaman yang benar, kita dituntun juga untuk menghayati secara benar pula.

Sumber: Bosco da Cunha, Merayakan Karya Keselamatan dalam Kerangka Tahun Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1992, hlm. 58-64.

liturgi untuk Natal


Menjelang Perayaan Natal di tahun ini, kita disibukkan dengan berbagai persiapan untuk memeriahkan perayaan tersebut. Salah satunya tentu mengumpulkan bahan-bahan liturgi. Mulai dari bahan liturgi untuk Sekolah Minggu sampai bahan liturgi untuk umum. Pada postingan ini, saya memuat contoh bahan liturgi untuk Natal Umum, yang setidaknya dapat membantu banyak pihak untuk menjadikannya sebagai bahan acuan. Silahkan meng-copy-paste-nya, dan selamat mempersiapkan Perayaan Natal… Tuhan Yesus memberkati!

LITURGI  I  (Penciptaan)
Tuhan Allah adalah Raja Yang Maha Kuasa, ia menciptakan langit, bumi serta seluruh alam semesta. Cakrawala yang luas dan elok, gunung-gunung yang menjulang tinggi, burung-burung yang berkicau dengan merdu, semuanya menunjukkan keindahan hasil karya tangan Tuhan Allah. Bagaimanakah semua ini bisa terjadi?…… Mari kita dengarkan LITURGI  I.

1.      Kejadian 2 : 4 – 5
2.      kejadian 2 : 6 – 7  
3.      Mazmur 19 : 2 – 4
4.      Mazmur 19 : 5 – 7
5.      Mazmur 89 : 12 – 13
6.      Mazmur 147 : 8 – 9
7.      Mazmur 92 : 5 – 6            
8.      Mazmur 95 : 4 – 7
9.      Roma 11 : 33 – 34
10.  Roma 11 : 35 – 36
                                   
LITURGI  II  (Kejatuhan Manusia Ke Dalam Dosa)
Tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia sirna seketika, sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalan dosa. Pembunuhan, perampokan, kebejatan, hawa nafsu, itulah yang kini menguasai hidup manusia. Kedegilan, ketidakadilan, pelanggaran hak azasi manusia, dan perbuatan-perbuatan daging lainnya telah merusak akhlak manusia. Bahkan persekutuan dengan alam ciptaan telah pudar, hanya oleh karena ulah manusia. Bagaimanakah dosa menggerogoti hidup manusia?……. Mari kita dengarkan LITURGI  II.

1.      Kejadian 6 : 5 – 7
2.      Roma 1 : 18 – 19
3.      Roma 1 : 20 – 21
4.      Roma 1 : 22 – 24  
5.      Roma 1 : 29 – 30
6.      Roma 1 : 31 – 32  
7.      Roma 3 : 10 – 13  
8.      Roma 3 : 14 – 18
9.      Mazmur 94 : 3 – 4
10.  Mazmur 94 : 5 – 6

LITURGI  III  (Panggilan Untuk Bertobat)
Doa dan tangisan manusia telah sampai kepada Tuhan Allah. Pengharapan manusia akan dikabulkan oleh Tuhan Allah jika saja manusia yang berdosa itu mau mengakui dosa dan kesalahannya lalu melakukan pertobatan dan hidup baru. Maka tiada lagi perhambaan dan perbudakan, dosa-dosa manusia akan diampuni oleh Tuhan Allah, keadilan dan damai sejahterah akan diberikan……… Mari kita dengarkan LITURGI  III.

1.      Yesaya 40 : 3 – 5
2.      Yesaya 43 : 18 – 19
3.      Yehezkiel 18 : 21 – 23
4.      Yesaya 1 : 27 – 28
5.      Yeremia 31 : 31 – 32        
6.      Yeremia 31 : 33 – 34
7.      Yesaya 46 : 12 – 13
8.      Yesaya  1 :  16 – 17
9.      Yesaya 1 : 18 – 20           

LITURGI  IV  (Janji Tentang Kedatangan Juruselamat)
Sesungguhnya segala penderitaan dan kesengsaraan akan berlalu, jika Tuhan Allah senantiasa bersama kita. Namun melalui inisiatif Tuhan Allah sendiri,  janji keselamatan diberitakan; Tuhan Allah, Bapa di sorga akan menyerahkan Anak-Nya yang tunggal sebagai tumbal dari dosa-dosa manusia.  Ia membrikan pengharapan kepada dunia dan kepada siapa saja yang percaya kepada-Nya…… Marilah kita dengarkan LITURGI  IV.

1.      Yohanes 3 : 16 – 17
2.      Yesaya 9 : 1 + 5
3.      Yesaya 60 : 1 – 3
4.      Yesaya 61 : 1 – 2 
5.      Yesaya 61 : 3 – 4 
6.      Mika 5 : 1 – 3
7.      Yesaya 7 : 14                   

LITURGI  V  (Kelahiran Juruselamat)
Kini Juruselamat itu telah lahir ke dunia, dalam kepapahan Ia terlahir di tempat yang teramat hina… Kandang domba, itulah tanda kesederhaan Allah. Namun lihatlah! Para ahli perbintangan, orang-orang terpelajar dan terpandang dari Timur Jauh, datang untuk menyembah Sang Raja. Harta berharga mereka bawa sebagai tanda penghormatan bagi Juruselamat dunia.……… Marilah kita dengarkan LITURGI  V.

1.      Lukas 2 : 1 – 5
2.      Lukas 2 : 6 – 9
3.      Lukas 2 : 10 – 12
4.      Lukas 2:  13 – 15
5.      Lukas 2 : 16 – 18             
6.      Lukas 2 : 19 – 20
7.      Matius 2 : 1 – 2
8.      Matius 2 : 3 – 5
9.      Matius 2 : 6 – 8
10.  Matius 2 : 9 – 11                                      

Oleh ;Pdt. Anthony L Tobing

LITURGI RAGAM LAKON/PROFESI

Acara Natal Lakon Sifat Manusia

Acara Liturgi Lakon Natal
Lakon Sifat-sifat Manusia.
(diperankan dengan gaya sifat-sifat itu).
1).Benci : Benci, benci… aku benci sekali sekarang ini. Aku benci melihat dia, aku benci melihat mereka dan aku benci melihat kamu, huuh… Begitulah sifat manusia yang sering muncul. Sedikit sedikit benci, melihat temannya cantik menjadi banci, melihat temannya pintar, menjadi banci bahkan melihat temannya yang disukai orang lain, dirinya semakin banci. Tetapi aku senang , ini membuktikan bahwa aku adalah sifat yang paling banyak dimiliki oleh manusia, hahahaha.
2). Marah : Hei benci, diam kamu. Bukan kamu yang paling banyak diminati manusia. Kamu salah, enak aja kamu bilang dirimu paling hebat. Akulah sifat yang paling banyak diminati oleh manusia. Kau hanya dimiliki oleh orang orang dewasa saja. Tetapi kalau sifat pemarah seperti aku ini, mulai dari anak kecilpun sudah ada. Kalau seseorang anak kemauannya tidak dituruti oleh orang tuanya maka dia akan marah, apalagi orang dewasa, hmmm maunya marah ter. Lihat saja sudah ada orang tua yang tega menganiaya anak-anaknya kalau dia marah, benar kan??! Itu artinya akulah yang dapat mamatahkan hubungan orang lain yang paling banyak di hati manusia, huh… dasar.
3). Sukacita : Lalalala… (bernyanyi atau bersenandung kecil) Hah?? Indah sekali dunia ini. Lihatlah pohon natal ini begitu indah, lampunya kerlap kelip, hiasannya yang cantik dan bunga-bunga yang berkembang. Aku juga menghirup udara sebebas-bebasnya, tanpa bayar alias gratis, hmhm (sambil menghirup udara). Aku adalah si sukacita. Dunia akan terasa selalu indah andai setiap orang mampu selalu bersukacita. Tetapi sayangnya orang banyak lupa untuk bersukacita karena keadaan. Ada yang bilang ‘terlalu sibuk’, ‘sembako mahallah’ sehingga orang malas bersukacita. Jangankan bersukacita, tersenyum saja malas, cemberut saja. Kalau saja setiap orang bersyukur untuk berkat Tuhan, pasti setiap orang akan lebih mudah untuk tersenyum.
4). Rendah hati : Kau benar sukacita. Kalau saja setiap orang bersyukur untuk setiap berkat yang diterimanya, maka setiap orang itu akan merasakan betapa Tuhan memberkati hidupnya dan memberikan ia rezeki. Memang setiap orang berbeda-beda rezekinya, tetapi bagi Tuhan setiap orang adalah sama. Di mata Tuhan tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah rezekinya dan bagi Tuhan tidak ada yang lebih terhormat atau yang hina, semuanya sama. Kalau setiap orang menyadari hal itu, maka mereka akan selalu bersukacita dan rendah hati?
5). Munafik : Alahhk tak usah muluk-muluk lah, karena di dunia ini sudah jarang sepeti itu. Kalau pun ada, itu tidak seberapa dan mungkin hanya pura-pura seperti aku. Aku kan bisa dipajangkan, munafik = muka nabi fikiran lain lain. Rugilah kalau punya muka cantik, mempunyai duit yang banyak, pekerjaan bagus, dan mempunyai baju cantik yang pantas dipamerkan seperti aku ini tetapi hatiku siapa yang tahu???? Jadi yang ada di dunia itu malah sering pura-pura baik alias purba, biar dia dapat dipuji, disanjung, jadi aku si munafik yang banyak diminati.
6). Pembohong : Ya, ya, ya kau benar munafik, manusia sekarang banyak yang munafik apalagi untuk membela dirinya. Tetapi kau harus sadar juga kawan bahwa awal dari pura-pura dan kemunafikan itu kan berasal dari aku si pembohong. Orang tua saja mau berbohong, apalagi anak-anak supaya mereka tidak dimarahi oleh orang tuanya. Pokoknya bohong lebih banyak disukai. Malahan lagu Sekolah Minggukan ada yang berbunyi  begini: ‘bohong, bohong, itu dosa’. Tetapi kenyataannya tetap saja mereka bohong. Hm… jadi akulah yang banyak diminati orang, hehehe…
7). Sabar : Akh, tidak juga koq. Lihatlah masih banyak orang yang memiliki sifat sabar seperti aku, misalnya orangtua. Mereka selalu sabar mendidik dan merawat anak-anaknya apalagi sejak kecil supaya tidak berlaku seperti kalian itu berbohong, pemarah, munafik. Malah orangtua banyak yang tidak tidur hanya karena menjaga dan memikirkan anak-anak mereka. Lihat juga para guru di sekolah dan di sekolah Minggu, mereka tetap sabar biarpun anak didiknya nakal. Jadi jangan bohong kau pembohong, masih ada koq yang sabar.
8). Pemaki : Apa kubilang… dasar kau sabar. Berapa banyak orangkah yang sabar sekarang ini, bisa dihitung dengan jari tangan. Sesabar-sabarnya mereka pasti akan memaki juga dalam hatinya. Apa benar masih ada orangtua dan guru-guru yang tidak mau memaki lagi? Jangan takabur kau, anak kecil sekarang saja buktinya gampang sekali diajari memaki, jadi akulah seharusnya dimahkotai, wehhhh.
9). Iri hati : What’s? Mahkota..? Apa tidak salah itu? Kau harus lihat dulu lebih jelas. Aku adalah iri hati. Kalian tahu bahwa saat ini sedang galak-galaknya manusia tidak senang melihat orang lain yang bahagia malahan senang melihat temannya sudah. Itu karena iri hati, tahu? Padahal dia tidak dirugikan kalau temannya senang, tetapi begitulah… namanya juga iri hati, hmmm.
10). Dendam : Stop, stop kalian tidak tahu malu, semua merasa paling hebat. Kalian harus akui diriku si pendendam. Lihat saja mereka yang sudah saling bermaafan tetapi kalau dendam tetap saja ada. Malahan ada kalimat seperti ini : ‘yah, memang kami sudah saling bermaafan, tetapi bagaimana ya aku belum sepenuhnya berbicara dengan dia’. Nah, itu kan sama saja dengan dendam. Jadi sifat seperti aku juga banyak di dunia.
11). Putus asa : Aduh, aduh, kalian itu banyak cerita saja. Lihat dulu siapa aku, si putus asa. Aku bisa membuat manusia hancur bahkan hancur lebur hingga bunuh diri. Tahu sendiri kan kalau manusia itu tidak siap untuk gagal, padahal terkadang kegagalankan adalah bagian dari hidup manusia dan manusia itu tahu, Cuma karena manusia tidak terima kegagalan. Kalau ada pergumulan langsung saja putus asa, ada gagal cari kerja, gagal bercinta eh… malah bunuh diri, pokoknya selalu putus asa. Jadi tidak apa-apa juga kalau aku bukan terbanyak . Tetapi akulah yang paling hebat, karena pemuka agama kurang perhatian kepada iman manusia, maka jadilah putus asa.
12). Kasih : (datang dengan diam dan tenang saja, sampai-sampai yang lainpun bertanya kenapa diam saja).
13). Banci : woi… diam aja, kamu sakit gigi ya? Apa yang bisa kau pamerkan?
Kasih: tidak ada yang perlu aku pamerkan kawan. Aku justru merasa gagal untuk memperjuangkan dan memperbanyak sifat kasih. Lihat saja sudah banyak orang Kristen yang malu berbuat kasih. Padahal ajaran utamanya adalah kasih. Tapi lihatlah…. Mereka malu bertindak kasih, takut diejek orang, pokoknya gimanalah biar dia dibilang alim dan biar dijauhi orang lain. Lihatlah dunia ini, seandainya kasih lebih banyak, maka tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi permusuhan, penganiayaan dan tidak ada lagi kekerasan. Padahal Yesus datang ke dunia ini hanya karena kasihnya kepada manusia, tetapi mengapa hai manusia semuanya menjadi kacau…… hah (sedih).
14). Penghibur : hai sobatku, kau tidak gagal… kau berhasil. Kalaupun sekarang ini sifat-sifat mereka yang menonjol (menunjuk kearah sifat benci, dendam dll. Tapi percayalah sudah banyak manusia kini sudah banyak mulai mengasihi. Lihat saja gereja-gereja semakin berkembang, para penatua semakin banyak, acara ibadah sudah semakin banyak, kunjungan-kunjungan social juga sudah semakin digalakkan. Manusia sudah mulai mencoba untuk saling mengerti dan saling menerima, dan memang benar seperti yang dikatakan Yesus bahwa banyak yang terpanggil tetapi sedikit yang terpilih.
15). Rendah hati : Aku setuju. Bukankah setiap orang akan menuai apa yang ditanamnya?
16). Sabar : Betul, dan setiap orang harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya. Masa penghakiman akan datang dan Tuhan akan memberi mahkota bagi setiap orang yang pantas menerimanya. Kalian semua  (menunjuk kearah sifat-sifat jelek) apakah kalian senang kalau dunia ini kacau balau? Ketahuilah kelak kalian juga akan menerima upahnya. Kalian akan dihukum Tuhan dan akan dicampakkan ke dalam api neraka. Apakah itu yang kalian mau?
17). Semua sifat-sifat jelek  sambil tertunduk : Ampun… tidak… jangan… kami tidak mau dipanggang dalam api neraka. Katakanlah apa yang harus kami perbuat  agar selamat.
18). Kasih : Benarkah kalian mau? Aku sangat senang mendengarnya. Bertobatlah, kembali kepada Tuhan. Percayalah bahwa ampunan Tuhan pasti selalu ada.
Berserahlah kepadaNya, karena Dia yang telah lahir dikandang domba, disalibkan dan mati, yang telah bangkit dan naik ke sorga selalu menantikan anak-anakNya kembali. Tanggalkanlah sifat burukmu dan mulailah hidup baru. (Sifat-sifat jelekpun menggoyangkan selempang sifat yang ada pada mereka).
19). Sukacita : Hore… dunia akan tetap indah, senyum akan terasa kembali karena kedamaian diam di antara kita, maka aku mau hidup seribu tahun lagi. Terima kasih Tuhan Yesus.
Sambil bergandengan tangan menyanyikan lagu: Kasih itu lemah lembut, kasih itu memaafkan, kasih itu murah hati, kasihMu sungguh tiada taranya. Ajarilah kami ini saling mengasihi, ajarilah kami ini saling mengampuni, ajarilah kami ini kasihMu ya Tuhan, kasihMu sungguh tiada taranya.

IV. Liturgi Ragam Profesi                                                        
(dengan pakaian dan gaya profesi)
Prolog: Karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa, maka hatinya selalu dikuasai oleh iblis sehingga manusia itu hanya mau memikirkan dirinya sendiri dan menganggap hanya dirinya yang baik di antara sesamanya, terlebih lagi karena dia mempunyai pekerjaan yang dapat memberikan keuntungan kepada orang lain. Manusia itu menjadi egois dan tinggi hati. Inilah liturgi beragam profesi.
1). Petani: Aku seorang petani yang pada mulanya dikatakan Tuhan dalam kitab Kejadian 3:17d “Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu” maka aku mengerjakan tanah ini agar dari tanah yang kutanami padi dan tumbuh-tumbuhan lainnya dapat menghasilkan. Aku bekerja mulai dari pagi hingga sore dan tidak mengenal lelah. Aku mencangkul dan mengolah tanah supaya ada bahan makanan. Itu berarti pekerjaanku tepat sekali, dan kalau aku tidak ada, pastilah kalian tidak bisa makan.
2). Artis: (sambil menyanyikan satu kata lagu). Aduh teman-teman semua, nih penampilanku, akulah yang paling benar. Pekerjaanku menghibur orang dan aku selalu terhibur. Aku selalu diperlihatkan oleh khalayak ramai dan aku selalu membuat orang tertawa. Akulah public figure yang selalu bersih dan cantik sehingga membuat orang banyak simpatik.
3). Tukang Ojek: Memang, supir itu penting… namun apakah supir dapat mengantar kamu sampai ke pelosok –pelosok kampong? Hanya ojek yang bisa melalui jalan sempit maupun jalan setapak, apalagi kalau pulang orang rantau mau antar ke kampong yang tidak bisa dilalui mobil, biar juga mereka punya uang untuk bayar taksi tapi akulah yang antar mereka sampai ke tempat.
4). Pendeta: Saudara-saudari yang kekasih dalam Yesus Kristus, marilah kita sejenak merenungkan arti pekerjaan kita masing-masing . Perlu juga merenung mengapa kita ada di dunia ini, dan untuk apa kita tercipta di dunia ini yaitu supaya kita saling menolong dan melengkapi. Kalaupun kita memiliki profesi yang berbeda, itu semua adalah berkat Tuhan. Ingatlah saudara-saudara bahwa kita adalah ciptaan Tuhan. Dialah yang memberikan jabatan dan profesi dalam pekerjaan kita agar kita mengabdi kepadaNya melalui pekerjaan kita masing-masing. Kalaupun kita harus bekerja, syukurilah karena itu kita lakukan untuk kemuliaanNya saja agar apa yang kita kerjakan itu dapat menghasilkan sukacita bagi kita dan orang lain juga. Karena itu, janganlah kita menjadi sombong dan membanggakan diri, tetapi marilah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan supaya kita ditinggikan karena ada tertulis dalam Yakobus 4:10 “Rendahkanlah dirimu dihadapanNya maka ia akan meninggikan kamu”. Marilah kita kerjakan dengan baik profesi kita tersebut karena Bapa di sorgapun masih bekerja seperti yang dikatakan Yesus dalam Johannes 5:17b; ”BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga”. Amin.

Liturgi Dialog.
(Oleh Tiarma Siahaan & Marino Sihombing)
Prolog: Natal memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang, tergantung pada pengalaman mereka di saat-saat natal, ada yang berpikir natal itu menyenangkan, namun ada juga yang menyatakan bahwa natal itu bagitu menyedihkan.

1). Anak Sekolah Minggu: Natal… itu menyenangkan banget…!!!
                                               Dibeli baju baru, sepatu baru, banyak hadiah pokoknya seru deh..
2). Anak jalanan                : Kalian sih enak, bagaimana dengan kami. Natal itu begitu suram,   
                                                             Jangankan baju baru makanpun tidak, kami hanya bisa menangis   melihat kemewahan di sekitar kami. Kami semakin terlupakan. Tuhan tolonglah kami…!

3). Anak Remaja          : Wah itu sih gak zamannya lagi dek!! Dikalangan kami Natal sih begitu luar biasa apalagi disaat-saat latihan natal, kesempatan dong ketemu cewek-cewek cantik, cowok-cowok ganteng, dengan alasan sama orangtua latiha Natal. Martina gitu lho…!!!!!!!!!
4). Naposo Bulung          : Ok banget tuh..! itu memang benar, selain martina kita mau tunjukkan bahwa kita mampu membuat Natal yang sangat hebat dan meriah sehingga dapat sumbangan dana dari donator-donatur yang terkenal. So pasti banyak untungnya kan. Jadi Natal itu adalah ajang bersenang-senang dan mencari untung.
5). Orangtua                       : Dasar anak muda!. Kalian tidak pernah memikirkan orangtua kalian..’
                                                   Pusing.. pusing… sekali!!!!!! Kalau sudah natal kepalaku pusing  sekali, sikit-sikit uang ,…. sikit-sikit uang,….beli bajulah, beli sepatulah, hadiahlah.
                                                    Semua serba uang, bisa-bisa akupun dijual demi uang.. bagaimana tidak anak saya ada Sembilan semua minta beli baju baru…. Wah uang-uang pusing….!
6). Pedagang                       : Wah kan bagus itu buat kami.
                                                    Natal..natal wah sangat menyenangkan barang-barang habis semua, harganyapun sangat tinggi sehingga aku banyak untung…
                                                    kalau saja natal sebulan sekali pastilah aku kaya raya.. terima kasih  natal, kau telah buat aku banyak uang walaupun aku harus capek. Tapi aku dapat banyak untung….!
7). Karyawan perusahaan: Saya juga senang sekali dengan adanya natal saya bisa liburan, kan capek kalau kerja terus…. Dengan natal saya bisa bersenang-senang, jalan-jalan, belanja-belanja, semuanya deh..
8). Polisi                               : Natal… ah repot deh!
                                                Lalu lintas padat, macet,,,, macet,,,, macet banget!!
                                                   Kecelakaan banyak semuanya pada liburan. Aku sungguh lelah..       walaupun semuanya orang liburan saya harus tetap kerja bukan  hanya menjaga jalan, gereja juga harus dikawal soalnya banyak kerusuhan yang terjadi, ia tidak…
9). Biblevrouw                    : Syalom saudara-saudariku bertobatlah sebab natal adalah sukacita,
                                                sebab natal adalah sukacita sebab Yesus telah lahir, mati, bangkit
                                                dan naik ke sorga hanya karena dosa-dosa kita. Hari ini marilah kita
                                                mengundang Yesus lahir kembali di dalam hati kita seperti Firman
                                                Tuhan berkata dalam (Mazmur 126:3)
                                                “Tuhan telah melakukan per-ra besar kepada kita, maka kita bersukacita”.                                               

Liturgi IV Situasional (Refleksi dari Amos 5:12-17).

1). Pelayan Gereja:
      Apakah yang seharusnya dilakukan Gereja dalam pelayanannya kepada dunia yang penuh  dengan ke- jahatan dan ketidakadilan? Disana sini terlihat penindasan, kekerasan kepada pekerja dan buruh, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan kepada anak. Ada lagi penganiayaan Gereja dimana umatMu tidak diperbolehkan membangun Bait SuciMu.
2). Muda/mudi Gereja:
     Apakah yang harus kita lakukan sebagai orang muda di Gereja ketika kita melihat betapa  banyaknya Pengangguran, betapa banyaknya orang-orang muda jatuh ke dalam pencobaan, betapa banyaknya orang-orang muda hidup dalam pergaulan bebas, betapa banyaknya orang-orang muda hidup dalam dunia NARKOBA, betapa banyaknya orang muda hidup dalam keputusasaan. Marilah kita bangkit berdiri karena Kristus menguatkan kita dengan Roh KudusNya.

3). Kaum Ibu:
      Tuhan, di dalam kekerasan hati dan kedegilan kami dalam mendidik anak-anak kami, kami   menjadi gagal tetapi Engkau tidak mencampakkan kami sebab kami berharga di hadapanMu. Banyak kaum perempuan di negeri kami yang tega membuang anaknya, ada yang tega menganiaya dan mendidik dengan penuh kekerasan.
     Banyak pula perempuan yang bekerja  keras untuk menghidupi keluarganya sementara suami-suami mereka tidak memikirkan kesehatan dan kesejahteraan para istri mereka dan anak-anak mereka, apakah yang akan kami lakukan dengan situasi demikian?
4). Kaum Bapak:
      Tuhan, Engkau adalah tanduk keselamatan bagi setiap orang yang hina dan teraniaya;  kiranya Engkau menuntun para pemimpin gereja untuk mengingatkan kami kaum bapak  agar ikut serta membangun kerohanian jemaatMu terutama di tempat kami tinggal masihbanyak kaum bapak yang malas ke Gereja, tetapi malah rajin ke kedai tuak dan warung kopi. Tuntun juga dengan tangan kananMu para pemimpin bangsa agar dapat memikirkan hal-hal yang baik bagi kami. Apakah yang harus kami lakukan dalam keadaan seperti ini?
5). Pemerhati Lingkungan:
        Tuhan Maha pencipta alam semesta, apakah yang harus kami perbuat lagi   atasciptaanMuyang telah dirusak oleh sebagian orang untuk mengeyangkan perutnya sehingga merusak diri kami sendiri bahkan mengambil nyawa saudar-saudara kami karena korban banjir, longsor dan polusi udara?
    Kami tidak mampu menatap alam yang indah lagi karena ulah manusia yang merusak alam    kami, menebang pohon, menimbun sampah di selokan dan membuat pabrik raksasa tanpa memperhitungkan kesegaran udara di sekitar kami.
  
6). Pendidik:
      Perhatikanlah ya Tuhan seruan umatMu, betapa kami sangat susah mendidik anak-anak  kami karena Perkembangan zaman komputerisasi. Anak-anak kami lebih suka mencari pengetahuan  yang tidak layak karena hanya memuaskan nafsu mereka saja yang semua itu sangat mudah diperolehnya dari internet di dalam computer dan hanphone.
     Bagaimanakah kami melakukan HukumMu untuk mendidik dan mengajar anak-anak kami tersebut? FirmanMu berkata dalam Amsal 22:15 “Kebodohan melekat pada orangmuda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya”.
     Mampukanlah kami melakukan tongkat didikan yang dari padaMu saja.

7). Pemerhati Sosial:
      Kacau balau. Kerusuhan dan anarki serta terorisme menimpa negeri kami ya Tuhan sehingga  kami merasa hidup kami terancam. Apakah yang harus kami lakukan untuk keadaan yang kacau balau ini?
     Engkau berkata supaya kami jangan takut karena Engkau menyertai kami sampai kesudahan  zaman. tetapi kami sering tidak melihat pertolonganMu karena ketakutan kami lebih besar dari pada kekuatanMu. Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.
      Merenung…. Sejenak diiringi music (selama 1 menit).