Wednesday, 30 July 2014

Camp Remaja & Pemuda HKBP Wahidin Baru 26- 27 Juli 2014

Foto bawah : Suasana Camp Remaja HKBP Wahidin Baru
Dalam Rangka Tahun Remaja dan Pemuda HKBP 2014 , Remaja dan Pemuda HKBP Wahidin Baru, Resort Wahidin Baru mengadakan Camp Remaja dan Pemuda Selama 2 Hari bertempat di Halaman Gereja HKBP Wahidin Baru. Yang mengambil Thema  Amsal 19 : 20 Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan. Dengan Sub Thema : Masa depan ku ada di tanganku ( MASBULO: Masalah Buat Lo ). Acara ini Bertujuan supaya Para Remaja Memanai masa depannya dengan mendengarkan nasihat dan menerima didian dari orang tua, Guru dan Gereja. Remaja adalah Generesi Gereja HKBP Berikutnya.  Dalam Foto di atas nampak para Remaja di latar belakangi Tenda sedang serius mendengarkan arahan dari Pdt A Aritonang Sm.Th yang membuka kegiatan ini secara Resmi. Mereka Tinggal di Tenda tenda yang sudah didirikan itu selama 2 Hari. Dalam acara pembukaan diadakan kebaktian singkat dan diiringi lagu lagu Rohani Populer, Kidung Jemaaat dan Buku Ende HKBP . 
Dalam Kegiatan ini disugughi beberapa agenda acara yang dapat menumbuh kembangkan persaudaraan diantara sesama mereka,  Acara Pembukaan di pandu oleh Nanci Yosephin Simbolon SH, MH. Doa Pembuka Oleh Pdt B Sianturi, hadir juga dalam kegiatan ini St Drs H Siregar, Ketua Parartaon HKBP Wahidin Baru , St Ir JF Sidabariba, Seksi Remaja dan Pemuda . 
Kegiatan ini Disponsori Oleh ; NHKBP Wahidin Baru Resort Wahidin Baru. dan Beberapa pemerhati Remaja dan Pemuda al. Ny Sinurat Br Manihuruk ( Tinar Manihuruk ) Ny Nadeak Br Silaban ( Magda Lusiana Silaban ) Doris Manik. NHKBP Megambil Peranan penting dalam penyelenggaraan event ini, dengan mencari dana dengan Bazar makanan dan minuman setiap hari minggunya.
Dala Foto : Namapk NHKBP Mengadakan Bazar Makanan dan Minuman untuk menggalang dana Cam Remaja dan Pemuda HKBP Wahidin Baru . Dari Kiri ke kanan : Elsha Yolanda Aritonang, Lisa Rumina Siregar S.Pd, Tinar Manihuruk, Doris Silalahi, Meliana Saragi, Echi Yolinda Aritonang, Corry Sitohang, Hendra Siahaan, Dorus Manik, Stephanie Rebecca Rajagukguk, Agnes Simarmata, Herman Rumapea SE, dan Jonar Indra Sitohang SH. 
Para Remaja dan Pemuda di bekali dengan Berbagai Acara, Games yang meningkatkan persaudaraan, MEDITASI, Tinar Manihuruk memandu acara dengan Piawai di selingi dengan kelakar kelakar yang meyejukkan . Para Remaja di ajari oleh para mentor dengan berbagai macam ragam kegiatan, Tentang kedisiplinan, Mental, Kesetiakawanan, dan Pertumbuhan iman.
Ada 27 Peserta Remaja yang tingkat pendidikannya Mulai dari Tingkat SLTP Kls 1 s/d SLTA Kls 2 Mereka dibagi atas 4 Kelmpok , yang mereka namai : Kelompok Yunus, Kelompok Daud , Kelompok Yehezkiel dan kelompok Yosua , Ke depan mereka akan dibina untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan Gereja, mengikuti Kegiatan Koor Remaja di HKBP Wahidin Baru . Mereka kelihatan ceria walaupun latih dan capek namun keceriaan nampak di wajah mereka, dengan berbagai kegiatan yang mencerahkan mereka,  Dalam kesempatan itu juga merka disuguhi  dengan Filim Filim yang bersifat membangun semangat dan mental yang kuat dalam mengarungi kehidupan sebagai Remaja supaya jauh dari Kenakalan Remaja dan Pemuda sekarang ini . Narkoba, Tawuran dan Game on line yang tidak membangun

Terimakasih Kepadan NHKBP Wahidin Baru Yang Telah Sukses Menyelenggarakan Camp Remaja Ini


Friday, 18 July 2014

Ulang Tahun Pernikahan Yang Ke 13 Budianto Sianturi & Trina Melati Banjarnahor, 14 Juli 2001-14 Juli 2014

Genap Usia Pernikahan Kami 13 Tahun pada Hari Senin 14 Juli 2014, Budianto Sianturi & Trina Melati Banjarnahor, Kami menerima Pemberkatan Pada Hari Sabtu 14 Juli 2001 Tepatnya 13 Tahun silam, di HKBP Untemungkur Resort Untemungkur ( Dulu Resort Muara ) Distrik XVI Humbang Habinsaran . Ketika itu 3 Dari keluarga Kami menerima Pemberkatan Nikah yaitu Ibotoku, Donni Marulak Parasian Sianturi Dengan Joslan Simbolon Pada Hari Senin 16 Juli 2014, Di Gereja Katolik Simbolon , dan ito Hot Demak Richa  Natal Sianturi dengan Thomson Sihombing, Pada 22 Juli 2014 di HKBP Simatupang Resort Muara . Kami 6 Bersaudara sekarang sudah 5 Yang Berumah Tangga ( Nikah ) ito Kami Ria Sianturi Menikah dengan Maringan Satria Darma Pasaribu pada sabtu 21 Juni 2014 di HKBP Bukit Lima Tanah Jawa, dan Adek Kami Ondong Sianturi Menikah dengan Desi Hutahaean Pada Sabtu 12 Juli 2014 di HKBP Untemungkur Muara , Tinggal Satu lagi yang belum Menikah yaitu : Renofa Betharia Sianturi.

( Foto : Pdt Budianto Sianturi & Trina Melati Banjarnahor Am.k)




( Foto : Pernikahan : Lae/ Ito : Joslan Simbolon & Donni Marulak Parasian Sianturi/ Floria  Senin 16 Juli 2001 di Samosir )



( Foto : Pernikahan Lae/ Ito : Maringan Satria Darma Pasaribu & Ria Sianturi  Menerima Pemberkatan Nikah di HKBP Bukit Lima Resort Raja Maligas Tanah Jawa Sabtu 21 Juni 2014 )

( Foto Pernikahan Adek kami : Ondong Sianturi & Desi Hutahaean  Sabtu 12 Juli 2014 di HKBP Untemungkur )



Ulang Tahun Pernikahan - Dihikmati atau Diperingati?


13924290191135247612
Sumber : http://www.pinterest.com/pin/94716398387386118/
Pernikahan adalah sebuah momen yang bernilai kesejarahan bagi banyak pasangan hidup di muka bumi ini.  Maka, ulang tahun pernikahan banyak dianggap sebagai tonggak sejarah dalam memasuki hidup baru. Hidup yang pada mulanya mungkin dianggap rumit, atau dianggap seindah impian. Tergantung setiap kepala membangun persepsinya.
Pun setiap pasangan memiliki beragam cara dan sikap menyambut hari ulang tahun pernikahan mereka. Sebagian melewatkan begitu saja, atau bahkan sama sekali  terlupa :)
Sebagian lainnya memilih membangun kesyukuran seperlunya. Sekadar kembali mengingat lintasan peristiwa yang telah menghimpun apa yang terserak. Mengapungkan kenangan bersama untuk mencipta bahagia dan kesyukuran yang nyata. Yaitu mempererat jalinan cinta yang telah terbina, merekatkan ikatan hati, dan memperkuat tekad untuk saling berbagi dan menjaga hingga nanti.
Sebagiannya menyambut dengan lebih spesial. Yaitu dengan aneka syukuran hingga pesta meriah yang menghadirkan banyak undangan. Bila perlu, pesta yang diatur sedemikian rupa sehingga diperlukan jasa penyelenggaraan acara.
Peringatan perayaan hari ulang tahun pernikahan tentu tidak lahir begitu saja.  Budaya tersebut berasal dari dunia barat.
Pada tahun 1659, John Evelyn menulis buku mengenai pesta ulang tahun pernikahan yang diberi judul “Diary”.  Kemudian Samuel Pepys juga menuliskan buku yang serupa, namun fokusnya lebih kepada pesta kawin perak untuk usia pernikahan 25 tahun. Tulisan tersebut lalu dipublikasikan di tahun 1806 oleh Anna Letina Barbauld yang juga menulis tentang pernikahan perak.
Tahun 1860 di Inggris dipublikasikan mengenai kawin emas untuk peringatan usia 50 tahun pernikahan. Tahun 1872 pesta kawin intan menyusul bagi pasangan yang telah menikah selama 60 tahun. Sejak itulah ulang tahun pernikahan diperingati oleh segenap masyarakat.
Belakangan muncul istilah-istilah yang mengikuti terkait ulang tahun pernikahan mulai dari yang pertama.
1 = kawin kertas
2 = kawin kapas/mori
3 = kawin kulit
4 = kawin buah/buahan/bunga/buku
5 = kawin kayu/balok
6 = kawin besi
7 = kawin tembaga/kuningan
8 = kawin karet
9 = kawin gerabah
10 = kawin aluminium
11 = kawin baja
12 = kawin sutera / linen/nilon
13 = kawin renda
14 = kawin gading
20 = kawin cina
25 = kawin perak
30 = kawin mutiara
35 = kawin jade/karang/jade
40 = kawin rubi
50 = kawin emas
55 = kawin zamrud
60 = kawin intan
Mengingat ulang tahun pernikahan meski tanpa harus membuat pesta perayaan menurut hemat saya adalah hal yang cukup berguna. Manusia kadang membutuhkan tonggak-tonggak sejarah untuk menghikmati kesyukuran yang sampai di tangannya.
Namun alangkah lebih baik jika tanpa harus menunggu ulang tahun pernikahan tiba, setiap kepala mampu membangun keindahan persepsi atas pasangan masing-masing. Ketika hari ini rambut perak mungkin bertebaran di sana sini di kepala, kenangkan bahwa ketika rambut indah berkilau itu telah menemani perjalanan hingga puluhan tahun berikutnya.
Ketika rasa kesal dan jengkel sempat singgah karena hal-hal kecil dan perbedaan sudut pandang, bahwa dulu kala begitu engkau mendambakan melewati jalan terjal bersamanya dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Ketika tangan yang lembut kini telah keriput, kenangkan bahwa waktu yang dipinjamkanNya tak kan merubah persepsi kehangatan kasih yang mengaliri kedua telapaknya. Meski fisik dan rupa beranjak menua, namun rasa dan cinta yang terjaga di tempatnya tak kan mengurangi  kemampuan diri untuk terus memuliakannya.
Ya, ulang tahun pernikahan adalah sekadar sarana atau media dan seremonial semata. Ia tidak sekadar perlu diperingati, tetapi lebih urgent untuk dihikmati. Karena jauh di lubuk hati terdalam, diperlukan kesungguhan untuk merawat anugerah dan berkah yang dilimpahkanNya yaitu pasangan hidup yang telah dipersandingkanNya untuk kita. Cinta adalah kalori bagi kekuatan hati  yang tak pernah habis tercerna melintasi waktu, untuk siapa pun mereka yang mampu menghargai anugerah terindah Sang Maha Cinta itu sendiri.

Thursday, 10 July 2014

Manghatindang Haporseaon

Manghatindanghon Haporseaonna Parguru Malua HKBP Wahidin Baru
Minggu 29 Juni 2014 
Dari kiri ke kanan : Nadya Imerelda Tambunan, Dwi Julika Nababan, Jean Jeane Ralin Nababan, Widya Saputri Sihaloho, Pretty Silitonga, Siska Noviyanti Siregar, Teresia Siagian, Sri Nonawati Siadari, Sugita Br Pasaribu, Dicky Jeremia Oktavian Panjaitan, David Simarmata, David Siagian

Pdt Amos Aritonang, Sm.Th & Pdt Budianto Sianturi Berfoto Bersama dengan Peserta Naik Sidi

Dalam Kesempatan itu Gereja Menyerahkan  Hadiah kepada Juara
Juara  I   : Jean Jeane Ralin Nababan
Juara II  :  Dicky Jeremia Octavian Panjaitan
Juara III: Widya Saputri Sihaloho


SELAMAT  : Parangehon ma hata na ginuruhon mi ai ido hangoluan mu
                      Sai Burjuma ho rasirasa mate dungi lehononNa ma tu ho tumpal Hangoluan


Medan , Minggu 29 Juni 2014

Friday, 6 June 2014

SELAMAT ULANG TAHUN YOSEPHA CINTYA BELLA SIANTURI Yang Ke 8, 26 Mei 2014

 YOSEPHA CINTYA BELLA SIANTURI


Tak terasa sudah 8  tahun kau hadir menemani kami, Tepatnya 26 Mei 2014
Kau hadir KAMI SANGAT BAHAGIA .  Kau bh cinta kami..kau penyejuk di jiwa ini
Kau memang kami damba, kami nanti dengan sengenap jiwa
Boruku Tersayang..
Kau harapan kami tuk masa depan
Kau bisa membuat sedih jadi bahagia
Boruku sayang.. Boru Hasian
Kau kekuatan cinta yang tak ada tandingannya
Kala kau bahagia kami sangat bahagia
Kala kau sedih hati ini ikut bersedih bahkan lebih sedih dari yang kau rasa
Dikala kau sakit semua tubuh ini juga terasa sakit
Segenap jiwa kami berikan untukmu  Boruku  Sepenuh hati kami berjuang untukmu
Harapan kami padamu jadilah anak Baik, Pintar, Takut akan Tuhan dan Patuh pada orangtua.  Anak yang berbakti pada semua
  Borukami  Tersayang doa dan restu  kami selalu menyertaimu  Selalu dan selalu …
Hanya untuk kebahagianmu
Abang. adek kakak , mama dan papa mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN YANG ke 8 Untukmu : Yosepha Cintya Bella Sianturi 26 Mei 2006- 26 Mei 2014. Teruslah belajar dan Berprestasi

SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 12 YOSUA ALEXANDO SIANTURI ( 06 JUNI 2014 )


 YOSUA ALEXANDO SIANTURI
Datang sudah hari ini,  Jumat 06 Juni 2014
Hari dimana dulu aku dilahirkan, 06 Juni 2002
Hari dimana orang tertawa sekaligus haru
Menjelang perkenalanku dengan dunia ini

Hari ini aku mengenang kembali
Kerikil-kerikil tajam yang memperkaya arti hidupku
Manisnya madu cerita hidup yang membuat senyumku lepas…
Tapi apa yang telah aku berikan
Untuk orang – orang yang tertawa sekaligus haru
Menjelang kelahiranku

hari ini genap sudah umurku 12 thn
Apa yang telah kuberikan untuk
Agamaku untuk tuhanku untuk kedua orang tuaku
Untuk sahabatku yang rela berkorban untukku

Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru…

Apa yang yang harus ku persiapkan untuk
masa depanku, untuk akhirat ku, untuk
kedua orang yang mencintaiku dan untuk tuhanku
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang, akau masih banyak bermain main dan tidak belajar keras

Ya, berhutang pada diriku…karena aku belum menunjukkan prestasi yang baik
Karena ibadahku masih pas-pasan…perjuanganku masih belum maksimal.
aku berjanji semoga di hari hari depan aku dapat lebih baik lagi

Friday, 30 May 2014

PENAHBISAN 3 SINTUA Dan Pelepasan Sintua Pensiun di HKBP Wahidin Baru, Medan

Pada Hari Kamis Tepatnya pada hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus 29 Mei 2014, 3 Sintua Baru di Jangkon ( Ditahbiskan menjadi Sintua ) di HKBP Wahidin Baru, Yakni St Manusun Manullang AMd, St Jones Siahaan S.Pd , dan St Kamudin Butar-butar . Yang telah menjalani masa Learning selama 2 Tahun dan telah menjalani Intensif pembinaan Calon Sintua  selama 2 Bulan Penuh. Acara ini berlangsung dengan Hikmat diterangi Tema Kristus do Ulu na mangatasi saluhutna . yang disampaikan oleh Pdt Amos Aritonang Sm.Th . Dan Panjanghonon dipimpin Pdt HKBP Resort Wahidin Baru Pdt Amos Aritonang Sm.Th . Pemberian Agenda dan Pembacaan SK Pengangkatan Sintua Oleh : Pdt Budianto Sianturi. ( Pelakasna Guru Huria HKBP Wahidin Baru ). ke 3 Sintua yang Baru di Tahbiskan didampingi oleh Isteri masing masing sebagai wujud nyata mereka juga ikut menjadi parhalado  ( molo sintua amantai ikkon dohot do tong inantai sintua ). dalam foto : Terlihat Pendeta Sedang memberkati Tahbisan baru 
Suasana Pesta hari Kenaikan Tuhan Yesus, di HKBP Wahidin Baru, Seluruh Parhalado Memakai Jubah.dan dalam foto ini Pendeta Menyampaikan Selamat Hari kenaikan kepada seluruh Warga Jemaat yang hadir .
Dan Pada Hari itu Juga HKBP Wahidin Baru Melepaskan St Drs  Jisman Siburian Memasuki Masa Pensiun karena Umurnya suda mencapai 65 Tahun.nampak dalam Gambar St Drs Jisman Siburian dan Ibu Br Siagian menyampaikan Kata perpisahan kepada seluruh jemaat. Sebelum Pelepasan yang dipimpin Pdt Resort ( Pdt Amos Aritonang Sm.Th ) Pembacaan Berita Pelayanan St Drs J Siburian di bacakan oleh Pdt Budianto Sianturi. 
St Drs J Siburian di Tahbiskan 7 September 2003. Jabatan yang pernah di embannya 
1. Anggota Dewan Diakonia 2003- 2008
2. 2008 - 20012 Ketua Parartaon HKBP Wahidin Baru
3. 2011- 2013 Bandahara Seksi Pembangunan HKBP Wahidin Baru 
4. 2012-2014 Paniroi ( Seksi Sekolah Minggu ) HKBP Wahidin Baru
Dan Selama 11 Tahun St Drs Jisman Siburian Taat dan Tekun Melaksanakan Pelayanan sebagai Sintua sebagaimana Paulua Mengatakan dalam 2 Timoteus 4 :5  Sahat Ula Tohonan mi . 
Dan Pada kesempatan itu Kata sambutan untuk Yang di Tahbiskan disampaikan Oleh St Drs P Tampubolon . Dan Menyatakan Selamat Bergabung bagi Sintua Baru dalam Pelayanan di HKBP Wahidin Baru. Yang Mewakili Parhalado memberikan kata sambutan Pada sintua Pensiun adalah St A Siahaan, beliau mengatakan, Terimakasih Pada St Drs J Siburian atas pengabdian dan pelayanannya Selama ini : Selamat Memasuki Pensiun. Utusan dari ruas Ny Rumapea Br Sagala/Rusmida Sagala S.Pd Menyampaikan Rasa terimakasaih yang sangat besar kepada Tuhan dan St Siburian yang telah mengabdikan dirinya dengan baik selama menjadi sintua, khususnya di Sektor III. Dan Juga kepada Tahbisan Sintua Yang Baru Br Sagala menyatakan SELAMAT Melayani .

Tuesday, 20 May 2014

MEMAHAMI MAKNA DARI SEBUAH PENDERITAAN



Mengapa Orang Kristen Menderita
Pendahuluan
Mengapa mesti saya? Mengapa mesti sekarang? Apa yang sedang Allah perbuat? Penderitaan adalah alat yang Allah pergunakan untuk membuat kita lebih peka dan untuk mencapai tujuanNya dalam kehidupan kita. Penderitaan dirancang untuk membangun kepercayaan kita kepada Yang Mahakuasa, akan tetapi penderitaan menuntut respons yang tepat agar dapat berhasil dalam menyelesaikan maksud-maksud Tuhan. Penderitaan menekan kita untuk meninggalkan kekuatan diri sendiri kepada hidup oleh iman dalam kekuatan yang berasal dari Allah.
Penderitaan itu sendiri bukan satu kebaikan, juga bukan tanda kehidupan yang suci. Penderitaan bukan satu cara memperoleh sesuatu dari Tuhan, atau sebagai cara mengalahkan kedagingan (seperti dalam askese atau penyiksaan diri). Sedapat mungkin penderitaan harus dihindari. Kristus juga menghidari penderitaan kecuali kalau itu merupakan tuntutan kepatuhan kepada kehendak Bapa.
“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depan-nya” (Pengkhotbah 7:14)
Pertanyaan-pertanyaan berikut dirancang untuk membantu kita “mengingat” pada saat kesusahan:
(1) Bagaimana cara saya menanggapinya?
(2) Bagaimana seharusnya saya menanggapinya?
(3) Apakah saya mempelajari sesuatu darinya?
(4) Apakah tanggapan saya mencerminkan iman, kasih kepada Allah dan kepada sesama, sifat seperti Kristus, kebenaran, komitmen, keutamaan, dsb.?
(5) Bagaimana Alllah bisa menggunakannya dalam hidup saya?
Arti Penderitaan
Apa sebenarnya arti jalan yang berliku yang diberikan Allah dalam hidup ini yang perlu kita pelajari? Pada dasarnya, penderitaan adalah segala sesuatu yang menyakitkan dan mengganggu. Dalam rancangan Allah, penderitaan adalah sesuatu yang menuntut kita supaya berpikir. Penderitaan adalah alat yang dipakai Allah untuk membuat kita menjadi peka dan yang dipakai Allah untuk mencapai maksudNya dalam hidup kita yang tidak bisa terjadi selain lewat pencobaan dan lewat keadaan yang tidak menyenangkan.
Ilustrasi mengenai Penderitaan
“Penderitaan bisa dalam bentuk kanker atau sakit tenggorokan. Penderitaan bisa berbentuk sakit penyakit atau kehilangan seseorang yang Anda kasihi. Penderitaan bisa berbentuk kegagalan hidup atau kekecewaan dalam pekerjaan atau dalam studi. Penderitaan bisa berbentuk gosip yang beredar ditempat Anda bekerja atau digereja Anda yang merusak reputasi Anda yang membawa kesedihan dan kecemasan.”1 Penderitaan bisa berbentuk sesuatu gangguan yang paling kecil seperti digigit nyamuk hingga seperti berada di kandang singa seperti Daniel (Dan. 6).
Penyebab Penderitaan
(1) Kita menderita karena kita hidup di dunia yang terkutuk dimana dosa memerintah hati manusia.
(2) Kita menderita karena kebodohan kita sendiri. Kita menuai apa yang kita tabur (Galatia 6:7-9).
(3) Kita menderita kadang-kadang karena Allah mendisiplin kita. “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak” (Ibrani 12:6).
(4) Kita bisa menderita penganiayaan karena iman yang kita miliki—khususnya bila kita menderita karena membela kebenaran alkitabiah, yakni menderita akibat kebenaran (2 Timotius 3:12).
Tentu saja semua penyebab ini tidak terjadi secara sekaligus pada saat yang sama. Misalnya, tidak semua penderitaan terjadi karena kebodohan kita, karena diri kita, atau karena dosa. Akan tetapi, memang jarang penderitaan tidak membuat kita menjadi peka terhadap kebutuhan kita, terhadap kelemahan kita, dan terhadap sikap kita yang salah yang perlu disingkirkan seperti bagian yang tidak bernilai dalam memurnikan emas (1 Petrus 1:6-7).
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dalam api—sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya (1 Petrus 1:6-7).
Hakekat Penderitaan
(1) Penderitaan itu menyakitkan. Penderitaan itu keras; tidak pernah enteng. Apapun yang kita ketahui dan sekeras apapun kita menerapkan prinsip-prinsip yang kita percayai, penderitaan tetap menyakitkan (1 Pet. 1:6—“berdukacita” = lupeo, “mengakibatkan kesakitan, penderitaan, kesedihan”).
(2) Menderitaan itu membingungkan. Penderitaan bagaikan misteri. Kita bisa saja mengetahui alasan-alasan teologis mengapa ada penderitaan, akan tetapi, kalau itu terjadi, selalu ada satu misteri didalamnya. Mengapa mesti menderita sekarang? Apa yang sedang Allah lakukan? Penderitaan dirancang untuk membangun iman kita kepada Yang Mahakuasa.
(3) Penderitaan itu bermakana. Meskipun memiliki misteri, penderitaan itu memiliki makna. Tujuan utamanya adalah supaya terbentuk sifat-sifat seperti Kristus dalam diri seseorang (Roma 8:28-29).
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencanaNya. Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Roma 8:28-29)
(4) Penderitaan itu membuktikan (menguji) siapa kita. Suffering Proves (tests) Us. “Pencobaan” dalam Yakobus 1:2 dalam bahasa Yunaninya adalah peirasmos yang artinya meneliti, menguji, dan membuktikan sifat atau integritas sesuatu. “Ujian” pada ayat berikutnya adalah dokimion yang artinya sama. Istilah ini menggambarkan satu ujian yang dirancang untuk membuktikan atau untuk menyetujui. Penderitaan adalah sesuatu yang membuktikan sifat dan integritas seseorang serta objek dan kualitas iman seseorang. Bandingkan 1 Petrus 1:6-7 dimana istilah yang sama dipakai berkaitan dengan kata kerja dokimazo yang berarti, “diuji,” “membuktikan dengan menguji seperti menguji emas.”
(5) Penderitaan adalah satu proses. Karena proses, maka memerlukan waktu. Hasil yang diharapkan Tuhan lewat pencobaan hidup memerlukan waktu dan juga kesabaran.
Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan (Roma 5:3-4).
Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun (Yakobus 1:3-4).
(6) Penderitaan adalah satu pemurnian. Apapun alasannya, bahkan sekalipun jika bukan merupakan disiplin Allah atas keduniawian kita, penderitaan adalah satu pemurnian karena tidak satupun manusia yang bisa sempurna dalam hidup ini.
Bukan seolah-olah akau telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku juga dapat menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus (Filipi 3:12-14).
(7) Penderitaan menyediakan kesempatan. Penderitaan meneyediakan kesempatan untuk kemuliaan Allah, transformasi diri kita, kesaksian, dan pelayanan, dsb. (Lihat juga maksud penderitaan dibawah ini.)
(8) Penderitaan menuntut kerjasama kita. Penderitaan menuntut tanggapan yang benar kalau kita ingin berhasil dalam mencapai maksud-maksud Allah. ‘Semua orang menginginkan hasil, kepribadian, tetapi kita tidak menginginkan prosesnya, yaitu penderitaan.”2 Penderitaan adalah keharusan untuk hasil yang baik.
(9) Penderitaan adalah sesuatu yang telah ditentukan sebelumnya atau diatur.
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan (1 Petrus 1:6).
Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang akan datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu (1 Petrus 4:12).
(10) Penderitaan itu tidak bisa dihindari. Pertanyaan yang masing-masing kita harus hadapi bukanlah “Seandainya saya harus mengalami pencobaan dalam hidup ini,” tetapi pertanyaanya adalah “bagaimana seharusnya kita menanggapinya?”
Supaya jangan ada yang orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu (1 Tesalonika 3:3).
Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia (1 Petrus 4:19).
(11) Penderitaan adalah satu pergumulan. Pergumulan ini akan menyeluruh. Itulah sebabnya mengapa disebut “ujian” dan “pencobaan.” Bahkan meski kita telah mengetahui tujuan penderitaan dan prinsip-prinsipnya, dan bahwa kita mengetahui kasih dan keprihatinan Allah yang diberikan dalam Firman Tuhan tentang bagaimana menghadapi penderitaan, menghadapi pencobaan hidup tidak pernah enteng karena penderitaan itu menyakitkan. Ujian hanya memberi kemampuan kepada kita untuk bekerjasama dengan prosesnya (Yakobus 1:4). Penderitaan memungkinkan prosesnya terjadi dalam hidup kita dan memungkinkan kita untuk mengalami kedamaian dan sukacita batin ditengah-tengah pencobaan.
Untuk menghadapi penderitaan dalam kedamaian dan sukacita batin, kita dituntut mampu melihat ke depan dalam mengetahui apa maksud dan tujuan penderitaan yang kita alami. Ini memerlukan iman kepada Tuhan.
Bandingkan berkat-berkat dalam kesusahan seperti yang disaksikan pemazmur dalam Mazmur119:
Sebelum kesusahan
Menyimpang dan tidak perduli (ayat 67a)
Selama kesusahan
Belajar dan bertobat (ayat 71, bandingkan juga ayat 59)
Selama kesusahan kita perlu:
(1) Mengetahui penyebabnya sebisa mungkin (Apakah karena sesuatu yang saya perbuat?)
(2) Mengetahui maksudnya (Apa yang ingin Allah inginkan bagi hidup saya dan orang lain?)
(3) Menentukan penyelesaiannya (Cara yang diinginkan Allah dalam menghadapinya?)
Setelah kesusahan
(1) Menyadari dan berubah (ayat 67b, 97-102)
(2) Kelegaan dan penilaian (ayat 65, 72)
Kita harus mengetahui maksud Allah yang utama dalam hidup kita untuk bisa menjadi sesuai dengan rupa Kristus dan Ia telah menetapkan untuk menggunakan penderitaan untuk pengembangan rohani kita sesuai rencanaNya. Kalau kita mau tabah dalam penderitaan dan pencobaan dalam hidup ini, kita juga harus memahami dan menyakini maksud dan tujuan penderitaan.
Maksud dan Tujuan Penderitaan
(1) Kita menderita sebagai satu kesaksian (2 Timotius 2:8-10; 2 Korintus 4:12-13; 1 Petrus 3:13-17). Kalau orang percaya menghadapi penderitaan dengan sukacita dan dengan stabil, ini akan menjadi kesaksian berharga mengenai kuasa dan hidup Kristus yang kita yakini. Penderitaan memberi kesempatan untuk memanifestasi dan kemuliaan kuasa Allah lewat hamba-hambanya untuk meneguhkan si pembawa pesan dan pesan itu sendiri. Penderitaan memberi kesempataan untuk menyatakan bisa-dipercayanya kita sebagai utusan Kristus (1 Raja-raja 17:17-24; Yohanes 11:1-45). Ini mencakup beberapa hal:
a. Untuk memuliakan Tuhan dihadapan para mahkluk surgawi (Ayub 1-2; 1 Petrus 4:16).
b. Untuk menyatakan kuasa Allah kepada orang lain (2 Korintus 12:9, 10; Yohanes 9:3).
c. Untuk menyatakan sifat Kristus ditengah penderitaan sebagai satu kesaksian untuk memenangkan jiwa (2 Korintus 4:8-12; 1 Petrus 3:14-17).
(2) Kita menderita untuk mengembangkan kemampuan dan simpati dalam menghibur orang lain (2 Korintus 1:3-5).
(3) Kita menderita untuk menghindari kesombongan (2 Korintus 12:7). Rasul Paulus mengetahui dari dalam dagingnya sebagai alat yang diijinkan Tuhan untuk menjaganya tetap rendah hati dan bergantung pada Tuhan karena penyataan yang ia peroleh dari surga tingkat ke-tiga.
(4) Kita menderita karena itu adalah sarana latihan. Allah dengan kasih dan setia menggunakan penderitaan untuk mengembangkan kebaikan, kedewasaan seseorang dan dalam perjalanan hidup denganNya (Ibrani 12:5f; 1 Petrus 1:6; Yakobus 1:2-4). Jadi dalam hal ini, penderitaan memang telah direncanakan:
a. Sebagai disiplin atas keberdosaan untuk untuk membawa kita kembali kedalam persekutuan lewat pengakuan yang tulus (Mazmur 32:3-5; 119:67).
b. Sebagai alat pembentukan untuk menyingkirkan yang tidak berguna dalam hidup kita (kelemahan, dosa kebodohan, sikap dan penilaian yang belum dewasa, dsb.) Tujuan yang diharapkan adalah menghasilkan buah yang lebat (Yohanes 15:1-7). Pencobaan bisa menjadi cermin teguran untuk dosa dan kelemahan kita yang terselubung (Mazmur 16:7; 119:67, 71).
c. Sebagai alat pertumbuhan yang direncanakan supaya kita bergantung pada Tuhan dan FirmanNya. Pencobaan akan membuktikan iman kita dan membuat kita rindu menggunakan janji-janji dan prinsip-prinsip Friman Tuhan (Mazmur 119:71, 92; 1 Petrus 1:6; Yakobus 1:2-4; Mazmur 4:2 [dalam bahasa Ibraninya ayat ini bisa diartikan, “Engkau telah memperluas aku, membuat aku bertumbuh lebar dengan penderitaanku”]). Penderitaan atau cobaan mengajarkan kepada kita kebenaran dalam Mazmur 62:1-8, untuk “hanya mengharapkan Tuhan saja.”
d. Sebagai sarana belajar ketaatan. Penderitaan menjadi ujian kesetiaan kita (Ibrani 5:8). Ilustrasi: Jika seorang ayah berkata kepada anaknya untuk melakukan sesuatu yang disenangi anak itu (seperti makan semangkuk es krim) dan anak itu mematuhinya, memang anak itu mematuhi perintah, akan tetapi ia tidak belajar apa-apa tentang kepatuhan. Tetapi kalau ayahnya menyuruhnya untuk memotong rumput, maka ini menjadi satu ujian dan mengajarkan kepadanya tentang arti kepatuhan. Intinya, kepatuhan itu sering menuntut sesuatu dan tidak enteng. Kepatuhan bisa menuntut pengorbanan, tekad, disiplin, dan iman bahwa Tuhan itu baik dan memiliki maksud yang terbaik bagi kita dalam segala hal. Apapun alasan Allah mengijinkan penderitaan dalam hidup ini, jarang sekali penderitaan tidak membuat kita peka terhadap kebutuhan, kelemahan, sikap yang salah, dsb. yang kita miliki sama seperti yang dialami Ayub.

Penderitaan itu sendiri tidak menghasilkan iman dan kedewasaan. Penderitaan hanya sarana yang Allah gunakan untuk membawa kita kepadaNya supaya kita bisa peka terhadap Dia dan FirmanNya. Penderitaan menuntut kita meninggalkan kepercayaan pada diri sendiri menuju kehidupan iman dalam kekeuatan Tuhan. Penderitaan menyebabkan kita menempatkan prioritas. Sesungguhnya, Firman Tuhan dan Roh Allah saja yang menghasilkan iman dan kedewasaan dalam seseorang menjadi seperti Kristus (Maz. 119:67, 71).

Yakobus 1:2-4; 1 Petrus 1:6-7: Kata kuncinya adalah “membuktikan kemurnian imanmu.” “Bukti” dalam bahasa Yunaninya dokimion yang meliputi konsep ujian yang memurnikan, yaitu bukti yang dihasilkan setelah ujian. Tuhan menggunakan cobaan untuk menguji iman kita dalam arti memurnikan, membawanya ke permukaan, supaya kita menerapkan iman kita.
(5) Kita menderita untuk menghasilkan ketergantungan terus-menerus pada kasih karunia dan kuasa Tuhan. Penderitaan dirancang supaya kita bisa berjalan dengan kekuatan Tuhan, dan bukan dengan kekuatan dan kemampuan diri kita sendiri (2 Korintus 11:24-32; 12:7-10; Efesus 6:10f; Keluaran 17:8f). Penderitaan membuat kita berpaling dari apa yang kita punya kepada apa yang Allah punya.
(6) Kita menderita untuk menyatakan hidup dan sifat Kristus (Buah Roh) (2 Korintus. 4:8-11; Filipi 1:19f). Ini memiliki kesamaan dengan nomor (4) diatas tetapi lebih ditekankan pada proses dan tujuan, yaitu menghasilkan sifat Kristus. Ini memiliki aspek yang negatif sekaligus yang positif:
a. Negatif: Penderitaan menolong untuk menyingkirkan ketidakmurnian dalam hidup kita seperti ketidakperdulian, mengandalkan kekuatan diri sendiri, penilaian dan prioritas yang salah, pembenaran manusiawi dan mekanisme penolakan sebagai cara-cara kita menghadapi persoalan (penyelesaian buatan manusia). Penderitaan itu sendiri tidak bisa memurnikan, melainkan merupakan sarana yang dipakai Allah supaya kita mempraktekan iman dalam perlengkapan kasih karunia Allah. Yaitu kasih karunia Allah dalam Kristus (yang adalah identitas kita yang baru dalam Kristus, dalam Rirman dan dalam Roh Kudus) yang mengubah hidup kita. Aspek negatif ini diperoleh dengan dua cara: (1) Kalau keluar dari persekutuan dengan Allah: Penderitaan menjadi satu disiplin dari bapa surgawi kita (Ibrani 5:5-11; 1 Korintus 11:28-32; 5:1-5). Disiplin ini diberikan untuk dosa yang disadari, yaitu pemberontakan dan ketidakperdulian terhadap ALlah. (2) Kalau berada dalam persekutuan dengan Allah: Penderitaan menjadi karya yang didasari oleh keahlian dan kasih dari Pemilik kebun Anggur supaya kita menjadi lebih menghasilkan. Disiplin ini juga diberikan untuk dosa yang tidak disadari, yang adalah hal-hal yang tidak kita sadari, namun yang menghalangi pertumbuhan dan buah rohani dalam hidup kita. Dalam hal ini, penderitaan sering berupa teguran (Yohanes 15:1-7).
b. Positif: kalau orang Kristen hidup dengan sukacita dalam penderitaan (yaitu kalau mereka tabah dan tetap menerapkan janji-janji dan prinsip-prinsip iman), kehidupan atau sifat Kristus akan menjadi semakin dinyatakan saat mereka bertumbuh dalam penderitaan (2 Korintus 4:9-10; 3:18). Ini berarti percaya, damai, sukacita, stabilitas, penilaian alkitabiah, kesetiaan, dan kepatuhan yang bertentangan dengan kecenderungan untuk menyalahkan orang lain atau sesuatu, melarikan diri, mengeluh, dan kecenderungan menentang Allah dan orang lain.
(7) Kita menderita untuk menyatakan sifat jahat manusia dan untuk menyatakan kebenaran keadilan Allah dalam penghakiman (1 Tesalonika 2:14-16). Penderitaan yang dilakukan orang lain (seperti penganiayaan, dan perlakukuan kejam) dipakai Allah untuk “menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya.” Ini akan menyatakan kejahatan dari mereka yang melakukan penganiayaan dan keadilan penghakiman Allah atasnya.
(8) Kita menderita untuk memperluas pelayanan kita (bandingkan Filipi 1:12-14 dengan 4:5-9). Dalam proses untuk menghasilkan sifat Kristus dan peneguhan kesaksian kita kepada orang lain, penderitaan kadang-kadang membuka jalan untuk pelayanan yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Ketika Paulus dipenjarakan (dimana setiap hari ia dirantai bersama seorang tentara Romawi di rumahnya sendiri) injil tersebar diatara para tentara penjaga. Jadi Paulus memiliki alasan untuk terus bersukacita dalam Tuhan, tetapi seandainya ia mengeluh, cemas, tawar hati, maka tidak akan ada kesaksian.

1 Ron Lee Davis, Gold in the Making, Thomas Nelson, Nashville, 1983p. 17-18.
2 Davis, p. 19. Lihat juga halaman. 32.