Tuesday, 28 January 2014

Makna Simbol Simbol dan Warna dalam Gereja


A. PAKAIAN JABATAN

Toga, Bef, Clergical Collar & Stolla
Kebanyakan gereja-gereja Kristen di Indonesia mengenal semacam Pakaian Jabatan, yang mereka ambil-alih dari Gereja-gereja partner mereka di Barat. Bentuknya hampir sama semacam toga (= gaun) hitam, yang dipakai dengan “bef” (dasi putih) dan dengan atau tanpa stolla (= kain atau pita lebar dan panjang). Fungsinya tidak begitu jelas. Tetapi dalam praktik Gereja-gereja ini, secara sadar atau tidak sadar menganggapnya sebagai Pakaian Jabatan atau Pakaian Liturgis resmi. Oleh karenanya, setiap orang yang memangku jabatan gerejawi harus memakai pakaian jabatannya pada saat ia melayani dalam pelayanan-pelayanan resmi. Hal ini hanya berlaku bagi Pendeta. Bagi Penatua dan Diaken yang umumnya dianggap “kurang setara” dengan Pendeta dibebaskan dari kewajiban di atas.
Pakaian Jabatan ini telah lazim dalam Gereja-gereja Kristen Katolik dan Kristen Protestan Reformasi, sehingga tidak dirasakan lagi sebagai barang/tradisi asing diimpor dari Barat. Namun demikian, pada beberapa dasawarsa terakhir ini ada gereja, antara lain GPIB, yang tidak puas lagi dengan bentuk pakaian jabatan ini dan hendak menggantikannya dengan bentuk lain. Sayangnya, ketidakpuasan para pemimpin gerejawi di GPIB ini lebih banyak disebabkan alasan-alasan kultural dan bukan alasan teologis.
Bentuknya berbeda-beda, yang satu lebih indah dan lebih mewah daripada yang lain. Juga jumlahnya tidak sama. Untuk perayaan Ekaristi umpamanya, Imam Gereja Ortodoks Yunani lebih banyak memakai “pakaian liturgis” daripada Imam Gereja Katolik. Sebagai contoh, Pakaian Jabatan dalam Gereja Katolik terdiri dari “amictus” (= kain bahu dari lenan, dihiasi dengan salib yang disulam dan diikatkan pada dada, di atas gaun-missa yang sebenarnya), “alba” (= kemeja dari lenan, panjangnya sampai di kaki), “stola” (= pita lebar yang dipakai di atas alba, panjangnya sampai ke lutut), “manipulus” (= pita sutera, tidak begitu lebar, digantungkan pada tangan kiri), “pluviale” (= gaun prosesi gerejawi, dahulu hanya dipakai oleh para Klerus rendah, kemudian juga oleh Klerus tinggi) dan “vesti sacerdotalis” (= gaun missa yang sebenarnya)/toga.




B. WARNA KAIN-KAIN LITURGIS
Warna-warna gerejawi telah lama digunakan dalam ruang ibadah kita, terutama untuk taplak meja, kain di mimbr (antependium), kain panjang di kayu salib (stolla besar) dan stolla yang dikenakan Pelayanan Gerejawi. Gereja memakai kain dalam warna-warna yang bergantian sesuai kalender gerejawi.
1. Putih
Adalah lambang dari warna terang, cahaya lilin, warna bagi peran malaikat Allah, para kudus dan warna bagi Kristus yang dimuliakan. Warna yang melambangkan kekudusan dan kebersihan. Oleh sebab itu warna ini digunakan dalam masa raya yang berkenaan dengan Kristus, misalnya Natal, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus, dan masa raya kesukaan misalnya dalam pelayanan Baptisan dan Perjamuan Kudus. Digunakan juga dari masa Natal sampai Minggu sebelum Epifania/Perjamuan Malam/Perjamuan Tuhan (6 Januari) dan hari raya Paskah hingga sebelum minggu Pentakosta.
2. Ungu (lebih tepatnya violet)
Adalah warna tergelap dalam warna gerejawi yang menunjukan penyesalan dan pertobatan yang sungguh-sungguh. Digunakan pada masa 40 hari sebelum Paskah (Minggu sengsara) dan masa-masa menjelang Natal (Minggu Adventus).
3. Merah
Adalah warna api. Lambang Roh Kudus yang penuh kekuatan. Maka digunakan pada Perayaan Pentakosta. Warna merah juga melambangkan warna darah, kesetiaan sampai mati, iman yang berapi-api sehingga digunakan dalam peringatan Reformasi, penahbisan rumah ibadah, sidhi, peneguhan Pendeta, Diaken dan Penatua. Juga pada peringatan hari Pekabaran Injil, pengutusan pengijil dan hari-hari raya ekumenis.
4. Hijau
Adalah warna komplemen dari merah. Melambangkan penyembuhan, ketenangan dan pertumbuhan iman. Merupakan warna pengharapan. Hijau memberitakan kemurahan hati, keselamatan dari Allah yang menyembuhkan dan memperbaharui. Digunakan pada hari Minggu Trinitas (Minggu pertama sesudah Pentakosta, kecuali masa sengsara, adventus, dan hari raya Kristen lainnya). Merupakan juga makna dari pertumbuhan iman jemaat baru.
5. Merah Muda
Rose, adalah perlemahan dari violet (ungu tua), lambang penyesalan dan pertobatan yang tertahan. Maksudnya, sengsara boleh sementara waktu digantikan dengan senyuman dalam menyongsong Natal dan Paskah. Digunakan pada Minggu adventus ke-3 dan Minggu sengsara ke-5.
6. Hitam
Adalah warna liturgis yang paling kuno. Lambang keputusasaan. Warna ini sudah tidak dipakai lagi. Perlu juga dipertanyakan tentang warna liturgis yang dikenakan Pendeta yaitu Toga hitam. Pemberitaan firman adalah pemberitaan Kristus yang telah menang, sudah selayaknya mereka dibebaskan dari warna kedukaan. Bahkan dalam pelayanan duka (misalnya pelayanan pemakaman jenazah) sekalipun, sebenarnya warna violet(Ungu) lebih baik daripada hitam, karena kita sudah diperbolehkan hidup dalam kemenangan Kristus.

C. BERBAGAI SIMBOL LAIN

a. Alfa dan Omega,
Adalah huruf pertama dan huruf terakhir alphabet Yunani dan biasanya digunakan sebagai simbol kekekalan Allah dan kuasa Kristus dari penciptaan sampai pada akhirat (Why 22:13 Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir”). kedua huruf ini sering digabung dengan simbol-simbol lain, misalnya salib (kekekalan karya keselamatan dalam Yesus Kristus) atau Alkitab (kekekalan Firman Allah).


b. Air
Air adalah sumber kehidupan, tetapi sekaligus dapat mengancam kehidupan (banjir, badai di laut...). Air juga berfungsi untuk mencuci atau membersihkan. Dalam Alkitab, simbol ini sering dihubungkan dengan berkata bahwa Allah sebagai sumber mata air, kesegaran atau sumber kehidupan dan keadilan,dan bahwa Yesus memberi air yang hidup (Yoh 4:14). Yesus juga membasuh kaki murid-muridNya dengan air sebagai tanda pelayanan dan pembersihan dari dosa. Murid-muridNya dipanggil untuk berbuat hal yang sama (Yoh 13:15). Namun ritus pembasuhan kaki masih jarang dipraktekkan dalam ibadah protestan. Air menjadi simbol inti sakramen baptisan sebagai tanda penbersihan (dari dosa, dari kuasa maut); “adam lama” ditenggelamkan dalam air baptisan, dan “adam baru” dilahirkan. Air ini juga menjadi tanda penerimaan Roh Kudus yang menyatukan kita dalam tubuh Kristus, dan tanda anugerah Allah yang dikaruniakan kepada kita tanpa prasyarat. Air disini adalah simbol yang membuat kita merasakan apa yang dilakukan oleh Allah sendiri, dan tidak dipahami secara “magis”, sehingga tidak tergantung pada cara atau kuantitas air (hanya tiga tetes “dalam nama Bapa, anak dan Roh Kudus”, atau dengan menenggelamkan seluruh tubuh seperti dipraktekkan dalam gereja mula-mula dan oleh beberapa denominasi sampai sekarang). Baptisan juga tidak berfokus pada formalitas (“masuk Kristen”) atau pertobatan manusia (seperti ditekankan dalam baptisan dewasa), tetapi pada karya keselamatan Allah sendiri (yang tentu saja tidak terbatas kepada mereka yang telah menerima ritual gereja tersebut).

c. Altar
Altar gereja mengingatkan baik pada tempat persembahan korban dalam Perjanjian Lama maupun pada meja perjamuan Paskah Yesus dengan muridmuridnya pada malam sebelum ia disalibkan. penggunaan altar baik sebagai meja perjamuan kudus maupun sebagai tempat persembahan (kolekte) masih mencerminkan makna ganda tersebut. Selain itu, altar biasanya dihias dengan simbol-simbol lain seperti salib, alkitab, lilin, bunga dsb.; Dalam arsitektur gereja, altar sering ditempatkan langsung di depan atau di bawah mimbar untuk menekankan kesatuan antara sakramen (perjamuan kudus/altar) dan firman (khotbah/mimbar).

d. Bendera
Tidak ada bendera khusus yang digunakan sebagai symbol agama kristen, namun banyak negara dan institusi-institusi lain terutama menggunakan symbol salib dalam bendara atau lambang mereka untuk mensimbolkan nilai-nilai Kristiani sebagai dasar identitas negara atau kelompok, meskipun hal ini juga dapat dinilai sebagai penyalahgunaan symbol agama yang “mengatasnamakan Tuhan” demi kepentingan tertentu. Dalam kebanyakan gereja dan negara, pemasangan simbol-simbol negara seperti bendera nasional dalam ruang ibadah atau pada gedung gereja tidak lazim atau bahkan ditolak sama sekali, untuk menekankan pemisahan antara kepentingankepentingan politik dan misi universal gereja.

e. Lilin
Lilin biasanya dinyalakan dalam setiap ibadah, paling tidak pada ibadah-ibadah natal dan ibadah-ibadah paskah (lilin paskah) sebagai simbol Kristus yang hidup dan menjadi “terang dunia” (Yoh 8:12, bdk Yoh 1 dll.). Lilin juga mengingatkan kita pada panggilan untuk menjadi “garam dan terang dunia” (Mat 5:13-16); lilin secara umum bisa menjadi simbol kehidupan manusia yang mengorbankan diri demi panggilannya untuk menerangi kegelapan. Dalam ibadah dukacita lilin juga mewakili kehidupan kekal, bahwa orang yang telah meninggal sekarang adalah di tangan Tuhan. Keempat lilin dalam “krans adven” adalah simbol pengharapan yang menantikan kelahiran terang dunia (dalam minggu pertama adven, satu lilin dinyalakan, dalam minggu kedua dua dst.). Sementara ketujuh lilin dalam “Menorah” (yang juga menjadi symbol agama Yahudi) sering diidentifikasi dengan “ketujuh anugerah Roh” (Yes 11:2; bdk Paulus)

f. Lonceng
Bunyi lonceng adalah simbol perhatian dan panggilan beribadah dan juga mengingatkan akan pengadilan Allah. Lonceng digunakan baik dalam sukacita (paskah, memuji tuhan dalam ibadah...) maupun dukacita (orang meninggal, bencana...). Secara kontekstual, lonceng juga bisa diganti oleh alat musik yang lain, misalnya alat music tiup atau gendang

g. Merpati
Burung merpati dalam tradisi Kristen terutama dipahami sebagai symbol kehadiran Roh Kudus yang mengingatkan kita pada peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (Mat 3:16 bdk Mrk, Luk dan Yoh). Seekor burung merpati dengan sebuah ranting zaitun telah menjadi simbol universal untuk perdamaian dan mengingatkan pada kisah Nuh (Kej 8:11), di mana sehelai daun zaitun menjadi tanda bahwa air bah telah surut dan simbol untuk perjanjian Allah dengan umat manusia dan segala ciptaan-Nya. Kadang-kadang, dua ekor burung merpati juga digunakan sebagai simbol cinta kasih

h. Minyak
Minyak (minyak zaitun, minyak wangi atau minyak berharga lain) dalam alkitab adalah symbol berkat dan pemberian otoritas oleh Allah misalnya dalam ritus pentahbisan raja Israel. Minyak juga digunakan untuk meminyaki orang mati. Kedua arti ini merupakan latar belakang simbolis waktu Yesus diurapi oleh seorang perempuan (Mat 26:7) dan para perempuan ingin meminyaki jenazah Yesus. Minyak juga mingingatkan kita pada perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Mat 25; minyak untuk pelita sebagai simbol kesiapan untuk kedatangan Yesus). Dalam ibadah (atau pelayanan kepada orang sakit), minyak sebagai simbol berkat kebanyakan digunakan dalam tradisi katolik, tetapi kadangkadang juga dalam ibadah protestan atau ekumenis.

i. Pohon dan Tumbuhan
Pohon secara umum adalah symbol kehidupan dan dalam Alkitab (bersama dengan tumbuhan-tumbuhan lain) sering dihubungkan dengan kehidupan seseorang yang diberkati, sesuai dengan kehendak Allah dan memberi buah. Mendekorasi gereja dengan tumbuhan-tumbuhan hijau maupun bungabunga sebagai tanda kehidupan dan pujian atas keindahan ciptaan Allah adalah suatu hal yang sangat wajar. Daun palem misalnya sebagai symbol penyembahan, syukur dan penghormatan kepada Tuhan mengingatkan kita pada Yesus yang dieluelukan di Yerusalem dengan “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel” (Yoh 12:13). Secara khusus, pada hari natal, gerejagereja maupun rumah-rumah dan tempat umum lainnya dihias dengan pohon-pohon pinus dan rantingranting hijau lainnya, yang dihias dengan lilin, bintang-bintang, buah, kapas sebagai salju dll (“pohon natal”, “pohon terang”...). Pohon pinus adalah simbol lama dalam budaya Eropa untuk kehidupan bahkan di tengah-tengah kondisi yang sulit, karena inilah satusatunya pohon yang daunnya tidak gugur tetapi ia tetap hijau selama musim dingin (musim salju). Simbol non-Kristen ini diangkat oleh tradisi Kristen dan dihubungkan dengan simbol-simbol lain (terang, bintang...) sebagai simbol pengharapan dan kehidupan melalui Yesus Kristus yang lahir di tengahtengah dunia yang gelap dan tidak ramah. Pohon natal bukan semestinya sebuah pohon pinus, tetapi bisa juga pohon lain yang mewakili arti simbolis di atas. Hanya sedikit kontradiktif dengan “simbol kehidupan” jika dipakai pohon yang sudah tidak ada daunnya atau pohon dari plastik.

j. Salib
Salib adalah simbol yang paling terkenal sebagai simbol Kristiani yang menunjuk kepada kematian Yesus Kristus di kayu salib di Golgata. Bentuk historis alat eksekusi tersebut dengan kemungkinan besar adalah bentuk “T” (salib “Tau”), dan kemudian menjadi salib yang kita kenal (biasanya disebut “salib Latin”). Tanda salib atau silang telah dikenal dalam banyak budaya dan agama pra-Kristen dengan berbagai makna, a.l. kekekalan, kesempurnaan atau hubungan kosmis antara dunia dan yang transenden, tetapi juga sebagai tanda perpisahan dll.; Salib dalam tradisi Kristen menjadi simbol kematian dan kehidupan. Salib mencerminkan solidaritas Allah dengan manusia dalam penderitaan dan merupakan puncak.

k. XP
Simbol ini adalah simbol lama untuk Kristus (dan juga untuk orang Kristen) yang dibentuk dari dua huruf pertama nama “Kristus” dalam bahasa Yunani. Simbol ini dalam beberapa variasi kemudian sering disebut “salib/silang Kristus” (“cross of Christ”).





l. Simbol-simbol Adat
Budaya-budaya Indonesia sangat kaya dengan simbol-simbol yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan keterikatan dengan yang Ilahi. Praktek Gereja yang kontekstual akan mencoba untuk memahami simbol-simbol tersebut secara mendalam dan melihat maknanya dalam terang Injil. Dengan demikian, kehidupan spiritual akan sangat diperkaya. Hal ini akan melanjutkan tradisi Kristen untuk mengangkat memaknai simbol-simbol non-Kristen guna menemukan ekspresi iman yang otentik dan relevan. Contohnya adalah rumah-rumah adat (mis. Tongkonan dalam budaya Toraja, Baruga dalam beberapa budaya Sulsel, rumah batak, rumah gadang , jambur  dsb.) sebagai simbol kerukunan, atau simbol yang digunakan dalam ritus-ritus paguyuban dan rekonsiliasi (mis. lingkaran rotan “Kalosara” dalam adat Tolaki-Mekongga, Tumpengan dalam adat Jawa, binatang �� kurban dalam beberapa tradisi dsb.). Tantangan adalah mentransformasi simbol-simbol tersebut dengan pemahaman yang menerobos eksklusivisme suku, pemahaman magis, dan merespon pada karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus.

D. INTERAKSI
Semoga dengan kita mengetahui berbagai symbol dan makna benda-benda yang ada atau sering digunakan dalam liturgy gereja kita menjadi paham dan mengerti arti dan keguanaan symbol-symbol tersebut. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.
( Dikutip dari berbagai Sumber)

Friday, 24 January 2014

Umpasa Batak


Umpasa dohot umpama somal do tabege manang tahatahon di angka ulaon adat, di ulaon las ni roha manang di ulaon arsak ni roha. Somalna, tarida ma i di tingki na marhata si gabe-gabe dohot mangampu. Na naeng dohonon di son, asa tangkas nian taboto jala taantusi aha do tujuan dohot makna ni hata umpasa i, songon i nang hata umpama. Alana, sasintongna, asing do lapatan manang pangantusion ni hata umpasa dohot umpama.

Andorang so sahat hita tu si, adong do niida sian angka dongan na mansai malo manghatahon angka hata umpasa dohot umpama –i ma songon bunga-hunga dohot sira ni angka panghataion di ulaon i. Tabo tutu begeon jala mangolu nihilala panghataion i, lumobi molo tarida hata pandohan na masialus-alusan. Alai, adong do muse niida angka donganta naeng pasahathon hata umpasa, hape nanidokna i sian hata umpama. Songon i sebalikna, naeng mandok hata umpama do nian ibana, hape dihatahon sian hata umpasa. Sada kenyataan do i di tonga-tonga ni halak Batak, alana sipata disadari manang ndang, jot-jot do disarupahon pangantusion ni hata i.

Mardomu tu si, asa tahatahon ma nian hata umpasa dohot umpama i hombar tu rumang dohot ruhut ni angka ulaon, songon i di situasi manang hadirion ni keluarga na naeng manjalo hata i. Misalna, adong pamoruonta naung matua, nunga marpahompu nasida sian anak dohot sian boru. Naeng pasahathon hata si gabe-gebe, hata pasu-pasu ma hita tu nasida di ulaon si las ni roha, ala dipatupa nasida partangiangang (pengucap-an syukur) jala nunga tamat anak siampudanna sian singkola kedokteran. Pasahaton ma tu nasida hata umpasa na hombar tu ulaon i dohot tu hadirion nasida. Unang ma tadok tu nasida: “songan hata ni umpasa ma dohononhu amang boru: Bintang na rumiris tu ombun nasumorop, anak pe antong riris, boru pe antong torop.” Hata umpasa si songon i denggan ma antong tu angka keluarga naumposo. Alai, molo tu keluarga naung antar matua, songon pamuronta nangkin, dohononta ma: Andor halumpang ma togu-togu ni lombu, andor hatiti togu-togu ni horbo. Sahat ma hamu saur matua pairing-iring pahompu sahat tu na marnini marnono.

Laos songon i muse unang ma nian tabahen-bahen (dikarang-karang) sandiri hata umpasa manang umpama i, molo so taantusi lapatan dohot makna ni na tahatahon i. Tumagon ma tadok hata angka nauli nadenggan tu angka tuturta marhite hata na sian Tuhanta, molo so taboto dope angka sidohononta marhite-hite hata umpasa manang umpama.

Sada nari naporlu muse sidohonon, molo angka hata umpasa dohot umpama, somalna sian angka horong ni hula-hula dohot angka tulang do pasahathon i tu pamoruonna, manang sian angka natua-tua tu ianakhonna. Sipata, nian, godang do taida di tingki on adong sian horong ni pamoruon na pasahathon hata umpasa dohot hata umpama tu hula-hula manang tulangna, tarlumobi di tingki mangampu hata. Nadenggan ma i tutu. Alai, adong muse do mandok hata sian boru ala rap uduran ni hula-hula nasida mandok hata i.

Na naeng dohonon di son: molo sian posisi ni boru do hita pasahat-hon hata umpasa manang umpama, asa dumenggan, tama hita nian jolo mangido marsantabi baru pe asa tahatahon si dohononta. Alana, songon naung tangkas taboto, molo hata umpasa i, i ma hata pasu-pasu jala mangalean angka hata pasu-pasu somalna ingkon sian angka horong ni hula-hula dohot tulang. Adong hata ni Tuhanta na mandok: Jadi sandok ndang targagaon, nasumangap i do mamasu-masu na ummetmet. (Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati yang lebih tinggi -Ibrani 7: 7). Jala dumenggan muse tahe, molo di tingki na pasahathon hata i sai dimulai dohot pandohan: “songon hata ni natua-tua ma dohononhu”, “sai asi ma roha ni Tuhanta”, dohot angka na asing.

Sian angka hatorangan nangkin boi ma dohonon di son, ia hata umpasa i ma angka hata pasu-pasu na mardongan harapan, pangidoan tu Tuhanta Debata asa dilehon angka nauli dohot nadenggan di ngolu ni angka tuturta. Boi do i hahipason, ganjang ni umur, hagabeon, dohot angka na asing.

Alai, molo hata umpama, angka hata tudos-tudos manang hata poda na mardongan harapan do i.

Contoh:         Molo litok aek di toruan, tingkiron ma tu julu.
Pantun do hangoluan, tois hamagoan
Marbagi di na otik, marbagi di na godang.

Namalo ma tutu ompunta na parjolo i mambahen angka rumang, ruhut ni angka ulaon dohot angka hata i, na gabe songon angka falsafah hidup, identitas, budaya di hita halak Batak na porlu lestarihononhon asa adong warishononta tu angka ianakhonta.

Sahat ma hita tu impola ni panghataion marhite hata umpasa dohot hata umpama. Alai, molo tung hinatahon pe di son asa sidok boti jala marboha bahenon ma hita di si. Pinatupa do di son hombar songon na dihatahon di angka ulaon nasomal taulahon, i ma di las ni roha manang di ulaon arsak ni roha.

 ANGKA HATA UMPASA
1. DI NA PASAHATHON ULOS TU PENGANTIN:

Di ginjang ma ia arirang di toru panggonggonan
Badanmuna ma na sora sirang, tondimuna masigomgoman.
Tubu ma si marlasuna di Dolok Purbatua
Sai ganjang ma umurmuna, sahat tu na sari matua

Bintang na rumiris, ombun na sumorop
Tubu ma anak di hamu riris, boru pe antong torop.
Tangki jala ualang, galinggang jala garege
Tubu ma di hamu anak partahi jala ulubalang
dohot boru namora jala pareme

Tubu ma tambinsu di toru ni pinasa
Tubu ma di hamu anak nabisuk dohot boru nauli basa.
Eme sitamba tua parlinggoman ni siborok,
Sai dilehon Debata ma di hamu tua, jala hot ma hamu diparorot.

2. DI NA PASAHATHON ULOS TU NATUA-TUA NI HELA (SI JALO BARA) DOHOT SI ANGKA JALO ULOS SUHI NI AMPANG NA OPAT.

Dolok ni Purbatua jonok tu si borotan
Sai sahat ma hamu saur-matua, tiur di pansamotan
Andor halumpang ma togu-togu ni lombu, andor hatiti togu-togu ni horbo
Sai ganjang ma umurmu pairing-iring pahompu sahat ma tu na marnini marnono.

Bona ni Aek Puli di Dolok Sitapongan
Sai ro ma tu hamu angka nauli, jala sai dor nang pansamotan.

Binanga ni Sihombing binokkak ni Tarabunga,
tu sanggar ma amporik tu lubang ma satua,
Sinur ma pinahanmuna, gabe na niulamu dipasu-pasu Tuhanta.

Eme sitamba tua parlinggoman ni siborok,
Amanta Debata do si lehon tua, luhut ma hamu diparorot.

Sahat solu sahat tu Tigaras,
Leleng hamu mangolu, gabe jala horas.

Marmutik ma lasiak dompak mata ni ari,
Manganju ma hamu di borungku parumaenmi, arian dohot botari.

Hariara ma bonana, hariara ma nang bulungna,
Gabe jala horas hula-hulana, songon i nang pamoruonna.

3.HATA UMPASA SIAN HULA-HULA DOHOT HORONG NI TULANG.

Hot pe jabu i sai tong do i marbulang-bulang,
Tung sian dia pe mangalap boru bere i, sai hot do i boru ni tulang.
Dangka ni bulu godang tanggo pinangait-aithon
Dilehon Debata ma di hamu tubuan anak dohot boru, 
si tongka panahit-nahiton.

Andos ras ma tu andor ris, tubu di huta Purbasinomba,
Sai horas-horas ma hamu jala torkis-torkis, ditumpak asi ni roha ni Tuhanta.

Binsar mata ni ari, poltak mata ni bulan,
Sai tubu ma di hamu boru namalo mansari
dohot anak na gabe raja panungkunan.

Giring-gring ma tu gosta-gosta,
tu boras ni singkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring pahompu,
tibu mangompa-ompa anak dohot boru.

Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu bontean,
Sahat ma hamu leleng mangolu, sahat tu parhorasan panggabean.
Eme sitamba tua parlinggoman ni siborok,
Debata do si lehon tua, horas hamu diparorot.

4.HATA UMPASA DI NA PAAMPUHON HATA DOHOT MANGAMPU HATA.

Aek marjullak-jullak, marjullak-jullak sian batu, tinahu tu batu-batu.
Angka hata nauli, hata pasu-pasu naung hupasahat hami tu hamu,
ampu hamu ma i di tonga ni jabu.

Naung sampulu pitu jumali sampulu ualu
Hata nauli, hata pasu-pasu, ampu hamu ma di tonga ni jabu.
Turtu ma inna anduhur, tio ma ninna lote,
Hata nauli, hata pasu-pasu, sai unang muba sai unang mose.
Marmutik ma inggir-inggir, bulung na i rata-rata,
Hata nauli, hata pasu-pasu naung pinasahatmuna, napasauthon ma hata ni Debata.

5.HATA UMPASA DI NA MANGINGANI MANANG MANURUK JABU.

Labu pe labu i, ndang asal suanhononhon,
Jabu pe jabu, ndang asal inganan.
Mabaor aek puli sian dolok ni Simamora,
Sai hot ma jabunta on bagas na uli, ingananmu marlas ni roha.
Tangkas do jabu suhat, laos tangkas do jabu bona,
Sai tangkas ma hamu dung maringanan di jabu on maduma,
tangkas nang mamora.
Andor ras ma tu andor ris di tombak ni Purbasinomba,
Sai horas-horas ma hamu torkis-torkis,
tumpahon ni Debata namartua.
Jongjong di Dolok Purbasinomba, manatap tu Panamparan,
Sahat ma hamu saur-matua mangingani jabu on
dihaliangi angka pomparan.
Sahat-sahat ni solu toho di rondang ni bulan,
Sahat ma hamu leleng mangolu mangingani bagas on,
sai diiring-iring Tuhan.
Sai dilehon Tuhanta ma di hamu tua, hot ma hamu di jabu on diparorot.

6.HATA UMPASA DI ULAON NA TARDIDI

Tubu ma tambinsu di dolok ni Pangaribuan,
Sai anak nabiusk ma ibana,
anak na gabe si pajoloon.
Dangka ni hariara ma ni pangait-aithon
Simbur ma ibana mangodang, sitongka panahit-nahiton.
Horbo ni Sibuluan manjampal di balian,
Sai dapot ma angka naniluluan,
sai tiur ma nang pansarian.
Habang ambaroba di atas ni Sibuntuon,
Sai burju ma ibana marroha,
gabe jolma si tiruon.
Dolok ni Hutanauli hatubuan ni si marlasuna,
Goar nauli ma goarna i, ]
donganna gabe jala mamora.
Eme sitamba tua parlinggoman ni siborok,
Sai dilehon Debata ma di ibana tua,
imbur magodang diparorot.

7.HATA UMPASA DI NA PASAHATHON ULOS MULA GABE

Sanjongkal urat ni ri,
tolu jongkal urat ni singkoru,
Ulos mula gabe naung pinasahat i,
sai saur ma i di hamu,
mangulosi anak dohot boru.
Tubu ma lata di toru ni bunga-bunga,
Tubu ma anak na marsangap di hamu dohot boru na martua.
Habang binsak-binsak laos mangihut ambaroba,
Sai tibu ma ro na tapaima,
jala dapot nahinirim ni roha.
Tangki ma jala ualang,
galinggang jala garege,
Sai tubu ma di hamu anak partahi jala ulubalang,
dohot boru namora jala pareme.
Eme si tambatua ma parasaran ni siborok,
Sai dilehon Debata ma di hamu gogo dohot tua,
hot ma hamu diparorot.
Obuk do jambulan nanidandan bahen samara,
Molo mamasu-masu hula-hula,
padao sahit dohot mara.
Hotang do binebe-bebe,
hotang nipulos-pulos,
Unang hita mandele ai adong do tudos-tudos.

Bagot na madung-dung ma tu pilo-pilo na marajar,
Sai salpu ma angka nalungun,
sai ro ma angka najagar.
Tombak ni Simalungun parsobanan ni Simamora,
Sai hatop ma salpu angka nalungun,
jala hatop ma ro si las ni roha.
Balga tiang ni ruma, umbalgaan tiang ni sopo,
Nunga ganjang umur ni naung jumolo i,
sai gumanjang ma umur ni angka naumposo.
Tuak natonggi ma tu bagot si balbalon,
Tung paet di tingki angka na salpu i,
sai ro ma angka natonggi tu joloan on.
Tinapu bulung siarum bahen uram ni pora-pora,
Nahasit i tibu ma malum,
jala tibu ma ro si las ni roha.
Eme sitambatua parlinggoman siborok,
Sai dilehon Tuhanta ma di hamu tua,
jala sude hamu sai diparorot.

8.ANGKA HATA UMPASA DI HUHUASI NI SIPANGANON

Si titi ma si hompa, golang-golang pangarahutna,
Otik so sadia pe na tupa,
sai godang ma pinasuna.
Bagot na marhalto ma tubu di robean,  
Horas ma namanganhon, horas namangalean.
Huta Tanobato parasaran ni leang-leang,
Horas ma hami namanjalo,
horas ma di hamu namangalean.

Otik si butong-butong, godang si pir ni tondi,
Otik so sadia na boi hupatupa hami,
pamurnas ma i tudaging,
saudara tu bohi,
si palomak imbulu ma i,
si paneang holi-holi.

9. ANGKA HATA UMPAMA

Aek godang tu aek laut,
angka dos ni roha do si behen na saut.
Si hikkit si nalenggam,
tapillit ma nadumenggan.
Eme na masak di gagat ursa,
I ma na masa (denggan) i ma niula.
Sinuan bulu sibahen na las,
Sinuan adat dohot uhum sibahen na horas.
Ompu raja di jolo martungkot sialagundi,
Angka adat nauli napinungka ni ompunta na parjolo,
siihuthonon ni hita na di pudi.
Baris-baris ni gaja di rura Pangaloan,
Molo marsuru raja,
dae do so oloan.
Pat ni gaja tu pat ni hora,
Angka anak ni raja jala pahompu ni namora.
Asing dolok asing duhutna,
Asing luat, asing ruhutna.
Sise do mula ni hata,
sungkun mula ni uhum,
Gokhon sipaimaon jou-jou sialusan.

Sotongka do mulak tata naung masak,
Mulak marimbulu naung tinutungan.
Unang songon tagading,
marguru tu anakna.
Piltik ni hasapi do tabo begeon ni pinggol,
Piltik ni hata sogo begeon.
Madekdek jarum tu napotpot,
Ndang diida mata,
diida roha.

Sian hatorangan dohot angka contoh ni hata umpasa dohot umpama na pinatupa di buku on, didok roha nian naeng manambai angka naung taboto. Jala tapasahat ma angka hata pandohan i marhite-hite lambas ni roha jala hombar tu rumang dohot bentuk ni ulaon i.

Di na laho pasahathon hata hita di sada-sada ulaon, taparate-atehon ma situasi dohot kondisi ni tuturna na marulaon, songon i kondisi dohot hadirionta be. Molo poso dope hita, nang pe sian horong ni hula-hula manang tulang, asa malo ma hita manempathon diri. Lapatanna, nang pe hita apala tampuk, nampunasa ugasan di ulaon i, alai porlu do pasangap-onta molo adong dope natua-tua rap dohot hita di si. Sada na porlu sibotoonta muse, molo angka hata umpasa i boi do berkembang mang-ihuthon angka hamajuon ni zaman dohot kondisi. Na porlu, asalma nanidokna i marlapatan na bagas, mura antusan. Alai, molo angka hata umpama, bentuk dohot hatana, hira bersifat statis do i. Ndang boi i dika-rang-karang. Alana, songon fasafah manang poda do i di hita.

Songon i ma jolo na boi pinatupa di tingki on. Horas ma di hita.

“RUJUTNI PARJAMBARON”

Ruhut parjambaron juhut godang do variasina taida di ulaon adat-paradaton, hombar ma i tu rumang ni ulaon, luat ni namarulaon dohot situasi, kondisi, tempat, songon i nang di panjuhutina.

Didok natua-tua, sai jolo diseat hata asa diseat raut, namar-lapatan do i asa jolo dialap hata dos ni roha ma asa dibagi parjambaran juhut. Songon i muse nang di hata ni natua-tua namandok: Asing dolok asing duhutna, asing huta (luat) asing do nang ruhutna. Sudena i manghorhon tu nauli nadenggan do molo dapot dos ni roha sian panghataion. Ai mansai arga situtu do hata, jala sasintongna ndang apala jambar juhut i na gabe motivasi ni si jalo jambar, alai hata na masipaolo-oloan jala masipasangapan.

Adong do sipata tabege di sada-sada ulaon las ni roha manang arsak ni roha, hurang denggan ulaon ala ni pambagian jambar juhut.

Molo di hita na di tano parserahan on, khususna Jakarta sekitarna, ndang apala tapersoalhon be jambar i asalma proses manang ruhut pambagianna suman tu ulaon i. Gariada tahe adong do sijalo jambar pintor dilehon jambarna tu donganna, dohot pertimbangan asa so boi be ibana mangallang jagal, manang mabiar basi manang busuk jambar i ala leleng dope ibana mulak tu jabuna, dohot angka naasing.

Adong do pandohan na jot-jot tabege taringot di ruhut pambagian jambar juhut, ima hata namandok: “Sidapot solup ma hami.” Sada pandohan na raja ma i tutu di halak Batak, asalma laos raja sian mula ni panghataion jala hombar tu parhundulna. Namarlapatan, molo sian horong ni suhut paranak do pintor mandok “si dapot solup ma hamu” tu hula-hulana, so jolo dialap hata naelek, songon nahurang hormat jala hurang raja do panghataion i. Alai, molo sian horong ni hula-hula do namandok “sidapot solup ma hami” tu pamoruonna, mansai uli jala denggan ma begeon.

Ala ni i do sipata di ulaon las ni roha manang ulaon arsak ni roha (ulaon sari-matua manang saur-matua) dipatupa ulaon martonggo raja. Alana, gabe hira adong do panghataion sahat tu panjuhuti ni ulaon dohot pambagian jambar juhut.

Molo taida di ulaon adat na masa di tano parserahan on, angka si jalo parbagian jambar juhut di ulaon adat-paradaton i ma:
·         jambar ni hasuhuton dohot namarhaha-maranggi,
·         jambar ni boru/bere,
·         jambar ni dongan sahuta,
·         jambar ni pariban,
·         jambar ni hula-hula (hula-hula ni suhut; namarhaha-anggi, anak manjae)
·         jambar ni tulang (tulang ni ama hasuhuton dohot tulang ni ina hasuhuton)
·         jambar ni bona tulang (tulang ni ompu suhut)
·         jambar ni bona ni ari (hula-hula ni ompu suhut)

Nian adong dope angka si jalo jambar i ma: tu pangula ni huria, punguan dohot angka naasing dope. Alai, nauli ma saluhutna i jala disesuaihon ma pambagian i tu bentuk ni ulaon dohot panjuhutina.
Saonari porlu ma muse botoonta angka dia ma jambar sipasahaton tu horong ni si jalo jambar i.

Hombar tu si, parjolo ma pinatorang saotik taringot tu na mang-hasuhuthon, na marhadomuan tu tahapan manang proses ni namarbagi jambar juhut.

Molo sian daerah Silindung-Humbang sekitarna do namarulaon (hasuhuton), sai jumolo do dipasahat jambar taripar tu horong ni hula-hulana dohot tulang. Jadi parpudi do jambar dibagi tu hasuhuton.

Alai, molo namarulaon (hasuhuton) sian Toba sekitarna, sai jumolo do dibagi nasida jambar tu suhut namarhaha-maranggi asa mangihut jambar taripar tu hula-hula dohot tulang. Songon i jambar osang sai tu boruna do i dipasahat. Hape molo di Silindung-Humbang, jambar osang tu hula-hula do dipasahat. Alai sudena i sai manghorhon tu nauli nadenggan do molo sian angka dos ni roha.

Pambagian jambar juhut di ulaon pamuli boru/pangolihon anak –alap jual manang taruhon jual– na masa jala somal taulahon di Jakarta sekitarna, hira songon on ma.
1.Sibagi dua do tudu-tudu ni sipanganon naung dipasahat Paranak tu Parboru. Nang pe naung dipasahat Paranak tu Parboru tudu-tudu ni sipanganon i marhite-hite hata manang pandohan na elek di na pasahathon, alai dung sidung marsipanganon disungkun suhut manang Raja Parhata ni Parboru do muse Paranak taringot tu tudu-tudu ni sipanganon i, songon naung pinatorang di panghataion di ulaon marhata sinamot. Alai, somalna, molo ihur-ihur sai jambar tu pihak parboru do i, nang pe diulaon taruhon jual, i ma ulak ni tandok ni parboru.

2.Dung dibagi dua tudu-tudu ni sipanganon i, dipasahat Parboru ma muse jambar bagian ni Paranak, hombar tu panghataion dohot dos ni roha nasida. Dung i dibagi Parboru dohot Paranak ma muse jambar i tu angka tuturna be.

Catatan:
Masa niida hira dipangido Paranak sian Parboru saotik sian jambar ihur- ihur di nasida asa adong bagionna tu tuturna (dongan tubuna).
Di ulaon pesta unjuk somalna dipatupa sampe 8 (ualu) soit, asa 4 (opat) soit di Parboru, 4 (opat) soit di Paranak, jala di deba ulaon osang pe dibagi dua do.
Masa do muse niida dipasahat Parboru jambar juhut tu haha parhundulna (tulang ni Pangoli), jala nadenggan ma tutu i.

3.Pambagian jambar sipasahataon ni Parboru dohot Paranak hira songon na adong di table berikut ma:
    Jambar juhut sipasahaton ni Paranak:
Sijalo Jambar
Silindung/Humbang
Toba
Suhut dohot Namarhaha-anggi
soit, pohu
soit, pohu
Sude horong ni hula-hula
somba-somba
somba-somba
namarngingi (hambirang)
- namarngingi (hambirang)
Boru/Bere
- osang
- Pariban,
- Pangula ni huria,
 dibuat sian soit, pohu
dibuat sian soit, pohu
- Dongan sahuta,
- Punguan

Jambar juhut sipasahaton ni Parboru:
Sijalo Jambar
Silindung/Humbang
Toba
Suhut
ihur-ihur, soit
ihur-ihur, soit
Hula-hula
Osang
namarngingi,
Tulang
namarngingi (siamun)
namarngingi,somba-somba
Boru/Bere
namarngingi (hambirang)
osang
- Hula-hula ni namarhaha-anggi,

somba-somba
- Hula2 ni anak manjae
somba-somba
- Tulang rorobot,
- Bona Tulang,
- Bona ni ari
- Pariban,

- Pangula ni huria,
soit, pohu
soit, pohu
- Dongan sahuta
- Punguan
dibuat sian jambar ni suhut
dibuat sian jambar ni suhut

1.Di ulaon tardidi, malua, manuruk jabu, molo jambar ihur-ihur hot ma i di hasuhuton. Osang, namarngingi parsiamun, dohot somba-somba tu horong ni hula-hula dohot tulang. Soit ma tu dongan sahuta dohot pariban. Namarngingi parhambirang ma dipasahat tu boru/bere.

2.Di ulaon patua hata/marhusip, pasahat ulos mula gabe, paebathon anak buha baju, ia parjambaron pada prinsipna hira-hira surung-surung ni hula-hula ma i. Alai somalna, sian hula-hula dengan do marnida situasi. Molo tung pe didok paranak (pamoruon nasida) jambar surung-surung, boi do i dialap hata muse. Molo di tingki ulaon i adong angka dongan tubu ni pamoruonna i mandongani nasida, ingkon adong ma nian tinggal sebagian jambar i sa adong lehononna tu nasida.

3.Pambagian jambar dohot panjuhuti di ulaon sari-matua dohot saur-matua saguru tu keputusan ni pangarapoton (tonggo raja) do i. Adong do namangalehon ihur-ihur tu hula-hulana, ulu ma tu tulang, jala somba-somba tu horong ni hula-hula naasing termasuk tulang dohot bona tulang.

Alai nasomal muse taulahon di Jakarta sekitarna, molo ihur-ihur hot ma i di hasuhuton dohot namarhaha-anggi, jala jambar tu horong ni sude hula-hula dohot tulang dipatupa sian somba-somba.

Asa nauli jala denggan ma i sude asalma sian panghataion tu dos ni roha, jolo diseat hata ma asa diseat raut, jala taingot ma hata namandok, “Hata do parsimboraan.” ( Niuhal sian : Puraja Laguboti )
 

Khotbah 1 Korintus 1 : 10-18 PEMBERITAAN TENTANG SALIB KEKUATAN ALLAH

PEMBERITAAN TENTANG SALIB KEKUATAN ALLAH

SATU HARMONI DALAM KRISTUS
Oleh Titus     



Pendahuluan
Saudara-saudara, saya yakin bahwa kita tahu semboyan yang satu ini: “Bhinneka Tunggal Ika.”  Tentu semua masih ingat artinya: Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.  Para bapak bangsa, ketika menelurkan semboyan ini, tentu tahu betul bahwa bangsa Indonesia memiliki keragaman suku, bahasa, budaya, agama, dll.  Meskipun demikian, ada cita-cita dalam diri mereka agar bangsa ini menjadi bangsa Indonesia yang bersatu.    
Namun kalau kita melihat keadaan saat ini, bisakah dikatakan bahwa bangsa Indonesia sudah bersatu?  Dahulu para pejuang kemerdekaan bahu-membahu mengusir penjajah, tetapi generasi sekarang ini justru sering bahu-membahu untuk menyerang kelompok lain yang tidak sepaham, meskipun sama-sama saudara sebangsa.  Jika demikian, di manakah semangat untuk bersatuSemangat untuk bersatu seolah-olah hanya menjadi kata-kata yang tercetak dalam dokumen yang telah usang dan lapuk dimakan usia; terasa kuno dan tidak relevan
Ketika saudara mendengar ini, mungkin ada yang berpikir, “Ah, itu bukan urusan saya.  Urusan saya adalah jemaat-jemaat yang saya layani.  Persatuan dan kesatuan bangsa adalah urusan pemerintah.”  Tetapi jika kita renungkan lebih dalam, sesungguhnya keadaan gereja seringkali tidak berbeda dengan keadaan bangsa ini.  Kita sering menjumpai jemaat Tuhan yang terpecah belah  akibat berbagai macam perselisihan, padahal semua orang percaya sudah dipersatukan dalam satu tubuh KristusJika demikian, di manakah kesatuan itu?  Mengapa perpecahan itu sampai terjadi
Saudara-saudara, Firman Tuhan yang kita baca mengajarkan bahwa bahwa sebagai orang percaya yang merupakan satu tubuh Kristus, hendaknya kita memelihara kesatuan tersebutFirman Tuhan mengajarkan bagaimana orang percaya dapat memelihara kesatuan tersebut.

I.       Kesatuan tubuh Kristus dapat dipelihara jika orang percaya seia sekata dan sehati sepikir (ay. 10-11)

Penjelasan
Dalam perikop sebelumnya (ay. 5-6) dikatakan bahwa jemaat Korintus adalah jemaat yang kaya dalam segala hal, baik dalam perkataan maupun pengetahuan (ay. 5).  Di ayat 7 dikatakan: “Demikianlah kamu tidak kekurangan satu karuniapun...dan Paulus sangat mengucap syukur akan semua ini (ay. 4).  Sayangnya, di dalam segala kelebihan yang dimiliki oleh jemaat Korintus, ada borok yang jika dibiarkan dapat menjadi infeksi yang menyebar dan membahayakan kesatuan tubuh Kristus, yakni perpecahan.
Saudara-saudara, di ayat 7 Paulus memberikan nasihat kepada jemaat Korintus dengan memakai bentuk paralelisme antitesis.  Paulus memakai frasa-frasaseia sekata” (a)—“jangan ada perpecahan” (b)—“erat bersatu” (b’)—“sehati sepikir” (a’).  Dengan bentuk demikian, kita tahu bahwa Paulus menghendaki supaya jemaat Korintus dapat bersatu dan tidak terpecah dengan cara seia sekata dan sehati sepikir.
Untuk memelihara kesatuan tubuh Kristus, rasul Paulus di dalam nama Yesus Kristus menasihatkan dengan tegas agar jemaat seia sekata dan sehati sepikir (Baca ayat 10).  Perhatikanlah bahwa nasihat ini disampaikan dengan sungguh-sungguh!  Paulus tidak meminta jemaat seia sekata hanya untuk menghormati dia, melainkan karena Kristus. “Seia sekata” yang dimaksudkan Paulus adalah kesatuan jemaat dalam pemberitaan dan pengajaran Injil yang murni, yaitu Injil yang tidak terkontaminasi oleh hikmat manusia (2:1-5).  Selanjutnya, Paulus menggunakan frasa “sehati sepikir”  dengan maksud agar jemaat Korintus memiliki kesatuan dalam mind-set mereka bahwa karunia-karunia berbeda yang dimiliki harus dipakai untuk saling melengkapi sebagai sesama anggota tubuh Kristus. 
Namun saudara, bukan hanya perbedaan karunia saja yang mengancam kesatuan tubuh Kristus di Korintus, tetapi juga perselisihan tajam di antara  kelompok-kelompok yang ada.  Hal ini dilaporkan oleh anggota keluarga Kloe, yang dikenal oleh jemaat Korintus.  Berdasarkan laporan tersebut, tampaknya perselisihan antar kelompok sudah tidak wajar lagi.  Pemicu utamanya adalah tidak adanya sikap yang “seia sekata” dan “sehati sepikir.”  Akibatnya terjadi perselisihan di dalam pengajaran (ps. 1-4), percabulan (ps. 5-6), masalah dalam pernikahan (ps. 7), perdebatan tentang makan persembahan berhala (ps. 8), penyimpangan dalam Perjamuan Kasih dan Perjamuan Kudus (ps. 11), kekurangan kasih (ps. 13), ketidaktertiban dalam ibadah (ps. 14), bahkan keraguan akan kebangkitan Kristus (ps. 15).  Bagian pembuka yang sederhana ini Paulus tuliskan untuk meneropong panorama kitab 1 Korintus secara utuh dan menunjukkan bahwa jemaat ini sedang dalam masa kritis dan harus segera diobati.  Karena itu, dengan yakin Paulus menasihatkan bahwa kalau saja setiap orang percaya dapat seia sekata dan sehati sepikir, maka kesatuan tubuh Kristus sudah pasti akan tetap terpelihara.

Ilustrasi
Saudara-saudara, gambaran setiap orang percaya yang seia sekata dan sehati sepikir dapat dibandingkan dengan penampilan sebuah orkestra.  Gesekan dawai biola dipadukan dengan tiupan saxophone, petikan harpa, pukulan drum, dan  ditambah dengan choir nan merdu, yang semuanya dipadukan menjadi sebuah harmoni yang begitu indah di bawah komando sang conductorHasilnya adalah alunan musik dan lirik yang sangat mengagumkan.  That’s amazing.  Inilah kesatuan itu, yaitu harmoni.  Dari perbedaan peran masing-masing pihak, tercipta sebuah harmoni yang indah.  Jika masing-masing pihak bermain semaunya sendiri, hasilnya tidak akan indah, tetapi kacauDi sinilah ada kesatuan di dalam keragaman: unity in diversity.

Aplikasi
Saudara-saudara, sebuah orkestra dapat menjadi gambaran dari tubuh Kristus.  Setiap bagiannya memiliki peran, karunia, dan keunikan masing-masing.  Allah memang menciptakan kita berbeda dan unik satu sama lain, dengan berbagai macam latar belakang budaya, karunia, talenta, karakter, kepribadian, dan minat.  Tentunya Allah tidak menghendaki perbedaan yang ada membuat kita terpecah belah, tetapi supaya kita dapat menciptakan kesatuan untuk kemuliaan-Nya.  Dapat dikatakan bahwa kita adalah bagian dari orkestra agung yang Allah ciptakan sehingga dengan perbedaan itu, kita seharusnya menciptakan sebuah harmoni yang indah di bawah arahan sang Conductor Agung kita, yaitu Yesus Kristus.

II.    Kesatuan tubuh Kristus dapat dipelihara jika orang percaya tidak terjebak dalam semangat favoritisme (ay. 12-18)

Penjelasan
Saudara-saudara, orang Korintus pada umumnya sangat bangga akan kemampuan intelektual yang mereka miliki.  Kalau kita perhatikan 1Kor. 1:18 dan seterusnya, maka kita akan melihat bahwa semakin tinggi kemampuan intelektual seseorang, dia akan semakin dihargai oleh masyarakat.  Kalau saja kejadiannya di zaman sekarang, mungkin orang akan datang berbondong-bondong untuk mendengarkan orang tersebut berbicara.  Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang mungkin rela merogoh kocek lebih dalam hanya untuk selembar tiket yang dijual para calo tiket.  Pemberitaan media pun akan menambah semarak dari penyelenggaran ceramah tersebut.  Akan ada banyak stasiun TV yang berlomba-lomba untuk mendapatkan hak tayang ceramah tersebut secara liveOrang-orang “pintar” tersebut tentu akan menjadi magnet yang memiliki daya tarik yang luar biasa bagi orang-orang Korintus pada masa itu karena memang itulah yang menjadi kesukaan dan hiburan mereka.
Dengan latar belakang budaya masyarakat yang demikian itu, hampir dapat dipastikan bahwa jemaat Korintus adalah jemaat yang memiliki kebudayaan yang tinggi dan kritis.  Dapat dipastikan juga bahwa telinga mereka tidak hanya terbiasa untuk mendengarkan khotbah-khotbah mingguan, tetapi juga ceramah-ceramah dari filsuf-filsuf tersebut.  Dan sama seperti kebanyakan orang di Korintus, para jemaat pun nge-fans berat kepada pemimpin-pemimpin gereja yang memberi kesan khusus bagi mereka.  Sikap itulah yang akhirnya menimbulkan penggolongan-penggolongan dalam jemaat Korintus, tetapi penggolongan seperti inilah yang dilihat Paulus sebagai benih perpecahan jemaat.  Mari kita lihat sejenak penggolongan itu.
Golongan pertama menyebut diri mereka Paulmania.  Mereka ini adalah supporter fanatik Paulus, yakni orang yang mendirikan jemaat Korintus dan menjadi bapa rohani mereka.  Sebagian besar member dari kelompok ini adalah orang-orang non-Yahudi yang terkesan dengan khotbah Paulus tentang kebebasan Kristiani dan berakhirnya hukum Taurat.  Kelompok ini berusaha untuk mengubah kebebasan menjadi lisensi dan menggunakan kekristenan mereka yang baru sebagai sebuah alasan untuk bertindak sesuka hati.  Mereka lupa bahwa mereka diselamatkan bukan supaya mereka merdeka untuk berbuat dosa, melainkan supaya merdeka untuk tidak berbuat dosa.  Mereka mungkin adalah kelompok yang melakukan percabulan dan memakan persembahan kepada berhala.
Golongan kedua menyebut diri mereka AU (Apolos United).  Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang memiliki intelektual yang cukup tinggi dan menyukai hal-hal yang berbau filsafat.  Mereka sangat suka kalau Injil itu dibumbui dengan pemikiran-pemikiran filsafat terkenal.  Mereka kagum akan kemampuan berkhotbah dan retorika dari seorang Apolos.  Mereka mengatakan bahwa Apolos-lah yang berperan penting dalam pertumbuhan jemaat Korintus karena dia yang mengajar dan membuat jemaat menjadi tumbuh berkembang sampai sebesar ini.  Mereka mungkin adalah kelompok yang melakukan penyimpangan terhadap perjamuan Kudus dan melanggar ketertiban dalam ibadah.
Yang ketiga adalah mereka yang tergabung dalam PC (Peter’s Community).  Anggotanya kebanyakan adalah orang-orang Yahudi.  Mereka suka dengan ajaran yang mengatakan bahwa orang percaya harus tetap patuh kepada hukum Taurat.  Mereka adalah kaum legalis yang mengagung-agungkan hukum, namun sekaligus meremehkan karunia dan yang menganggap bahwa pemberitaan tentang salib adalah sebuah kebodohan.
Dan yang terakhir adalah mereka yang menamakan diri sebagai CFC (Christ Fans Club).  Dengan nama itu saja, orang bisa langsung melihat bahwa mereka adalah kumpulan orang-orang yang sombong, menganggap diri mereka lebih benar dari kelompok lain karena memiliki hubungan khusus dengan Kristus.  Dengan berani mereka mengatakan bahwa Kristus adalah milikku dan bukan milikmu.   Mungkin kelompok inilah yang meragukan kebangkitan tubuh karena memandang Kristus dari sisi manusia saja.
Saudara-saudara, tokoh-tokoh yang disebut di atas bukan pemimpin atau pendiri dari kelompok-kelompok tersebut.  Mereka justru tidak tahu-menahu akan kelompok-kelompok tersebut.  Jemaatlah yang membentuk kelompok-kelompok itu karena kekaguman mereka kepada tokoh-tokoh tersebut.  Memang semua tokoh tersebut memiliki kualifikasi yang mumpuni, kemampuan yang hebat, dan berkharisma, tetapi justru hal tersebutlah yang membuat jemaat terjebak dalam pengultusan pribadi dan merendahkan kelompok yang lain.  Inilah yang dinamakan dengan semangat favoritisme.
Apa yang telah dilakukan oleh para tokoh tersebut sebenarnya tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan Kristus bagi jemaat.  Dalam bagian ini, Paulus mengungkapkan kewaspadaannya agar sebagai pemimpin ia tidak mencuri kemuliaan Tuhan.  Memang Paulus punya banyak fans.  Ia telah membaptis beberapa orang dan bisa saja ia menjadi pujaan di antara jemaat, namun ia mengatakan bahwa tujuannya bukan itu.  Tujuannya hanyalah untuk memberitakan Injil supaya salib Kristus tidak menjadi sia-sia.
Tentang hal ini, Paulus memberikan contoh dirinya sendiri.  Paulus sangat sadar bahwa ia hanya alat yang dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil.  Ia tidak disalibkan seperti Kristus; Apolos dan Petrus juga tidak.  Kristuslah yang telah melakukan segalanya untuk jemaat, maka sudah seharusnya jemaat hanya setia mengikut Kristus, dan bukan berpaling kepada para pemimpin rohani.  Para pemimpin itu hanya alat yang dipakai Allah untuk memberitakan salib Kristus bagi penebusan dosa.  Kalau begitu, maka jelaslah bahwa sebenarnya saat itu jemaat Korintus bukan mengutamakan berita firman Tuhan, tetapi justru mengutamakan pemberitanya.  Mereka telah berpaling dari Tuhan kepada hamba-hamba-Nya sehingga tidak heran kalau akhirnya timbul perselisihan di antara mereka.  Inilah akibat dari perangkap semangat favoritisme.

Aplikasi
Saudara-saudara, setiap orang tentu memiliki figur pemimpin yang dikagumi.   Kekaguman adalah hal yang sangat manusiawi dan wajar dimiliki.  Kita kagum pada sosok hamba Tuhan tertentu, teolog tertentu, tokoh tertentu, atau doktrin tertentu.  Semuanya masih wajar, tetapi kalau kita sampai terjebak ke dalam semangat favoritisme, itu menjadi sesuatu yang tidak wajar.  Kita membeda-bedakan orang-orang yang tidak sepaham dengan kita.  Kita mengatakan, “Aku aliran Reformed,” “Kamu aliran Karismatik, itu salah dan sesat.”  Kita saling menjelek-jelekkan kelompok-kelompok lain.  Saudara-saudara, itu berbahaya.  Itulah benih perpecahan dan dapat menjadi bom atom yang meledak sewaktu-waktu sehingga merusak kesatuan tubuh Kristus.  Karena itu, sejak sekarang, marilah kita sadar akan bahaya semangat favoritisme tersebut.  Mari kita selidiki hati kita masing-masing, apakah semangat favoritisme ini juga ada pada diri kita.  Mari sedini mungkin kita kikis semangat itu untuk dapat memelihara kesatuan tubuh Kristus.
Penutup
Saudara-saudara, entah sekarang atau kelak, mungkin kita menjadi pemimpin di gereja atau lembaga Kristen.  Mungkin akan ada jemaat atau orang Kristen yang mengagumi dan sangat terkesan dengan kita, bahkan nge-fans berat sama kita.  Mereka mungkin akan memuja-muja kita.  Kita mungkin bisa mengatakan bahwa hal itu wajar karena kitalah yang merintis atau membesarkan suatu pelayanan.  Tetapi, waspadalah!  Itu adalah godaan dari si Iblis supaya kita mencuri kemuliaan Kristus sehingga pada akhirnya dapat menimbulkan perpecahan di kalangan orang yang kita pimpinSeberapapun hebatnya kita, siapakah sesungguhnya diri kita? Ingatlah bahwa kita hanyalah alat dan posisi kita sama dengan orang Kristen lainnya, yaitu anggota tubuh Kristus.  Bukan kita kepalanya, tetapi Kristus.  Dalam Kol. 1:18, “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat.  Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.”  Kristus harus menjadi yang terutama dalam kehidupan orang yang kita layani, bukan kita.  Memandang kepada Kristus, dan bukan diri kita, adalah hal yang dapat membangun kesatuan dalam tubuh Kristus.
Inilah pesan hari ini, yaitu bahwa sebagai orang percaya kita ini satu tubuhKarena itu, kita harus saling memelihara kesatuanMari kita ciptakan satu harmoni yang indah di dalam Kristus!  Dengan demikian, semua orang dapat menjadi saksi Kristus yang hidup dan akhirnya nama Kristuslah yang dimuliakan.  Solus Christus.  Soli Deo Gloria.( Diambil dari Sumber : Renungan Kristen )

SERMON GURU SEKOLAH MINGGU HKBP WAHIDIN BARU, Kisah Rasul 9:36-43








SERMON GURU SEKOLAH MINGGU HKBP WAHIDIN BARU
Kisah Para Rasul 9 : 36-43
Fungsikan dan Lipatgandakan Talentamu
Banyak orang merasa kurang/tidak memiliki talenta yang cukup untuk dapat berbuat sesuatu/melayani Tuhan dan sesama. Sering kali mereka merasa kurang pandai untuk melayani Tuhan/sesama, lalu membandingkan diri dengan orang lain, sehingga sampai akhir hayat pun mereka tidak berbuat apa-apa untuk melayani Tuhan dan sesama.
Kisah Para Rasul 9:36-43 mengisahkan tentang bagaimana seorang murid perempuan bernama Tabita di Yope telah menggunakan talentanya yang sederhana bagi sesama sehingga berdampak luar biasa. Ia kerap menjahitkan baju bagi para janda [kaum yang terabaikan]. Dari kisah ini, ada 2 hal penting yang dapat kita cermati:
  1. Menjahit merupakan talenta yang sederhana, tetapi Tabita memanfaatkannya secara maksimal dengan kasih sehingga membawa pengaruh yang besar. Padahal jika diteliti, mesin jahit baru ditemukan pertama kali pada tahun 1755 oleh Charles Weisenthal. Jadi, Anda dapat bayangkan betapa Tabita menjahit secara manual.
  2. Tatkala Tabita meninggal, para janda menangisinya, lalu menyuruh dua orang (pria) datang kepada Petrus yang saat itu berada di Lida dan menjemputnya untuk dibawa ke Yope. Dengan kuasa Tuhan, Petrus membangkitkan Tabita dari kematian. Kuasa Kristus yang bekerja melalui Petrus tidak berkaitan dengan kebaikan Tabita. Kebangkitan Tabita itu murni karena kedaulatan Allah untuk menjawab pergumulan umat yang saat itu memohon anugerah-Nya agar Tabita dibangkitkan, dan permohonan mereka dikabulkan. Andaikata Tabita tidak pernah menggunakan talentanya itu, para janda tidak akan mau repot-repot berupaya mencari Petrus dan tidak akan ada banyak orang mendoakannya. Apa yang ditabur oleh Tabita, telah dituainya.
Setiap orang pasti diberi talenta oleh Tuhan. Talenta sesederhana apa pun yang dipakai untuk kemuliaan Allah dengan kasih akan menyentuh hati setiap orang dan berdampak sangat besar.Dalam bahasa Yunani Dorkas artinya rusa. Tabita, wanita yang baik hati dan dermawan. Ia juga dapat disebut pemimpin "janda-janda". Tapi apa hendak dikata, Tabita tidak kuasa menghalangi dan mengalahkan maut, ia meninggal karena sakit.Mendengar berita kematian Tabita, Rasul Petrus yang pada waktu itu sedang melakukan pelayanan di Lida segera ke Yope sebab dekat dengan kota Lida. Se-sampainya Rasul Petrus di Lida, di rumah Tabita, ia segera ke tempat di mana Ta-bita dibaringkan, ia berlutut dan berdoa. Setelah berdoa, Petrus berkata kepada Tabita: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka mata dan melihat Petrus.Dari kisah Tabita dalam Kisah Para Rasul 9:36-43, kita mungkin bertanya me ngapa Petrus menganggap kematian Ta-bita penting baginya?
Di ayat 36, kita membaca bahwa Tabita adalah seorang perempuan yang berbuat baik hati dan dermawan. Ungkapan ini dalam Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari dikatakan "Ia selalu saja melakukan hal-hal yang baik dan menolong orang-orang miskin." Bukti yang menguatkan bahwa ia adalah seorang perempuan yang baik hati adalah ketika ia meninggal, di mana semua janda-janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Tabita waktu ia masih hidup. Bagi para wanita yang berstatus janda, apalagi tua, dan tidak memiliki pekerjaan, hal itu menjadi pergumulan tersendiri bagi mereka. Karena itu, tidak berlebihan jika pada hari kematian Tabita, mereka menangis sambil menunjukkan baju dan pakaian sebagai bukti perbuatan baik yang telah dilakukan Tabita.Di sisi lain, seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 9:36, ia juga memberi sedekah, boleh dikatakan dermawan. Bahkan mungkin ia ikut menyokong pelayanan para rasul Kristus, karena ia adalah seorang murid perempuan, pengikut Kristus. Perbuatan baik Tabita, menjadi catatan tersendiri bagi Petrus untuk tidak menunda kedatangannya, sebab ia berguna dalam pelayanan.Tabita telah mengambil bagian dalam dua hal:
I. Mendukung Pelayanan Rasul-rasul dengan Dana
Prinsip yang dianut Tabita adalah "aku memberi bukan karena aku punya harta yang banyak" melainkan "ia menyadari dirinya sebagai salah seorang murid Kristus." Bukti bahwa ia adalah murid Kristus adalah "memberi" untuk pelayanan. Bagaimana dengan kita umat Tuhan pada masa kini?

II. Fungsikan dan Lipatgandakan Talenta

Dari teks Kisah Para Rasul ini, kita dapat membaca kisah tentang Tabita. Ia adalah seorang tukang jahit. Dari profesi sebagai tukang jahit, ia memfungsikan talenta yang ada padanya, yakni "memberi". Ia memberi karena ada kasih Kristus dalam hidupnya. Namun harus diingat bahwa "orang yang memiliki kasih pasti memberi" tetapi "tidak setiap pemberian adalah bukti kita mengasihi." Mengapa? Karena persoalan motivasi. Secara sederhana, mungkin dapat kita katakan, Tabita, meskipun hanya dengan "jarum dan benang", telah memberi harapan baru bagi para janda.Ingatlah, kapasitas talenta tidak menjadi soal. Yang harus kita renungkan adalah "apa yang harus kita perbuat" de-ngan talenta yang Tuhan berikan kepada kita? Karena itu, janganlah meremehkan karunia yang ada pada kita. Sekecil apa-pun, gunakanlah secara bijaksana, maka akan menjadi alat kesaksian bagi banyak orang. Melalui kehidupan Tabita, yang notabene adalah murid Kristus, ia menghidupi kebenaran Kristus dan memancarkan kebenaran Kristus sedemikian rupa sehingga orang lain (janda-janda dan rasul-rasul) melihat perbuatan yang baik. Ia telah menjadi saksi bagi janda-janda.Bagaimana dengan kita, talenta apa-kah yang Yesus percayakan kepada kita? Besar ataukah kecil? Banyak ataukah sedikit? Dan sudahkah kita memfungsikan dan melipatgandakan talenta yang Tuhan percayakan?Jika belum, inilah waktunya memfungsikan dan melipatgandakan (multiply) talenta yang Tuhan percayakan.
“Dalam hidup ini tidak selamanya kita dapat melakukan hal-hal yang besar, tetapi kita dapat melakukan pekerjaan kecil dengan kasih yang besar” Bunda Teresa

Thursday, 23 January 2014

Mengapa Tata Letak Mimbar Khotbah Kita Tidak Seragam?

 

 

Mengapa Tata Letak Mimbar Khotbah Kita Tidak Seragam?

Judul di atas merupakan pertanyaan yang sering dilontarkan anggota jemaat, penatua juga rekan sekerja kepada penulis. Memang pada kenyataannya di gereja kita GKPI - juga gereja-gereja tetangga yang sealiran - tata letak mimbar khotbah tidak seragam, ada yang letaknya ditengah-tengah dan ada yang letaknya di sebelah kanan altar. Mengapa bisa demikian? Dalam tulisan ini penulis mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut dari sudut pandang sejarah dan makna teologisnya. Tentu kebenarannya tidaklah mutlak. Diharapkan tulisan ini mendapat tanggapan positif dari para pembaca.

Pendahuluan
GKPI yang lahir dari gereja asalnya HKBP, merupakan bagian dari persekutuan gereja-gereja Lutheran sedunia. Namun jika kita melihat tata letak altar, khususnya mimbar khotbah di gereja kita, pada umumnya tidak menggambarkan pemahaman gereja Lutheran. Gereja Lutheran menempatkan mimbar pemberitaan firman di sebelah kanan altar (jemaat melihatnya sebelah kiri). Sementara itu tata letak mimbar khotbah gereja-gereja kita banyak juga yang mengadopsi tata letak gereja Calvinis, dimana mimbar khotbah berada di tengah-tengah altar.

Ini menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang tata letak itu tidak seragam. Jemaat yang membangun gereja juga arsitek yang merancang interiornya awam tentang hal itu, sehingga yang sering menjadi pertimbangan mereka hanya nilai estetika, tanpa didasari pandangan teologis. Banyak anggota jemaat, bahkan para pelayan pun yang tidak mengerti maknanya. Namun demikian tidak bisa diabaikan bahwa besar atau kecilnya ruangan gereja juga mempengaruhi tata letak altar itu, seperti jemaat-jemaat di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang banyak menempati ruko (rumah toko) sebagai tempat beribadah.

Tata Letak Mimbar Khotbah Gereja Lutheran
Gereja-gereja Lutheran adalah gereja-gereja yang berasaskan ajaran Martin Luther, tokoh reformasi gereja pada abad ke-16 di Jerman. Beberapa tulisan yang menjelaskan ajaran yang dikembangkan Martin Luther dihimpun dalam Buku Konkord. Ajaran Luther menjadi acuan pokok dalam perumusan ajaran dan tata gereja Lutheran. Setelah beberapa dasa warsa, gereja-gereja Lutheran, khususnya di Jerman, telah menjadi gereja yang mapan, ajarannya terumus lengkap, organisasinya mantap dan mendapat dukungan penuh dari negara. Di Indonesia, gereja-gereja yang mendapat pengaruh kuat Lutheran  antara lain; HKBP, HKI, GKPS, GKPA, GKPI, GKLI, GPKB, GKPPD, BNKP, ONKP, AMIN, GKPM.

Ibadahnya berpusat pada khotbah, bukan pada perjamuan kudus (ekaristi). Dalam setiap Minggu harus ada pemberitaan Firman yang murni (hanya dari Alkitab), sedangkan perjamuan kudus tidak selalu diadakan pada setiap ibadah Minggu melainkan tergantung gereja masing-masing sesuai dengan situasinya. Pelayan khotbah di gereja haruslah mereka yang telah ditahbiskan untuk itu. (lih. Konfesi Ausburg; pasal tentang Iman dan Ajaran).

Salah satu ajaran Martin Luther adalah mengenai konsep “Dua Kerajaan”. Ajaran Dua Kerajaan (ADK) ini menghunjuk pada etika politik Martin Luther dan menjadi sangat mempengaruhi sikap politik gereja-gereja Lutheran di seluruh dunia. ADK membicarakan hubungan antara Gereja dan Negara. Sama seperti rasul Paulus, Luther memandang Negara sebagai sesuatu yang berasal dari Allah. Luther memandang bahwa gereja dan pemerintahan sipil sama-sama dipakai oleh Allah sebagai alat pelayanan-Nya di tengah-tengah dunia.

Menurut Luther, pekerjaan Allah di bidang politik, ekonomi dan lembaga-lembaga kebudayaan (pemerintahan sipil atau kerajaan dunia) adalah pekerjaan “tangan kiri Allah” dan pekerjaan Allah dalam bidang kerohanian, penginjilan dan gereja (kerajaan gereja) dinamakan sebagai “tangan kanan Allah”. Kedua tangan ini bekerja dalam harmoni dan dalam perbedaan. Pembedaan ini bukanlah pemisahan. Tangan kiri memang berbeda dari tangan kanan, tetapi keduanya sama-sama tangan yang berfungsi untuk memegang sesuatu. Namun justru di dalam perbedaan inilah terletak nilai yang tinggi dari kerjasama kedua kerajaan itu.

“Ajaran Dua Kerajaan” Luther inilah yang mungkin mempengaruhi tata letak altar di gereja-gereja Lutheran, yang menempatkan mimbar khotbah di sebelah kanan (biasanya lebih besar dan lebih tinggi) dan mimbar umum di sebelah kiri altar.

Tata Letak Mimbar Khotbah Gereja Calvinis
Gereja-gereja Calvinis adalah gereja-gereja yang berasaskan ajaran Calvinisme. Calvinisme adalah sebuah sistem teologis dan pendekatan kepada kehidupan Kristen yang menekankan “kedaulatan pemerintahan Allah atas segala sesuatu”. Gerakan ini dinamai sesuai dengan nama reformator Perancis, Yohanes Calvin. Pengaruh Yohanes Calvin dan peranannya sangat besar dalam perdebatan konfesional dan gerejawi di masa reformasi sepanjang abad ke-17 di Eropa.

Jemaat-jemaat Protestan pengikut Calvin pertama terbentuk di Swiss dan Perancis. Pada tahun 1559 telah berlangsung sidang sinode pertama Gereja Reformed Perancis. Di situ diterima pengakuan iman dan tata gereja yang dirancang Calvin sehingga gereja Protestan di Perancis benar-benar bercorak Calvinis.  Pada tahun-tahun berikutnya, jemaat-jemaat Reformed Perancis ini mengalami hambatan. Perkembangan yang sangat pesat justru berlangsung di Belanda.  Dari Belanda inilah Calvinisme dibawa ke Indonesia, baik oleh para pendeta Gerevormerde Kerk pada jaman VOC maupun oleh para zendeling dari berbagai badan zending (lembaga misi/penginjilan). Di Indonesia, gereja-gereja yang mendapat pengaruh kuat Calvinis  antara lain; GBKP, GKI, GPIB, GMIM, GKJ, GKJTU, GKS, GPM.

Dalam gereja-gereja Calvinis, ibadah gereja berpusat pada khotbah dan perjamuan kudus (tidak  berpusat pada sakramen seperti dalam gereja Katolik Roma). Pengaruh Calvinisme, yang menekankan “kedaulatan pemerintahan Allah atas segala sesuatu”-lah yang mungkin mempengaruhi tata letak altar di gereja-gereja Calvinis, dimana mimbar khotbah berada di tengah-tengah altar dan umumnya berada pada posisi yang tinggi.

Perkembangan Kekristenan di Tanah Batak
Bangsa Belanda yang saat itu sudah +226 tahun menjajah Indonesia, senantiasa berusaha memajukan usaha dagangnya (VOC). Dalam waktu yang bersamaan, mereka melihat bahwa penduduk di Indonesia masih lebih banyak yang belum beragama, selain agama suku. Keadaan ini mereka beritakan kepada gereja-gereja di Belanda. Atas dasar berita ini, Gereja Belanda melalui Badan Zending NZG (Nederlandsche Zending Genotschap) mulai mengutus penginjil ke Indonesia. Mereka memulai penginjilan itu dari Batavia (sekarang Jakarta) ke daerah-daerah yang telah ditaklukkan oleh VOC karena dianggap lebih aman.

Selain Gereja Belanda, Gereja Baptis Amerika Serikat juga mengutus dua orang misionaris untuk bekerja di Indonesia. Akan tetapi hingga akhir pelayanannya kedua misionaris itu belum berhasil menyebarkan Injil ke ‘Tanah Batak’. Sepuluh tahun kemudian, tahun 1834, Gereja Boston Amerika Serikat mengutus dua orang lagi penginjil untuk bekerja di Tanah Batak, yaitu Munson dan Lyman. Setelah menempuh jarak kira-kira 100 km dari suatu daerah yang benama Barus dengan berjalan kaki melewati rawa-rawa, gunung-gunung batu terjal, dan hutan belukar, mereka sampai di Sisangkak Lobupining kira-kira 10 km dari Tarutung ke arah Sibolga. Kedua orang misionaris ini ditolak dan dibunuh oleh penduduk setempat tanggal 28 Juni 1834.

Setelah beberapa tahun Badan Zending Belanda NZG bekerja di Batavia, merekapun mulai melakukan penginjilan ke tanah Batak dengan mengutus seorang Misioanaris bernama Pdt. Van Asselt. Mereka memulainya dari arah selatan (Sipirok). Van Asselt disusul oleh dua orang Misioanaris dari Badan Zending Jerman “Reinische Missions Gesellschaft” (RMG), yaitu Pdt. Heine dan Pdt. Klammer ke Sipirok. Sebelumnya kedua misionaris ini pertama kali diutus oleh Badan Zending RMG bekerja ke Borneo (Kalimantan), akan tetapi, mereka ditolak di sana kemudian kembali ke Batavia lalu diutus ke Tanah batak (Sipirok).

Pada 7 Oktober 1861, yang menjadi hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), ditandai dengan berundingnya empat orang Missionaris, Pdt. Heine, Pdt. J.C. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt. Keempat tenaga zending ini mengadakan rapat di Sipirok untuk membicarakan pembagian wilayah pelayanan di Tapanuli.

Satu tahun kemudian, RMG mengutus seorang misionaris, Pdt. I.L. Nommensen, yang akhirnya digelari sebagai Rasul Orang Batak. Ia sampai di Barus pada tanggal 14 Mei 1862 dan terus ke Sipirok bergabung dengan misionaris Pdt. Heine dan Pdt. Klammer. Setelah berdiskusi dengan kedua Misionaris ini, disepakati pembagian wilayah pelayanan, bahwa Nommensen akan bekerja di Silindung.

Dari sejarah singkat di atas dapat kita pahami bahwa gereja-gereja Batak bukanlah penganut aliran Lutheran yang murni. Pengaruh Lutheran - yang dibawa oleh pendeta-pendeta zending RMG - memang lebih dominan. Namun demikian, pengaruh Calvinis - yang dibawa pendeta-pendeta zending NZG - juga tidak bisa diabaikan, termasuk soal tata letak altar dan mimbar khotbah di gereja-gereja Batak pada tahun-tahun berikutnya.

Pdt. Anthony L Tobing
----------------
Sumber:
1.   Aritonang, J.S,  “Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar Gereja”, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1995
2.   Simorangkir, Mangisi S.E, “Ajaran Dua Kerajaan Luther Dan Relevansinya Di Indonesia”, P.Siantar, Kolportase Pusat GKPI, 2008
3.   Tappert, Theodore G, “Buku Konkord Konfesi Gereja Lutheran”, Penyunting: Mangisi S.E. Simorangkir, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2004
8.       http://suplemengki.com